
Saat tiba di lantai ruang cctv keadaan memang ramai dan banyak penjaga yang berkeliling memastikan kondisi aman. Louis dan Billy memutar otak bagaimana bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat.
"Bagaimana jika kita melawan tidak masalah kan? Setidaknya kau bisa masuk dan aku yang mengurus mereka. Kau bisa mengatasinya bukan?" Louis memberi ide untuk tindakan mereka selanjutnya.
"Itu kecil tapi yang menjadi masalahnya adalah berapa lama kita menyelesaikannya agar aku juga bisa menghapus jejak kita di cctv. Itu membutuhkan waktu yang agak lama sekitar 7-8 menitan." Louis menepuk pundak Billy.
"Masalah bertarung serahkan saja padaku. Kau fokus saja di dalam. Ayo kita mulai!" Jiwa Louis bergelora saat melawan penjaga tak berdosa itu. Masa bodoh tentang tindakannya yang penting tujuannya tercapai bukan? Apapun yang menjadi penghambat akan disingkirkan.
Bug
Krak
Bug
Bug
Louis menyerang mereka seperti gerakan maya membawa pisau. Pukulan-pukulannya langsung mengarah pada titik-titik kelemahan mereka. Jangan lupakan bahwa Louis adalah seorang dokter. Ia tahu mana pukulan beresiko yang membuat lawan tak berkutik.
"Semangatku kembali berkobar, sudah sejak lama aku tidak merasakan guncangan detak jantung ini," gumamnya di tengah sekeliling penjaga yang kewalahan menghadapi Louis.
"Maaf mengganggu waktunya," ujar Billy tanpa memberi jeda langsung memukul sang penjaga cctv.
Tak
Tak
Tak
"Tidak ada jejak apapun? Bagaimana bisa? Terakhir rekaman cctv saat Lucas di basement dan setelah itu menghilang? Berarti ada yang menghapusnya sebelum aku. SIAL!" Billy menyelesaikan tugasnya dan keluar dari dalam ruang cctv dengan tergesa-gesa.
"Cepat keluar Louis!" Billy menyeret Louis dan mau tak mau harus menyamakan langkahnya bersama.
"Ada apa kenapa?"
"Aku mematikan cctv selama dua menit itu kesempatan kita untuk kabur!"
Saat ini mereka berada tak jauh dari casino tersebut. Billy menjelaskan apa yang barusan ia lakukan di ruang cctv. Louis mengerutkan kening mendengarkan kata per kata yang Billy ucapkan.
"Aku harus melacak ponselnya, ke markas sekarang." Billy menepuk pundak Louis agar menjalankan motornya. Louis dengan senang hati mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Jangan heran karena sudah menjadi kebiasaan mereka kebut-kebutan ketika jalan dalam keadaan sepi.
Saat dimarkas mereka disambut dengan hormat. Sebelum itu, Billy melemaskan otot-otot ditangannya agar tidak kaku saat melacak ponsel tuan muda.
"Musuh tidak akan tahu jika kita mempunyai GPS dengan ukuran yang kecil." Billy tersenyum penuh kemenangan, bukan merasa sok pintar tapi kenyataannya memang mereka tidak bisa diremehkan.
Dengan cepat Billy menemukan lokasi dimana sahabatnya berada. Billy merasa familiar dengan kawasan itu. Rasanya tidak asing untuknya.
"Tempat ini sepertinya tidak asing. Aku akan segera kesana." Billy bersiap membawa perlengkapan yang ia butuhkan untuk menuju lokasi tersebut.
"Ini hampir pagi apa tidak beresiko?"
"Tidak masalah, aku akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Kau tetaplah disini pantau keberadaanku melalui layar monitor. Jika aku butuh bantuan kau bisa datang nanti."
"Baiklah, hati-hati."
Billy pergi dengan membawa pistol kecil dan belati yang ia sisipkan di kaki maupun tangan. Berbekal itu pun ia sanggup menghadapi musuh walaupun banyak. Ia menguasai segala teknik bela diri dan persenjataan. Maka dari itu, ia menjadi bagian penting dalam Devil Skull.
Billy tancap gas melenggang menjauhi markas. Dengan kecepatan tinggi melaju berburu waktu yang semakin menipis. Saat sampai, ia memarkirkan motornya ke tempat terpencil. Mencoba mengamati keadaan dari kejauhan.
"Sial, penjagaannya begitu ketat." Ia melihat beberapa cctv yang terpasang di area penting dan banyak penjaga yang berjalan kesana kemari.
Bukankah ini rumah pengacara yang terkenal itu? Jika aku membawa anak-anak (anggota mafia) pasti akan ada berita besar dan bisa merugikan pihak kami. Tidak ada jalan lain aku akan menanganinya sendiri.
Billy memanjat pagar dan berangsur mengambil celah ke tempat yang aman.
Mereka semua bersenjata lengkap salah satu langkah saja aku akan habis.
Billy membungkuk melewati pepohonan taman depan. Ia mengambil batu dan melemparkannya ke pintu gerbang agar dapat mengalihkan perhatian mereka. Billy memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusup ke dalam rumah itu.
Saat masuk ia bertabrakan dengan seorang wanita. Billy langsung membungkam mulutnya kemudian menyeretnya ke arah belakang lemari. Wanita tersebut memberontak dan memukul tangan Billy dengan keras.
"Sttt, aku bukan pria jahat. Aku kesini untuk mencari seseorang!" Ujarnya lirih di telinga wanita tersebut.
"Kumohon jangan bersuara. Aku akan melepaskan tanganku jika kau tidak berteriak. Berjanjilah?" Wanita itu pun hanya mengangguk dan Billy melepaskan tangannya. Billy lega karena ia menuruti ucapannya.
"Aku akan bertanya dan jawablah dengan anggukan. Apakah ada seorang pria yang dibawa kemari?"
__ADS_1
Mengangguk.
"Dia tinggi, gagah, berkulit putih-"
"Saya tidak tahu apakah dia orang yang Anda cari, yang saya dengar dia mengalami luka tembak dan dibawa ke dokter keluarga. Kemungkinan mereka akan kembali sebentar lagi," ujarnya berbisik-bisik.
"Siapa yang membawanya?"
"Seorang wanita penguasa dirumah ini."
"Bukankah ini rumah pak pengacara?"
"Ya benar tetapi dia hanya pulang seminggu sekali. ADA PENJAGA!" bisiknya takut ketahuan.
Wanita itu langsung keluar dari tempat persembunyian agar penjaga tidak tahu ada Billy disana.
"Nona, apa yang nona lakukan disana?"
"Hah? tidak-tidak," bantahnya karena bingung mencari alasan apa yang cocok karena ini sudah larut malam.
"Sebaiknya nona tidur ini sudah malam." Wanita tersebut hanya mengangguk dan setelah itu penjaga pun pergi dari tempatnya.
"Apa kau bisa menjelaskan sesuatu padaku?" Wanita itu geram karena Billy terus bertanya. Ia pun membawanya menuju gudang yang tak jauh dari tempatnya berada.
"Silahkan bertanya," wanita tersebut sudah siap menjawab apa yang akan Billy tanyakan.
"Jika aku menunggu disini apakah-"
"JANGAN! Itu beresiko lagipula banyak penjaga. Apa Anda ingin mati konyol disini?"
"Apakah cctv disetiap ruangan berfungsi dengan baik?"
"Tidak semuanya, hanya di luar rumah dan sekitar kamar pak pengacara."
Billy mengamati wanita itu dari atas sampai bawah. Terdapat luka lebam di sekujur tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Hm, apa rencana Anda selanjutnya? Saya akan membantu nanti."
Billy tampak berpikir.
"Apa aku bisa masuk kedalam kamar wanita yang menyandera temanku?"
"Saya akan mengusahakannya."
"Tunggu disini! Jangan keluar sebelum saya mendatangi Anda mengerti?" Tukasnya karena mendengar pintu gerbang terbuka. Itu tandanya mereka telah kembali dari rumah sakit.
"Nona, siapa namamu?"
Wanita tersebut menoleh. "Michele," kemudian bergegas menuju kamarnya dan pura-pura tertidur. Takut jika ia kepergok belum tidur hingga saat ini.
Aku rasa dia akan kemari.
Dugaannya tepat, ternyata wanita yang dibencinya itu menghampirinya untuk sekedar melihat apakah Michele tertidur atau tidak.
Saat dia sudah pergi, Michele langsung mengambil cadangan pakaian pengawal dikamarnya dan diberikan kepada Billy. Michele mengendap-endap seraya menengok kekanan dan kekiri memastikan tidak ada yang mengetahui gerak geriknya.
"Pakailah, semoga rencana kita berjalan dengan lancar." Billy menerima pakaian tersebut seraya menyunggingkan senyum karena tahu bahwa Michele berada satu tujuan dengannya.
.
.
.
Siang hari menjelang, tuan muda membuka netranya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa saat kesadarannya pulih. Namun sorot matanya terpaku pada rumah bernuansa klasik dengan dominan warna putih itu. Tubuhnya telanjang dada dengan selimut yang menutupinya.
Ceklek
Seorang wanita dengan pakaian dress seksi itu mendekat kearahnya dengan membawa nampan berisi sarapan. Tuan muda hanya mengamati gerak geriknya, membaca karakter dari wanita yang tidak dikenalnya itu.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?"
"Apa lukamu tidak terasa sakit?"
__ADS_1
Siapa dia?
Tuan muda beranjak dari tempat tidur, tetapi cekalan tangan wanita itu menghentikannya agar mengurungkan niatnya. Tuan muda menghempaskannya tanpa bicara apa pun. Kemudian meraih baju hitam yang tergeletak di kursi sofa di ruangan tersebut.
"Jangan berpikir bisa kabur dengan mudah." Wanita tersebut melemparkan kunci tersebut ke atas dan menangkapnya. Tuan muda seolah tak mendengarnya dan melangkah menuju jendela. Begitu banyak pengawal yang terbagi di masing-masing tempat.
"Jika kau mencoba kabur aku pastikan nyawamu tidak akan selamat," ujarnya dengan santai.
Wanita tersebut berjalan berlenggak lenggok mendekati tuan muda. Memeluknya dari belakang dengan tangan yang bergerak mengelus dada bidang itu.
"Bagaimana kalau satu ronde?" Pertanyaan konyol terceletuk dari mulutnya.
"Ck, kau tidak semewah itu untuk kusentuh." Tuan muda mendorong wanita tersebut hingga terbentur lemari dibelakangnya. Wajahnya memerah menahan amarah karena hinaan yang ia terima. Selama ini tidak ada yang pernah menolak tawarannya.
"Kau! Berani-beraninya menolakku!"
Sepertinya dia bukan wanita biasa. Auranya berbeda.
Wanita tersebut mengambil pisau di atas nakas dan menyerang tuan muda dengan brutal. Menghindari segala tusukan penuh amarah yang menyerbunya.
Satu sayatan berhasil mengenai dada sebelah kirinya. Namun saat akan menyerang balik wanita tersebut justru memukulnya terlebih dahulu dengan botol kaca. Tuan muda salah hanya menganggapnya sebagai ancaman biasa. Ternyata wanita tersebut sudah terlatih dan tidak mudah dikalahkan.
Darah mengalir di pelipisnya. Wanita tersebut spontan membuang pisaunya. Napasnya memburu setelah kejadian sebelumnya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Tuan muda tak peduli apapun ucapannya. Tangannya menyeka darah yang tak henti-hentinya mengalir di pelipisnya. Kemudian masuk kedalam kamar mandi yang tak jauh darinya. Menutup pintu agar wanita tersebut tidak mengikutinya.
"Wanita gila, aku harus berhati-hati dengannya." Tuan muda menatap pantulan tubuhnya dalam kaca besar di atas wastafel. Lalu membasuh muka untuk menghilangkan noda darah yang menempel.
Saat keluar dari kamar mandi, wanita tersebut menghilang entah kemana namun ketika mendekat ke arah ranjang tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang. Tuan muda ambruk di atas ranjang tersebut.
"Kau akan menjadi milikku," seringai senyum licik tergambar di wajahnya. Berbagai rencana sudah dipersiapkan dengan matang.
.
.
.
"Bagaimana?"
"Sore ini sepertinya dia akan pergi agak lama bagaimana jika kita kekamarnya?"
Billy mengangguk menyetujui saran Michele. Mereka pergi bersama-sama dengan Billy yang memakai pakaian pengawal.
"Apa mereka tidak akan curiga?"
"Tidak masalah saya yang akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu nantinya." Mereka pergi ke lantai atas. Tempat dimana tuan muda terjerat dalam penjara wanita itu. Billy mencoba membuka handle pintu namun ternyata terkunci.
"Saya punya kuncinya," Michele memberikannya pada Billy.
Saat terbuka, Billy dengan cepat berlari menghampiri tuan muda. Matanya membelalak saat tahu kedua tangan sahabatnya diborgol kanan dan kiri. "Luc, bangun!" sembari menggoyangkan badan tuan muda.
"Apa yang terjadi?"
"Arghh"
Saat akan memegang tengkuk lehernya, tuan muda baru menyadari bahwa kedua tangannya diborgol.
Sial
"Pergilah aku akan selesaikan urusanku sendiri."
"Apa kau bercanda? Lihatlah dirimu luka ada dimana-mana!"
"Dengarkan saja perkataanku! Apa kau meragukanku?"
"Tapi-"
"Pergilah!" Tuan muda melemparkan tatapan tajam seakan memberitahu bahwa Billy harus segera pergi dari sana.
Billy meninggalkan ruangan tersebut, Michele pun mengikutinya dari belakang. "Apa yang harus kulakukan?" gumamnya sendiri.
"Sebaiknya Anda segera pergi dari sini karena wanita itu tidak waras." Billy menatap arah pandang Michele namun terkejut saat melihat 'wanita yang dimaksud.'
Dia berdiri melipat tangan dengan tatapan mengintimidasi ke arah mereka. Michele gelisah karena tertangkap basah telah masuk kekamar wanita itu secara sembunyi-sembunyi. Ia siap menerima konsekuensinya asalkan pria disampingnya tidak ikut merasakannya.
__ADS_1
...KETAHUAN?!...
...______Batas Akhir______...