
Matahari menerpa wajah tampan seorang pria yang tengah tertidur dengan pulas, namun sayangnya rasa ingin tidur itu harus hilang karena matahari yang tak pernah bosan menyinari wajahnya.
Yoongi terbangun dengan wajah yang bengkak. Ia menangis setiap harinya, seperti bayi Yoongi terus-menerus meraung meratapi nasib.
Dia kini tengah terbaring di atas kasur dengan pakaiannya yang dipakai saat ingin melamar sang kekasih. Yup, dia sama sekali tak mandi. Yoongi selama hampir seminggu hidup dalam kejorokan yang luar biasa, buat apa juga mandi, toh akan kotor lagi.
Katanya sih.
Yoongi benar-benar muak dengan semuanya, bahkan anehnya ia pun tak ingin melihat wajahnya sendiri.
Handphone yang berada dibawah kakinya berdering, dengan sigap diraihnya melihat siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini.
Bibir Yoongi menipis setelah melihat siapa sang penelepon, tak lain dan tak asing itu adalah sahabatnya dari bangku SD, Jung Hoseok.
Telepon terus berdering, namun tak ada sedikitpun niatnya untuk menjawab. Dengan penuh kekesalan yang meluap entah kenapa, Yoongi malah melempar benda persegi itu hingga mendarat sempurna di salah satu sudut kamarnya.
Yoongi sedang malas untuk berbicara kepada orang lain, dirinya butuh waktu agar bisa kembali lagi ke dunianya seperti biasanya. Aneh, padahal ini sudah hari keenam dimana sejak kejadian itu ia mengurung dirinya sendiri.
Pria bersurai hitam kelam itu memejamkan matanya, berniat untuk kembali terlelap.
Telepon berdering kembali, Yoongi berdecak kesal lalu mengambil kembali handphone-nya
yang untungnya tidak pecah setelah dilemparnya. Jemarinya bergerak menggeser layar mengangkat panggilan dari sang sahabat.
Nyatanya seorang Jung Hoseok tak bisa diam saja saat Min Yoongi tengah mager, kuda tampan itu selalu bersemangat seperti biasanya.
"Hal-"
"Akhirnya diangkat juga!!" Yoongi menjauhkan telinganya secara refleks saat terdengar teriakan seorang pria yang nyaris seperti seekor kuda.
"Kenapa kau meneleponku sepagi ini??"
"Pagi?? Kau pikir jam berapa sekarang? Ini sudah jam dua belas siang!!"
"Ck, tidak perlu berteriak. Suaramu terdengar seperti kuda." tanpa sadar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut pedas seorang Min Yoongi. Toh ia hanya berterus terang?
Terdengar helaan napas kasar dari seberang, "kau kemana saja, aku mencarimu sampai kerumahmu tapi kau tak pernah membukakan pintu untukku." entah mengapa Yoongi tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada cermin disampingnya, menatap pantulannya sendiri dengan datar.
Wajahnya sangat kusut dan semakin pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, kantung matanya semakin menghitam. Dan mungkin Yoongi bisa menyimpan KTP-nya di kantung matanya.
"Halo? Haloooooo, hei Min Yoongi! "
Yoongi kembali menatap lurus ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar, entah kapan terakhir kalinya ia membersihkan jendela kayu itu.
"Kau masih disana? Kenapa kau diam saja, aku akan kerumahmu sekarang!"
Yoongi tersadar oleh suara Hoseok yang masih berbicara, namun ia tak dapat mendengarkannya dengan jelas. Kepalanya pusing seketika, Yoongi merasa sakit yang luar biasa di bagian lambungnya.
"Halo? Yoongi? Hei, manusia pucat! Ugh, apa yang terjadi disana?!"
Sungguh yang dilihat Yoongi adalah bayangannya yang jatuh membentur lantai dengan keras membuatnya kehilangan kesadaran.
*******
Tit... Tit.. Tit....
Suara dari elektrokardiogram (EkG) yang memperlihatkan sebuah garis yang naik turun mengikuti detakan jantung, cukup nyaring mungkin karena suasana yang sunyi.
Terdapat Yoongi yang terbaring lemah di atas salah satu ranjang yang dingin dan keras. Dengan perlahan kedua mata itu terbuka, kemudian tertutup untuk beberapa detik sedang menyesuaikan cahaya yang menyambut kornea matanya.
Kepalanya berdenyut dengan menyakitkan, pandangannya masih sedikit kabur, tapi dia masih bisa melihat seseorang yang duduk disampingnya. Yoongi menatap sosok itu cukup lama, berkedip beberapa kali memastikan siapa sebenarnya orang itu.
"Ugh.." ringis Yoongi merasakan lambungnya yang seolah diiris menjadi beberapa potongan.
"Kau sudah sadar rupanya." akhirnya setelah beberapa kali mencoba, Yoongi bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk disampingnya, dan ternyata itu Hoseok.
Kedua bahu Yoongi merosot, ia memang tidak mengharapkan apa-apa, tapi jujur saat menyadari orang itu Hoseok Yoongi sedikit kecewa.
__ADS_1
"Ada apa dengan ekspresi itu, kau tidak senang melihat wajah tampanku?" seolah membaca pikiran Yoongi, Hoseok kini menatap pria didepannya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Dan seperti biasanya, Yoongi tidak suka berbohong. Makanya tanpa ragu ia mengangguk dengan tampang polos nan menyebalkan, membuat Hoseok harus menahan napas dan rasa ingin membunuh kucing garong yang sedang lemas sekarang.
Entah ada angin apa, Yoongi tersenyum lebar ke arah Hoseok dan tentu dibalas si pria, kemudian kedua sahabat itu tertawa garing dengan aneh.
Namun sebenarnya, setelah itu Hoseok justru memukul kepala Yoongi sekuat-kuatnya dengan penuh emosi yang meledak-ledak. Berhasil membuat pria dengan tatapan setajam pisau itu melotot tak percaya sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Apa-apaan kau!!" geram Yoongi, namun Hoseok membalas tatapannya dengan mendelik.
"Kau yang apa-apaan! Bagaimana bisa kau mengurung diri di rumah selama enam hari tanpa makan dan minum, eoh?!! Kenapa tidak langsung bunuh diri saja dasar sialan!"
Yoongi bangun dari tidurnya dan mengambil posisi duduk lalu menutup mulut Hoseok dengan panik, "pelankan suaramu, dasar kuda rabies..! Omong-omong, aku sudah memikirkan untuk mengakhiri hidupku, tapi tidak jadi."
"Hehapa hihak hahi?"(kenapa tidak jadi?)
"Ada seseorang yang menghentikanku." ujar Yoongi sembari menjauhkan tangannya dari mulut Hoseok.
"Siapa? Aku berani bertaruh dia adalah seorang gadis."
Yoongi menoleh dengan cepat, "kau tahu darimana??" bukannya menjawab, Hoseok malah mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Jangan meremehkanku." Yoongi memutar bola matanya dengan malas, "terserah kau." sahutnya datar.
"Hei, apa mahg-ku kambuh lagi?"
"Apa kau terlalu bodoh hingga harus menanyakan hal yang sudah sangat jelas?" balas Hoseok tak bersahabat.
"Haih, apa kau sedang datang bulan?" goda Yoongi seraya mencolek dengan jahil pipi Hoseok, alih-alih mengamuk, kuda itu justru menyengir dengan aneh.
"Yoongi-ah, apa kau belum pernah ditampar dengan elektrokardiogram??"
Seluruh bulu kuduk Yoongi meremang, dia sedang dalam bahaya sekarang. Sekarang Yoongi harus segera mengalihkan perhatian sebelum Hoseok benar-benar kehabisan kesabaran.
"I-i-itu a-aku belum ma-ma-makan bukan? Bisakah kau belikan jjajangmyeon atau ramyeon di minimarket? Aku sangat lapar.." rengek Yoongi, Hoseok pun akhirnya mendesah lelah namun kemudian mengangguk.
Yoongi bernapas lega, selamat.
Kisahnya baru berawal dari sekarang, karena pria pucat itu baru saja memulai kehidupannya yang baru.
Hari silih berganti, begitu juga dengan Yoongi yang mulai terbiasa menerima keadaannya yang memang sudah nasib.
Atau.. Semuanya hanyalah omong kosong semata? Karena saat ini, Yoongi kembali ditemukan sedang terbaring malas di atas kasurnya yang berdebu, entah kapan terakhir kali ia mengganti seprai beserta selimutnya yang berwarna mint itu.
Baiklah, Yoongi harus akui kalau dia sebenranya hanya asal bicara, nyatanya wajah sang mantan kekasih selalu terbayang setiap saat.
'Memulai lembaran baru' apanya, untuk meninggalkan lembaran sebelumnya saja dirinya sudah seperti itu. Bagaimana bisa ia memulai kembali hidupnya, jika dia tak bisa menata kembali semuanya?
Ponselnya yang sedaritadi bergetar tiba-tiba berhenti, membuat si pria penasaran dan mengecek benda pintar itu. Tanpa sadar ia menghela napas lelah, Hoseok selalu menghubunginya selama dua minggu sampai sekarang.
36 panggilan tak terjawab dan 42 pesan yang belum dibaca, kadang Yoongi berpikir ia akan menikah saja dengan Hoseok, pria itu sudah seperti pacarnya saja.
Sudah dua minggu berlalu sejak ia terbangun di rumah sakit, namun dirinya sama sekali tak menunjukkan peningkatan apapun. Yoongi mengusap kasar wajahnya, dia gagal move on.
Dengan wajah lempeng Yoongi membuka dan membaca satu persatu pesan yang dikirim Hoseok, lalu memutuskan untuk menelepon pria tajir itu.
Telepon tersambung, tidak sampai dua detik Yoongi menunggu Hoseok langsung mengangkatnya.
"Jadi, kau ingin minum kopi bersama di caffe dekat rumahmu? "
"Yha, aku juga sedang ingin menghirup udara diluar rumah, jadi aku ikut denganmu."
"Aku sudah berada di depan rumahmu, lihatlah keluar dasar bodoh."
Yoongi segera berlari keluar kamar menuju jendela ruang tamu dan mendapati Hoseok yang melambaikan tangannya dibalik jendela tepat di depan rumah Yoongi.
Heol, Yoongi merasa harus menikahi Hoseok sekarang juga.
__ADS_1
Pria bermarga Jung itu memberi isyarat agar Yoongi segera keluar, dan diangguki paham dari Yoongi yang mulai mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih layak untuk dipakai.
Sepuluh menit, Yoongi akhirnya keluar dari rumahnya menatap Hoseok tanpa minat. "Kenapa kau sangat rajin menghubungiku? Cari pacar sana, sialan." maki Yoongi namun masih setia mengekor pada Hoseok yang berjalan lebih dulu di depannya.
"Aku punya pacar, dan harusnya aku yang mengatakan hal itu padamu!" kesal Hoseok, sedangkan Yoongi hanya memutar bola matanya tak percaya dengan Hoseok yang mempunyai seorang pacar.
"Iki pinyi picir, halah banyak bicaramu. Kau pikir aku ini bisa ditipu dua kali?"
"Ck, oleh karena itu yang kedua kali ini aku tak berbohong padamu." kedua mata sipit Yoongi membulat dengan sempurna, ia mempercepat langkahnya untuk melihat wajah Hoseok jika pria itu berbohong.
Namun nyatanya yang didapatnya adalah wajah penuh serius dan tegas, Yoongi berkedip sekali, ia hanya tak menyangka. Akhirnya selama 23 tahun pria berkelahiran 94 itu menemukan orang yang mencintainya.
"Kalau begitu, kenalkan wanitamu padaku. Aku penasaran dengan wajahnya."
Kini mereka berdua telah sampai di dalam caffe dan memesan beberapa cemilan juga dua cangkir kopi.
Hoseok memandang curiga Yoongi yang duduk menatap serius padanya, "kenapa aku harus mengenalkan Hyera padamu?"
"Jadi namanya Hyeri, toh." Yoongi mengangguk sekilas, "Hyera!!" tegas Hoseok, Yoongi tersenyum miring.
"Jangan menyebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu, mengerti?" sinis Hoseok menatap sadis ke arah Yoongi.
Yoongi membalas tatapan Hoseok dengan tatapan tajamnya, "kau semakin membuatku penasaran.." Yoongi berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya dengan wajah si pria.
"Bagaimana bisa seorang wanita tertarik padamu yang hanya memiliki harta warisan? Kalau soal wajah kau itu tidak jelek, hmm, pakaian ber-merek, sikap, juga pekerjaanmu sih lumayan..."
"Kau meledekku atau bagaimana?"
Yoongi menjauhkan wajahnya dan duduk kembali dengan tenang, kopi dan juga beberapa cemilan yang dipesannya telah datang. Dengan santai Yoongi melahap donat yang dipenuhi cokelat juga keju yang masih meleleh, pandangannya masih menatap lurus pada Hoseok yang sibuk mencicipi kopi hitam yang adalah menu baru di caffe itu.
"Bagaimana?" mendengar ucapan Yoongi yang tiba-tiba membuat Hoseok tersedak kopi yang diminumnya.
"Apanya? Jangan bilang kau akan mengungkit soal Hyera lagi-"
"Kopinya, aku tanya rasa kopi yang kau minum itu." potong Yoongi, sedangkan Hoseok segera membuang muka menjauhi tatapan si sahabat. Ingin rasanya dirinya mencekik si pria pucat itu, namun ia masih berusaha untuk tetap tenang mengingat mereka berada di caffe.
"Lumayan, tapi aku lebih suka dengan yang biasa kupesan" ujar Hoseok memasang wajah netral, berusaha melupakan tingkahnya yang sangat memalukan sebelumnya.
"Jung Hoseok, apa kau tidak ingin menikah denganku? Aku kurang apa dimatamu? Apa aku kurang tampan?? Aneh, padahal aku sangat yakin kalau aku adalah pria tertampan di Korea Selatan.."
Hoseok meremas cangkir yang dipegangnya, kesabarannya telah habis, tak ada gunanya menahan diri pada mayat hidup itu lagi. Pria itu sudah gila menurut Hoseok, ternyata memang benar orang bisa berubah hanya karena seseorang yang mereka cintai.
"Aku kurang apa dimatamu, hm~?" ulang Yoongi. Cukup, Hoseok tak dapat menahan lagi segala rasa geli serta jijiknya yang bercampur aduk.
Hoseok meletakkan cangkirnya dengan kasar, "tinggi! Kau kurang tinggi untuk jadi pacarku!!" Yoongi berdiri begitu juga dengan Hoseok, keduanya saling bertatapan dengan rasa kesal tersendiri.
"Apa katamu?!" teriak Yoongi tak terima.
Seluruh pengunjung caffe menatap mereka berdua, hingga kedua pria gila itu benar-benar menjadi pusat perhatian.
"Kuda rabies sialan, memangnya kau tahu apa soal tinggiku huh?!!"
Hoseok menunjuk Yoongi tepat di depan wajahnya, "memangnya kau siapa beraninya menilaiku dan meremehkanku, eoh?!!!" balas Hoseok sengit.
"KAU!!!" ucap keduanya bersamaan.
Para penonton semakin tegang dibuat mereka, namun yang terjadi setelahnya adalah Hoseok yang menggandeng Yoongi dan menarik pria itu keluar caffe setelah menaruh beberapa lembar uang di atas meja.
"Mari kita minum, biar aku yang traktir..!" ajak Hoseok dan langsung disetujui Yoongi tanpa pikir panjang.
Yah, pembaca dan penonton hanya bisa melongo.
Karena cerita ini bersambung dulu:)
*******
Hai guys, udh lama gk nongol!!:")
__ADS_1
Seharusnya author update Be Mine dulu, tapi malah ngelanjutin yang ini:'v
Makasih udh baca dan sampai jumpa lagi~