This Is Me

This Is Me
eps 37


__ADS_3

Ivi berlalu sambil mendengus kesal. Memangnya tidak bisa santai sedikit apa, baru saja ia terkena musibah di jalan, eh malah tidak di pedulikan, huh!


"Iyeee! Elo juga tuh, dandan yang ganteng, biar Kak Rina tambah klepek-klepek liatnya!"


"Gak dandan juga, Rina udah klepek-klepek sama gue kok! Heh, jadi elo yang harus dandan. Biar gak malu-maluin! Apa kata yang lain, kalo liat gue keren kayak model gini, sedangkan adiknya kayak gembel!"


"Peduli amat!"


Terlihat Rina keluar dari dalam, ia tersenyum melihat Ivi, "Baru pulang, Vi?"


"Hmm."


"Heh, udah sono, mandi!"


Ivi mencibir Kakaknya, dan langsung masuk ke dalam untuk beberes.


"Eric, udah dong. Nanti Ivi juga pasti siap-siap. Dia gak mungkin bikin elo malu," candanya.


"Dasar adik satu itu, ingin gue telan rasanya, huh!" Eric gemas terhadap adiknya. "Nah, elo mau ke mana?"


"Pulang dong, gue juga harus siap-siap."


"Gak di sini aja?"


"Kalo gue tetep di sini, gimana orang tua gue, Eric. Mobil kan gue bawa. Ya udah, gue balik dulu ke rumah. Baru gue ke sini bareng mereka," jelasnya.


"Uh, gue masih pengen sama elo," ucap Eric seperti anak kecil yang manja.


"Dih, apaan sih, lebay lo ah!"


"Ya udah, mau gue anter?"


"Eric, gue bawa mobil! Gue cekik lo ya!" kini giliran Rina yang gemas terhadap Eric.


"Iya, iya! Ampun! Gak ngomong lagi!" sergah Eric cepat. "Ya udah, elo hati-hati ya bawa calon mertua gue."


Rina tidak membalas perkataan Eric, ia cukup geli dan gemas terhadapnya. Ia hanya tersenyum diam-diam sambil membelakangi Eric. Tidak lama setelah itu, Rina meninggalkan halaman rumah Ivi.


Di dalam, Ivi sudah selesai beberes dan dandan. Dandan? Sepertinya ia hanya memakai pelembab wajah dan sedikit bedak di wajahnya. Terpaksa, mau tidak mau ia harus berdandan. Dan juga, ia memakai baju yang sudah di siapkan oleh Rina sebelumnya. Sebenarnya Ivi yang meminta tolong pada Rina. Alasannya adalah, karena Ivi sama sekali tidak bisa memilih baju untuk acara seperti itu. Sama halnya seperti masalah dandan, sumpah, Ivi tidak tahu apapun soal yang namanya kosmetik. Nama-nama alat kosmetik saja Ivi tidak hapal, apa lagi kegunaannya. Jangankan menghapal, memegangnya saja tidak pernah.


Palingan kalau iseng masuk ke kamar Mamanya, Ivi melihat-lihat beberapa benda dan alat kosmetik di meja rias, dan itupun Ivi tidak tahu namanya. Sampai-sampai ia jadi bahan tertawaan Eric.


"Gila, elo gak tau kosmetik sama sekali? Namanya aja gak tau? Serius lo? Elo ini cewek bukan sih, masa sama hal-hal berbau cewek elo gak tau. Bener-bener deh anak ini."


Begitulah kata Eric.

__ADS_1


Ivi hanya menanggapi ucapan Eric dengan santai, karena dasarnya ia memang tidak tahu apa-apa soal kosmetik yang biasa di bawa cewek-cewek. Mereka ya mereka. Ivi ya Ivi. Itulah jawaban Ivi.


Kembali ke saat ini. Rumah Ivi sedikit berubah, beberapa barang pindah tempat. Dan, sedikit dekorasi. Sepertinya sudah selesai, tinggal beberapa keperluan yang di butuhkan. Karena ini baru pertunangan, dan belum acara pernikahan, jadi tidak terlalu mewah atau meriah. Yang datang hanya saudara, teman dekat, serta beberapa kenalan Eric di kantornya. Dan, tentu saja keluarga Rina, karena tokoh utama acara malam ini adalah Rina dan keluarganya. Paling beberapa teman Ivi juga ikut hadir.


Pukul tujuh malam.


Acaranya akan di laksanakan pada pukul delapan. Keluarga Ivi sedang menyapa beberapa tamu yang susah hadir, sembari menunggu kedatangan keluarga Rina. Sedangkan, Ivi membantu di depan sebagai penerima tamu, dan itu berarti Ivi harus tersenyum setiap ada tamu yang datang. Saat para sahabatnya datang, mereka melihat Ivi dengan tatapan aneh, sambil geleng-geleng kepala.


"Vi, ini beneran elo?" tanya Erwin.


"Kenapa?"


"Gak salah? Baru kali ini gue liat elo ...." Erwin menggantung kalimatnya, dan mulai memperhatikan Ivi dari atas ke bawah.


"Kenapa? Gak cocok ya, gue pake baju ini? Aneh kan?" Ivi mulai gelisah.


"Oh, bukan. Bukan, justru elo keliatan cantik banget! Elo cocok kok pake baju itu, bener gak, Wan?" tanya Erwin ke Wawan.


Wawan mengangguk setuju, "Bener banget, dan lagi elo dandan, ya?"


"Terpaksa! Kak Eric yang nyuruh gue dandan. Gak enak tau gue kayak gini, gak biasa aja. Pasti gue keliatan norak, ya?"


"Gak. Beneran deh, elo cantik banget. Jarang-jarang lho kita liat elo dandan kayak cewek gini, manis tau," puji Wawan.


Sedang asik ngobrol dengan dua kawannya, terlihat Ryo datang menghampiri mereka.


"Hay, Vi," sapa Ryo.


"Hey, Ryo! Sendirian? Alvin mana?"


"Gak tau tuh Alvin. Di telepon gak di angkat."


"Oh," Ivi ber-o ria. "Thanks ya udah dateng."


"Heem ... gue pikir elo yang bakal tunangan, ternyata bukan toh."


"Sembarangan aja lo. Ivi gak mungkin tunangan secepat ini!" sela Wawan.


"Belum lulus juga," imbuh Erwin.


"Bisa aja lo pada. Ya udah, kalian masuk dan santai di dalam. Gue masih harus jadi patung penunggu di mari."


"Oke!" jawab mereka.


Mereka bertiga masuk dan menyapa kedua orang tua Ivi. Ia masih berdiri di sana berniat menunggu Alvin. Tapi ...

__ADS_1


"Alvin dateng gak ya, kok belum nongol juga tuh anak. Apa, dia masih marah, salah paham sama gue? Hmm ... gue harap gak sih." gumamnya.


"Elo nyari siapa, Vi? Kenapa celingukan gitu?" tanya Eric di samping Ivi.


"Oh, elo Kak. Gak kok, cuma Alvin sama Arya, dan Kak Radit belum dateng juga."


"Paling bentar lagi. Rina juga belum dateng, padahal bentar lagi di mulai acaranya," kini Eric yang terlihat gelisah.


"Udah di telepon?"


"Udah, tapi gak di angkat. Kenapa ya?" Eric menerka-nerka.


"Masih di jalan mungkin."


Beberapa saat kemudian terlihat Arya dan Radit yang baru saja memasuki halaman rumah Ivi.


"Hay, Vi," sapa Radit.


"Hay, Kak Radit. Arya mana?"


"Buset, yang di tanyain malah Arya. Gue gak di anggep nih di sini?" tanya Radit pura-pura kesal. "Gak, bercanda. Itu Arya masih di belakang. Be the way, elo keren banget malam ini, Ric!"


"Ow, harus dong!"


"Dan, Ivi ... elo juga cantik banget malam ini. Bener gak, Ar?" tanya Radit pada Arya yang baru saja datang menyusul.


"Ada apa?"


"Elo liat Ivi dong, malam ini dia manis banget, kan? Bagaimana menurut elo, Ar?"


"Apaan sih Kak Radit. Ini gue terpaksa, di suruh dandan sama nih orang," Ivi menunjuk Kakaknya.


Ketika Arya memperhatikan Ivi beberapa saat, terlihat kalau ia tersipu malu. Bahkan mungkin gugup.


"Halah, baru dandan buat acara tunangan udah ribet, gimana kalo acara nikahan, pingsan lo! Sekali-kali jadi cewek ngapa sih!" balas Eric.


"Emang gue apaan, hah?!"


Di sana Radit tertawa geli, "Wah, hari ini Eric tunangan, selanjutnya pasti Ivi bakalan nyusul Kakaknya nih. Kalian, kira-kira kapan tunangannya?" tanya Radit sambil melirik Ivi dan Arya bergantian.


"Kalian? Maksud Kak Radit, siapa?" Ivi bertaut alis.


"Ya elo sama Arya lah."


Akibat ucapan Radit, entah kenapa tiba-tiba wajah Ivi mulai menghangat. Dan jantungnya berdebar dengan cepat. Beruntung keadaan saat itu sedikit gelap, jadi wajahnya yang sudah memerah tidak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2