
Di lain tempat
Seorang tuan muda yang sedang menikmati hamparan pepohonan hutan yang terlihat dari kamarnya. Tak ada suara bising klakson yang bersahutan, tak ada lautan manusia yang terjebak kemacetan. Semua tampak sunyi, senyap seperti hidupnya yang gelap tak ada secercah cahaya pun yang menelisik hidupnya.
Tiba-tiba telepon nya berbunyi menandakan ada seseorang yang menghubunginya, membuyarkan lamunan di pikirannya.
"**1*, mengganggu saja" gerutu tuan muda. Kemudian ia pun mengangkatnya.
"Selamat pagi tuan muda Lucas Deilson yang ter......"ucap asisten William yang terpotong.
"To the point!" ucap tuan muda cuek. "Hei Luc apa kau tidak bisa basa basi sedikit" ujar William sewot.
Penyakit cuek nya kambuh emang dasar manusia datar (batin William)
"Jangan pernah mengataiku dalam batinmu apa kau ingin maut menjemputmu?" ujar tuan muda sinis.
"Apa kau tega melakukan itu pada sahabatmu sendiri?" tanya William dengan nada melasnya.
"Jika aku mau aku akan melakukannya" balas tuan muda.
"Cih kau kejam sekali Luc" ujar William. Hening. Tak ada sautan dari seberang telepon membuatnya menghela nafas niat hati untuk memancing tuan muda bicara namun percuma saja.
"Huft baiklah aku menelpon mu karena kau harus datang ke perusahaan sudah banyak berkas atau bahkan sangat banyak yang harus kau tandatangani" ujar William yang sudah kesal pada bos sewenang-wenang nya itu.
__ADS_1
"Bawa ke mansion ku" ucapnya singkat.
"Luc kemarilah sesekali sekalian melihat perusahaanmu yang sama sekali tak pernah kau kunjungi, kadang aku berpikir Chief Executive Officer disini itu aku atau kau" kata William.
"Untuk apa aku membayarmu jika kau tidak menghandle semua tugasku? apa kau ingin aku memotong gajimu?" ancam tuan muda. "Kenapa ancamanmu kejam sekali padaku" ujar William.
"15 menit dari sekarang!!" ujar tuan muda dingin seraya memutuskan panggilan telepon sepihaknya membuat orang diseberang sana kalang kabut dibuatnya.
"Apa apaan ini 15 menit perjalanan kota menuju hutan yang benar saja apa dia sudah gila. Ah sudahlah aku harus cepat jika tidak tamatlah nyawaku" ucap William bergidik ngeri membayangkan dirinya mati di tangan Lucas sang tuan mudanya.
William segera membawa semua berkasnya dan berlari menuju lift khusus dengan segera ia memencet tombol. Setelah sampai ke lantai dasar semua karyawan bingung dibuatnya, seorang direktur yang dikenal cool dan berwibawa berlarian mengejar waktu.
William sudah tak memikirkan tatapan bingung dari karyawan nya dan mengesampingkan sikap coolnya sebagai seorang direktur di perusahaan bosnya karena yang terpenting sekarang adalah nyawanya. Ya nyawanya!
5 menit lagi ia harus segera sampai, keringat sudah mulai membanjiri wajahnya. Sebentar lagi akan sampai batinnya. Di hutan sangat sepi membuat ia tancap gas mengendarai mobilnya. Gerbang mansion sudah kelihatan dengan cepat pintu terbuka sendiri dikarenakan otomatis open closenya.
Cittt
Suara ban mobil yang bergesekan dengan jalan menuju mansion menggelegar. William membawa seluruh berkasnya dan melemparkan kunci mobilnya pada mafioso untuk memarkirkannya.
Sang mafioso paham dan segera memarkirkan mobil milik William. Ia pun berlari dan mendobrak pintu utama mansion.
Brakkk
__ADS_1
Seseorang tengah duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya dan melihat jam di tangannya.
"14 menit 59 detik, jika terlambat 1 detik saja maka kau tewas saat itu juga" kata tuan muda dengan tatapan tajamnya.
"Ouh ayolah Luc....huh huh huh...kenapa kau mempermainkan....nyawa sahabatmu seperti itu...." ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
"The time is money jika dalam dunia mafia kau terlambat maka nyawa mu tak akan selamat" ucap tuan muda dengan menyeringai.
"Apa kau tau Luc demi kau aku bahkan mengesampingkan wibawaku di depan karyawan perusahaan dan di caci maki orang di jalan raya kau sungguh keterlaluan" gerutu William dengan memutar bola mata malasnya.
"Itu deritamu" ujar tuan muda singkat.
"Huh terserah, ini berkas yang harus kau tandatangani Luc rasakan banyak bukan?" ucap William dengan sinisnya.
"Letakkan di ruang kerjaku" perintah tuan muda.
"Baru juga datang disuruh lagi" gumam lirih William.
"Aku mendengarnya" kata tuan muda.
Tuh pisau atau telinga sih kok tajam bener (batin William).
...----------------...
__ADS_1