
Alisya yang penasaran mendekat ke arah pintu dan mencoba membukanya. "Pintunya tidak dikunci tetapi kenapa tidak bisa dibuka?" Alisya menaruh keranjang bunga di bawah dan mencoba lagi untuk membuka pintu dengan kedua tangannya.
Krekk
"Shhh tanganku!" Alisya mengibaskan tangannya tetapi tatapan matanya tak lepas dari sesuatu di balik pintu yang telah dibukanya.
Kawasan hutan yang rindang
Alisya menatap kesemua penjuru hutan. Dari satu titik ke titik lainnya. Tak jenuh Alisya memandang keasrian hutan tersebut tanpa menghentikan langkahnya dalam menapaki rerumputan kecil yang tumbuh dengan liar.
Cukup lama Alisya melangkah menjelajahi hutan. Mengamati pepohonan besar nan rimbun disekitarnya. Tanpa sadar ia sudah berjalan cukup jauh dari taman. Pintu yang menjadi penghubung antara taman dan hutan bahkan sudah tak terlihat wujudnya lagi. Tertutup dengan pohon besar yang lebat.
"Ini dimana?" Alisya melihat sekelilingnya. Tampak semua pohon yang terlihat sama tengah mengepungnya.
"Apa aku tersesat?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Bagaimana jika aku terjebak disini
"Tidak-tidak pasti ada jalan untuk kembali." Alisya berpikir positif untuk membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Memutar tubuhnya untuk kembali ke jalan awalnya.
Aku sudah melewati jalan yang sama tetapi kenapa aku merasa kembali di tempat tadi?
"Apa ada orang disini!" teriaknya mencari pertolongan.
"Seseorang tolong aku!" Sambil berjalan entah kemana.
"Tolonggg!" Berulang kali Alisya berusaha meminta pertolongan namun percuma tidak ada seseorang yang datang ataupun mendengar suaranya. Tapi disini kan hutan pasti ada seseorang yang berburu hewan pikirnya.
"Tolonggg!" suara Alisya semakin serak karena terlalu banyak berteriak.
"Uhuk-uhuk" Alisya terbatuk-batuk. Tenggorokannya sampai sakit dan kakinya juga sudah pegal-pegal karena berjalan kesana kemari.
Hari juga semakin gelap dan Alisya masih tidak dapat menemukan jalan pulangnya. Sudah berulang kali Alisya memilih jalur yang seingatnya sama, namun tak juga membuahkan hasil satu pun. Kini ia malah semakin terjebak di tengah-tengah hutan yang terlihat semakin menyeramkan.
"Bagaimana ini?" Alisya menjadi semakin was-was. Sudah berjam-jam tetapi hutan ini seakan tak mengizinkannya pulang.
Malam datang. Sudah terlambat bagi Alisya untuk mencari jalan keluar hutan ini lagi. Keadaan sudah gelap. Tidak ada cahaya apapun yang menerangi hutan tersebut. Hanya nuansa gelap gulita yang dapat tertangkap oleh indra penglihatannya. Demikian juga dengan bulan dan bintang yang tidak menunjukkan keberadaannya, karena hujan telah memposisikan diri untuk menghujani kawasan yang dikuasainya.
Kini gerimis mengguyur semakin deras. Alisya duduk di bawah pohon dan meringkuk dengan tubuh gemetar. Dingin, takut, panik menjadi satu. Alisya ingin malam ini cepat berlalu dan berganti dengan pagi cerah yang ia nanti-nantikan. Tetapi malam ini terasa sangat lama berbeda dari saat sebelumnya. Entah benar atau tidak tetapi itu yang dirasakannya sekarang.
Saat ini angin pengiring hujan mulai bertiup kesana kemari membuat pohon disekitarnya juga bergerak dengan arah yang sama.
Krek-krek
"Tolong jangan menakutiku!" Memejamkan matanya erat-erat dan menutupinya dengan kedua tangannya.
"Mengapa aku begitu bodoh. Seharusnya aku tidak keluar dari taman tadi dan pastinya tidak akan berakhir disini. Kenapa tadi aku tergiur dengan keindahan alam yang malah menyesatkan!"
__ADS_1
Alisya terus menyalahkan dirinya sendiri. Menunduk menyembunyikan wajahnya tanpa berniat menatap keadaan gelap disekitarnya. Ingin sekali Alisya menangis namun percuma, hujan deras akan menutupi air matanya.
Alisya menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata yang tetap mengatup erat. Bulir-bulir tetesan air hujan jatuh menimpa paras alaminya tanpa satu riasanpun.
"Hua, aku bodoh sekali!"
"Kau memang bodoh!" Sarkas tuan muda yang tiba-tiba muncul hingga membuat Alisya terkejut.
Tuan?
Saat Alisya hendak memastikan siapa yang datang, lampu senter langsung menyorot wajahnya. Refleks Alisya mengangkat tangannya dan menutupi wajahnya. Ini sangat-sangat menyilaukan!
Alisya mengintip melalui celah-celah jari tangannya meyakinkan bahwa anggapannya adalah benar. "TUAN!" dengan perasaan bahagia dan wajah yang berseri-seri Alisya berhamburan memeluk tuan muda.
Tangan tuan muda terangkat ingin membalas pelukan dari Alisya namun ia urungkan dan menarik kembali tangannya ke samping tubuhnya.
"Lepaskan!" Tegas Tuan Muda menatap Alisya tajam. Kemudian Alisya sedikit menjauh dari tuan muda saat mendapati sorot mata yang mengintimidasinya.
"Bawa ini!" Tuan muda menyerahkan lampu senter kepadanya dan Alisya pun mengarahkan cahaya senter itu dari satu arah ke arah lainnya. Namun dari salah satu arah di depan tepatnya di belakang tuan muda, Alisya melihat ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon saat ia menyorotnya dengan senter yang dibawanya.
Sepertinya aku melihat seseorang didepan sana.
Alisya menyipitkan matanya. Menelisik lebih jauh apakah penglihatannya salah? Atau mungkin benar? Apakah hanya halusinasinya saja karena ini sudah malam dan keadaan yang sedang hujan?
"Apa yang kau lihat?" Tuan muda mengamati gerak gerik Alisya yang mencurigakan.
Tidak ada siapapun mungkin aku salah lihat.
Alisya membalikkan badannya namun ada cahaya merah kecil yang mengarah ke tubuh tuan muda. Alisya menengok kebelakang dan menyipitkan kembali matanya untuk melihat lebih jelas lagi siapa yang bermain laser di hutan malam-malam begini.
Mata Alisya membelalak saat melihat bahwa cahaya merah itu berasal dari pistol seseorang yang membidik ke arah tuan muda.
"Akan ku tembak dirimu dan selesai sudah misiku," ujar seseorang dengan sudut bibir terangkat.
"TUAN!" Teriak Alisya memperingatkan tuan muda. Tetapi tuan muda tidak sadar bahwa jika ia memutar tubuhnya nyawanya akan lenyap saat itu juga.
Tanpa berpikir lagi Alisya berlari menuju ke hadapan tuan muda dan memeluk tubuh tegapnya dengan begitu erat. Tidak peduli apa yang akan terjadi kedepannya, Alisya tidak memikirkannya.
Dorrr
Sebuah peluru menembus bahu kanan Alisya. Membuatnya merasakan sakit saat peluru berhasil tertancap untuk yang pertama kali baginya.
Tuan muda menatap tajam kepada seseorang yang bersembunyi dibalik pohon. Keadaan memang gelap tetapi tak membuat tuan muda melepaskannya begitu saja. Tangan kanannya mengambil pisau lipat di saku celananya dan tangan yang lain menyangga tubuh Alisya agar tetap seimbang.
Clap
Saat pembunuh itu berlari, tuan muda menancapkan pisau lipatnya ke arah kaki pembunuh yang kabur setelah menembak Alisya. Walaupun ia berhasil meloloskan diri namun itu akan membuatnya kesulitan dalam berjalan ataupun berlari dan pastinya sayatan pisau itu akan memberinya rasa sakit walaupun sedikit. Tuan muda hanya ingin memberikannya hukuman kecil sebagai awal dari penyiksaannya.
__ADS_1
Tuan muda membiarkannya lolos dan tidak ingin membunuhnya sekarang, namun yang pasti tuan muda akan menyiksanya hingga mati. Dia berjanji dalam hatinya siapapun yang melakukan ini akan mendapatkan hukuman yang sangat berat nantinya.
Penglihatan Alisya mulai kabur tetapi sekuat tenaga Alisya menahannya. Dia menatap mata tuan muda di sisa-sisa kesadarannya. Sebuah senyuman tulus Alisya berikan, membuat hati tuan muda sedikit tergerak. Batinnya terasa ikut tersiksa saat melihat mata Alisya yang berusaha menutupi rasa sakitnya.
"A-aku...baik-baik saja," ujarnya lirih tidak sesuai dengan apa dirasakannya.
Apa! Baik-baik saja? Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu disaat nyawanya sedang dipertaruhkan.
Tuan muda tak habis pikir saat Alisya mengatakannya tetapi dia yakin Alisya pasti merasa kesakitan.
Alisya yang sudah lemas akhirnya terjatuh dalam pelukan tuan muda. Tangan tuan muda tak sengaja menyentuh bahu Alisya yang tertembak. Noda darah di telapak tangannya membuat tuan muda tak sanggup melihatnya. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras.
"Aku bersumpah akan menyiksa siapapun yang telah melakukan ini dengan sangat buruk!" ujarnya dengan berapi-api. Hujan, angin, dan guntur telah menjadi saksi akan sumpah tuan muda pada malam itu.
Kemudian tuan muda menggendong Alisya yang tidak sadarkan diri untuk kembali ke mansion. Sesampainya di mansion pak Man sang penanggung jawab mansion melihat tuan muda yang tergesa-gesa dan menghampirinya.
"Cepat siapkan mobil dan hubungi Louis agar menunggu di depan rumah sakit!" Suruh tuan muda dan Pak Man melaksanakan perintahnya tanpa banyak bicara. Pak Man sedikit menjauh dari tuan muda untuk menelepon Louis.
"Tuan Louis, anda diperintahkan untuk berada di depan rumah sakit sekarang menunggu kedatangan tuan muda dengan menyiapkan beberapa keperluan yang dibutuhkan"
^^^"Baiklah, tetapi siapa yang sakit?"^^^
"Maaf tuan nanti anda akan tahu sendiri, saya tutup teleponnya."
Setelah selesai melaksanakan perintah tuan muda yaitu menelepon Louis dan menyiapkan mobil, pak Man kemudian berdiri di dekat pintu mobil membukanya mempersilahkan tuan muda masuk. "Mari tuan," ujar Pak Man.
Tuan muda mendudukkan Alisya di kursi kemudi mobil bagian depan dan memakaikan seat belt padanya karena tuan muda akan membawanya ke rumah sakit seorang diri. "Apa Kaylie sudah kembali dari luar negeri?" tanya tuan muda sebelum membawa Alisya ke rumah sakit Louis.
"Belum tuan, karena dokter Kaylie masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan," ujar pak Man. Tuan muda mengangguk, mengerti akan ucapan Pak Man.
"Tuan apakah tidak sebaiknya mengganti pakaian terlebih dahulu, takutnya tuan akan sakit jika berlama-lama memakai pakaian yang basah," ujar Pak Man menasehati.
"Tidak, membuang-buang waktu." Kemudian tuan muda berlalu meninggalkan pak Man tetapi sebelum itu satu pertanyaan kembali menyergapnya.
"Apakah tuan berniat mengendarai mobil sendiri atau bersama dengan sopir?" tanya pak Man memastikan tuannya dalam keadaan yang aman saat berkendara. Ia takut tuannya kalut dan terburu-buru dalam membawa mobil.
"Aku mengendarainya sendiri, kau urus saja tugasmu aku akan baik-baik saja." Tuan muda memasuki mobil dan mengendarainya menuju rumah sakit milik Louis.
Dengan kecepatan yang tinggi tuan muda mengendarai mobilnya tanpa mempedulikan kendaraan lainnya. Di tengah hujan deras juga tak mengecilkan niatnya dalam mengurangi kecepatan mobilnya. Masa bodoh tentang sumpah serapah yang dilontarkan mereka kepadanya akibat mengemudi dengan ugal-ugalan. Itu tidak penting sekarang yang terpenting saat ini adalah nyawa gadis disebelahnya terselamatkan.
Setelah sampai rumah sakit, tuan muda keluar dari mobil dan membuka pintu mobil samping Alisya. Ia menggendong tubuh Alisya menuju kearah Louis yang sudah bersiaga didepan rumah sakit menunggunya datang.
Alisya dibaringkan di brankar rumah sakit yang telah disediakan. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Louis sebelum melakukan tindakan selanjutnya.
"Bahunya tertembak," ujar tuan muda tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Alisya. Louis mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia pun mendorong brankar tersebut dan membawanya menuju ruang operasi karena ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya lebih lanjut pada sahabatnya tentang kejadian yang sebenarnya.
...----------------...
__ADS_1