Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 50 Merawat Tuan Muda


__ADS_3

"Tuan aku sudah siapkan teh hangat untukmu." Alisya mengetuk pintu kamar karena takut tuan muda berganti pakaian. Setelah menunggu sebentar, Alisya dipersilakan masuk. Ia memperhatikan wajah tuan muda yang tidak seperti biasanya.


Wajahnya pucat, apa karena pulang dalam keadaan basah kuyup?


"Terimakasih," Alisya mengangguk.


Terimakasih? Eh tuan bilang begitu kan?


Saat tengah malam Alisya terbangun karena mendengar tuan muda mengigau. Alisya mencoba memanggil tuan muda namun tidak membuahkan hasil.


"Ibu..."


"Tuan, sadarlah!" Saat tak kunjung mendapat jawaban, Alisya langsung menggoyangkan tangan tuan muda.


"Ya Tuhan badannya demam." Alisya menyentuh kening tuan muda yang terasa panas. Lalu mengambil sapu tangan dan air untuk mengompresnya.


Semalaman Alisya menjaganya tanpa tidur. Mengganti air dengan yang baru lalu mengompresnya lagi. Saat sudah stabil Alisya merebahkan tubuhnya disamping tuan muda. Tanpa sadar Alisya ditarik dalam dekapannya hingga waktu menjelang pagi.


Tuan muda bangun lebih dulu. Ditatapnya paras Alisya dari dekat. "Apa kau kelelahan menjagaku?" Jemari tuan muda tergerak mengusap lembut surai rambutnya. Ia tahu Alisya merawatnya semalam karena merasakan ada kain basah dikeningnya


"Kenapa kau begitu baik, hm?" Tuan muda menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Alisya lalu mengecup keningnya.


"Aku masih punya hak bukan?" gumamnya sendiri. Alisya menggeliat dan merasakan tubuhnya sulit bergerak. Saat membuka matanya ia melihat tangan tuan muda berada diatasnya. Alisya menyingkirkannya pelan-pelan agar tuan muda tidak terbangun padahal ia hanya pura-pura tertidur dihadapannya.


Alisya menempelkan punggung tangannya pada kening tuan muda. "Sudah tidak demam lagi."


Bagaimana bisa aku berada didekatnya? Perasaan semalam aku tidur agak jauh darinya?


"Untung tuan belum bangun jika sudah pasti aku akan merasa malu jika dia tahu aku tidur terlalu dekat dengannya." Alisya menutup wajahnya yang memerah. Tanpa diketahuinya tuan muda melihat semua gerak-geriknya.


Gadis bodoh ini ingin sekali aku menjitak dahinya.


.


.


.


"Tahanan no. 147 ada yang ingin bertemu denganmu." Michele bingung apakah Billy yang datang menemuinya lagi? Saat masuk ke ruangan komunikasi antara tahanan dan penjenguk, Michele mengerutkan kening karena gestur tubuhnya bukan seperti Billy lantas siapa yang ingin bertemu dengannya?


Siapa dia?


Michele kaget ternyata orang didepannya adalah seseorang yang dijumpainya waktu di apartemen Billy. "Tuan Louis?" Tanya Michele memastikan.


"Kau masih mengingatku?"


Michele menyunggingkan senyum. "Ada apa tuan kemari? Apakah ada masalah?" Michele menunggu jawaban dari Louis.


"Tidak, aku kemari hanya ingin meminta maaf kepadamu." Louis menunduk merasa bersalah sedangkan Michele tidak tahu untuk apa permintaan maaf itu.


"Ehm, sebelumnya aku tidak tahu untuk apa meminta maaf?"


Louis menghembuskan napas berat. "Ucapanku waktu itu pasti menyakiti hatimu. Maafkan aku karena perkataanku terlalu kasar dan terkesan buruk."


Michele melihat ketulusan itu. Dari raut wajahnya dipastikan bahwa itu semua memang murni dari hatinya. "Tidak tuan, tidak masalah itu adalah hal yang wajar karena saat itu tuan dalam keadaan khawatir dan aku memakluminya."


Louis merasa senang ia dimaafkan begitu mudahnya. Walaupun ia berbuat salah tapi Michele tidak dendam akan hal itu. Justru dengan hati lapang bersedia menerima maafnya.


"Terimakasih kau sudah mengerti dan memaafkanku. Maaf juga jika selama ini sudah salah paham denganmu. Hubunganku dan Billy sekarang juga baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku lega jika kalian sudah baikan." Michele merasa tenang mendengar jika Billy dan Louis tidak lagi bertengkar seperti sebelumnya. Jika dilihat mungkin mereka saling berkelahi karena wajah Louis lebam-lebam saat ini. Tapi tidak mengapa jika masalah sudah terselesaikan karena ia tidak mau ikut campur dalam pertemanan mereka.


"Aku berharap persidanganmu dipermudah dan mendapat keringanan hukuman. Itu saja yang ingin aku katakan padamu. Selebihnya kau harus semangat jika kau memang benar. Tidak usah takut karena kami akan selalu mendukung kalian dalam persidangan ini. Jika membutuhkan bantuan aku siap untuk menolong." Louis berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Michele.


"Terimakasih atas doanya tuan Louis,"


"Baiklah aku pergi dulu sampai ketemu lagi nanti."


"Baik, hati-hati diperjalanan."


Saat akan masuk ke dalam sel, Michele dipanggil oleh orang yang dikenalnya.


"Michele!"


Billy?


"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu." Billy langsung duduk di kursi yang sebelumnya Louis duduki.


"Kenapa kalian bergiliran kemari?" Billy mengernyit tidak paham apa yang dimaksud Michele. Siapa yang datang jika bukan dirinya?


"Apa? Siapa?" tanyanya bingung dengan situasi ini.


"Apa kalian tidak berpapasan?" balas Michele dengan penuh selidik.


"Sebenarnya siapa yang kau maksud? Dari tadi kau membicarakan orang yang aku sendiri pun tidak tahu." Billy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sembari mengingat siapa orang yang berpapasan dengannya.


"Huft, sebelum kau tuan Louis kemari ta-"


"Louis kemari?" bentaknya keheranan. Apalagi yang dilakukan oleh temannya itu saat ia sudah menjelaskan permasalahannya kemarin?


"Iya, dia-"


"Kenapa dia kemari? Apa dia berbicara buruk padamu lagi?" Billy menyerobot tanpa mau mendengarkan perkataan Michele.


Michele menggebrak meja. Ia kesal karena pertanyaan Billy terus menghujamnya tanpa henti dan tidak diberi kesempatan melanjutkan apa yang ingin ia katakan.


"Iya-iya lanjutkan bicaramu." Billy terkekeh melihat Michele yang tengah jengkel dengan mulut mengatup rapat itu. Menurutnya kemarahan Michele merupakan hal yang lucu.


Sebelum melanjutkan ucapannya Michele menghela napas. "Tadi tuan Louis datang kemari. Dia meminta maaf padaku karena perkataannya waktu itu."


"Benarkah? Tidak sia-sia aku mematahkan hidungnya," ujarnya tanpa dosa.


"APA?"


Jadi mereka benar-benar berkelahi?


"Tidak, kau hanya salah dengar." Billy berkilah dengan memberikan senyuman terbaiknya.


"Katakan padaku apa kalian benar-benar bertengkar. Aku lihat wajah kalian berdua lebam seperti itu." Michele menunggu apa yang akan Billy jadikan alasan.


"Iya memang benar, kalian para wanita tidak akan tahu bagaimana para lelaki menyelesaikan masalahnya. Lagipula kami bertengkar karena sudah lama tidak saling pukul. Itu saja," kesombongan Billy terpancar sudah.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian. Lalu luka yang kau dapat?" Michele kembali bertanya.


"Kau berharap aku mendapatkan luka ya?" Billy melipat tangan.


"Hah? tidak maksudku jika tuan Louis hidungnya patah bisa jadi kau juga terluka kan?"


Apa aku salah, aku kan cuma bertanya!

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir aku hanya babak belur seperti ini saja walaupun dadaku agak sakit sih." Keluhnya di depan Michele.


"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Kalian laki-laki sama saja. Apa-apa diselesaikan dengan kekerasan. Oh ya apa yang membuatmu datang menemuiku lagi?"


"Ini mengenai persidangan besok. Hukumanmu bisa jadi hanya satu tahun dan bisa kurang jika membayar denda. Aku bisa saja membayar denda dan mengeluarkanmu dari penjara dengan mudah. Tapi aku harus izin padamu dulu apakah kau bersedia atau tidak." Billy menopang dagu sembari menatap lekat Michele.


"Tidak perlu, biarkan semua terjadi sesuai takdirnya saja. Walaupun kau bayar sekalipun aku tak akan sanggup untuk membayarnya kembali."


"Tidak usah dikembalikan juga tidak apa-apa. Karena aku tulus menolongmu."


"TIDAK!" Tolak Michele mentah-mentah.


Walaupun kau melarangku aku akan tetap melakukannya. Ini semua demi kau.


"Aku berharap kau tidak melakukannya ya? Biarkan aku disini. Aku benar-benar tidak punya banyak uang. Aku tidak mau merepotkan orang lain. Terutama dirimu. Karena aku sudah terlalu banyak merepotkanmu," tambahnya dengan nada memohon.


Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan rumah pun aku tidak punya. Sekalipun aku kembali pasti ayah akan sangat tertekan dan marah besar. Sekarang aku hanyalah Michele yang berdiri di kakiku sendiri.


"Apa yang kau bicarakan? Seorang teman tidak akan bilang seperti itu. Teman kan saling membantu," jawabnya dengan lugas.


"Pokoknya jangan ya. Aku tidak mau sungguh. Aku menghargai usahamu tapi aku benar-benar tidak mau menyulitkanmu. Tunggu saja aku sampai aku datang." Michele meyakinkan Billy bahwa ia akan tetap menjalani hari-harinya seperti biasanya.


"Baiklah, aku juga punya bukti kejahatan wanita yang sudah mati itu. Kekerasan padamu juga akan terbongkar. Meskipun tidak begitu banyak tapi bisa meringankan hukumanmu juga. Para bibi dan penjaga di rumahmu juga akan bersaksi tentang hal ini. Jadi jangan terlalu khawatir seseorang yang baik akan mengalami hal baik juga." Michele tersenyum sudah beberapa kali ia merepotkan Billy. Tak disangka saat terburuknya ada seseorang yang peduli dengannya.


"Persiapkan dirimu saat sidang nanti. Jangan sampai sakit dan memikirkan hal buruk. Tenang saja temanmu ini akan melakukan yang terbaik untukmu. Aku janji akan selalu bersamamu!" Keduanya tertawa bersama. Michele yakin semua akan berjalan sesuai apa yang ia tabur.


Apakah ayah juga akan menghadiri sidang nanti? Rasanya sesak ketika memikirkannya.


.


.


.


Hari Sidang


Hari ini adalah sidang keputusan hukuman Michele. Apapun keputusannya Billy pasti akan berusaha yang terbaik untuk membantu Michele. Rasanya juga ikut khawatir jika hasil keputusan hakim akan berbeda dari prediksinya.


Suasana di ruang sidang begitu serius. Billy ditemani Louis yang sama-sama menunggu hasil sidang itu. Hakim saling berdiskusi untuk menentukan bagaimana hidup Michele kedepannya.


Tok tok tok


Setelah hakim mengetok palu dipersidangan semua sudah bernapas lega. Hukuman Michele hanya 6 bulan penjara. Perkiraan sebelumnya hukuman Michele 1 tahun tapi hasilnya lebih dari yang ia duga. Billy merangkul Louis menyalurkan rasa bahagianya. Meskipun setengah tahun juga lama tapi setidaknya akan ada pengurangan jika tahanan berlaku baik.


Michele dan Billy tersenyum satu sama lain. Michele terharu karena perjuangan Billy tidaklah sia-sia. Hutang budinya terlalu banyak hingga ia bingung harus membalasnya dengan apa.


Kuharap setelah ini hidupmu akan baik-baik saja. Maafkan aku hanya ini yang bisa aku bantu. Aku akan sangat menantikan hari kebebasanmu nanti. Billy menatap kepergian Michele dari ruang sidang itu.


Michele menengok sekali untuk melihat Billy. Tak terasa air matanya menetes namun senyumnya masih tetap melebar. Entah, ia merasa bahagia ada teman yang menemaninya hingga detik ini.


Kenapa hatimu begitu baik? Bahkan ayahku sendiri pun sangat jauh berbeda darimu. Aku kan tidak sanggup untuk membayar semua pengorbananmu. Batin Michele.


"Aku merasa sangat lega walaupun ada yang masih sedikit mengganjal." Louis menepuk punggung Billy.


"Hal yang wajar jika kau mengkhawatirkannya. Sudahlah waktu akan berputar dengan cepat. Kau kan juga bisa menemuinya setiap hari jika kau mau. Apa yang membuatmu kembali resah?"


"Sudahlah, ayo pergi aku masih ada pekerjaan. Rencana pembangunan casino akan dilakukan hari ini." Melihat jam di pergelangan tangannya.


"Apa Lucas tidak akan hadir bersamamu?" tanya Louis.

__ADS_1


"Entahlah aku rasa tidak. Tapi aku berharap saat peresmian nanti dia hadir." Billy membuang napas berat karena ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.


...--------☠️--------...


__ADS_2