
"Ikut aku setelah selesai makan," ujar tuan muda disela-sela makannya.
"Kemana tuan?" Alisya sejenak menghentikan aktivitas makannya.
"Ke suatu tempat." Tuan muda menatap pemilik sepasang mata yang penuh tanda tanya tersebut. Hati Alisya bertanya-tanya tempat apa yang akan mereka datangi dan untuk apa laki-laki didepannya itu mengajaknya pergi bersama?
Semoga bukan hal yang buruk. Batin Alisya seraya berdoa di dalam hatinya.
"Setelah selesai makan temui aku dibalkon," ujar tuan muda dan pergi menjauh dari meja tempat mereka makan malam bersama.
Selang beberapa menit Alisya baru datang dan langsung menutup hidung beserta mulutnya. Bau asap rokok tercium saat Alisya berada di tengah-tengah pintu penghubung antara balkon dan kamar.
"Kenapa kau lama sekali?" tuan muda yang semula memunggungi Alisya kemudian berbalik bersandar pada pembatas balkon.
"Uhuk-uhuk" dada Alisya terasa sesak saat tidak sengaja menghirup asap rokok yang bertebaran. Kemudian tuan muda mematikan puntung rokoknya diwadah kecil atas meja.
"Maaf tuan, aku membersihkan meja makan jadi sedikit lama-"
"Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"
"Tidak ada, aku hanya-"
"Lupakan ayo ikut denganku!" tuan muda membantu mendorong kursi rodanya. Alisya hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun tuan muda membawanya. Saat dimobil mereka tidak saling berbicara satu sama lain. Hanya menatap jalanan lurus yang tampak lebih sepi saat malam hari.
Sesaat setelah sampai di tujuan, kedua pengawal membukakan pintu mobil untuk mereka. Alisya terkejut saat seorang pria bertubuh kekar menunduk kepada Alisya. Ia pun membalas dengan anggukan untuk menghargainya.
Siapa nona ini?
Wajah Alisya menjadi sedikit pucat saat melihat sekeliling bangunan dipenuhi dengan pria seperti yang ia lihat tadi. Perawakan tinggi, besar, dan wajah garang mendominasi diantara mereka.
Tuan muda mengerti ini kali pertama bagi Alisya melihat markasnya dan para anggotanya yang terbilang cukup banyak. Tuan muda memberhentikan laju kursi roda. Lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Alisya.
"Jangan takut, mereka tidak akan melukaimu."
Karena aku bosnya.
Alisya mengangguk walaupun sebenarnya takut, namun sebisa mungkin ia tidak memperlihatkannya. Tuan muda melanjutkan langkahnya saat melihat Alisya merespon ucapannya. Tanpa disadari Alisya lah perempuan pertama yang memijakkan kaki di markas tuan muda. Bahkan Cleora masa lalunya pun tidak mengetahui adanya markas tersebut.
Kemudian mereka sampai di ruangan bernuansa gelap dan luas. Tempat khusus penyiksaan para musuh ataupun tawanan untuk sekedar memberi hukuman ataupun mencari kejelasan dari mulut seseorang demi sebuah misi.
Billy dan Dave saling pandang satu sama lain. Mereka seakan bertelepati mengapa seorang perempuan berada disini? Mereka berdua menggelengkan kepala tanda tidak mengerti.
Tuan muda menatap mereka berdua namun detik selanjutnya mata itu beralih ke perempuan disebelahnya. "Dia adalah orang yang ingin membunuhku tetapi kau yang terkena tembakan, jadi apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya tuan muda penasaran tentang hukuman yang akan diberikan olehnya.
"Aku?" Alisya menunjuk dirinya sendiri. Tuan muda mengangguk.
"Jika memang dia pelakunya aku berharap dia menyadari kesalahannya dan tidak berbuat seperti itu lagi."
"Lalu?"
"Aku memaafkannya."
1
2
3
Beberapa detik berlalu ketiga orang disana tetap diam menunggu tambahan kata-kata yang akan keluar dari mulut Alisya. Tuan muda menyatukan kedua alisnya bingung kenapa Alisya tak kunjung membuka suara.
"Hanya itu?" tuan muda tersenyum remeh mendengarnya. Ia tidak akan semudah itu melepaskan apa yang sudah didapat. Jika sudah terjerat tak bisa dilepas. Itulah seuntai kata yang sedikit menggambarkan prinsipnya.
"Me-ngenai hukumannya aku pasrahkan saja kepada pihak berwajib." Alisya menatap pasang mata penuh tanda tanya itu.
Tuan muda memejamkan mata dan mendongak keatas. Merasa lelah saat Alisya tidak bersikap seperti yang ia inginkan. Ia mau Alisya itu setidaknya memberikan tamparan, pukulan atau apapun untuk menunjukkan kemarahannya pada pria itu. Namun jika dilihat dari wajahnya, tak ada rasa marah hanya rasa kasihan akan pria itu.
"Seharusnya aku tak mengharapkan apapun darimu."
Alisya ditatap tajam oleh tuan muda. "Tuan, aku mempunyai anak kecil dan masih sekolah. Aku adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab membiayai mereka. Jadi kumohon-"
__ADS_1
"Bisakah kau menghentikan kebohonganmu?" tuan muda benci kemunafikan itu. Selama menjadi ketua mafia ia tidak sekalipun mendengarkan apapun alasan dari mulut tawanannya. Entah itu benar maupun salah.
Tuan muda mendekati pria itu. "Jika kau terbukti berbohong akan ku sobek mulutmu," bisiknya ditelinga pria itu hingga membuat bulu kuduknya berdiri saat mendengarnya.
Billy menyenggol lengan Dave dan mengisyaratkan agar menghentikan tindakan tuan muda.
"Ehm, Luc!"
Tuan muda menengok Dave dan Billy di pojok ruangan. Dave menggerakkan matanya mengingatkan tuan muda bahwa masih ada Alisya disana. Dave takut jika sahabatnya itu lepas kendali dan tak sengaja menunjukkan aksi tragisnya di depan Alisya.
"Pulang!" ajak tuan muda sebab jiwa iblisnya berkobar ketika melihat pria dengan mata tertutup itu. Hatinya terus berkata siksa, siksa dan siksa. Namun bukan saat yang tepat jika menghukum diwaktu sekarang.
Sesampainya di apartemen mereka menuju kamar untuk beristirahat. "Kau sudah meminum obatmu?" tanya tuan muda saat teringat waktu Alisya untuk meminum obat.
"Aku belum meminumnya." Tuan muda memberikan beberapa kapsul obat dan air putih kepada Alisya.
"Tuan, tadi itu tempat apa?" tanyanya kepada tuan muda.
"Tidak semua hal bisa kau ketahui." Alisya terdiam merasa bersalah akibat terlalu kurang ajar bertanya yang bukan porsinya.
"Maaf tuan," ujar Alisya penuh penyesalan.
"Bisakah kau berbagi ranjang denganku?" Sebuah pertanyaan terlontar tanpa Alisya duga.
"Kepalaku sakit jika terus-menerus tidur di sofa, lagi pula hanya ada satu kamar disini mau tidak mau kau harus berbagi denganku," tambahnya.
"Sepertinya aku tidak perlu persetujuanmu." Tuan muda langsung berbaring membelakangi Alisya yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku masih sadar dan tidak akan berniat untuk menyentuhmu."
Alisya menatap punggung lebar itu. Menghela napas berat setelah mendengar perkataan tuan muda. Kemudian Alisya membaringkan tubuhnya. Mereka saling membelakangi satu sama lain dengan guling sebagai pembatas antara keduanya.
Pagi-pagi sekali Alisya terbangun lebih dulu dan betapa terkejutnya ia melihat tuan muda tak memakai baju saat tidur. Tubuh Alisya otomatis mundur kebelakang dan terjerembab kebawah.
Bug
Tuan muda yang mendengar rintihan Alisya langsung terbangun karena terganggu. "Bisakah kau diam sebentar saja!" tuan muda menyentak Alisya sembari menarik rambutnya karena pening. Ia baru tidur sekitar satu jam yang lalu setelah selesai mengerjakan berkas-berkas kantor yang semalam William berikan.
Bayangkan saja William datang tengah malam hanya untuk memberikan dokumen penting yang harus direvisi dan juga berkas untuk ditandatangani. Jika saja tuan muda tidak sadar akan tanggungjawabnya pasti dokumen-dokumen itu sudah hancur lebur menjadi abu.
Kemudian tuan muda membantu Alisya kembali ke ranjang tempat tidur mereka. "Kenapa kau bisa terjatuh?" tanyanya sembari memberikan plester luka di pelipis Alisya.
"A-aku" Alisya menundukkan pandangannya tak ingin melihat tuan muda telanjang dada.
"Aku tahu kau pasti berpikir yang macam-macam karena aku tidak memakai baju kan? Kau pikir aku melakukannya semalam?" tuan muda tersenyum miring mengetahui jalan pikiran Alisya.
"Aku tidak berpikir seperti itu," elak Alisya.
"Terserah namun yang pasti aku melepas bajuku karena semalam udaranya terasa panas. Kau mengerti sekarang?"
Setelah tuan muda memberi pengertian kepada Alisya, ia beranjak menuju kamar mandi dan berendam dengan air hangat. Merilekskan tubuh lelahnya dengan aroma terapi yang menyerbak disekitarnya.
Sesudah membersihkan tubuhnya, tuan muda mengeringkan rambutnya dengan handuk dan merasa kepalanya semakin berat.
"Apa kau bisa memijat kepala?" tanya tuan muda karena biasanya bibi lah yang memijatnya tetapi bibi masih berada di kampungnya.
"Aku-"
Tanpa pikir panjang tuan muda merebahkan kepalanya dipangkuan Alisya. "Pijat kepalaku," suruhnya. Alisya perlahan-lahan memijat kepala tuan muda dengan lembut.
"Lebih kuat lagi." Alisya lebih menekan pijatannya seperti perintah tuan muda.
"Hm, tidak terlalu buruk," Alisya sekilas tersenyum tipis mendengar pujian itu karena ini adalah kali pertama ia memijat kepala seseorang.
Tuan muda memejamkan matanya sembari merasakan pijatan Alisya. Tanpa disadari tuan muda terlelap karena terlalu menikmatinya.
Tuan muda terbangun setelah beberapa jam tertidur. Netranya terpaku pada objek pertama yang dilihat setelah membuka mata. Tangannya tergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalanginya menatap wajah cantik itu.
Cukup, dia hanya gadis biasa!
__ADS_1
Tuan muda membenahi posisi Alisya saat tidur dan pergi ke meja makan sambil menunggu pesanan makanannya. Setelah makanan tiba, tuan muda memakannya dan menyisakan separuh untuk Alisya.
Di markas,
"Selamat siang, Luc. Kurasa harimu lebih cerah ketika bersamanya," sindir Billy sembari melempar panah jarum ke titik tengah dart board.
"Kau tahu panah jarum ditanganmu bisa menembus jantungmu?" ujar tuan muda lalu meneruskan langkahnya menuju ruang penyiksaan.
"Cih, menyeramkan." Billy tertawa kecil dan membuntuti sahabatnya.
"Kau sudah mengumpulkan mereka?"
"Ya, sesuai yang kau perintahkan"
Tuan muda memasuki ruang penyiksaan dengan aura kepemimpinan yang kuat. Wajahnya terkesan seperti seorang penguasa besar, walaupun hanya dibalut pakaian nonformal namun tidak menghilangkan wibawanya sebagai ketua mafia.
Para anggotanya hanya menunduk setelah memberikan salam hormat mereka kepada petinggi organisasi yang dinaunginya. "Apa kalian sadar bahwa kalian telah melakukan satu kesalahan?" Tuan muda menatap tajam mereka satu persatu.
"Siapa yang harus aku salahkan kali ini?"
"Dan hukuman apa yang pantas untuk kalian terima?"
"Maaf tuan, ini bukan salah mereka tetapi murni kelalaian saya dalam melaksanakan tugas. Sebagai pemimpin dari mereka saya mengaku kurang kompeten untuk mengatur waktu. Jadi saya siap menebus kesalahan dan menerima hukuman apapun yang tuan berikan asalkan mereka semua terampuni."
"Kau siap mengorbankan nyawamu demi mereka?"
"Nyawa sekalipun akan saya pertaruhkan jika itu permintaan tuan," ujarnya penuh keyakinan.
"Ulurkan tanganmu, belati ini akan menyayat nadimu."
"Tuan, ini juga kesalahan kami-"
"Diam atau aku bunuh kalian semua!" Semua serentak tidak bersuara dan memalingkan pandangannya agar tidak melihat temannya mati secara langsung.
Sring
"Shhh, tu-tuan ini-"
Tuan muda mengambil gelas kaca dan menadahi tetesan darah anggotanya.
"I don't like being late, so I hope you don't repeat your mistake a second time! (Aku tidak menyukai keterlambatan, jadi aku berharap jangan ulangi kesalahanmu untuk yang kedua kalinya)."
"Terimakasih tuan," semua anggota merasa lega karena salah satu dari mereka tidak ada yang mati.
"Kali ini aku memaafkan kalian tapi tidak untuk kedepannya. Sekarang kalian boleh pergi!"
Kini bersisa tiga orang yaitu tuan muda, Billy dan pria yang disekap. Tuan muda membuka penutup kepala dan mulutnya.
"Sekarang giliranmu, tetapi sebelum itu apa kau tidak ingin menikmati red wine untuk terakhir kalinya?"
Tuan muda mengambil gelas berisi darah dan mencampurkannya dengan red wine. "Buka mulutmu," sembari bersiap menuangkan minuman kedalam mulutnya.
"Tidak!"
Tuan muda menarik rambutnya agar mulutnya terbuka lalu meminumkannya dengan paksa. Pria tersebut mual-mual karena rasa red wine yang aneh.
"Itu adalah red wine yang bercampur dengan darah," ujarnya dengan santai. Pria tersebut mencoba memuntahkannya namun naas sudah tertelan dengan sempurna.
"Rokok?" Tuan muda menyodorkan satu slop rokok tetapi membuangnya di detik selanjutnya.
"Ambillah jika bisa." Tuan muda menyunggingkan senyum saat berhasil mempermainkan peliharaan barunya.
"Bosmu sudah mati apa kau tidak ingin menyusulnya di alam baka?" tuan muda duduk didepan tawanannya sambil menyesap rokoknya perlahan.
"Cih, dia hanya pria tua bodoh," ujar pria tersebut dengan perasaan jijik.
"Namun kau lebih bodoh," sarkas tuan muda dengan tatapan yang sulit diartikan. Seakan merencanakan sesuatu yang akan membuat hatinya senang. Dilihat dari senyum smirknya sudah jelas jika ada sesuatu yang akan terjadi.
...______ Batas Akhir ______...
__ADS_1