Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 44 Putus Asa


__ADS_3

Gelar pangeran dalam dunia dongeng mungkin dapat disematkan di depan nama tuan muda. Ketampanannya yang tak pernah luntur membuat siapa saja akan memandangi parasnya.


Tak hanya itu, otot ditangannya serta tubuh tegapnya digilai banyak wanita. Tapi semua itu semata-mata hanya dianggap sebagai masalah yang merepotkan saja. Baginya tidak mengenal wanita itu jalan yang lebih baik.


Cittt


Suara rem mobil mewah memasuki halaman gedung tinggi bertingkat di tengah kota. Gedung dengan nuansa arsitektur megah dan modern itu membuat siapa saja merasa iri dengan karyawan yang bekerja disana. Gaji yang tinggi namun harus memiliki potensi. Itulah syarat masuk perusahaan bergengsi di kota yang elit ini.


Sebelum keluar dari mobil, tuan muda memakai masker agar identitas yang disembunyikan tidak diketahui oleh orang lain. Saat turun dari mobilnya, tuan muda merapikan posisi topinya dan kembali berjalan memasuki perusahaannya.


Tak lupa kunci mobil ia berikan pada penjaga yang berdiri di samping pintu masuk. Aroma wangi menyerbak mengiringi langkah kaki tuan muda saat memasuki perusahaan. Banyak pasang mata melihat kedatangannya dengan tampilan yang berbeda dari karyawan lainnya.


Style pakaian hitam-hitam dengan dua kancing kemeja atas dibiarkan terbuka. Tak lupa juga lengan kemeja dilipat sampai siku. Sekilas memang terlihat seperti orang yang bandel atau terkesan kurang rapi dalam hal berpakaian di dunia kerja. Namun apa yang tidak bagi tuan muda? Ia akan melakukan apapun sesukanya.


Langkahnya terus berjalan menuju suatu tempat yang dipikirkan olehnya. Siluet tajam dari matanya seakan mengintimidasi semua orang yang melihatnya.


"Permisi, tuan." Langkahnya terhenti saat salah satu resepsionis menghampirinya.


"Tuan ingin bertemu dengan siapa? Apa Anda sudah membuat janji dengan orang yang ingin ditemui?" ujarnya dengan sopan.


Tuan muda menunjukkan pin warna perak yang hanya dimiliki oleh VIP di perusahaannya. Semua orang tahu jika punya pin itu maka kedudukannya dianggap penting dalam perusahaan dan wajib diperlakukan dengan hormat.


Sebenarnya bisa saja tuan muda memperlihatkan pin emasnya yang hanya dimiliki oleh CEO D'Corporation, tapi itu pilihan yang buruk.


"Apakah perlu saya bantu mengantar Anda ke tempat yang diinginkan?" Usul resepsionis itu.


"Tidak perlu," jawabnya singkat dan langsung meninggalkannya tanpa banyak bicara. Tujuannya kemari hanya ingin melihat perkembangan bisnisnya. Sejujurnya ia lebih tertarik untuk mengurus bisnis ilegal dalam dunia bawah. Penuh banyak ancaman tetapi menggairahkan untuk tetap dilakukan.


Baru kali ini aku bertemu dengan pemilik pin perak perusahaan. Selama ini identitas pemilik pin tidak pernah diketahui. Batin resepsionis tersebut.


Klek


"Apa aku sudah menyuruhmu untuk ma-" William tercengang beberapa detik saat tuan muda datang.


"Suk,"


"Luc, kau kemari? Wah padahal aku tidak menyuruhmu haha ..." William tertawa sinis. Biasanya William yang harus memaksa sahabatnya itu agar datang saat berkas-berkas menumpuk dan perlu tanda tangan. Tapi ini kejadian yang langka. Datang sendiri tanpa perlu paksaan darinya.


"Aku apresiasi kehadiranmu kali ini," William tepuk tangan merasa bangga dan senang tugasnya bisa sedikit lebih ringan.


"Fashionmu keren, tapi kondisikan tatapan matamu itu. Jika tidak, semua akan takut saat berhadapan denganmu." Cibir William tetapi ada benarnya. Mata yang tajam itu bisa mengintimidasi siapa saja yang berhadapan dengannya.


Tuan muda menghampiri William di kursi kerjanya. "Berdiri," suruh tuan muda. William menuruti ucapannya dengan wajah bingung. Lalu tanpa segan tuan muda menduduki kursinya seraya melipat kakinya memandangi William.


Terdiam mematung dengan wajah yang linglung. Itulah kondisi William sekarang. "Apa yang kau inginkan? Minggir aku ingin bekerja!" Usirnya menarik tuan muda agar beranjak dari kursi kebesarannya.


"Aku juga ingin bekerja mana dokumennya?" Tuan muda mengamati berkas-berkas yang ada di atas meja kerja William.


"Pergilah ke ruanganmu sendiri sana. Biar aku yang antar dokumennya," ujar William baik-baik.


"Aku tidak punya banyak waktu!" William menahan kekesalannya. Lelah dan pusing mengurusi hal ini itu di perusahaan. Untunglah gajinya sepadan dengan pengorbanannya jika tidak ia akan gila dengan paksaan itu.


"Tuan Lucas Deilson yang terhormat bisakah kau pergi dari sini, apa aku perlu mengantarmu ke ruangan pribadimu? Ayolah Luc, pekerjaanku masih banyak jangan menghambat perusahaanmu sendiri!" Muka William berubah masam. Entah kondisi hatinya benar-benar tidak berselera berdebat.


"Mana pekerjaanmu biar aku yang kerjakan." William tercengang. Mulutnya terbuka lebar. Bagaimana bisa hal ini terjadi. Sungguh beruntung hidupnya kali ini.


"Kau tidak bercanda kan?" William memicingkan mata seakan tak percaya pada sahabatnya sendiri.


"Hm"

__ADS_1


"Semua yang ada di meja kerjakanlah, aku pusing hari ini!" William memijat kepalanya yang berdenyut. Pikirannya menerawang jauh seakan dipaksa untuk berpikir. Ada sesuatu hal yang mengusik otaknya saat ini.


"Kudengar perusahaan ayahmu dalam kondisi tidak baik." Tuan muda berbicara tanpa memandang William. Sebenarnya ia sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Sehingga tahu kenapa William terlihat murung sedari tadi.


"Biarkan saja, aku tidak ingin ikut campur lagi." Bohong jika William tak peduli. Bohong jika William tak mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Sejahat-jahatnya seorang ayah tetaplah ayahnya bukan?


"Jangan bohongi perasaanmu sendiri, lebih baik kau mengakuisisinya lagi pula perusahaan itu seharusnya menjadi hakmu sebagai seorang anak. Lakukan sebelum perusahaan itu menjadi milik orang lain." Sebuah saran namun lebih mengarah ke perintah.


"Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku terlalu membencinya hingga enggan menemuinya." Wajah William terlihat geram saat harus bersinggungan dengan nama ayahnya.


"Kau pasti bisa menemukan caranya." Tuan muda melihat jam di tangannya.


Kemudian berdiri sembari menatap Dave. "Dokumen-dokumen ini banyak yang keliru dan kurang akurat. Pertegas kedisiplinan karyawan kita dan jangan sampai terulang lagi. Jika ada yang melanggar berhentikan saja!" Dave memejamkan matanya.


"Antar dokumen ini ke apartemenku biar aku yang akan mengurusnya," tambahnya.


Tuan muda menepuk pundak William sebelum pergi. "Jangan terlalu dipikirkan lakukan apa yang ingin kau lakukan. Kau boleh ambil cuti selama seminggu untuk menyelesaikan masalah itu."


"Terimakasih, Luc!" William memeluk tuan muda. Persahabatan sesama laki-laki itu begitu kuat. Terkadang berbeda sifat tetapi saling memahami. Walaupun saling terlihat tak peduli tetapi sebaliknya mereka saling menyayangi.


"Kau selalu ada disaat aku terpuruk. Meskipun kau manusia yang dingin dan angkuh sekalipun tapi tak mengapa itu hal yang biasa." Tuan muda melepas paksa pelukan William.


"Aku bisa saja berubah pikiran-"


"TIDAK! Baik silahkan pergi saja dan urus kegiatanmu yang lain." Tangan William tergerak mempersilahkan tuan muda untuk pergi. Ia tidak ingin keputusan yang sudah tepat itu berubah dengan cepat.


Di Apartemen,


Tuan muda kembali dengan membawa satu kantung plastik yang berisi makanan untuk makan siang nanti. Saat tiba di apartemen dokter Fely langsung menghampirinya. Raut wajah yang kebingungan terpancar jelas didepannya.


"Tuan, nona tadi masuk ke kamar dan belum kembali hingga saat ini. Saya takut jika terjadi sesuatu pada nona." Tukas dokter Fely.


Klek


Klek


Tuan muda mencoba membuka handle pintunya namun tak bisa karena terkunci dari dalam.


Tok-Tok


"Apa kau didalam? Ini aku, buka pintunya!"


Tok-Tok


Alisya yang semula menangis langsung terhenti begitu mendengar bunyi ketukan pintu dan juga suara laki-laki yang keras itu.


"Buka pintunya! Apa kau tidak dengar!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Gadis bodoh ini! Apa yang dilakukannya didalam?" monolognya sembari terus mengetuk pintu tanpa jeda.


"Jika kau tidak keluar sekarang juga aku akan mendobrak pintunya!" Ancamnya agar Alisya segera menampakkan diri.


Alisya segera menghapus sisa air mata yang menetes di pipinya. Menutup mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya sendiri.


"SATU!"


"DUA!"


"TI-"

__ADS_1


Ceklek


Tuan muda melihat pintu sudah terbuka dan bergegas masuk melihat apa yang terjadi dengan Alisya. Perasaannya lega saat mengetahui tidak terjadi apa-apa pada Alisya. Namun dahinya mengernyit saat menatap Alisya yang tertunduk lesu.


"Ada apa denganmu?" Alisya menggeleng menyiratkan bahwa ia baik-baik saja. Ia malu jika tuan muda melihatnya dengan keadaan wajah yang sembab.


"Hmm, kau menangis?" tanya tuan muda saat tahu hidung Alisya memerah.


"Tidak, aku tidak menangis." Ujar Alisya lirih bahkan hampir tak terdengar. Tanpa disadari air mata Alisya kembali menetes begitu saja. Namun Alisya langsung menghapusnya sebelum tuan muda mengetahuinya.


"Air matamu tidak bisa membohongi perasaanmu." Mendengarnya Alisya semakin kalut dan tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.


"Kenapa, hmm?"


Alisya tak menjawab dan terus saja menangis. Tuan muda memberikan tisu dan menunggu sampai Alisya berhenti menangis.


"Apa yang terjadi?" tanya tuan muda saat Alisya sudah kembali tenang.


"Dokter Fely pasti sudah lama menunggu kita."


"Kau yakin tidak apa-apa?" tanyanya memastikan bahwa Alisya benar baik-baik saja.


Alisya mengangguk. Tuan muda berjalan menjauh meninggalkan Alisya entah apa yang akan diperbuatnya. Alisya menatap punggung pria itu dari jauh. Tak lama, ia kembali lalu melepas jam tangannya. Kemudian melemparkannya ke atas tempat tidur.


"Aku sudah menyuruh Dokter Fely untuk pulang dan sekarang katakan kenapa kau menangis." Alisya tak berani beradu mata dengan tuan muda. Mulutnya terkunci seolah berat untuk berbicara.


"Aku menyerah," Alisya menatap mata yang tajam dan mengintimidasi itu.


"AKU MENYERAH!" Alisya mengulangi perkataannya dengan tegas. Tuan muda menangkap emosi menggebu itu. Kemarahan dan juga keputus-asaan begitu gamblang Alisya torehkan. Tuan muda tidak mengerti apa yang coba Alisya jabarkan.


"Aku akan berdamai dengan takdirku." Alisya tersenyum dengan air mata yang terus bercucuran. Sekarang tuan muda paham kemana arah pembicaraannya.


"Semua tidak ada yang sia-sia, usaha yang akan menentukan hasilnya. Menyerah justru membuatmu semakin terjatuh dalam lubang yang dalam. Kau memang tidak bisa mengubah takdir hidupmu tetapi bisa memilih jalan yang baik menurutmu. Semua keputusan berada ditanganmu dan kau yang akan menuai hasil itu."


"Lantas apa yang harus kupilih?"


Tuan muda mundur satu langkah dari Alisya. "Jika kau menyerah diamlah dan jika kau ingin sembuh berdirilah dengan usahamu sendiri." Alisya mengerutkan keningnya.


"Pikirkan bahwa sahabatmu menantimu kembali dan kau malah ingin dia melihatmu seperti itu?"


Tuan muda hanya ingin memancing Alisya agar mau berdiri sesuai yang diperintahkan dokter Fely. Sebelumnya Ia diberitahu bahwa Alisya terlihat putus asa saat mencoba untuk latihan berdiri.


"Kau ingin sahabatmu sedih dan terus merawatmu dengan kondisi seperti itu?" tukas tuan muda dengan nada meninggi dari sebelumnya.


Alisya menggeleng dengan cepat seolah tidak mau hal itu terjadi. Sebaliknya tuan muda tersenyum kecil kata-katanya berhasil mempengaruhi Alisya.


"Cih, kau ingin memilih keputusan bodoh seperti itu? Baiklah jangan menyesalinya." Tuan muda membalikkan badannya dan bersiap melangkah meninggalkan Alisya.


Alisya menurunkan kedua kakinya dan berusaha berdiri dengan bertopang pada kursi roda. Air matanya mengalir deras. Keputus-asaannya memantik semangat yang semula padam.


Sakittt!


"Arghh," teriaknya saat akan jatuh. Namun kedua tangan yang kuat berhasil menahan Alisya agar tidak terjatuh. Tuan muda memeluknya saat berhasil melaksanakan perintahnya. Alisya menangis dengan keras dan menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang itu.


"Hiks-hiks,"


"Kau berhasil melakukannya," ujarnya seraya mengacak-acak rambut Alisya. Ia senang rencananya berhasil membujuk Alisya. Walaupun dengan cara demikian.


...____Batas Akhir____...

__ADS_1


__ADS_2