Time Travel Qin Hao Yan

Time Travel Qin Hao Yan
BAB 14 Si paling pencari masalah


__ADS_3

“Marga qin?! Bukankah itu marga perdana menteri qin yang terkenal itu?! Jika begitu…Nama qin hao yan, berarti dia putri kedua perdana menteri qin?! Putri keduanya yang terabaikan itu!” Ucap paman bai luo liu dengan terkejut


“Pantas saja nona qin mengatakan dia setiap hari memasak, ternyata begitu ceritanya…” Ucap paman bai luo liu lagi


...----------------...


Setibanya di Kediaman Qin Hao Yan langsung berjalan ke paviliun ibunya, hingga pandangannya terhenti di bawah pohon bunga sakura. Qin Hao Yan mengerutkan keningnya dan mengepal tangannya, lalu berjalan mendekat


“Qin Ji'er.”


Qin Ji'er yang mendengar suara Qin Haoyan menoleh ke belakang, menatap Qin Haoyan. Qin Haoyan berhenti tepat di belakang Qin Ji'er, menatap tajam. “Apa yang kau lakukan dengan ibuku?”


“Anak selir, sebaiknya kau siap siap sebelum ajalmu datang.” Pinta Qin Ji'er


Qin Ji'er berbalik mendekati Qin Haoyan dan melepaskan ibu Yun Nuo. Ia berhenti tepat di hadapan Qin Haoyan, menyunggingkan senyum. “Hari ini, kau pasti seratus persen diusir dari kediaman ini.”


Qin Haoyan mengabaikannya dan melaluinya. Qin Haoyan mendekati ibu Yun Nuo dan membantunya berdiri. “Jika kau ingin mencari masalah denganku jangan libatkan ibuku.”


Qin Haoyan menoleh ke belakang dengan tatapan tajam nan membunuh. “Karena jika sedikit saja kau menyakiti ibuku, aku tidak akan membiarkanmu.”


Qin Ji'er tampak terkejut dan ketakutan di waktu yang bersamaan. Perlahan namun pasti, ia merasakan perasaan aneh ketika dekat dengan Qin Haoyan. ‘Perasaan aneh apa ini? Aku ketakutan saat menatap matanya.’ Batinnya

__ADS_1


“Kau, kau tunggu saja ajalmu hari ini, dan kau tidak dapat tersenyum puas lagi dihadapanku.” Qin Ji'er dengan ketakutan berlari dan meninggalkan paviliun Ibu Yun Nuo


Qin Haoyan mengerutkan keningnya merasa akan terjadi sesuatu hari ini. Dengan perlahan ia memapah ibunya ke dalam dan mengobati luka lukanya


Ibu Yun Nuo mengangkat tangannya dan mengelus kepala Qin Haoyan perlahan. “Nak, sebaiknya kau jangan mencari masalah dengan mereka, jika kita diusir nanti dimana kita akan tinggal?”


Qin Haoyan tak menggubris perkataan Ibu Yun Nuo dan diam di tempat. Ia mendongakkan kepalanya menatap mata sang ibu, tersenyum. “Kita tidak akan diusir dari sini, ibu tenang saja.”


Qin Haoyan mencoba memenangkan ibu Yun Nuo. Qin Haoyan bangkit dan duduk di sebelah ibu Yun Nuo dan menggoyang goyangkan kakinya. “Hari ini aku sudah membeli sebuah Restoran, besok aku akan ke sana dan memperbaiki kerusakannya lalu membukanya.”


Ibu Yun Nuo menoleh ke samping dan menatap Qin Haoyan dengan tatapan sayu. Ia memegang pipi lembut Qin Haoyan sembari menangis. “Nak, ibu hanya bisa menjadi beban bagimu.”


“Andaikan saja kakekmu tahu ini, dia pasti akan sangat marah dan mendatangi kediaman ini.” Ujar ibu Yun Nuo sedih


Qin Haoyan tersenyum kecil dan bangkit. Kedua tangannya di pinggang dan dia tersenyum percaya diri. “Kelak aku pasti bisa membahagiakan ibu, tenang saja.” Qin Haoyan tampak percaya diri sekali akan tujuannya yang ingin membahagiakan sang ibu kelak


Ibu Yun Nuo merasa terharu dengan kepercayaan diri Qin Haoyan yang percaya diri sekali untuk membahagiakan dirinya


“Huff…” Ibu Yun Nuo menghela napas dan bangkit menepuk pelan pundak Qin Haoyan. “Jika kau ingin sukses maka bersabarlah dan jangan terlalu yakin, karena setiap keyakinan pasti akan membawa kegagalan, itulah yang terus ibu rasakan dulu.” Ujarnya


Qin Haoyan membalikkan badannya menatap sang ibu yang mengatakan itu padanya. Ia mendekati ibunya yang sedang menatap keluar jendela kamar dengan tatapan sedih

__ADS_1


Ibu Yun Nuo menoleh ke belakang dan menatap Qin Haoyan dengan tatapan sayu. “Jangan sampai kau sama dengan ibu yang terlalu percaya diri dan berakhir gagal dan akibatnya akan sangat fatal bagi hidupmu nanti.”


Qin Haoyan terdiam di tempat tak berbicara apapun dan hanya memikirkan perkataan ibunya


Kepercayaan Qin Haoyan tak tergoyahkan walupun mendengar nasehat ibunya, ia mendekat dan menepuk pundak ibunya. “Apa yang ibu katakan? Aku akan sukses tidak peduli apapun yang terjadi.”


Ibu Yun Nuo membelaalakkan matanya melihat secercah cahaya tiba tiba muncul di diri Qin Haoyan. Ia berbalik dan memeluk Qin Haoyan dengan begitu erat. “Semoga yang kau katakan benar nak.”


Qin Haoyan menyunggingkan senyum manis dan membalas pelukan sang ibu dengan begitu erat pula. Sembari mengelus ngelus kepala ibunya ia meneteskan butiran butiran air mata yang terjatuh entah kenapa


Dalam hati ia mengutuk air matanya yang tak bisa berhenti mengalir deras keluar dan berjatuhan. ‘Sial! Kenapa air mata ini turun tanpa aba aba.’ Dengan cepat ia mengusap air matanya dan mencoba menahan air matanya


Brak!!


Dikala itu perdana menteri Qin Liu Bai tiba tiba muncul di paviliun ibu Yun Nuo dan mendobrak pintu masuknya dengan begitu brutal. Tentunya Qin Haoyan dan Ibu Yun Nuo terkejut dan segera berlari keluar melihat apa yang sedang terjadi


Lari Ibu Yun Nuo tiba tiba berhenti dan pandangannya tertuju ke perdana menteri Qin Liu Bai, ibu Yun Nuo menatap bingung perdana menteri Qin Liu Bai.“Ya ampun! Suamiku, apa yang terjadi? Apa kau yang merusak pintu masuknya?”. Dengan kebingungan ia mendekati perdana menteri Qin Liu Bai


Perdana menteri Qin Liu Bai berjalan melalui Ibu Yun Nuo dan mendekati Qin Haoyan. Ia mencekik Qin Haoyan dengan erat dan tidak melepaskannya dan membentak. “Apa yang kau lakukan pada kakakmu hah!”


See you

__ADS_1


__ADS_2