Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 28 Dia Calon Istriku


__ADS_3

Di sebuah apartemen sesosok perempuan tengah duduk meringkuk menangis meraung-raung merutuki kebodohan yang telah dilakukannya beberapa bulan lalu. Kesalahan fatal yang membuatnya kehilangan sesosok lelaki yang begitu memanjakannya.


Sungguh ia sangat amat menyesal tak sepatutnya ia mengkhianati orang yang begitu tulus menyayanginya. Hatinya hancur, terluka, kecewa namun tak mampu membuat keadaan kembali seperti semula.


Ia terus saja melempar apapun barang-barang yang ada didekatnya untuk melampiaskan rasa kekesalannya. Entah sudah berapa banyak barang yang ia rusak demi meluapkan rasa emosinya.


Kini apartemennya bagaikan kapal pecah dengan perabot yang berserakan dimana-mana. Namun hal itu tak mengindahkannya untuk menghentikan tangisan maupun amarahnya.


"Hiks hiks bodoh kamu Ra bodoh!" ujarnya memukul dirinya sendiri.


"Ke-kenapa... hiks hiks aku terbuai dengan orang lain selain Lucas kenapa! hiks hiks..." ujarnya menyalahkan dirinya sendiri.


"Dia bahkan sangat menjagaku dan tak mau menyentuhku sebelum menikahiku arghhh bodoh!"


"Aku harus menemuinya besok, pasti dia mau memaafkanku dan mau kembali padaku," ujar Rara menghapus air matanya.


"Jangan pernah temui aku lagi camkan itu!"


"Tidak! aku harus menemuinya, aku takut kehilangannya!" ujar Rara menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir kata-kata tuan muda yang terus terngiang-ngiang di pikirannya.


.


.


.


Pagi datang dan matahari mulai memancarkan sinarnya. Hari ini adalah hari dimana Rara akan mencoba menemui tuan muda yang kedua kalinya.


Semalam ia bahkan terus terjaga dari tidurnya demi menantikan sang mentari yang tak kunjung menampakkan wujudnya. Namun sekarang lah waktunya dan ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk meluluhkan hati dari tuan muda.


"Aku harus bisa membuatnya kembali padaku dan aku akan menjelaskan apa alasanku melakukan ini semua kepadanya!"


Rara menghela nafas pelan untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang saat ini. Ia tak tau apa yang akan terjadi nantinya. Sekarang tujuan utamanya adalah menemui tuan muda, dengan langkah cepat ia berjalan menuju mobilnya di parkiran bawah dan melajukan mobilnya menuju apartemen tuan muda.


Kurang dari lima belas menit perjalanan ia sudah sampai di bangunan menjulang tinggi. Sebuah tempat yang terdapat banyak kenangan didalamnya. Ia pun segera menapakkan kakinya menuju lantai dimana apartemen tuan muda berada.


Namun sesaat setelah ia menekan kode apartemen, yang dilihatnya hanyalah sebuah kediaman yang tampak sunyi dan senyap. Ia pun mencoba mencari di setiap bagian ruangan namun nihil, orang yang dicarinya tak dapat ditemukannya.


"Lu-Lucas dimana kamu?"


Hening. Tak ada suara yang menyahutinya atau apapun aktivitas yang dapat ia lihat disana.


"Apa dia ada dimansion? Aku akan kesana sekarang!"


Kemudian Rara melanjutkan perjalanannya pergi ke mansion dan meninggalkan apartemen yang kosong tak ditempati oleh pemiliknya. Setelah setengah jam ia pun sampai di rumah mewah di tengah-tengah hutan.


"Dia datang?" tanya Dave saat melihat cctv di mansion. Tuan muda tersenyum sinis merasa tebakannya benar.


"Yah, dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum aku kembali padanya dan memberinya kesempatan kedua," ujar tuan muda.


Rara pun langsung masuk ke dalam mansion tanpa dicegah oleh para penjaga luar mansion karena mereka sudah tau jika Rara adalah calon istri dari tuan muda mereka, maka tak ada seorang pun yang berani untuk melarangnya memasuki mansion.


Tetapi mereka tak tau jika sekarang tuan muda sudah mengakhiri hubungannya dengan Rara, seseorang yang dulu pernah berarti di kehidupannya.


"Lucas...Lucas..." ujarnya memanggil-manggil nama tuan muda.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya tuan muda dingin dengan pandangan menusuk saat keluar dari lift dan diikuti Dave dibelakangnya.


"Kumohon beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya!" ujarnya memohon belas kasih tuan muda.


"BERI KAMI PRIVASI!" perintah Dave saat tau jika sahabatnya tak ingin masalah pribadinya diketahui oleh banyak orang kecuali dirinya.

__ADS_1


"Baik tuan!" mereka pergi satu persatu setelah mendapatkan perintah dari Dave.


Setelah dirasa sepi tak ada orang lagi, dengan tanpa rasa malunya Rara kembali meminta kesempatan kedua yang membuat tuan muda muak ingin segera menyeretnya keluar dari kediamannya.


"Sekarang lebih baik kau keluar dari mansionku sebelum aku bertindak kasar!" ujar tuan muda menahan emosinya.


"Kumohon..." Rara mengatupkan kedua tangannya dan duduk bersimpuh di hadapan tuan muda.


"Aku tau kamu marah padaku tapi itu semua aku lakukan karena kamu yang terlalu sibuk dengan pekerjaanmu! kita bahkan jarang menghabiskan waktu bersama! apa kita pernah seperti pasangan diluar sana? pergi ke bioskop bersama dan makan malam romantis di restoran berdua..." Cleora menjeda ucapannya.


"Tetapi apa? kamu selalu sibuk dan aku mencoba memahaminu karena kamu adalah pewaris tunggal keluarga Deilson!" tutur Cleora tersenyum miris.


"Saat aku ingin menghabiskan waktuku seharian bersamamu, apa kamu pernah meluangkan waktumu sehari saja? tapi tidak kamu malah memberikanku black card sebagai jaminan maafmu padaku agar aku bisa berbelanja dan menghabiskan waktuku tanpamu karena semua pekerjaaan gilamu itu!" Tuan muda hanya mendengarkan tanpa mau mengucapkan sepatah kata apapun.


"Aku tidak butuh itu! aku hanya butuh cintamu, kasih sayangmu, hatimu, waktumu dan dirimu hanya untukku! aku tidak menginginkan kekayaan sedikitpun darimu!" air mata luruh membasahi pipi Cleora.


"Apa kamu tau? Dia lah yang mengajarkanku arti sepasang kekasih sebenarnya..."


"Lalu mengapa mendatangiku? apa kau kasihan terhadapku? sayangnya aku tidak menerima belas kasihan darimu! pergilah bersama laki-laki yang kau cintai itu dan jangan pernah kembali padaku!"


"Aku melakukan itu semua karena kesibukanmu selama ini..."


"Bukankah seharusnya kau mengerti itu tapi tidak bukan? kau malah bermain dibelakangku! kau memilih mengkhianati cinta tulusku."


"Aku mencintaimu bukan dia..."


"Hentikan omong kosongmu dan pergi dari sini aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri!"


Di lantai atas, Alisya membersihkan ruangan mansion. Dengan sekuat tenaga, ia membersihkannya serapi dan sebersih mungkin tanpa terkecuali. Setelah selesai, rasa haus mulai menggerogoti kerongkongannya yang terasa kering.


"Aku haus sekali, apa aku kebawah saja sekalian membantu bibi memasak? sepertinya itu keputusan yang baik karena bibi juga sering membantuku bersih-bersih di mansion seluas ini," monolog Alisya.


Apa yang sedang terjadi saat ini? kenapa wajah tuan terlihat begitu tidak senang dengan perempuan itu? siapa dia?


Namun saat Alisya tengah menduga-duga kejadian di hadapannya, tiba-tiba saja suara seorang pria yang begitu familiar bergema memanggil namanya.


"Alisya," panggil tuan muda.


Deg


Alisya yang dipanggil pun menoleh dan menatap mata sang empu yang memanggilnya hingga terjadilah kontak mata diantara keduanya yang membuat tubuh Alisya terdiam ditempat.


"Kemarilah," ujar tuan muda dengan nada lembut.


Alisya tetap terpaku di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. "Kemarilah" ajak tuan muda yang kedua kalinya.


"I-iya," ujar Alisya gugup dan berjalan pelan menghampiri tuan muda yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan, entah apa yang akan tuan muda lakukan padanya.


Ada apa dengannya? sungguh aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Dave


Saat Alisya sudah berdiri di samping tuan muda, dengan gesitnya tuan muda langsung merengkuh pinggang Alisya dengan begitu posesifnya. Alisya sontak membelalakkan matanya, kaget karena mendapat perlakuan yang tak seperti biasanya.


Kini tak ada jarak ataupun penghalang diantara mereka berdua. Dekat? bahkan mereka sudah sangat dekat hingga bisa merasakan deru napas masing-masing.


Alisya yang bingung mencoba menatap wajah tampan yang hanya berjarak beberapa inci darinya untuk mancari jawaban atas semua kejadian ini. Namun ia malah terpaku menatap kedua manik mata yang terlihat tajam dan mematikan didepannya.


"Perkenalkan dia adalah calon istriku, Alisya." ujar tuan muda merapikan anak rambut Alisya.


"A-apa mana mungkin? kamu berbohongkan? ini hanya sandiwara bukan?" Rara berdiri dan berusaha mengelak pernyataan yang baru saja ia dengar.


"Apa aku terlihat bercanda? Kurasa aku harus membuktikannya."

__ADS_1


Lucas, apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya? Dave.


Dave menatap tuan muda meminta penjelasan padanya, namun sudut bibirnya terangkat entah apa yang akan ia lakukan Dave akan tetap diam dan mengamati gerak geriknya.


Tuan muda memberikan kecupan sekilas di bibir Alisya, nampak Alisya yang membelalakkan matanya bingung akan situasi yang sedang dihadapinya.


Entah mendapat dorongan darimana tuan muda menarik tengkuk Alisya dan menciumnya dengan mesra. Alisya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak ingin pria didepannya menjelajahi isi mulutnya.


Namun sekuat apapun Alisya melawannya, ia tak akan sanggup mengalahkan manusia sekeras batu didepannya. Tuan muda menggigit bibir bawah Alisya hingga membuatnya mau tak mau harus membuka mulutnya.


Tuan muda dengan leluasa ******* bibir manis milik Alisya, meresapi dan menikmati ciuman yang dirasa tidak seperti mantan kekasihnya Cleora. Alisya hanya diam tak membalas ciuman tuan muda, ia tertekan tak bisa berbuat apa-apa di bawah rengkuhan tuan muda kejam sepertinya.


Tuan muda yang melihat Alisya tak membalas ciumannya pun menjadi semakin liar dan memperdalam ciumannya, masa bodoh dengan kedua pasang mata yang sedang melihatnya. Wajah Cleora memerah karena marah dan tangannya mengepal kuat saat melihat kedua pasangan dihadapannya saling mempautkan bibirnya.


Tuan muda melepaskan pagutannya setelah dirasa Alisya mulai kehabisan pasokan udaranya. Hati Alisya bergemuruh, ini adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan lelaki asing yang sangat membencinya.


"Beraninya kau wanita murahan!"


Plak


Cleora yang kehilangan kesabarannya menampar keras pipi Alisya hingga membuatnya memerah saat itu juga. Alisya menyentuh bekas tamparan dari Cleora, rasanya sakit baik fisik maupun hatinya.


"TUTUP MULUTMU!"


"Kamu membelanya?" Cleora tersenyum miris.


"Kaulah wanita murahan yang sebenarnya bukan dia!" Sarkas tuan muda. Cleora tak mampu berkata-kata lagi mengingat kesalahan yang ia perbuat beberapa bulan lalu.


"Ini semua gara-gara dirimu sialan!" Cleora mendorong tubuh Alisya hingga terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh jika tuan muda tidak sigap menangkapnya.


"Dave bawa wanita gila itu pergi dari sini!" Dave menggenggam pergelangan tangan Cleora dan menyeretnya keluar dari mansion.


"Dave tolong bantu aku meyakinkan dia," pinta Cleora sungguh-sungguh.


"Sudah tidak ada gunanya lagi," ujar Dave dingin kepada Cleora.


"Lepaskan tanganku biarkan aku mencobanya sekali lagi!" Cleora mencoba melepaskan cengkeraman Dave namun terlalu kuat hingga membuat pergelangan tangannya terasa sakit.


Saat di depan mansion. "Ada yang bisa kami bantu tuan?" ujar pengawal mansion yang sedang berjaga.


"Bawa dia pergi dari sini dan jangan biarkan dia memasuki mansion ini lagi!" perintah Dave dan para pengawal membawa Cleora pergi.


"Kalian berani padaku!" ujar Cleora geram.


"Maaf nona ini sudah perintah!" Pengawal menunduk dan meninggalkan Cleora begitu saja.


"Arghhh awas saja kau wanita murahan aku akan membalasmu!" Dendam Cleora.


"Obati lukamu dan jangan anggap tindakanku tadi adalah sebuah cinta tetapi itu hanya sekedar sandiwara," tuan muda pergi begitu saja. Alisya terduduk dan menangis dalam diam meratapi kehidupan yang ia jalani sekarang.


"Nona Alisya," ujar Bi Minah mengusap lembut puncak kepala Alisya, kemudian ia berdiri dan memeluk erat tubuh Bi Minah.


"Bi, hiks...hiks" Alisya menangis sesenggukan di pelukan hangat Bi Minah.


"Sabar ya nona, bibi tidak tau apa yang terjadi. Namun apapun masalahnya tetap harus kuat menjalani semua ini" Bi Minah mengusap air mata Alisya.


"Bibi bawakan obat untuk mengobati luka di pipi non Alisya, bibi obati ya?" Alisya mengangguk pelan. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat perbincangan diantara keduanya.


...----------------...


...Akhirnya bisa up😊...

__ADS_1


__ADS_2