Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 29 Menyerah


__ADS_3

Di sebuah club malam...


Cahaya remang-remang menyapa dirinya saat menapaki lantai sebuah club malam terkenal yang ramai akan orang-orang yang berdisko ria. Suara dentuman musik dj memenuhi ruangan dengan kerlap kerlip lampu temaram yang menambah kesan dunia malam yang begitu menyenangkan.


Tubuh bergoyang mengikuti suara alunan musik dj yang dimainkan, melupakan sejenak permasalahan hidup yang begitu melelahkan. Bau asap rokok dan aroma alkohol menyengat sudah menjadi bagian terpenting yang tak pernah terlupakan. Langkah kakinya terus menapak hingga menuju ruangan club malam VIP dimana hanya orang kelas atas yang bisa memasukinya.


"Selamat datang tuan," ujar bartender.


"Hmm, berikan sebotol vodka padaku!"


Tuan muda duduk di sofa club VIP seorang diri. Ia sengaja tak mengajak sahabatnya karena ingin sendiri tak mau diganggu oleh siapapun. Segelas vodka habis dalam sekali tegukan membuatnya lagi dan lagi menuangkan vodka ke dalam gelas miliknya.


Para wanita berpakaian minim bahan mulai mendatanginya dan menunjukkan aksinya bergelayut manja di lengannya. Siapa yang tidak tertarik dengan paras tampan dan menawan seperti tuan muda?


Sungguh murahan namun itulah pekerjaannya menarik milyader untuk bermalam bersamanya demi mendapatkan banyak uang. Namun bagi tuan muda itu tidak ada apa-apanya, ia tidak tergoda dengan wanita murahan yang bahkan bisa ia beli kapanpun ia mau.


"Pergilah!" usir tuan muda yang tengah menikmati segelas vodka di tangannya.


"Husss...sana pergilah tuan tidak mau kau bersamanya jadi aku yang akan menemaninya," ujar wanita malam lainnya mengusir teman sedunia malamnya.


Wanita malam itu mulai menarik perhatian dari tuan muda dengan menunjukkan belahan dadanya yang terbuka namun tuan muda tak menghiraukannya ataupun sekedar menatapnya.


"Tuan aku akan memuaskanmu jika kau bermalam denganku," wanita itu menggigit bibirnya merayu tuan muda.


"Apa kau masih perawan hingga berani menawariku untuk bermalam bersamamu?" Sarkas tuan muda.


"Tidak, tetapi aku bisa memuaskanmu di ranjang tuan dan membuatmu mendesah penuh gairah," ujar wanita malam dengan membelai wajah tuan muda, tetapi dengan segera tuan muda menangkisnya.


"Singkirkan tangan kotormu!" Tuan muda menatapnya tajam.


"Aku rela tidak dibayar tuan demi bermalam bersama pria tampan sepertimu dan aku akan melakukan apapun perintahmu," tawar wanita malam itu.


"Benarkah? Bagaimana jika aku ingin memutilasimu hidup-hidup?" Sebuah pertanyaan yang membuat wanita malam itu menganga tak percaya.


"Candaanmu begitu menyeramkan tuan." Wanita malam itu tertawa kecil.


Sesekali tuan muda meneguk segelas vodka tak mengindahkan seorang wanita disampingnya. "Kau boleh menikmati tubuhku sesukamu jika kau mau memenuhi syaratku." Tuan muda mengambil rokoknya dan menyalakannya.


"Tapi tuan..."


"Jika kau bicara lagi aku akan membunuhmu. Pergilah dan jangan menggangguku lagi jika tidak aku akan membunuhmu sekarang juga!" Ancam tuan muda dengan tatapan membunuhnya.


"Tuan tidak mungkin seorang pembunuh ataupun mafia," terangnya.


"Aku king mafia DS," tuan muda menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya ke udara.


"Aku tidak percaya perkataanmu tuan," ujar wanita malam itu.


Tuan muda menunjukkan sebuah tato di pergelangan tangan kirinya yang berupa huruf dan tengkorak.


"KDS King Devil Skull!" Tuan muda kembali menghisap rokoknya.


Dia benar-benar seorang mafia. Batin wanita malam itu ketakutan.


Tuan muda tersenyum sinis saat melihat wanita malam itu pergi dengan tergesa-gesa karena mengetahui kebenarannya.


Dua jam berlalu tepatnya tengah malam tuan muda masih terjaga bersama rokoknya dan minuman beralkoholnya. Sudah banyak rokok yang ia habiskan untuk menemani acara minumnya. Dua botol vodka ia tenggak habis namun masih membuatnya ingin terus meminumnya.


"Satu botol lagi!" Perintah tuan muda saat mulai merasakan pening di kepalanya dan rasa aneh yang mulai ia rasakan ditubuhnya.

__ADS_1


"Maaf tuan anda sudah mabuk dan meminum dua botol vodka," tolak bartender yang melihat tamunya sudah dalam keadaan mabuk berat.


"Berikan satu gelas lagi!" Tuan muda menyodorkan gelasnya.


"Maaf tuan sepertinya anda harus istirahat," saran bartender kemudian pergi meninggalkan tuan muda yang kepanasan padahal sudah ada pendingin ruangan di dalam club tersebut.


"Ada apa denganku kenapa panas sekali," eluh tuan muda saat tubuhnya merasa gejala aneh yang tak pernah ia rasakan.


"Halo nona sepertinya obatnya sudah mulai bereaksi."


^^^"Bagus lakukan rencana selanjutnya bawa dia kemari"^^^


"Baik nona sesuai perintahmu!"


Sama halnya dengan William dan Billy yang mengunjungi sebuah club terkenal dengan julukan club kaum kelas atas. Dimana banyak orang kaya yang bersenang-senang dan membuang uangnya demi sebuah kepuasan tersendiri.


"Gue udah lama gak ke club ini," ujar William melihat keselilingnya.


"Gue juga, terakhir satu bulan yang lalu. Baiklah sekarang saatnya kita bersenang-senang," ujar Billy antusias.


"Loe mau minum apa?" tanya William.


"Gue bir aja," jawab Billy yang tidak ingin terlalu mabuk.


"Okey," William pergi mengambil minuman sebagai teman mengobrolnya bersama dengan Billy.


Saat berjalan ke arah bartender, tak sengaja ia melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah dibawa oleh wanita malam yang begitu seksi dengan lekak lekuk tubuh bak gitar spanyol.


"Lucas, dia ada disini? GAWAT!" William berlari menuju ke arah meja Billy.


"Bil, Lucas...janji kita!" panik William.


"Ikut gue sekarang juga!" William menarik lengan baju Billy hingga membuatnya terseret mengikuti langkah kaki William.


"Dimana Lucas? tadi aku melihatnya disekitar sini." William menoleh kekanan kekiri mencari keberadaan tuan muda.


"Dimana hah?" Billy menggeplak kepala William karena kesal telah dipermainkannya.


"Ck, gue serius lebih baik kita keruang cctv biar loe tau kalau mata gue kagak rabun!" ujar William bersungut-sungut.


.


.


.


"Maaf tuan anda tidak diperbolehkan masuk karena hanya karyawan yang boleh memasukinya," ujar penjaga ruang cctv.


"Hem, baik jika kalian tidak mengizinkan kami masuk maka pisau ini akan menyanyat tubuh kalian," ujar Billy menunjukkan pisau mengkilatnya.


"A-apa anda mencoba mengancam kami tuan?" ujar penjaga gelagapan.


"Aku hanya sekedar memperingatkan bukan mengancam dan apakah kalian tau kalau aku adalah anggota mafia, aku bisa saja membedah tubuh kalian dan kuambil organ penting kalian tanpa diketahui oleh pihak berwenang" Billy memainkan pisaunya.


"Ba-baiklah silahkan masuk," ujar penjaga cctv mempersilahkan Billy dan william masuk karena takut dirinya akan menjadi korban.


William berkonsentrasi mengotak-atik komputer yang menampilkan cctv di berbagai ruangan bar untuk mencari keberadaan tuan muda yang dibawa oleh seorang wanita.


"Bil, dia dibawa ke kamar," ujar William dan Billy berlari menuju kamar dimana tuan muda berada.

__ADS_1


"Wanita ****** itu keluar lagi setelah mengantar Lucas lalu siapa yang ada di kamar itu?" bingung William dan segera menyusul Billy.


Sesampainya dikamar, Billy mencoba membuka pintu namun nihil pintu sudah dikunci. Dia pun mencoba mendobrak pintunya beberapa kali.


"Siapa yang berani mendobrak pintunya," geram seorang wanita.


Brakk. Pintu terbuka lebar, nampak tuan muda yang terbaring telentang di atas tempat tidur. Billy menghampiri tuan muda dan memapahnya keluar dari sana.


"Lepaskan dia, Bil!" ujar wanita itu menarik tubuh tuan muda sekuat tenaga.


"Dia milikku!" tambahnya.


"Diam!" Bentak Billy dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan perkataan wanita itu.


William datang saat Billy sedang bersitegang dengan wanita itu.


"Ada apa, Bil?" tanya William melihat Billy memapah tuan muda.


"Loh loe ngapain disini hah!" Tegas William saat melihat wanita yang ia kenal dulu.


"Lepasin dia, Billy!" Wanita itu mengacuhkan William dan menarik tubuh tuan muda namun William segera menangkis tangannya.


"Bil, bawa Lucas pergi dari sini biar dia gue yang urus," ujar William. Kemudian Billy pergi memapah tuan muda keluar dari kamar dan membawanya pulang. Wanita itu mencoba mengejar Billy namun William menghalanginya.


"Mau kemana loe? apa yang coba loe lakuin tadi?" tanya William dengan menatap tajam wanita itu.


"Minggir!" ujar wanita itu.


Wanita itu ialah Cleora, wanita egois yang menginginkan seseorang dimana sudah ia sia-siakan sebelumnya.


"Gue gak habis pikir sama loe Cleora, setelah mengkhianati kepercayaannya sekarang loe bertindak diluar batas agar dia bisa menjadi milik loe. Lebih baik loe menjauh sekarang sebelum Lucas benar-benar membunuh loe secara dia adalah ketua mafia yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang berani mengganggu ketenangan hidupnya!" tutur William.


"Cukup!" bentak Cleora menahan dirinya agar tidak menangis.


"Hahaha..." William tertawa.


"Cleora...Cleora, tak semulus rencana bukan?" William tersenyum meremehkan.


"Untungnya gue dan Billy datang tepat waktu jika tidak loe mungkin sudah bersenang-senang dengan Lucas yang sedang tidak sadarkan diri." William menghela nafas berat.


"Loe gak usah ikut campur!" ujar Cleora menunjuk William dengan jari telunjuknya.


"Dia sahabat gue yang sudah seperti keluarga gue sendiri, jadi gue juga berhak ikut campur supaya dia gak salah pilih wanita kayak loe!" tegas William.


"Lebih baik loe gak usah cari perkara lagi dan menjauh dari kehidupan Lucas, jalani hidup loe tanpa Lucas dengan mencari kebahagiaan loe sendiri jangan ganggu kehidupannya lagi!" ujar William dingin.


"Satu hal lagi, biarkan dia bahagia bersama seseorang yang akan membuatnya bahagia nanti, entah siapa orang itu biarkan takdir yang memutuskan." William melangkah pergi.


Cleora limbung "Aku bodoh...aku memang bodoh!" tangis Cleora pecah.


Lebih baik loe gak usah cari perkara lagi dan menjauh dari kehidupan Lucas, jalani hidup loe tanpa Lucas dengan mencari kebahagiaan loe sendiri jangan ganggu kehidupannya lagi.


"Baiklah aku akan menyerah, setelah ini aku tidak akan menganggu kehidupannya lagi hiks...hiks..." lirih Cleora dan menangis hingga membuat dadanya terasa sesak.


"Aku harus bisa melepaskannya, aku ingin dia bahagia bersama pilihannya dan aku tidak akan muncul lagi dihadapannya nanti." Cleora memukul dadanya yang terasa sesak.


"Aku hanyalah sebatas masa lalunya bukan masa depannya dan aku berdoa supaya ada seseorang di masa depan yang akan sangat mencintainya," ujar Cleora menghapus air matanya.


...----------------...

__ADS_1


...Semoga suka👀...


__ADS_2