
Ivi masih belum percaya kalau yang datang menolongnya adalah Arya.
"Elo ngapain di sini?" tanya Ivi datar.
"Tadi gue ngejar elo karena gue khawatir. Elo gak apa-apa, kan?" tanya Arya memastikan keadaan Ivi. Arya hendak menyentuh pundak Ivi, tapi Ivi cepat-cepat menghindar.
"Jangan pegang gue!" ucap Ivi tajam.
"Sori. Tapi, elo gak apa-apa, kan?"
"Ya. Gue gak apa-apa, thanks udah nolongin gue." meski enggan Ivi menjawabnya. "Tapi, ini gak akan mengubah apapun!"
"Gue tau. Gue minta maaf, dan gue bener-bener nyesel karena udah..."
"Stop! Jangan di teruskan, gue gak mau denger apapun dari mulut elo!"
Ivi hendak pergi, tapi tangannya lebih dulu di cegah oleh Arya.
"Vi, maafin gue. Gak bisakah elo sebentar aja dengerin penjelasan gue." ucap Arya memohon. Di tatapnya Ivi begitu dalam.
Dengan malas Ivi berbalik. "Apa yang musti gue denger dari elo. Jelas-jelas elo yang salah! Elo pikir segampang itu gue maafin? Gak akan!"
"Bahkan sampe sekarang pun, elo masih segitu bencinya sama gue?"
"Iya! Gue benci sama elo! Benci banget!!"
"Vi, maaf... dulu gue ngelakuin itu sama elo karena gue bener-bener cinta sama elo, Vi. Gue gak ada niatan buat nyakitin elo. Tolong, percaya sama gue."
"Cinta? Gak ada niatan buat nyakitin gue? Elo serius?" tanya Ivi dengan nada sinis. "Ini apa namanya kalo bukan nyakitin gue? Elo pikir perasaan gue ke elo itu cuma main-main, iya?!"
"Vi..."
"Enak banget lo ya bilang maaf, setelah sekian lama, apa elo juga lupa kalo elo itu udah nyakitin gue, mempermainkan perasaan gue, hah?!"
__ADS_1
"Bukan itu maksud gue waktu itu. Gue cuma mau membuktikan kalo gue beneran cinta sama elo, Vi!"
Ivi tertawa mengejek. "Cinta... gue udah gak percaya sama hal semacam itu lagi. Gue udah lupa bagaimana rasanya cinta itu. Tubuh gue udah mati rasa sejak saat itu. Gue udah gak bisa mempercayai yang namanya cinta, elo tau kenapa, karena elo yang udah bikin gue ngerasa kalo cinta itu cuma nafsu!"
"Vi... elo salah paham, gue gak ada maksud buat... gue cuma mau ngebuktiin perasaan gue ke elo doang!" Arya bingung harus berkata apa lagi.
"Emang harus dengan cara itu elo membuktikan perasaan elo?" Ivi menatap Arya tanpa ekspresi. "Apa dengan cara elo itu, gue bakal jadi cinta sama elo? Kayaknya elo salah deh."
Ivi masih melanjutkan.
"Cinta itu gak harus di buktikan lewat ciuman. Cinta itu bagaimana mereka saling menjaga hubungan antara dua orang. Saling menghormati satu sama lain, kebersamaan, dan saling mempercayai. Dan, gue gak suka cara elo mencium gue waktu itu!" tandasnya dingin.
"Kalo elo gak suka, kenapa waktu gue cium elo diem aja. Kenapa elo gak marah sama gue, dan kenapa elo gak pukul gue?!" kini suara Arya mulai meninggi.
Ivi mendekati Arya, tepat di depannya. Ia menatap mata Arya. "Itu karena gue gak tau apa maksud dari permintaan elo, sialan!!"
Ivi beranjak pergi meninggalkan Arya.
"Tapi inget, Vi. Kita ini belum putus!" ucap Arya.
Di rumah Ivi...
Sampai rumah Ivi langsung masuk ke kamarnya, di dalam ia membanting tubuhnya di atas kasur. Capek dan pusing.
Ivi menutup wajahnya dengan bantal, ia mendesah kesal, masih di ingatnya perkataan Arya tadi. Memang benar Ivi dan Arya belum putus, tapi Ivi yang beranggapan bahwa mereka sudah putus. Karena setelah kejadian beberapa tahun yang lalu Ivi tidak bertemu dengan Arya, Ivi lah yang memutuskan untuk tidak menemui Arya. Bagi Ivi, Arya itu sudah melakukan kesalahan besar. Waktu itu Arya berkali-kali menghubungi Ivi, tapi Ivi sama sekali tidak menanggapinya. Meskipun tidak pernah ada dan belum pernah ada kata putus dari mulut Ivi, tapi baginya mereka benar-benar sudah putus. Tidak ada hubungan apa-apa lagi. Selesai. Sampai sekarang Ivi baru sadar kalau ia tidak pernah sekalipun mengucapkan kata putus. Kira-kira sejak kapan Ivi lupa akan hal itu. Ivi tidak bisa mengingatnya. Sudah terlalu lama, dan Ivi tidak pernah memikirkannya sama sekali.
"Apa ini? Kenapa sama gue...?" tanpa sadar jantungnya berdetak lebih cepat. Ivi teringat saat Arya datang menolongnya tadi, sesaat tapi pasti, Ivi merasa lega dan senang.
Lalu Ivi bangun dari tidurnya, ia merasa dadanya sakit.
"Apa bener gue masih suka sama Arya?" gumam Ivi pelan. Tapi cepat-cepat ia membuang pikirannya itu. "Gak! Gak mungkin gue masih suka sama Arya! Masa iya gue suka sama dia hanya karena dia tadi nolongin gue sih! Gak jelas banget deh!"
Ivi bangkit berdiri. "Kenapa dia muncul sekarang sebagai adiknya Kak Radit! Kenapa dia bisa ada di sini! Kenapa harus dia, kenapa harus Arya?!" Ivi menggeram sendiri.
__ADS_1
"Arya?" ucap seseorang di balik pintu kamar Ivi. Ternyata Eric sudah berdiri di sana.
"Kak Eric..." Ivi agak terkejut.
"Barusan elo sebut nama Arya. Kenapa dengan Arya?" tanya Eric sembari masuk ke kamar Ivi.
Di sana Ivi menceritakan semuanya pada Eric. Mau tidak mau Ivi harus cerita, sudah ketahuan juga.
"Jadi, mantan elo itu beneran Arya yang tadi, Arya adik Radit?" tanya Eric tidak percaya.
Ivi mengangguk kecil.
"Kenapa elo gak bilang aja sejak awal, kenapa elo bilang baru pertama kali bertemu, kenapa juga elo harus bohong dan berpura-pura tidak saling mengenal?!"
"Gue terpaksa. Karena gue bener-bener benci sama Arya. Gue gak mau ketemu sama dia. Awalnya gue gak tau kalo dia adiknya Kak Radit. Gue baru tau beberapa hari yang lalu, dan sekarang malah elo ngajak Kak Radit, parahnya adiknya Kak Radit ikut, dan bencananya dia adalah Arya!" sungutnya.
"Alasan elo pura-pura gak enak badan tadi itu, juga karena ada Arya?"
Ivi mengangguk mengiyakan. "Gue minta maaf karena udah bohong. Maaf."
"Oke, gak apa-apa, gue juga salah, tanpa tau kalo Arya itu adiknya Radit, yang ternyata mantan pacar elo. Maafin gue, ya."
"Elo gak salah kok, salah gue karena gak jujur sejak awal." Ivi menunduk.
"Sebenernya ada masalah apa sih kalian ini, dan kenapa segitu bencinya elo sama Arya?"
Ivi terlihat ragu. Antara malas dan takut jadi bahan tertawaan.
"Eemm... sebenernya, alasan gue benci sama Arya... karena, dia itu... dia, udah pernah mencium gue..."
Ivi kembali menundukkan kepalanya. Malu banget, sumpah!
"Hah? Apa??"
__ADS_1
Tidak di sangka Eric justru ngakak. Ia tertawa mendengar cerita Ivi dan juga tingkah laku Ivi saat ini yang malu-malu kucing. Eric geleng-geleng kepala, tidak percaya kalau adiknya bisa seperti sekarang ini, malu-malu kucing, wajahnya memerah. Ini seperti bukan Ivi saja, yang biasanya bersikap cuek dan serampangan, serba seenaknya sendiri. Saat ini Eric melihat momen di mana adiknya menjadi seorang cewek normal. Biasanya Ivi bersikap tidak peduli dengan apapun yang menurutnya bukan urusan Ivi.