
Jian Zhentian mengambil buku itu dengan cepat dan menyembunyikannya.
Sebelum pulang keduanya berbicara sebentar hingga sore hari.
Sepulangnya di sana hal pertama yang ia lihat adalah Yun Haoyan yang ditarik oleh Qin Ji'er di hadapan beberapa wanita lainnya.
...----------------...
“Hahahahahaha! Cepat berlutut dan berjalan seperti kuda.”
Beberapa wanita itu tampak memaksa Yun Haoyan berlutut dan menirukan kuda.
Plak!
“Hahaha! Bagus, tampar lebih keras lagi!”
Plak! Plak!
“Bagus! Lebih keras lebih bagus!”
Terlihat Yun Haoyan yang ditampae habis habiskan tanpa melakukan perlawanan apapun.
‘Sial! Aku lengah dalam sesaat dan berhasil membuat mereka mengambil celanya.’ Batin Yun Haoyan.
“Hahahahahaha!”
Tawaan dari wanita wanita itu terdengar sangat kelas.
Jian Zhentian yang melihat Yun Haoyan tak melakukan apa apa terhadap wanita wanita itu terkejut dan segera mendekat.
Dari belakang ia menendang keras wanita itu dan membantu Yun Haoyan berdiri.
“Bagaiamana kau bisa diam begitu saja saat wanita wanita jala*ng itu menindasmu.” Ucap Jian Zhentian kesal.
Tampak Yun Haoyan tak bisa berdiri dan terus bersandar di Jian Zhentian. Ia tampak sangat lemah dan tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk berdiri saja.
“Mereka…Menggunakan asap beracun…Aku tidak bisa menggerakkan badanku…” Ucap Yun Haoyan terengah-engah.
Jian Zhentian yang mendengar perkataan Yun Haoyan sangat marah. Ia menatap tajam wanita wanita itu.
“Kalau tidak salah kau adalah putri perdana menteri Qin, Qin Ji'er kan?” Ucap Jian Zhentian.
Dengan cepat Qin Ji'er maju dan memperlihatkan dirinya. “Benar, namaku Qin Ji'er, kenapa? Takut?” Ucap Qin Ji'er dengan angkuh.
Jian Zhentian membantu Yun Haoyan duduk sebentar di dalam paviliun dan maju berhadapan dengan Qin Ji'er.
__ADS_1
Ia menjambak rambutnya dan menteretnya ke depan Yun Haoyan.
“Berapa kali dia menamparmu?” Tanya Jian Zhentian.
“Em…Lima kali.” Jawab Yun Haoyan.
Jian Zhentian menatap Qin Ji'er. Ia melayangkan tangannya dan..
Plak! Plak! Plak!
Plak! Plak! plak!
Plak! Plak! Plak!
PLAK!
Lima tamparan sepuluh tamparan super keras mendarat di pipi Qin Ji'er.
Wanita wanita lainnya terkejut dan segala berlari kabur dari sana.
“Kau ternyata bukan hanya munafik dan jelek rupa, tapi ternyata kau juga memiliki banyak teman munafil yang mementingkan diri sendiri.” Ucap Jian Zhentian.
Qin Ji'er memuntahkan seteguk darah dan mendongakkan kepalanya menatap sinis Jian Zhentian.
“Dan kau adalah pria bajing*an yang jatuh cinta pada wanita jal@ng dan murahan.” Sindir Qin Ji'er .
Ia berjalan kembali dan menyeret Qin Ji'er.
Ia tak tahu kenapa tapi setelah melihat Yun Haoyan yang disakiti oleh Qin Ji'er dengan teman temannya ia merasa sangat sakit di hatinya.
“Kenapa jika aku jatuh cinta pada Haoyan Hah! Seumur hidup ini kau tidak akan hidup bahagia.” Ucap Jian Zhentian.
Ia mengeluarkan Qin Ji'er dari kawasan paviliun Yun Haoyan dan kembali lagi ke Yun Haoyan dengan cepat.
“Kau baik baik saja kan?”
“Coba perlihatkan lukamu padaku.” Ucap Jian Zhentian.
Ia memegang pipi Yun Haoyan yang terluka. “Ouch! Ssst…Sakit.”
Yun Haoyan berdecik kesakitan dan membuat Jian Zhentian terkejut.
“Ah, maafkan aku, aku akan lebih berhati hati lagi.” Ucap Jian Zhentian.
Perlahan ia menyentuh luka Yun Haoyan dengan lembut dan meniupnya perlahan.
__ADS_1
Yun Haoyan hanya diam tak tahu harus mengatakan apa saat ini. Ia tak bisa menolak kelembutan Jian Zhentian.
“Um…Terima kasih sudah menolongku tadi.” Ucap Yun Haoyan.
Ia malu menatap Jian Zhentian sambil mengucapkan terima kasih padanya.
Jian Zhentian menggeleng gelengkan kepalanya dan bangkit. “Kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku akan masuk sebentar dan mengambil salep obat, dimana kau taruh salepmu?” Ucap Jian Zhentian.
“Di laci meja yang ada di kamarku.” Ucap Yun Haoyan.
Jian Zhentian terkejut menganggukkan kepalanya dan segera naik ke kamar Yun Haoyan mengambil salep obat.
Beberapa saat kemudian ia turun dan mengobati luka Yun Haoyan.
Jian Zhentian meniup lukanya.“Jangan sentuh lukanya nanti sakit lagi.” Dengan lembut ia mengusap kepala Yun Haoyan.
Yun Haoyan hanya diam menganggukkan kepalanya dengan rasa malu.
“Tapi, bisakah kau berhenti mengusap kepalaku?” Ucap Yun Haoyan malu.
Jian Zhentian terkejut dan segera melepaskan tangannya dari kepala Yun Haoyan. “Eeh…Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Ucap Jian Zhentian.
Keduanya seketika canggung.
“Uh…Bantu aku berdiri, sekujur tubuhku juga tidak bisa kugerakkan.” Ucap Yun Haoyan.
Jian Zhentian menganggukkan kepalanya dan segera membantu Yun Haoyan berdiri.
Keduanya berjalan ke kamar Yun Haoyan.
“Bantu aku cari di laci kotak yang berwarna hitam.” Ucap Yun Haoyan.
Jian Zhentian menganggukkan kepalanya dan membuka semua laci dan menemukan kotak hitam. Ia mengambilnya dan memberikannya pada Yun Haoyan.
“Terima kasih.” Ucap Yun Haoyan.
Ia membukanya dan memilih salah satu obat, ia memakannya dengan cepat dan menelannya tanpa meminum air.
Jian Zhentian yang melihat hal itu tersenyum canggung. “Kau yakin yidak butuh air?” Ucap Jian Zhentian.
Yun Haoyan mengangguk pelan. “Tidak perlu, aku sudah menelan obatnya.” Ucap Yun Haoyan.
Beberapa menit kemudian beberapa bagian tubuhnya sudah dapat digerakkan.
Ia bangkit perlahan dan berjalan sempoyongan. “Sekali lagi terima kasih karena sudah membantuku membalas mereka.” Ucap Yun Haoyan.
__ADS_1
Jian Zhentian menggeleng gelengkan kepalanya. “Bukankah kita sebagai calon suami istri harusnya saling membantu saat suka dan duka.” Ucap Jian Zhentian.
See you