
Siang ini, tuan muda dan Alisya makan bersama di sofa pojok ruangan. Banyak menu makanan yang tersaji dan pastinya tidak akan habis jika dimakan berdua.
Suasananya sangat canggung hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar saling beradu. Baik tuan muda maupun Alisya tidak ada yang memulai bicara sampai selesai makan. Keduanya pun tatap-tatapan seperti hendak menanyakan sesuatu.
"Tuan-"
"Kau-" ujar mereka secara bersamaan.
"Kau saja!"
"Tidak, tuan dulu!"
"Apa Louis sudah memberikan obat padamu?" Tanya tuan muda sembari menatap lekat Alisya.
"Dokter Louis memberikannya kemarin!" sahut Alisya dan membalas tatapan tuan muda.
Toktok
Suara ketukan pintu menghentikan perbincangan mereka. Lalu masuk dua orang pria memakai setelan jas. "Maaf mengganggu waktunya apakah benar ini dengan tuan Lucas Deilson?" tanyanya.
"Ya dengan saya sendiri,"
Polisi tersebut menunjukkan surat penangkapan. "Kami dari kepolisian akan menangkap anda karena kasus kebakaran gedung tua di dekat kota yang mengakibatkan toko-toko disekitarnya ikut terbakar," ujar salah satu polisi menjelaskan kronologi penangkapan.
"Silahkan ikut kami untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Anda," tambahnya.
Tuan muda melihat Alisya dan menggendongnya ke ranjang rumah sakit. "Ada apa tuan?" tanya Alisya khawatir.
Tuan muda tersenyum. "Bukan apa-apa hanya masalah kecil," balas tuan muda tanpa ada kecemasan sama sekali.
"Aku akan kembali nanti, istirahatlah." Tuan muda mengusap surai rambut Alisya dan ikut bersama kedua polisi untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam perjalanan menuju kantor polisi tuan muda mengirimkan satu pesan kepada Dave.
[Siapkan dokumennya dan bawa ke kantor polisi pusat]
Sesampainya di kantor polisi, tuan muda dibawa ke ruang interogasi. Disana sudah ada kepala tim interogasi yang siap mencari kebenaran.
"Tuan Lucas Deilson diduga pelaku pembakaran gedung tua di dekat kota yang mengakibatkan toko-toko disekitarnya ikut terbakar. Apakah itu benar?" tanyanya.
Tuan muda hanya mendengar dan menatap satu persatu tim interogasi yang melakukan tugasnya masing-masing.
"Tuan Lucas Deilson, kami sudah memiliki cukup bukti untuk menahan Anda. Ada rekaman cctv yang menujukkan bahwa Anda menuju gedung tua tersebut. Juga ada bukti foto-foto Anda. Jadi bisa jelaskan bagaimana kejadian waktu itu?"
"Saya menginginkan seorang pengacara," ucap tuan muda tanpa menjawab salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh tim interogasi.
"Silakan menghubungi pengacara Anda" tuan muda mengambil handphonenya dan menelepon Dave.
"Dave datanglah sebagai pengacaraku," ujar tuan muda melalui telepon.
"Aku sudah datang," sahut Dave di pintu masuk ruang interogasi. Dave dan tuan muda saling tersenyum satu sama lain entah apa yang mereka rencanakan. Tuan muda menyimpan kembali handphonenya.
"Saya Dave sebagai pengacara tuan Lucas Deilson." Dave memperkenalkan diri sebelum menjelaskan runtutan masalahnya.
"Baik silakan duduk." Kepala tim interogasi mempersilakan Dave duduk disamping tuan muda.
"Seperti yang sudah diduga oleh tim interogasi, tuan Lucas Deilson memang yang menyebabkan kebakaran gedung tersebut. Tetapi apakah salah bila ingin melakukannya di tanah sendiri?"
"Tetapi dari hasil investigasi kemarin tanah tersebut adalah milik tuan Robert,"
"Memang benar tetapi sekarang sudah sah menjadi milik tuan Lucas Deilson." Dave menunjukkan sertifikat tanah yang sudah dibeli oleh tuan muda.
"Meskipun sudah berpindah tangan tetapi perilaku tersebut menyimpang, bisa saja membahayakan nyawa seseorang dan juga menimbulkan kerugian yang tidaklah sedikit-"
"Tetapi tuan Lucas Deilson bersedia mengganti semua dendanya. Lagi pula tidak ada korban luka-luka ataupun meninggal saat peristiwa itu terjadi." Dave terus membela tuan muda.
"Berapa denda yang harus kubayarkan?" tanya tuan muda setelah banyak diam sebelumnya.
"Totalnya adalah 1,5 milyar." Dave memberikan selembar cek dan pena kepada tuan muda.
Tuan muda menuliskan nominal uang yang harus ia keluarkan akibat tindakan semalam dan menyerahkannya kepada tim interogasi.
"Jadi masalah ini sudah diselesaikan dengan baik dan tuan Lucas Deilson juga sudah membayar denda untuk perbuatannya. Maka tidak ada kuasa untuk menahan atau menginterogasinya lagi bukan? apakah itu benar pak kepala interogasi?" tanya Dave sembari tersenyum penuh arti.
"Sebagai kenangan aku ingin memberikan kalian sebuah informasi," tuan muda memberikan mereka amplop coklat yang berisi foto-foto kepala tim interogasi mereka.
"Pak, bagaimana mungkin-"
"Bukankah ini pengedar obat-obatan terlarang yang kita cari selama ini?"
"Pak, katakan sesuatu apakah ini benar?"
__ADS_1
Kepala tim interogasi menahan amarahnya saat ada bukti kerja sama yang dilakukannya dengan Mohan. Ia tidak menyangka rahasianya terbongkar secepat ini.
"Lanjutkan saja pekerjaan kalian." Tuan muda berdiri dari tempatnya dan pergi bersama Dave. Kepala tim interogasi mengikuti mereka. Saat sudah berdiri di belakang tuan muda, ia pun menarik bajunya dan terlihat sangat marah kepadanya.
"Kau-"
Dave berniat ingin membantu namun tuan muda mengisyaratkan agar tidak melakukan apapun. "Kejahatan harus diungkap bukan?"
"Berengsek!"
"Ah satu lagi, kau melewatkan sesuatu di gudang tua tersebut. Kau tahu aku membunuh seseorang disana dan kemudian membakarnya?"
"Tetapi lupakan saja karena kasus ini sudah ditutup," tambahnya.
"Kau sangat cerdik hingga ingin sekali aku memukul wajahmu!"
"Lakukan!"
Saat ingin memukul tuan muda, polisi lain menghentikan aksinya. Menariknya menjauh dari tuan muda. "DIA PEMBUNUH TANGKAP DIA!" Namun polisi tak bergeming.
"DIA MENGATAKANNYA SENDIRI CEPAT HENTIKAN DIA!" kepala tim interogasi memberontak melepaskan diri.
"Dia seperti orang yang tidak waras," ucap tuan muda menatap jauh kepala tim interogasi tersebut. Dave tertawa kecil mendengarkan ocehan sahabatnya.
"Sudahlah, ayo kita pergi!" ajak Dave.
Mereka pergi ke kediaman keluarga Deilson. Kediaman yang aman di tengah hutan. "Kau sudah mengeluarkan begitu banyak uang, Luc!" Dave menoleh menatap tuan muda disampingnya.
"Biarkan saja uang bisa dicari tetapi dendam harus segera diatasi."
"Ya terserah kau saja apa yang menurutmu benar maka lakukanlah. Aku akan makan dulu!" Dave menuju ruang makan untuk memberikan nutrisi untuk cacing-cacing diperutnya.
Tuan muda menghentikan langkahnya dan menatap pintu kamar sang bibi.
Ceklek
Bi Minah yang kebetulan berada di kamarnya terheran melihat tuan muda mencarinya. "Tuan, apa ada masalah?" Tuan muda menggeleng.
"Aku hanya ingin bertemu bibi" Bi Minah yang kala itu sedang melipat baju pun menaruhnya kembali.
"Bibi ingin pergi kemana?" tanya tuan muda saat baru menyadari bahwa bibi tengah menata isi kopernya.
"Bibi ingin kembali kekampung karena saudara bibi membutuhkan bibi."
"Aku tidak membutuhkan apapun, aku hanya..."
Bi Minah tersenyum mengetahui saat ini anak laki-laki didepannya itu bukanlah seorang tuan muda yang berkuasa namun hanya seorang anak kecil yang merindukan sosok sang ibu.
"Kemari,"
Tuan muda duduk di lantai sedangkan Bi Minah duduk di atas tempat tidurnya. "Kenapa duduk disitu?"
"Tidak apa-apa, Bi" Bi Minah menghela napas kemudian duduk sejajar dengan tuan muda di lantai beralaskan karpet bulu. Lalu menselonjorkan kakinya.
Puk puk
Bi Minah menepuk pahanya menyuruh tuan muda tidur di pangkuannya. "Bibi masih sama" ujar tuan muda.
"Bagaimana bisa bibi lupa kebiasaan putra kecil bibi ini?" Bi Minah membelai rambut tuan muda.
"Bolehkah aku bertanya kepada bibi?" ucapnya sembari menatap sang bibi.
"Katakan apa yang putra bibi bingungkan?"
"Apakah kakek jahat?" tanya tuan muda secara tiba-tiba. Bi Minah mematung sebentar, berpikir apa yang akan dijelaskannya.
"Semua orang itu baik, hanya saja penempatan sikapnya yang salah. Dalam suatu keadaan pasti ada jalan keluar entah itu benar ataupun salah. Pribadi seseoranglah yang akan memutuskan memilih jalan yang mudah ataupun yang susah dengan menerima segala konsekuensi atas tindakannya."
"Jadi seseorang yang membunuh putrinya sendiri itu orang baik?" tanya tuan muda kepada bi Minah.
"Apakah putra bibi ini sudah mengetahui kebenarannya?"
"Dan ingin memastikan apakah itu benar?" lanjutnya.
"Bibi hanya tahu sedikit. Dulu tuan Hars menyuruh bibi berjanji saat tuan muda sudah dewasa maka bibi akan memberitahukan kebenaran ini. Kebenaran bahwa memang kakeklah yang membunuh nyonya." Tanpa disadari tangan tuan muda mengepal kuat.
"Lantas mengapa dia mengatakan bahwa yang membunuh ibu adalah Mohan" Bi Minah membelai rambut tuan muda untuk memberikan ketenangan.
"Agar tuan tidak membencinya dan tetap menyayanginya. Tuan Hars juga tidak ingin putranya membenci kakeknya sendiri." Bi Minah menjelaskan dengan hati-hati.
__ADS_1
"Bagaimana seseorang tidak akan membencinya setelah mengetahui kebenarannya? Dan ayah bagaimana bisa dia begitu baik setelah apa yang dilakukan kakek kepadanya?"
"Ah bukan, dia bukan kakekku!" Tuan muda tersenyum getir. Bi Minah merasa bersalah. Inilah yang ditakutinya.
"Tidak boleh seperti itu bagaimana pun dia adalah kakekmu. Kejadian itu adalah kecelakaan yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun." Bi Minah menjelaskan pelan-pelan agar tuan muda mau mengerti.
"Sudahlah Bi, aku tidak ingin mendengar hal itu lagi. Aku akan memutuskan hubunganku dengannya" tuan muda tidak mau mendengarkan siapapun. Ia begitu keras kepala dan tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya mengerti.
"Luc!" panggil Dave di luar ruangan.
"Where are you?" Dave terus berteriak mencari keberadaan dari sahabatnya.
Dave membuka pintu kamar Bi Minah. "Bibi apakah Lucas-" Dave berhenti berbicara karena sudah menemukan orang yang dicarinya.
"Ah kau disini!" Dave langsung memposisikan kepalanya seperti tuan muda. Bi Minah tersenyum melihat kelakuan Dave.
"Kenapa kau mencariku?"
Dave berpikir sebentar. "Ada hal yang ingin kubicarakan kepadamu tapi aku lupa." Dave mencoba mengingat kembali namun otaknya buntu saat ini.
"Buang saja otakmu dan ganti yang baru!" Sarkas tuan muda. Sedangkan Dave mengunci mulutnya agar tidak mengumpat di depan sang bibi.
Kalian tidak berubah sedari kecil selalu saja bertengkar satu sama lain. Kemudian Bi Minah menggeleng saat teringat pertengkaran mereka sewaktu kecil.
"Bibi, besok aku antar!" Dave menatap Bi Minah.
"Tidak perlu bibi bisa sendiri," tolak Bi Minah.
"Biar diantar oleh Dave itu lebih aman."
"Heem dan tidak ada penolakan!"
"Baiklah terimakasih kedua putra bibi sangatlah pengertian." Bi Minah mencium kening tuan muda dan Dave.
"Bibi aku pergi dulu ada urusan." Setelah itu tuan muda pergi. Tak lupa mengganti baju terlebih dahulu dengan outfit santai namun semakin menambah aura ketampanannya.
Tuan muda memakai motor sport warna hijau dan helm fullfacenya. Saat diperjalanan, tuan muda melihat toko handphone di pinggir jalan. Ia pun menepikan motornya dan memasuki toko.
"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai toko.
"Tunjukkan handphone terbaik disini."
"Ini tuan," pegawai tersebut memperlihatkan beberapa merk handphone di atas etalase kaca.
"Handphone ini memiliki kualitas kamera yang jernih, ruang penyimpanannya juga banyak dan-"
"Mana yang cocok untuk perempuan?" sela tuan muda karena tidak ingin berlama-lama.
"Ini saja!" tuan muda memilih handphone berwarna soft pink karena berpikir akan cocok jika dipakai Alisya.
"Totalnya Rp. 15.580.000,00"
Tuan muda menyerahkan Black cardnya.
Sungguh beruntung kekasihnya mendapatkan seorang laki-laki tampan dan pengertian sepertinya.
"Terimakasih tuan semoga puas dengan layanan kami," ujar pegawai tersebut. Tuan muda menuju motornya kemudian memakai helmnya dan berkendara menuju rumah sakit.
Setelah sampai di ruangan Alisya dirawat, ada dokter dan suster yang memeriksa kondisinya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Pasien sudah pulih dan besok diperbolehkan pulang, hanya saja lukanya belum sepenuhnya pulih. Kami akan menuliskan resep obat agar lukanya sembuh secepat mungkin," ujar Dokter.
Kemudian dokter dan suster pergi keruangan lainnya. "Ini untukmu," tuan muda memberikan kantong kresek yang dibawanya.
Alisya membukanya dan melihatnya. Detik berikutnya matanya membola terkejut dengan barang yang dibelikan oleh tuan muda. "Tuan ini-" ujar Alisya menggantung ucapannya.
"Untukmu, pengganti handphone yang ku rusak dulu."
"Tidak, handphone ini terlalu mahal aku tidak bisa menerimanya." Alisya menolak pemberian tuan muda.
"Kemarikan!" perintah tuan muda dan Alisya mematuhinya.
"Aku akan membuangnya," tuan muda menuju tempat sampah di ruangan VIP tersebut. Saat akan menjatuhkannya, Alisya berteriak menghentikan aksinya.
"Jangan tuan, aku akan menerimanya!" pekik Alisya.
Tuan muda kembali mendekati Alisya dan memberikannya lagi. "Anak pintar," puji tuan muda sembari mengacak-acak rambut Alisya.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...I hope you like it (ꈍᴗꈍ)...