Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 12 Negoisasi William dan Dave


__ADS_3

Setelah sampai di mansion tuan muda menuju ruang kerjanya dan mulai melakukan aktivitasnya sebagai seorang Chief Executive Officer atau biasanya disebut CEO. Kebanyakan dari kalian pasti tau jabatan seorang CEO tetapi tidak tau apa kepanjangan dari CEO.


Di dalam kehidupannya hanya ada bekerja, bekerja dan mafia. Hidupnya bagaikan peribahasa hidup dua muara yaitu punya dua mata pencaharian yang satu halal dan satu haram.


Tuan muda menghabiskan waktunya untuk bergelut bersama dokumen yang menggunung tanpa ada rasa lelah yang membuntutinya.


Berjam-jam duduk di kursi kerjanya dengan mata yang menatap jeli setiap kata dan kalimat dokumen kerjanya. Memeriksa seluruh dokumen guna mencari letak kesalahannya dan menandatanganinya jika semua sudah sempurna.


Setelah selesai dengan pekerjaannya ia pun mulai merasakan haus yang menggelora dalam tenggorokannya. Ia pun memutuskan untuk menelepon tangan kanan sekaligus sahabat karibnya itu.


"Bawakan aku kopi!" ujarnya dingin dan langsung memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Dave segera menuruti perintah sahabatnya dan membuatkan kopi pahit favoritnya.


Saat ingin menuju pintu fingerprint ruang kerja tuan muda untuk mengantarkan kopi suruhannya ia berpapasan dengan William yang menatapnya dengan senyum baby facenya, membuat Dave ingin membogem wajah milik William yang sok imut itu. Jika bukan karena ia sahabatnya sudah dipastikan ia akan babak belur menjadi samsak tinju Dave saat itu juga. Dave hanya menghela nafas pasrah atas kelakuan konyol William.


Saat sudah sampai mereka menempelkan sidik jari mereka dan segera masuk menemui bos sekaligus sahabatnya itu.


Tuan muda sengaja melakukan itu karena di ruang kerjanya terdapat aset-aset dan dokumen-dokumen penting lainnya. Ia membuat fingerprint dirinya dan empat sahabatnya sekaligus agar sahabatnya bisa masuk dengan mudah jadi tak ada yang bisa masuk kecuali tuan muda dan ketiga para sahabatnya.


Dave masuk dan meletakkan kopi pahit milik bosnya di meja kerjanya. Kemudian ia duduk di sofa ruangan itu bersama dengan William. Tuan muda segera menikmati kopinya dan menyesapnya dengan nikmat seakan-akan terasa manis di lidahnya.


William melihatnya dengan tatapan sulit diartikan sebab apa enaknya kopi hitam pahit? bahkan jika kurang gula sedikit saja akan terasa tidak enak di lidah apalagi yang pahit.


"Lain daripada yang lain," gumam lirih William menatap sahabatnya yang dengan santainya menyesap kopi pahitnya.

__ADS_1


Kopi pahit mengajarkan kita bahwa yang pahit bisa dinikmati sedangkan yang manis tak selalu disukai


"Apa lidahmu mati rasa hingga tak ada ekspresi saat menikmatinya?" tanya William.


"Hm," balas tuan muda.


"Huh terserah, susah jika sudah bicara dengan manekin datar sepertimu!" sindir William. Namun tuan muda hanya mengacuhkannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Dave kapan transaksi jual beli senjata itu dilakukan?" tanyanya pada Dave.


"Tengah malam nanti" jawab Dave menatap William.


"Apa kau ingin ikut?" tanya Dave.


Sedangkan yang disindir tak merasa tersinggung ataupun marah sebab yang dikatakannya memang benar namun sudah konsekuensinya jika menjadi seorang asisten pribadi seorang CEO yang angkuh nan kejam itu.


Memang semua tugas perusahaan ditanggung oleh William entah meeting, rapat antar perusahaan, perjalanan bisnis, ataupun lainnya sebab ia juga tau jika tuan mudanya itu tak suka menampakkan wajahnya ke sembarang orang, karena tuan muda adalah seorang mafia yang bekerja di dunia bawah dan pastinya akan lebih berbahaya sehingga memunculkan niat-niat jahat dari kalangan orang-orang yang membencinya.


"Aku juga ingin melatih kembali jemari-jemari tanganku yang suci ini untuk membuat mereka menemui ajalnya," ujar William melihat tangannya yang katanya suci itu.


"Hm kau ingin mengambil bagianku?" ucap Dave.


"Yah memang secara kau sudah banyak membunuh orang jadi ya biarkan aku kali ini yang beraksi!" kata William dengan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Heuh...tidak-tidak, tidak bisa itu adalah mangsaku kau tidak boleh mengambilnya, kau hanya ikut dan membunuh lainnya jika kau mau tapi tidak dengan pemimpinnya!" kata William menolak.


"Jangan egois dong Dave kau harus....." ujar William terpotong ucapan Dave.


"Cih dia adalah mangsaku jadi aku yang akan mengkillnya bukan kau!" tegas Dave.


Mereka memperebutkan sesuatu yang tidak lazim yaitu membunuh para mangsa. Bukannya memperebutkan sesuatu yang berfaedah malah memperebutkan sesuatu yang unfaedah tetapi ya bagaimana lagi itu memiliki kepuasan tersendiri bagi mereka.


Pertengkaran itu pun berlanjut semakin menjadi-jadi hingga beberapa menit berlalu dan akhirnya.....


"Diammm jika tidak keluar dari ruanganku!" tegas tuan muda menatap tajam kearah keduanya.


Kedua laki-laki itu langsung kicep dibuatnya, mereka menundukkan kepalanya takut melihat kemarahan akibat ulahnya mereka sendiri.


Setelah beberapa menit tak ada suara dari sang tuan muda, membuat William angkat bicara. "Bagaimana jika kita membaginya?" tanya William lirih.


"Baiklah kau satu dan aku satu deal?" saran Dave dengan menjulurkan tangannya di depan William.


"Okeh deal!" Mereka berjabat tangan setelah melakukan negosiasi tersebut.


Tuan muda yang melihat itupun hanya melihatnya datar. Ia tak habis pikir hanya karena ingin membunuh mangsa membuat mereka bersitegang seperti itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2