Time Travel Qin Hao Yan

Time Travel Qin Hao Yan
BAB 58 Hari membosankan.


__ADS_3

Dari dalam kereta terlihat seorang wanita muda yang turun dengan cepat dari kereta kuda dan menuju sang ibu.


"Ibu, aku pulang."


Tak lama setelahnya seorang pria tampan juga ikut turun. Ia terlihat seperti seorang cendekiawan yang terpelajar. Ia turun dan berjalan dengan begitu mendominasi bagaikan seorang dewa.


Apalah itu mendominasi? Tidak taulah.


"Chang Yi memberi salam pada permaisuri Wei Lie dan selir Kekaisaran Wei Jing."


Benar sosok pria itu adalah Chang Yi.


"Haoyan, bagaiamana kau bisa datang dengan Chang Yi?" Tanya permaisuri Wei Lie.


Benar, wanita itu adalah Yun Haoyan yang keluar untuk mencari bahan yang dibutuhkannya untuk membuat sebuah hadiah untuk ibu suri.


Yun Haoyan menatap Chang Yi. "Oh aku tidak sengaja menaiki keretanya dan akhirnya kami berdua duduk di kereta yang sama menuju ke kesini." Ucap Yun Haoyan.


Tap tap tap.


"Eh…?"


Dengan cepat Jian Zhentian menarik tangan Yun Haoyan dan memasukkannya ke pelukannya.


"Kau tidak boleh dekat dekat dengan pria lain." Kesal Jian Zhentian.


Yun Haoyan melihat dengan jelas cuka kecemburuan dari mata Jian Zhentian. Ia menghela napas pasrah dan keluar dari pelukannya.


"Terima kasih tuan mau membiarkan saya menumpang di kereta tuan." Ucap Yun Haoyan.


Chang Yi tersenyum simpul. "Tidak apa apa, lain kali panggil saja aku kak Yi." Ucap Chang Yi.


Yun Haoyan terkekeh kecil sembari tersenyum. 'Baik, kak Yi." Ucap Yun Haoyan.


Jian Zhentian yang melihat keakraban keduanya merasa kesal. Ia mendekati Chang Yi dan menatap tajamnya. "Jangan coba coba untuk mendekati Haoyan." Bisik Jian Zhentian.


Chang Yi yang melihat api kecemburuan di mata Jian Zhentian tersenyum kecil. Ia mendekati Yun Haoyan sambil melirik Jian Zhentian.


"Haoyan, bagaiamana kalau kita adu puisi? Atau pergi latihan memanah?" Ucap Chang Yi.

__ADS_1


'Aku akan memanas manasimu putra mahkotaku.' Batin Chang Yi.


Ia semakin mendekat dengan tubuh Yun Haoyan. Sementara Yun Haoyan yang tak menyadari tujuan Chang Yi dengan cepat menyetujuinya.


"Boleh juga, sekalian sebagai pengisi waktu luang." Ucap Yun Haoyan.


Jian Zhentian yang mendengar dan melihat dengan kedua indera pendengarnya terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka Yun Haoyan akan menyetujui ajakan Chang Yi.


"Haoyan, kau yakin ingin menyetujui ajakannya?" Tanya Jian Zhentian.


Yun Haoyan menganggukkan mengangguk kepalanya. "Kenapa? Kau juga mau ikut?" Tanya Yun Haoyan.


Dengan cepat Jian Zhentian mengangguk anggukkan kepalanya dengan cepat dan mendekati Yun Haoyan. Ia merangkul tangannya dan tidak membiarkannya disentuh oleh Chang Yi tentunya.


"Aku juga ingin ikut."


Mereka bertiga akhirnya pergi ke lapangan latihan. Sedangkan ketiga wanita yang melihat kepergian mereka bertiga menghela napas pasrah.


"Putrimu benar-benar membuat hati para pria idaman luluh." Ucap Selir Kekaisaran Wei Jing.


Ibu Yun Nuo terkekeh kecil. "Mana mungkin, sebaiknya kita juga pergi dari sini, keponakan kalian berdua sudah sampai di sini, sudah saatnya kita juga pergi." Ucap Ibu Yun Nuo.


Di lain sisi terlihat Jian Zhentian yang tiba-tiba mengambil anak panah dan busur. Ia menembakkannya asal asalan le udara dan mengenai sebuah gagak.


Chang Yi tersenyum menyeringai. Ia juga mengambil busur dan anak panah. Ia menembakkannya ke arah berlawanan dan menuju ke arah salah satu pengawal yang berpatroli di sana.


Anak panahnya berhasil mengenai salah satu tombak yang dipegang pengawal itu.


"Bagaiamana menurutmu kemampuan memanahku?" Tanya Chang Yi sengaja.


Yun Haoyan melihat di mata keduanya ada rasa kecemburuan dan peperangan antar pria. Ia tersenyum canggung melihat keduanya yang begitu kekanak-kanakan.


"Bisakah kalian berdua berhenti berkelahi seperti itu, lebih baik kita mulai latihannya saja." Ucap Yun Haoyan.


Ia mencoba untuk menghentikan keduanya yang saling tatap menatap dengan tatapan tajam dan membunuh.


"Hei!" Bentak Yun Haoyan.


Seketika suasana berubah, kedua pria itu menoleh melihat Yun Haoyan yang membentak keduanya.

__ADS_1


"Ada apa Haoyan? Kau butuh sesuatu?" Tanya Jian Zhentian.


"Maafkan aku Haoyan, apa kau terganggu?" Tanya Chang Yi.


Yun Haoyan menepuk jidatnya pasrah dengan kedua pria itu. "Aku ingin menghabiskan waktuku dengan latihan memanah juga tidak bisa ya." Ucap Yun Haoyan.


Ia mengabaikan keduanya dan membidik targetnya dengan tepat sasaran. Ia mengenai titik merah yang ada di tengah tengahnya.


Plok! Plok! Plok!


Di saat yang bersamaan terlihat dua orang pria tampan lagi yang muncul di lapangan latihan.


Siapa lagi jika bukan Jian Zhi Xu dan Jian Zhuiyu.


Yun Haoyan berbalik melihat keduanya. 'Apa lagi yang diinginkan dua orang pria itu di sini.' Batin Yun Haoyan.


"Kakak ipar Yun, kita bertemu lagi." Ucap Jian Zhuiyu.


Yun Haoyan yang tersenyum paksa menanggapi perkataan Jian Zhuiyu. Sedangkan Jian Zhi Xu tampak lebih memperhatikan Chang Yi yang ada di sebelah Jian Zhentian.


"Ternyata saudara Yi juga ada di sini, pantas saja aku tiba-tiba ingin ke sini juga." Ucap Jian Zhi Xu.


Chang Yi yang melihat Jian Zhi Xu langsung mengubah tatapannya menjadi tatapan acuh dan menci. Ia menjauh dari Jian Zhi Xu dan Jian Zhentian.


"Haoyan, aku merasa sedikit lelah, aku akan beristirahat duluan." Ucap Chang Yi.


Yun Haoyan menganggukkan kepalanya perlahan. Ia berbalik menatap kedatangan kedua pangeran itu dengan tatapan sedikit acuh. "Kenapa kalian berdua ada di sini?" Tanya Yun Haoyan.


"Kami hanya ingin jalan jalan karena bosan dan tidak menyangka akan berpapasan dengan kalian bertiga di sini." Ucap Jian Zhuiyu.


"Oh." Ketus Yun Haoyan.


Ia berbalik dan menggunakan tiga anak panah sekaligus. ia membuat ketiga anak panahnya mengenak titik merah yang ada di tengah-tengah.


Setelahnya ia mengusulkan beberapa anak panah lainnya dan berhasil membuat sebuah lubang besar di titik merah di tengah.


"Aku sudah kehabisan anak panah, aku pergi istrahat duluan ya." Ucap Yun Haoyan.


Ia segera meninggalkan lapangan latihan dan juga Jian Zhentian dengan kedua pangeran lainnya di sana.

__ADS_1


See you next time.


__ADS_2