This Is Me

This Is Me
eps 9


__ADS_3

Kemudian Ivi berjalan masuk ke dalam rumah, begitu masuk ia mendengar Eric tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Eric juga melihat kedatangan Ivi.


"Ivi? Oh, itu dia baru masuk. Kenapa? Oh ya ... ya oke ....!" Eric menutup teleponnya. Kemudian menghampiri Ivi. "Baru pulang?"


"Hmm ... elo lagi telepon sama siapa?"


"Itu, Rina barusan telepon."


"Kak Rina?" Ivi menautkan kedua alisnya. "Ada apa dia telepon Kak Eric?"


"Elo gimana sih, dia 'kan pacar gue. Tadi dia nanya elo udah pulang atau belum, katanya tadi kalian ketemu."


Ivi menatap Eric. 'Elo enggak tau 'kan kalo saat ini Kak Rina lagi sama siapa,' batin Ivi kesal.


Eric heran saat melihat Adiknya diam tidak menjawab pertanyaan darinya. Ia melihat Ivi tengah melamun. Lantas, Eric mengibaskan tangannya di depan wajah Ivi.


"Helloooo, Vi? Kok bengong?"


"Eh, oh ... ya, tadi kita ketemu di jalan," jawab Ivi singkat.


"Oh jadi gitu, pantes aja dia khawatir sama elo, dia takut kalo elo kenapa-kenapa."


'Iya, takut kenapa-kenapa, takut kalo gue bilang sama Kak Eric, soalnya tadi gue habis mergokin Kak Rina lagi jalan sama cowok lain!' batin Ivi lagi.


"Viii, elo kenapa sih, dari tadi bengong melulu. Denger enggak tadi gue bilang apa?"


"Iya, ya! Gue denger! Gue capek, mau ke kamar, mau tidur!" ketus Ivi.


"Mandi dulu kali," ucap Eric sambil mengacak-acak rambut Ivi. Ia heran melihat tingkah Adiknya saat ini.


"Iiiiih, apaan sih!"


"Buset! Judes amat! Jangan galak-galak dong, entar enggak dapet pacar lagi gimana?"


"Berisik! Itu enggak ada hubungannya!"


Eric cengengesan melihat Ivi cemberut, sangat manis. Sementara, Ivi masuk ke kamar dan menutup pintunya. Di dalam Ivi bersandar pada pintu, kini ia mengusap wajahnya.


"Gue enggak tega bilang sama Kak Eric, kalo liat Kakak lagi seneng gitu," gumamnya pelan. "Tunggu sampai Kak Eric liat sendiri gimana kelakuan Kak Rina!"


Kini ia membanting tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya. Rencana hari ini ia ingin mencari DVD, tapi gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Ivi benar-benar kesal. Kenapa dua hari ini ia mengalami kejadian yang tidak diinginkan.


Ponsel di dalam tasnya berdering, Ivi meraih tasnya dan mengambilnya. Di layar tertulis nama mantannya. Ivi bertaut alis, kaget, tentu saja.

__ADS_1


"Ini juga ngapain telpon segala! Enggak tau orang lagi emosi apa. Malah nambah-nambahin masalah. Lagi pula dari mana dia dapet nomer gue, masa iya dia masih nyimpen nomer gue?"


Ivi menekan tombol merah. "Gue juga, ngapain masih nyimpen nomer dia!"


Memang benar, dari dulu ia tidak pernah mengganti nomer ponselnya pasal setelah putus dengan pacarnya. Hingga sekarang ia masih menggunakan nomer yang sama. Pantas saja sang mantan menghubungi nomer ini. Lantas, Ivi langsung menghapus nomer si mantan.


Ia melempar ponsel di sebelahnya, ia menutup matanya kembali, namun ponselnya berdering lagi. Sekarang ia benar-benar jengkel setengah mati, ia meraih ponselnya dan langsung men-non aktifkan ponselnya.


"Nah, beres 'kan!"


Malam harinya ....


Eric masuk ke kamar Ivi. "Vi, temenin gue main PS yuk."


"Males ah, capek."


"Yaaah ...." Eric berkeluh. "Tadi elo sama Rina cerita apa pas ketemu?" Eric kepo.


"Enggak cerita apa-apa, gue juga tujuannya cuma nyari DVD doang, jadi enggak lama."


"Oooh gitu," Eric manggut-manggut.


"Kak."


"Kak Eric dan Kak Rina ... hubungan kalian itu serius ya?" entah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Ia sendiri juga bingung, tapi sudah terlanjur bertanya. Ivi tidak bisa mundur lagi.


"Jelas dong, elo tau sendiri 'kan gimana perasaan gue ke Rina. Ada apaan sih?"


"Kalo ... seandainya di antara kalian ada yang ... selingkuh, gimana?"


Bodoh! Kenapa malah tanya yang iniiiiii! Batin Ivi mengumpat dirinya. Bodoh banget sih! Mana ini mulut tak bisa berhenti lagi! Sial!


"Kok pertanyaan elo gitu amat yak?"


"Ya, gue penasaran aja sama orang pacaran," kilahnya. Sebenarnya Ivi sangat gugup.


"Cie cie cie ... tumben banget! Elo lagi jatuh cinta ya?" tebak Eric girang.


"Udah, jawab aja pertanyaan gue!"


Eric tertawa renyah. "Hahaha ... enggak mungkinlah kita selingkuh, gue bener-bener serius sama Rina, dan dia juga serius sama gue. Kita sama-sama saling mencintai dan saling percaya. Hubungan kami tidak main-main, jadi enggak ada pikiran sama sekali ingin selingkuh atau apapun itu," jelas Eric dengan wajah berseri.


Ivi benar-benar kasihan melihat Eric. 'Andai aja elo tau, Kak. Semoga saja Kak Rina sadar bahwa Kak Eric selalu menjaga kepercayaannya.'

__ADS_1


*****


Esok paginya


Hari ini hari Minggu, Ivi bangun kesiangan, gara-gara semalam di ajak main PS oleh Kakaknya. Ternyata semalam mereka jadi bermain PS hingga pukul dua pagi. Alhasil, mata Ivi terasa sangat berat untuk di buka. Ia ogah-ogahan untuk bangun. Ketika jam wekernya berbunyi, entah karena terganggu atau karena masih jengkel, Ivi langsung menjotos lagi jamnya hingga terpental ke lantai. Sampai-sampai Mama yang melintas di depan kamar Ivi pun kaget.


"Suara apa lagi itu, Vi, berisik amat," tanya Mama dari luar kamar Ivi.


"Maaf, Ma. Jamnya jatuh!" jawabnya dari dalam kamar.


"Lagi? Ini sudah yang ke berapa kalinya kamu banting itu jam?"


"Bukan di banting, Mama, tapi jatuh!"


"Terserah. Sekarang bangun gih, Rina sudah di depan sama Kakakmu."


Sontak Ivi langsung bangkit dari tidurnya. "Apa? Kak Rina udah di sini? Ngapain hari Minggu pagi-pagi gini dateng?"


"Hush ... jangan gitu. Siapa bilang masih pagi, ini sudah jam delapan sayang. Bangun dong, malu lah sama ayam, masa anak perempuan bangunnya siang."


"Biarin, Ivi masih ngantuk!" ujarnya lalu berlanjut untuk tidur.


"Dasar."


Ivi kembali menarik selimutnya. Ia semakin kesal saja saat tahu kalau Rina sedang di rumahnya. Rasanya Ivi tidak ingin bertemu dengan Rina lagi. Rasanya muak, dan malas untuk bertatap muka langsung. Ivi merapatkan selimut ke tubuhnya. Tapi, kalau ia tidak pergi menemui Rina di luar, nanti Eric pasti bakalan curiga, pikir Ivi.


"Haaaah! Bikin pusing aja ah!"


Untuk kedua kalinya pintu kamar Ivi di ketuk seseorang.


"Ivi, ini gue," suara Rina dari luar. "Gue boleh masuk enggak?"


Ivi mendengarnya, tapi dia bungkam.


"Vi ... gue masuk ya," kata Rina yang kemudian membuka pintu tanpa persetujuan dari Ivi.


Di kasurnya Ivi belum mengubah posisinya sama sekali. Ia berpura-pura tidur supaya tidak bertatap muka dengan Rina. Kini, Ivi merasakan kalau Rina duduk di sampingnya.


"Vi, gue tau elo masih marah sama gue karena kejadian kemarin. Tapi, gue minta sama elo, dengerin dulu apa yang mau gue omongin. Gue bisa jelasin semuanya," ucap Rina pelan.


Ivi masih tidak berkutik dari dalam selimut.


"Ivi, gue minta maaf sama elo. Gue bener-bener nyesel, Vi. Sekarang gue udah putus sama cowok itu. Kemarin setelah elo pergi, gue sama dia sempet bertengkar, dia marah dan akhirnya gue di putusin. Gue sadar kalo gue salah, dan gue tau kalo perbuatan gue ini sulit untuk di maafkan. Maka dari itu, Vi, gue minta maaf sama elo ...." jelas Rina yang berupaya membujuk Ivi agar mau mendengarkan.

__ADS_1


Lama-lama Ivi tidak tahan mendengar penjelasan dari Rina. Ia pun menyibak selimutnya dan bangkit untuk duduk. Di tatapnya Rina dengan tajam.


__ADS_2