
"Bahunya tertembak," ujar tuan muda tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Alisya. Louis mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia pun mendorong brankar tersebut dan membawanya menuju ruang operasi karena ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya lebih lanjut pada sahabatnya tentang kejadian yang sebenarnya.
"Tuan, silahkan tanda tangani berkas ini kemudian anda harus mengurus bagian administrasi," kata suster dengan memberikan bolpoin kepada tuan muda.
"Terimakasih, silakan urus administrasi tuan." Suster itu pun menunduk dan pergi setelah tuan muda menandatangani berkas tersebut. Setelah itu tuan muda mengurus administrasi rumah sakit atas nama Alisya.
Lampu indikator ruang operasi menyala menandakan bahwa operasi telah dilakukan. "Dok, tubuh pasien membiru." Ujar perawat setelah melihat reaksi tubuh Alisya.
"Persiapkan keperluan operasi agar peluru bisa segera dikeluarkan!" Perintah Louis kepada perawat yang bertugas membantunya melakukan operasi.
"Semua sudah dipersiapkan, Dok!" Louis mengangguk dan memakai sarung tangan sebelum mengoperasi tubuh pasien.
Louis mempusatkan penuh konsentrasinya pada luka tembak di bahu Alisya. Berhati-hati dalam setiap tindakan yang dilakukan saat mengeluarkan pelurunya dengan menggunakan bantuan alat-alat bedah yang sudah dipersiapkan.
Peluh membasahi bagian wajahnya terutama dahinya tetapi perawat selalu siaga memperhatikan Louis dengan menyeka keringatnya agar tidak menganggu konsentrasinya dalam mengoperasi pasien.
Setelah mengurus segala administrasi, tuan muda menunggu di depan ruang operasi. Menyenderkan kepalanya di tembok dan memejamkan kedua matanya. Pikirannya terpaku akan Alisya yang mau mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkannya dari tembakan musuhnya.
Akal dan hatinya berperang satu sama lain. Akalnya menentang kebaikan Alisya yang hanya dinilai sebagai kemunafikan belaka. Sedangkan hatinya mengakui ketulusan Alisya dalam menyelamatkannya hidupnya. Entah apa yang harus diyakininya. Akalnya yang selalu ia andalkan ataukah perasaan hatinya yang tak pernah ia hiraukan.
Semua terlihat meragukan tak pernah sebelumnya ia berada dalam posisi seperti ini. Sebelumnya akalnya selalu mengambil alih tubuhnya tetapi sekarang hatinya seakan menyuarakan sesuatu yang tak semestinya.
Tuan muda menyugar rambutnya kebelakang dan beranjak menuju kursi sofa yang berada di ruang tunggu. Menghela napas kasar lalu berdecak. "Ck, siapa lagi musuhku kali ini?" Tangan tuan muda bergerak memijat kepalanya yang terasa pening akibat kejadian yang tak terduga ini.
"Kenapa aku tidak menyadari saat musuh mengintaiku. Bagaimana bisa aku ceroboh dan kecolongan kali ini!" Tuan muda memijat pangkal hidungnya. Frustasi akan kecerobohannya sendiri sehingga menimbulkan dampak negatif bagi orang lain.
Berjam-jam tuan muda menunggu sembari menahan dinginnya udara malam. Pakaiannya basah sedari tadi namun ia tak mempedulikannya. Tuan muda membuka dua kancing kemejanya, terlihat sedikit dada bidang yang tampak mata.
Para suster yang lalu lalang melihat itu semua, namun mereka menahan jeritan kagum akan sosok laki-laki yang duduk menunggu di sofa itu. Bagaimana tidak tuan muda terlihat menggoda dengan penampilan yang acak-acakan. Kemeja yang basah membuat tubuhnya terekspos secara tidak langsung. Rambutnya juga tidak tertata rapi sehingga membuat para suster seakan ingin membelainya.
Seorang wanita manapun akan terpikat dengan laki-laki tampan seperti tuan muda namun mereka lebih mementingkan tugas dan tanggungjawabnya di rumah sakit. Mereka sadar akan pangkat mereka sebagai suster yang bertugas membantu pasien, bukan untuk tebar pesona ataupun mencari perhatian semata.
Setelah beberapa jam operasi selesai dilakukan. "Operasi berjalan dengan lancar. Setelah ini bawa pasien ke ruang perawatan VIP!" Perintah Louis.
"Baik, Dok!" ujar perawat mematuhi perintah Louis.
"Dan juga uji peluru tersebut di laboratorium apakah ada racun yang melapisinya atau tidak," tambahnya.
"Baik!" ujar perawat bersamaan.
Setelah sekian lama menunggu, lampu indikator ruang operasi sudah tak lagi menyala. Tuan muda menatap pintu ruang operasi menanti seseorang keluar dari ruangan tersebut. Selang beberapa menit orang yang ditunggunya keluar dan dibawa entah kemana.
Tuan muda menghampiri salah satu perawat. "Pasien dibawa kemana?" tanyanya langsung pada intinya.
"Pasien dipindahkan di ruang perawatan VIP nomor 3," ujar perawat.
"Hm" Tuan muda mengibaskan tangannya menyuruh perawat itu menghilang dari hadapannya.
"Hey Luc, kau belum berganti pakaian sejak tadi?" Louis kaget saat melihat tuan muda masih memakai pakaian yang sama.
"Ayo ikut keruanganku!" Louis menarik tangan tuan muda dan menyeretnya menuju ruangan pribadinya.
Kemudian Louis membuka lemari kecilnya. Terdapat beberapa pakaian santai disana. "Pakailah pakaian yang kau mau." Louis menepuk pundak tuan muda dan beralih menuju sofa di pojok ruangan.
Tuan muda mengambil setelan pakaian dan menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat dia pun keluar dengan rambut yang basah. Kemudian menyisirnya dengan jari-jari tangannya. Semua itu tak lepas dari pandangan Louis. Ia cukup terkesima pada sahabatnya yang kelewat tampan itu.
"Mengapa terkadang aku merasa iri terhadapmu," ujar Louis menatap tuan muda.
"Kenapa?" tanya tuan muda tidak mengerti sekaligus bingung dengan perkataan Louis.
"Kau begitu tampan, Luc!" Puji Louis.
Tuan muda tersenyum meremehkan mendengar penuturan dari Louis. "Ck, apa kau gay?" Tuan muda duduk sedikit menjauh dari Louis.
__ADS_1
"Cih, aku masih normal. Bahkan masih suka wanita yang seksi dan montok."
Tiba-tiba sekilas kejadian erotis dengan Alisya beberapa hari yang lalu terlintas di pikiran tuan muda. "Apa yang kau pikirkan?" Louis melihat sahabatnya terdiam melamun. Tuan muda menggeleng untuk menangkis pertanyaan Louis.
"Apa dia baik-baik saja?" Tuan muda berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Louis tak bertanya lebih banyak lagi.
"Di pelurunya sepertinya dilapisi oleh racun. Aku tidak tahu persis racun apa. Tetapi sepertinya cukup berbahaya dan sekarang masih dalam tahap pengujian di laboratorium nanti hasilnya akan keluar," ujar Louis menjelaskan.
"Aku akan menemuinya." Tuan muda beranjak menemui Alisya.
Jika memang ada kuharap racun itu tidak berbahaya, tetapi kurasa itu tidak mungkin karena musuhku tidak akan menembakku begitu saja tanpa membuatku celaka.
Setelah sampai di depan pintu ruang perawatan Alisya, tuan muda menghela napas sejenak dan membuka pintu secara perlahan.
Terlihat seorang perawat berdiri mengecek keadaan Alisya dan menyuntikkan antibiotik dalam infusnya. "Tuan jika ada keluhan anda bisa memanggil kami atau menekan bel yang ada disana." Perawat menunjuk bel dan kemudian undur diri dari hadapan tuan muda.
Setelah keadaan sepi tuan muda menatap Alisya sekejap. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sulit percaya tentang ini semua. Aku bingung harus percaya perkataanmu atau tidak." Tuan muda berdiri bertumpu pada pinggiran ranjang.
Aku akan mencari kebenaran ini dengan sebenar-benarnya.
Tuan muda pergi begitu saja untuk menyelesaikan urusannya. Di perjalanan arah pulang, tuan muda menelepon seseorang. Memasang headset bluetooth di telinganya agar mempermudah menelepon saat mengendarai mobil.
"Siapa?"
"Aku..." ujar tuan muda tetap fokus pada jalan di depannya.
"KAU!"
"Belum mengganti nomor?" Tuan muda tersenyum kecil setelah mengucapkannya.
"Apa yang kau inginkan"
"Katakan sejujurnya apa kau membunuh ayahku" Tuan muda mengeraskan rahangnya saat mengingat apa yang terjadi dengan ayahnya.
"Aku harap kau tidak berbohong kali ini" ujar tuan muda serius.
"Apakah masalah jika gadis itu yang membunuh ayahmu ataupun tidak. Kurasa kau tidak akan peduli"
"Sudah cukup liburanmu, mulai sekarang aku akan mencarimu dan jangan berharap untuk lolos dariku!" Tuan muda menggenggam setir mobilnya dan mengakhiri panggilannya.
Tuan muda tersenyum smirk saat memikirkan rencana untuk memancing Mohan. Kemudian menghubungi Dave dan memberitahukan rencananya.
"..."
"Baiklah akan kulakukan secepatnya"
Panggilan diakhiri. Tuan muda tinggal menunggu rencananya berjalan dengan lancar dan juga memantau perkembangan kondisi Alisya. Tengah malam tuan muda menyusuri jalan yang tampak lengang dan sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih.
Setelah sampai di mansionnya para pengawal menyambut kedatangannya dan membuka pintu utama mansion. Tuan muda ingin segera tidur karena kepalanya terasa pusing sekarang dan tubuhnya terasa lelah. Lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur miliknya dan memejamkan matanya.
Drtttt
Tuan muda menoleh ke arah handphonenya yang berada tak jauh dari tempatnya dan mengambilnya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
Louis?
Tuan muda mengubah posisi tubuhnya dengan bersandar di kepala tempat tidurnya. Kemudian menerima telepon dari Louis.
"Halo Luc, ada hal yang harus kubicarakan padamu."
"Katakan!" ujar tuan muda serius.
"Hasil tes laboratoriumya sudah keluar dan menunjukkan bahwa pelurunya dilapisi oleh racun caeruleus atau bisa juga disebut racun biru. Racun ini tergolong langka, maka dari itu penawarnya pun sulit dicari. Aku akan mencoba berbicara dengan Kaylie tentang obat penawarnya. Tetapi aku tak yakin apakah gadis itu bisa bertahan sampai penawarnya datang atau tidak. Itu tergantung kondisi tubuhnya."
__ADS_1
"Lakukan apapun asalkan dia selamat," ujar tuan muda.
"Akan aku lakukan yang terbaik."
"Hm" tuan muda menutup teleponnya dan mematikannya.
"Ck, kepalaku pusing sekali!" Tuan muda memijat pelipisnya yang berdenyut. Kemudian menuju kamar mandi untuk berendam air hangat. Disaat yang bersamaan Louis mencoba menghubungi Kaylie saat tengah malam.
"Hallo, siapa?"
"Aku Louis, apa kau tidak membaca nama yang tertera di panggilan?" ujar Louis menggebu-gebu. Tak habis pikir dengan Kaylie namun Louis mengerti jika ini waktu yang salah untuk meneleponnya karena mengganggu waktu istirahat teman rivalnya itu.
"Huft, ini masih pagi-pagi buta kenapa meneleponku?"
"Aku ingin meminta bantuanmu," pinta Louis pelan.
"Bantuan apa?"
"Tolong carikan obat penawar racun caeruleus..." Belum selesai Louis mengucapkan dialognya namun sudah disela oleh Kaylie.
"APA! Menemukannya itu sulit! Ini juga masih sangat pagi!"
"Aku tahu, tapi tolong Kay ini demi pasienku!" Louis terus memohon pada Kaylie.
"Akan aku usahakan semoga saja ahli racun disini menyediakannya."
"Aku butuh secepatnya!" kata Louis lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Kaylie disana langsung bangun dan bersiap mencari obat penawarnya. Walaupun ini masih jam satu malam tetapi akan ia lakukan karena nyawa seseorang bergantung padanya. Untung saja ahli racun di negeri yang ia tempati sekarang buka 24 jam.
Keesokan harinya tuan muda sudah bersiap dengan pakaian santainya. Celana jeans hitam, baju oversize hitam dan dipadupadankan dengan sepatu berwarna putih. Tak lupa topi sebagai pelengkap stylenya.
Tuan muda pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Alisya pagi ini. Setelah sampai ia langsung memasuki ruang perawatan Alisya. Kondisinya masih tetap sama, belum sadar sejak kemarin.
"Kondisinya masih sama," ujar Louis secara tiba-tiba.
"Ini akan menjadi peperangan antara hidup dan matinya. Jika ia sanggup melewati masa kritisnya maka nyawanya akan terselamatkan. Namun jika tidak aku tidak bisa berbuat apa-apa." Louis menatap kearah tuan muda.
Drttt
Ponsel Louis berbunyi. Louis segera mengangkatnya saat tahu Kaylie yang meneleponnya.
"Bagaimana?" ujar Louis sedikit menjauh dari tuan muda.
"Obat penawarnya sudah berada di tanganku. Aku akan tiba di rumah sakit sebentar lagi."
"Syukurlah, sekarang kau dimana?" tanyanya pada Kaylie karena suara ditelepon sangat bising.
"Aku didepan rumah sakit masih menyeberangi jalan."
"Baiklah kutunggu," ujar Louis sambil tersenyum.
"Arghhh..."
"Kaylie? Kay! Kaylie! Apa yang terjadi? KAY!" Louis memanggil nama Kaylie berkali-kali namun sang pemilik handphone tetap tidak menjawabnya.
"KAYLIE! HEY JAWAB!" ujar Louis panik karena terdengar suara keributan dari telepon.
......................
...(ꈍᴗꈍ)...
..."Happy reading all"...
__ADS_1