
Malam ini terasa begitu lama. Permasalahan yang pelik terlalu berbelit. Semua bermula dari casino itu. Namun semua telah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Sekarang waktunya pulang dan beristirahat dengan tenang.
"Bagaimana dengannya?" Tuan muda teringat bahwa ia meninggalkan Alisya sendiri selama satu hari penuh.
"Apa dia sudah makan?" Tuan muda menghembuskan napas kasar saat tahu ponselnya tidak ada. Ia yakin Charlotte mengambilnya atau bahkan menghancurkannya.
Saat diperjalanan ia bertemu dengan sekelompok mobil yang menyorotnya dan beberapa motor yang mengikuti dari belakang. Tuan muda hanya menatapnya seraya menikmati rokok ditangannya.
Ia mengenal mereka. Siapa lagi jika bukan para mafioso. Louis dan Billy keluar mobil mendekati tuan muda. Mereka melihat tuan muda dari atas sampai bawah. Penampilan yang acak-acakan dan merokok dengan santai.
Michele di dalam mobil memanfaatkan situasi dengan kabur secara sembunyi-sembunyi. Lagipula jarak rumahnya hampir dekat. Pastinya akan cepat sampai jika ia sedikit berlari.
Billy dan Louis menghela napas bersamaan. Mereka lega sahabatnya kembali dengan nyawa yang masih utuh. Louis mengepalkan tangan dan memukul dada tuan muda sebagai bentuk kekesalannya.
"Ck," tuan muda menyentuh dada kirinya yang terkena pukulan Louis. Darah lagi-lagi merembes. Sepertinya hari itu adalah hari sialnya. Satu luka yang mendapat banyak sentuhan dalam semalam.
"Luc, apa yang terjadi?" Louis membelalak saat ada darah yang menempel di tangannya.
"Kau memukulnya berengsek!" Tuan muda tetap tenang saat kondisinya berdarah seperti itu. Bahkan lanjut merokok tanpa peduli lukanya infeksi atau tidak.
"Maaf, aku tidak tahu." Louis tergerak ingin menyentuh tangan tuan muda namun ditepis dengan mudah.
"Biarkan saja, nanti akan ku obati." Tuan muda membuang rokok dan menginjaknya. Lalu menepuk pundak Louis dan berjalan mendekati mafioso yang membawa motor. Mengambil kunci dan bersiap mengendarainya. Saat akan memakai helm tuan muda menatap mereka.
"Kembalilah, aku sudah membereskan semuanya. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan." Tuan muda memakai helm dan menghidupkan motornya. Memutar motornya lalu tancap gas pergi dari sana meninggalkan temannya yang ternganga dengan tindakannya.
"Dia sudah tidak waras." Louis menatap punggung tuan muda yang semakin jauh melaju. Billy tak mendengarkan ucapan Louis dan menghampiri mobil yang semula ia tumpangi.
Saat sudah masuk, Billy tidak melihat keberadaan Michele. Wajahnya panik memikirkan jika Michele datang sendiri ke rumahnya.
"Bil, kita harus kembali." Louis mengajak Billy untuk duduk ke dalam mobil. Billy hanya terdiam tak menjawab perkataan Louis.
"Kau masih memikirkan gadis itu? SADARLAH BIL!" Louis menggertak Billy karena ia terlalu peduli gadis yang baru saja ia kenal.
Brakk
Billy membanting pintu mobil. "JANGAN CAMPURI URUSANKU!" Billy marah sekaligus khawatir disaat bersamaan kemudian meninggalkan Louis dan pergi menyusul Michele.
Michele sudah berada di pintu depan rumahnya. Para penjaga membukanya dan mempersilakan Michele masuk.
"Nona, sebaiknya Anda pergi. Nyonya akan marah jika melihat nona kembali. Kami tidak ingin nyawa nona dalam bahaya." Penjaga tidak ingin jika nona nya yang baik hati mendapat perlakuan buruk dari nyonya mereka.
"Ini adalah rumahku. Aku yang berhak atas segalanya bukan wanita itu." Michele melangkah dengan mantap tanpa menengok kebelakang.
Michele mencari Charlotte tanpa mambawa perlindungan apapun. Ia pasrah jika ini akhir hidupnya tapi yang pasti ia akan mati jika wanita itu sudah mendapatkan balasan darinya.
Michele menuju kamar yang sebelumnya digunakan untuk menyandera tuan muda. Saat sampai, ia dikejutkan bahwa Charlotte sudah diborgol dengan mulut yang tertutup kain.
Michele tertawa dengan puas. Lebih tepatnya bahagia ketika melihat wanita yang ia benci sudah terkunci dengan sendirinya. Kesempatan baginya memberikan pelajaran yang berharga bagi Charlotte.
"Charlotte, sekarang keadaan berubah bukan? Aku sudah terbebas dan sekarang kau yang terkurung seperti ini."
"Sebenarnya jika kau tidak menyakitiku aku bisa saja menerimamu, tapi kau begitu panas hati ketika melihatku. Juga kau ingin mengambil kekayaan ayahku kan? Apa kau pikir harga dirimu sebatas itu? Kau seorang wanita dan seharusnya kita sama-sama mengerti satu sama lain. Kau menyakiti perasaanku, jiwaku, ragaku. Kau juga merebut ayahku!"
Michele tak bisa menahan air mata. Buliran itu jatuh membasahi pipinya. Hatinya rapuh mengingat perlakuan Charlotte padanya. Michele menghapus air matanya. Kemudian melangkah mendekati Charlotte.
Plak
Michele menampar Charlotte dengan keras. Bayangan kesakitan dan penyiksaannya terus berputar dalam otaknya. Sakit. Sungguh sakit jika dibayangkan. Tubuhnya lemah namun dipaksa menahan luka yang tidak sedikit.
Michele membuka ikatan dimulut Charlotte. Membiarkannya berteriak sesukanya. Kedua tangan Michele beralih menuju leher Charlotte untuk mencekiknya seperti yang sudah dia lakukan dulu kepadanya.
Charlotte meronta-ronta karena tidak bisa bernapas dengan benar. Michele tidak peduli jika Charlotte kehabisan napas ataupun mati. Itu lebih baik jika terus melihatnya hidup didunia ini.
"Aku bahagia akhirnya bisa membalaskan kesakitanku selama ini. Kau ingat kan dulu aku juga pernah memohon ampun agar kau melepaskanku tapi apa kau mendengarkanku? Sekarang giliranmu menerima perlakuan buruk dariku."
__ADS_1
Wajah Charlotte memerah. Napasnya semakin sesak dan lemah. Michele mencekik lebih kuat agar Charlotte segera mati. Ia tidak peduli jika harus berakhir di balik jeruji besi.
Michele tidak akan menyesal apa yang telah diperbuatnya. Jika dibandingkan lebih baik mati daripada terus mendapatkan penyiksaan. Michele merenggangkan tangannya saat napas Charlotte telah hilang.
Air mata kembali terjun dari mata indahnya. Bukan menyesal tapi hanya merasa lega kemarahannya yang terpendam bisa tersalurkan.
Billy yang baru saja datang terengah-engah di tengah pintu kamar. Namun yang dilihat, Michele baru saja melepaskan cekikan tangannya dari leher Charlotte.
Aku terlambat
Billy perlahan mendekati Michele. Memandanginya dari dekat. Tatapan matanya terlihat kosong dan penuh duka.
"Kenapa kau mengotori tanganmu sendiri?" Michele tak menggubris perkataannya. Kemudian Billy menarik Michele dalam dekapannya. Memberikan kehangatan dan ketenangan untuknya.
"Apa kau tidak takut masuk penjara?" Michele berderai air mata. Sebenarnya ia juga tidak mau melakukannya tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Ini bukan dirimu yang sesungguhnya. Jangan biarkan dendammu merusak kebaikanmu." Michele manggut-manggut menjawab tuturan dari Billy. Ketenangan yang dulu pernah ada dihati Michele seolah datang kembali. Meskipun kejahatan yang telah diperbuatnya cukup besar tapi ia akan tetap bertanggungjawab atas tindakannya.
.
.
.
Tuan muda memencet bel apartemen. "Ck, lapar sekali," keluhnya sembari menunggu Alisya membukakan pintu. Sedari pagi ia hanya menahan lapar yang menyiksa.
Pintu dibuka oleh Alisya. "Ayo makan!" Ajaknya dengan begitu semangat.
Tuan muda langsung menuju ruang makan. Alisya melihat tubuh tuan muda dari atas hingga bawah. Berantakan seperti habis berkelahi. Juga tentunya bau rokok yang tak hilang dari pakaian yang dikenakannya. Alisya membantu menyiapkan makanan dan sesekali mencuri pandang.
"Tuan, pelipismu berdarah." Tuan muda menatap Alisya sebentar lalu mengusap pelipisnya dengan punggung tangannya dan kembali melanjutkan makannya. Alisya mengerutkan keningnya. Kenapa terlihat biasa saja?
Setelah selesai, mereka kembali diam tanpa kata. Alisya mengambil obat yang ada di sebuah kotak yang terpaku di dinding. Diberikan kepada tuan muda agar lukanya segera diobati.
"Sial, pusing sekali." Tuan muda memukul kepalanya yang berdenyut.
"Tuan!" Alisya mencekal tangan tuan muda.
"Jangan, itu akan membuatmu tambah pusing." Alisya memberi antibiotik dan plester untuk menutupi luka tuan muda.
Keesokan paginya, semua berjalan seperti biasanya. Tuan muda menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, saat hampir sampai terdengar suara berisik dari dapur. Tuan muda melihat Alisya memasak tetapi sedikit kesulitan karena keterbatasan gerak-geriknya.
"Duduklah aku yang akan melanjutkannya." Alisya tersentak ketika tuan muda tiba-tiba berdiri disampingnya.
"Tidak perlu tuan, a-aku bisa melanjutkannya sendiri. Sebaiknya tuan menunggu saja."
"Apa kau tidak kesulitan memasak dengan menggunakan kedua tongkat itu?" Sebenarnya yang dikatakan tuan muda memanglah benar tapi Alisya tidak ingin merepotkan orang lain.
"Patuhi perintahku dan menyingkirlah!" Alisya menghela napas dalam-dalam dan menunggu sampai makanan jadi.
.
.
.
Di penjara, Michele termenung disaat rekan selnya saling berbicara satu sama lain. Bersandar pada dinding dengan kaki yang dipeluknya.
"Hey, kudengar dia membunuh seseorang."
"Padahal wajahnya begitu polos, apakah dia seorang psikopat?" Michele tak terusik dengan segala omongan dari teman se-selnya. Ia tidak mau membuat masalah lagi.
"Tahanan no. 147 ada yang ingin berbicara denganmu!" Pintu sel terbuka dan tangan Michele dikunci dengan borgol. Michele mengikuti polisi tersebut dari belakang. Bertanya-tanya siapa yang ingin menemuinya.
"Silahkan waktunya hanya 15 menit." Polisi tersebut pergi untuk memberikan ruang bagi kedua belah pihak berbicara.
__ADS_1
"Ayah,"
Plak
"Apa ayah mengajarkanmu menjadi pembunuh seperti ini? Apa pernah ayah mengajarimu menjadi penjahat keji? Kenapa kau menjadi orang biadab Michele! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA HAH!"
"Pasti ibumu menyesal telah melahirkanmu. Aku pun juga merasa rugi mempunyai anak tak berguna sepertimu. Seharusnya kau tidak dilahirkan. Kau itu anak lemah! Kau hanya bisa mempermalukan orang tuamu dihadapan semua orang!"
Michele menunduk menyembunyikan air matanya. Sakit! Hatinya seakan ditusuk ribuan jarum yang lancip. Perkataan yang menyayat hatinya hingga rasa sesak memenuhi dada. Michele mencoba kuat untuk bertumpu pada kedua kakinya yang bergetar.
"A-apa ayah pernah memperhatikan kondisiku? Apakah ayah tahu bagaimana perasaanku selama ini? Ayah tidak pernah meluangkan waktu untukku bagaimana bisa ayah menilaiku? Apakah pernah ayah mengerti perasaanku? rasa sakitku? pikiranku? Ayah tidak me-"
"Ayah hanya menyuruhmu mengikuti perkataan ayah untuk menerima Charlotte sebagai pengganti ibumu! Tapi apa? Kau menentang ayahmu kan?"
"AYAH KAU TIDAK MENGERTI APAPUN! Kau tidak mengerti keseharianku!" Michele meraung tak sanggup melanjutkan perkataannya. Mulutnya seakan kaku untuk bersuara.
"SAKIT AYAH SAKIT! Ayah tidak akan pernah tahu bagaimana posisiku! Ayah menuntutku untuk menerima wanita itu yang bahkan tidak baik untuk keluarga kita! Bagaimana bisa aku menerimanya?" Tangisan Michele menggema ke penjuru ruangan tersebut.
"Kau tidak tahu apapun Michele. Kau tidak akan mengerti."
"Mulai sekarang aku bukan lagi ayahmu dan kau bukan lagi putriku! Jangan pernah menemuiku lagi!" Michele terdiam. Air mata bergantian meluruh dengan deras. Tak disangka ucapan itu keluar dari mulut ayahnya sendiri.
"Sudah tidak adakah rasa cinta untukku?"
"Apa kau tidak mendengarkanku bicara? Seperti yang kau tahu Michele aku tidak menganggapmu anak lagi, jadi apa kesimpulannya?"
Ayah Michele meninggalkannya. Namun saat di pintu keluar, "Aku akan mengajukan penambahan hukumanmu di penjara agar kau tahu kesalahanmu."
Michele terduduk lemas. Tak menyangka ayahnya memutuskan hubungan dengannya. Satu-satunya orang tuanya yang masih hidup namun ia dicampakkan olehnya.
"Ibu, ibu hiks hiks"
"Sekarang waktunya kembali ke sel." Polisi mambawa Michele kembali ke tempat semula. Ruangan kecil yang dingin dan tak terawat.
"Hey kau!" Michele tak menggubrisnya.
"Sialan," wanita yang merupakan bos dari penjara wanita itu menghampiri Michele. Kemudian menarik rambut Michele kebelakang.
"Jangan sok berkuasa disini, kau itu pendatang baru. Apa kau mengerti?" Michele hanya diam. Pikirannya hanya terisi oleh perkataan-perkataan dari ayahnya.
Wanita itu membenturkan kepala Michele ke dinding penjara karena tak dijawab olehnya. "Apa kau bisu hingga tidak menjawabku?"
Duk
Duk
Duk
"KATAKAN!" Wanita itu terus membenturkan kepala Michele hingga berdarah tetapi sebaliknya Michele tidak melawan ataupun bersuara.
Duk
Duk
Duk
"KATAKAN BODOH!" Kesadaran Michele perlahan menghilang. Darah di tembok menjadi tanda bahwa ia telah dianiaya. Tapi Michele bungkam karena sakit hatinya lebih parah dibandingkan luka di kepalanya.
Lain halnya dengan Billy. Ini adalah hari yang sibuk untuknya. Ia tengah mengurus kasus yang melihatkan Michele. Ia juga menyewa pengacara untuk mempertimbangkan hukuman yang akan dijatuhkan untuk Michele.
"Aku akan ke penjara menemuinya." Billy merasa bahwa Michele membutuhkannya. Gadis baik yang ia kenal belum lama itu membuatnya nyaman. Ia menganggap Michele seorang adik sekaligus teman untuknya.
...----------------...
...☠️☠️☠️...
__ADS_1