
Suara aduan tombak terdengar di tengah tengah Lapangan.
Terlihat ditengah lapangan terdapat dua orang yang sedang bertarung. Satunya pria tampan dan seorang wanita cantik.
Keduanya saling mengadu kekuatan satu sama lain dan menyerang titik celah masing-masing.
Sudah satu jam berlalu dan masih belum ada yang ingin menyerah. Di lain sisi pula terlihat seorang pria cendekiawan yang bersembunyi di balik pohon dan melihat pertarungan kedua orang itu.
"Benar benar diluar dugaan, wanita yang cantik cantik dan pendek itu ternyata sangat mahir dalam bertarung."
Ia memperhatikan keduanya secara diam diam dan terkagum-kagum dengan wanita cantik itu.
Tak lama setelahnya salah satu dari mereka berhenti. "Tolong berhenti, aku ingin pergi makan, aku lapar."
Si wanita tiba tiba berhenti dengan alasan kelaparan.
Kryuuk…..
Suara perutnya benar-benar jujur. Ia benar-benar lapar.
Pria yang menjadi lawannya tertawa terbahak bahak dan berhenti. "Baiklah nona Yun, silahkan pergi makan, lain kali kita lanjutkan lagi latihan kita."
Benar, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Yun Haoyan yang tengah berlatih tanding dengan jenderal Gang Tang.
Yun Haoyan tersenyum dan menyimpan tombaknya, ia pergi dari sana dan menuju ke dapur.
Sedangkan sosok cendekiawan tersebut masih dengan senang tiasa mengikutinya dari belakang.
Ia masuk ke dapur dan melihat beberapa makanan yang disajikan di meja.
"Apa aku bisa makan makanan ini sedikit?" Tanya Yun Haoyan.
Salah satu koki yang ada di sana berbalik dan mendekati Yun Haoyan. "Tidak apa apa nona, makan saja sepuasnya, anggap saja sebagai tanda Terima kasihku karena membiarkan kami merasakan masakan yang benar-benar luar biasa." Ucap koki tersebut.
Yun Haoyan tersenyum dan duduk makan. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan sungkan lagi." Ucapnya.
Ia makan sedikit banyak makanannya dan membersihkan tempat makannya.
Setelahnya ia pergi dari sana dan memergoki sosok cendekiawan tersebut. Ia melipat kedua tangannya yang ada di atas sadanya dan berdeheman kecil.
"Ekhem! Sampai kapan kau akan membuntutiku?" Ucap Yun Haoyan.
Sosok itu segera bangkit dan tersenyum canggung sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Hehehe… Aku hanya ingin melihat apa saja yang kau lakukan sehari-hari." Ucapnya.
"Chang yi, kau ini cendekiawan namun kau bersikap begitu kekanak-kanakan." Ucap Yun Haoyan.
Benar, sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Chang Yi si cendekiawan yang cukup terkenal di ibukota sana.
Yun Haoyan menghela napas pasrah dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sudahlah, ayo kita pergi cari Ibuku dan yang lainnya." Ucap Yun Haoyan.
Mereka berjalan berdampingan. Di perjalanan mereka terus bertemu dan mendengarkan pelayan pelayan yang membicarakan kedekatan mereka yang sangat akrab yang terlihat lebih dari sekedar teman.
"Lihatlah calon putri Mahkota ini, dia sangat dekat dengan pria lain dan mengabaikan putra mahkota yang akan menjadi suaminya nanti."
"Dilihat dari wajahnya saja sudah jelas kalau dia tidak pantas menjadi putri Mahkota, masih saja memaksakan kehendaknya, dan sekarang dia mendekati cendekiawan terkenal itu, benar-benar serakah."
Berbagai kritikan dan sindiran terdengar. Ia menahan amarahnya dan pergi dari sana dengan cepat.
Chang Yi yang dapat merasakan rasa amarah Yun Haoyan yang menggebu gebu merasa kasihan.
"Lihatlah putri Mahkota itu yang gonta ganti pasangannya, semoga saja dia tidak menikahi putra mahkota kita dan menikah dengan orang bodoh dan jelek di dunia."
Hingga di saat di depan paviliun ibunya pun juga para pelayan masih memperbincangkannya dan menjadikannya bahan gosipan mereka.
"Apa kalian cari mati denganku." Ucap Yun Haoyan.
Tatapan tajamnya dan aura membunuhnya yang begitu menekan membuat dua orang pelayan itu ketakutan dan bersujud di hadapannya.
"Maafkan saya nona, saya tidak akan mengulanginya lagi."
Dengan cepat pelayan pelayan itu mohon ampun pada Yun Haoyan dan bersujud di hadapannya.
"Benar, seharusnya kami tidak mengganggu nona dengan tuan Chang Yi berduaan."
Mendengar perkataan pelayan itu membuat Yun Haoyan dan Chang Yi terkejut. "Apa maksud dari perkataanmu itu." Ucap Chang Yi yang juga ikut kesal.
Di sana yang sama.
"Berhenti!"
Suara seorang pria terdengar dari belakang keduanya. Yun Haoyan dan Chang Yi berbalik melihat seseorang itu.
Seseorang itu tak lain dan tak bhkan adalah Jian Zhentian yang mendapati keduanya yang sedang berbicara dengan pelayan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi disini? Kenapa aku mendengar pelayan ini mengatakan kalau kalian berdua sedang berduaan disini." Ucap Jian Zhentian.
Tampak di matanya ia terlihat kesal dengan apa yang ia dengar dan ia lihat.
Yun Haoyan menarik napas dalam-dalam dan hembuskannya. "Jika kau ingin percaya dengan apa yang dikatakan pelayan ini maka terserah, aku tidak peduli kau percaya atau tidak karena sejak dulu kau tidak terlihat tidak pernah mempercayaiku." Ucap Yun Haoyan.
Ia malas mencari masalah dengan Jian Zhentian dan dua orang pelayan rendahan yang tidak tahu malu itu.
Melihat kepergian Yun Haoyan yang menarik tangan Chang Yi mulai semakin kesal.
Ia menatap tajam dua orang pelayan itu. "Semua ini salah kalian, mulai sekarang kalian tidak diterima bekerja di istanaku lagi." Ucap Jian Zhentian.
Jian Zhentian segera pergi dari sana dan menyusul Yun Haoyan dan Chang Yi yang sudah memasuki paviliun ibu Yun Nuo.
Di dalam sana terlihat Yun Haoyan yang langsung masuk ke dalam tanpa permisi. Sedangkan Chang Yi yang menunggunya diluar.
Tak lama setelahnya Yun Haoyan keluar dengan ibu Yun Nuo.
"Jangan khawatir nak, para pelayan itu pasti akan mendapatkan balasannya." Ucap Ibu Yun Nuo.
Ia mengusap ngusap kepala Yun Haoyan da n meredakan marahnya terhadap dua orang pelayan dan Jian Zhentian itu.
Tap tap tap..
"Haoyan! Apa kau ada di sini?" Panggil Jian Zhentian.
Ia menerobos masuk ke paviliun ibu Yun Nuo dan mencari Yun Haoyan.
Setibanya di dalam ia melihat Yun Haoyan yang terlihat sedih dan sedang duduk bersama ibunyq dan Chang Yi.
Ia berlari ke sana dan mendekati Yun Haoyan. "Haoyan, kau jangan marah, aku akan selalu mempercayaimu." Ucap Jian Zhentian.
"Kau dan Chang Yi hanya teman, tidak lebih dari itu, aku percaya kok, kau jangan marah ya." Bujuk Jian Zhentian.
Yun Haoyan menatap Jian Zhentian dan menoleh ke arah lain.
"Baru dengan teman tapi sudah dikatakan selingkuh, apalagi kalau baru bertemu dengan orang asing pasti sudah dibilang ini itu ini itu, benar benar wanita menjijikkan." Ucap Yun Haoyan lirih.
Jian Zhentian menghela napas, ia membungkukkan badannya dan meminta maaf pada Yun Haoyan. "Aku sama sekali tidak mempercayai perkataan pelayan itu, karena aku bisa melihat di matamu sudah ada aku." Ucao Jian Zhentian.
"Dihatiku hanya ada dirimu, kau tidak akan pernah bisa digantikan dengan orang lain seumur hidup." Ucap Jian Zhentian.
Ia mencoba untuk menenangkan Yun Haoyan dan memohon maaf padanya tanpa mempedulikan harga dirinya di depan para pelayan yang ada di paviliun itu.
__ADS_1
See you next time.