
Malam pun tiba...
Di Balkon sebelah ruang kerjanya, tuan muda dengan santainya menikmati sepuntung rokok yang ada ditangannya. Mengepulkan asap rokok ke udara dan menghilang terkena sapuan udara. Ditemani cahaya lampu temaram dan sinar rembulan yang menelisik gelapnya malam.
Sudah banyak puntung rokok yang dihabiskannya membuat sisa abu rokok berceceran kemana-mana. Angin malam yang berhembus secara perlahan membuat kulitnya tersapu akan dinginnya suasana malam.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok tuan muda merasa kelaparan sebab belum makan apapun sedari pagi. Ia pun turun kelantai bawah untuk makan malam. Bertepatan dengan itu di meja makan sudah ada Dave dan William yang makan malam disana.
"Luc duduklah," ujar William. Tuan muda menaikkan satu alisnya sebab ini kan mansionnya kenapa justru William yang mempersilahkannya duduk. Ah sudahlah biarkan tak perlu dibahas.
"Hm" balas tuan muda.
Datar sekali wajahnya (batin William mengamati wajah tuan muda).
Dirasa ada yang melihatnya tuan muda segera menatap siapa yang berani menatapnya dan benar saja seorang asistennya yang bernama William tengah diam-diam menatapnya. Kemudian tuan muda menatapnya dengan tatapan mautnya membuat William tersedak makanan saat itu juga.
"Uhuk...uhuk" William terbatuk-batuk akibat tersedak oleh makanan yang dimakannya. Bukan-bukan, lebih tepatnya tersedak karena tatapan maut si tuan muda. Dengan segera Dave memberikan air putih untuknya dan William pun segera meminumnya.
"Pftthh, untung gak mati sekalian." Dave menggigit bibir bawahnya karena berusaha menahan tawanya. Ingin sekali William menyumpah serapahi Dave secara terang-terangan namun keadaan tak berpihak padanya, bisa habis dia jika mengganggu makan malam sahabat kejamnya itu.
.
.
.
.
.
Di sisi lain...
__ADS_1
"Tu...annn to...tolong bukakannn pin...tunyaa!"" ujar Alisya dengan tubuh menggigil sebab bajunya basah sedari tadi membuatnya kedinginan bahkan lemas tak berdaya. Apa boleh buat seseorang tak akan bisa mendengar suaranya meskipun ia berteriak sekalipun sebab kamar itu berfasilitas kedap suara.
"Dingin....dingin," gumam Alisya lirih. Ia sudah lemas dan tak kuat lagi untuk sekedar berdiri badannya mulai demam saking lamanya berada dalam kamar mandi.
Di ruang makan...
Setelah semua selesai makan tuan muda pun angkat bicara.
"Berangkat ke gudang senjata sekarang!" Perintah tuan muda dingin.
"Kenapa sekarang Luc masih ada waktu beberapa jam lagi, lagian lokasinya dekat dari sini bukan kenapa harus ke gudang senjata?" tanya William.
"Kita akan ke gudang senjata karena lokasinya lebih dekat dengan tempat transaksi mereka," jawab Dave.
"Ouh," ujar William dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Takk
"Dasar bodoh!" ejek Dave dengan menjitak kepala William.
"Salah siapa bodoh jadi orang," kata Dave.
"Hey aku tak tau lah jika tempatnya dekat dengan gudang senjata," elak William.
"Bukannya aku sudah memberitahumu saat kita akan makan tadi?" ujar Dave dengan senyum smirknya.
"Benar juga ya kenapa aku bisa lupa," kata William menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nah kan bodohnya kelihatan hihihi..." ujar Dave terkekeh geli melihat kebodohan William.
"Sudah?" tanya tuan muda yang sedari tadi hanya menatap datar perdebatan kedua makhluk hidup yang ada di depannya.
__ADS_1
"Hehehe maaf kami lupa jika ada dirimu Luc," ujar William.
"Enak saja kau yang lupa aku tidak," elak Dave. Keduanya ribut kembali membuat tuan muda menghela nafas kasar dibuatnya. Kemudian ia pun meninggalkan dua makhluk manusia yang sedang adu mulut itu menuju garasi.
"Loh-loh kemana Lucas?" tanya William pada Dave.
"Hais ini semua gara-gara loe kita ditinggal Lucas!" ujar Dave melangkah meninggalkan William sendirian di meja makan.
"Woyy tungguin bangs4ttt!" ujar William. Keduanya menyusul tuan muda di garasi mansion. Saat sampai tiba-tiba tuan muda melempar kunci mobil pada William.
Dan...
Hap
Dengan sigap William menangkap kuncinya dan menuju mobil jeep untuk mengendarainya. Setelah sampai mereka mempersiapkan keperluan untuk melakukan penyerangan pada sang target.
"Luc kau ikut kan?" tanya William.
"Hm" jawab tuan muda singkat. Beberapa jam mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tuan muda sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran di gudang senjata, Dave sibuk menghitung jumlah senjata dalam peti sedangkan William membaca data email kerjasama antar perusahaan yang dikirim kepadanya.
Beberapa jam telah berlalu saatnya mereka beraksi dan membawa senjata perlindungan masing-masing. Mereka bertiga berjalan kaki menatap sekitar dengan was-was.
Dan saat ini mereka berada beberapa meter tak jauh dari tempat transaksi. Terlihat dua orang yang saling bercengkrama satu sama lain dilihat dari gerakan bibirnya yang komat kamit. Kemudian sang pembeli pun memberikan uang dalam koper kepada reseller transaksi senjata tersebut. Dan....
Dorr
William menembakkan timah panas tepat di bagian kepala sang pembeli senjata itu hingga membuat uang-uang dalam koper terbang dibuatnya. Bagaikan hujan uang, membuat anak buah orang itu pun berhamburan mengambil uang-uang itu lumayan lah ya jarang-jarang ada uang kaget macam ini.
William meniup pistolnya yang sudah mengeluarkan asap akibat timah panas yang dimuntahkannya. Keadaan mangsa yang ditembak William sangat mengenaskan bagian dalam kepala yang sudah berserakan dan darah yang mulai membasahi tanah.
"Haha lihatlah mafioso laknat itu bosnya sekarat dan dianya malah keroyokan uang dasar," ujar William terkekeh geli melihat keserakahan mafioso orang yang dihabisinya.
__ADS_1
...----------------...
...Thank you selamat membaca...😊...