
"APA YANG TERJADI?" Billy mendekati Michele dan memegang pundaknya. Mereka bertatap-tatapan lalu Michele menggeleng seperti tidak terjadi apa-apa.
"KATAKAN! Apa mereka yang ada dipenjara pelakunya?" Michele memejamkan mata sekejap.
"Tidak bukan siapa-siapa," jawabnya dengan suara bergetar.
"Kau mencoba berbohong kan? Apa kau tidak mau jujur pada temanmu sendiri? Katakan Michele! Katakan!" ujarnya dengan memaksa.
"Tidak terjadi apa-apa. Percayalah padaku."
Kenapa kau tidak mau jujur kepadaku? Berapa banyak luka yang harus kau sembunyikan dari semua orang?
"Baiklah, makanlah dulu aku membawa sesuatu untukmu." Billy menunjukkan kantong plastik yang ditentengnya.
"Terimakasih, kebetulan aku juga kelaparan." Kemudian Michele memakannya dengan lahap. Tapi tidak dengan Billy yang terus memandangi Michele.
Siapa yang menyakitimu sampai kau terluka seperti itu? Kurasa bukan cuma fisikmu tapi hatimu juga ikut merasakannya. Batin Billy memperhatikan Michele.
"Makanannya enak sekali sampai-sampai aku menghabiskannya."
"Tidak masalah itu semua memang untukmu."
"Maaf, waktu berkunjungnya sudah habis." Polisi tersebut memberitahu mereka bahwa jam kunjung telah berakhir.
"Sampai jumpa dipengadilan nanti. Jika ada masalah kau bisa menghubungiku," ujar Billy seraya memberikan kartu namanya.
"Terimakasih atas bantuanmu." Michele tersenyum tulus.
"Saat ada waktu luang, aku akan mengunjungimu lagi nanti." Billy sedikit berteriak saat Michele mulai menjauh darinya.
"JAGA DIRIMU BAIK-BAIK!" Pekik Billy ketika Michele sudah hampir tak terlihat.
"Aku akan melakukan apapun agar hukumanmu diringankan. Tapi apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia terlihat sedih?"
Pasti ibumu menyesal telah melahirkanmu. Aku pun juga merasa rugi mempunyai anak tak berguna sepertimu. Seharusnya kau tidak dilahirkan. Kau itu anak lemah! Kau hanya bisa mempermalukan orang tuamu dihadapan semua orang!
Begitu banyak rentetan kata yang Billy dengarkan. Tanpa sadar tangannya mengepal erat setelah mendengarkan rekaman suara Michele dengan ayahnya. Jika ia tidak memaksa maka ia tidak akan tahu alasan Michele murung.
Pantas saja, ternyata ayahnya yang membuat Michele seperti itu. Aku pastikan Michele akan bahagia tanpa dirimu.
"Satu hal lagi, jika para tahanan mendapatkan kekerasan dan tidak ada tindakan dari pihak kepolisian maka bersiaplah untuk menanggung kesalahan kalian!"
Bukan hal yang tabu jika para tahanan yang lebih lama di penjara menjadi penguasanya. Siapa yang kuat dialah yang menjadi pemimpin.
Billy langsung meninggalkan tempat itu. Amarahnya benar-benar memuncak. Kebenciannya yang dulu kembali muncul setelah sekian lama terpendam.
"Kenapa para orang tua selalu bertindak seenaknya?" gumamnya sendiri.
Saat sudah di dalam mobil Billy membuka pesan yang dikirim oleh Dave. Isinya adalah undangan rapat untuk para petinggi mafia DS nanti malam. Namun ia malah menutupnya dan enggan membalas pesan tersebut.
Malam ini adalah pertemuan besar antar petinggi mafia DS. Banyak pemimpin masing-masing kelompok yang tersebar di beberapa daerah.
Tak
Tak
Tak
Mata semua orang tertuju pada seseorang yang baru saja datang. Siluet mata tajam terlihat mengintimidasi seluruh ruangan. Pin berlogo tengkorak tersemat di jas yang ia kenakan. Kharismanya begitu mendominasi tempat itu. Semua menunduk hormat kepada ketua mereka yaitu Lucas Deilson.
"Kenapa dia belum datang?" gumam Dave menunggu Billy yang masih belum menunjukkan batang hidungnya. Sedari tadi Louis hanya memperhatikan Dave yang sesekali melihat jam.
Semua sudah berkumpul di meja berbentuk lingkaran. Melingkar dengan suasana yang sangat formal diruangan khusus.
Dave mencoba menghubungi Billy namun sama sekali tidak diangkat olehnya. Lalu Dave meninggalkan pesan untuknya agar segera menghadiri rapat ini.
"Baiklah, rapat ini kita mulai!" Tuan muda menatap semua orang yang ada di meja bundar itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisnis kita di masing-masing distrik apakah ada kendala? Jika ada permasalahan segera beritahu sekarang!"
"Semua berjalan lancar tuan, walaupun ada sedikit hambatan kecil tapi kami dapat menyelesaikannya."
"Jika tidak ada kendala maka kita akan membahas bisnis yang akan didirikan dalam waktu dekat ini. Seperti yang kalian lihat disini kita akan mendirikan sebuah casino di distrik tengah yaitu tepat di kota yang kita tempati ini. Perlu kalian ketahui masing-masing distrik akan menyuplai setidaknya 15% biaya dari penghasilan bisnis yang kalian lakukan. Dengan dana itu kita akan mendirikan casino sesuai rencana yang bisa kalian lihat di lembaran didepan kalian. Dari sini ada yang ingin bertanya?"
"Dari banyaknya bisnis kenapa harus casino? Bukankah sudah terlalu banyak orang yang punya sebuah casino di distrik ini? Lalu apa keuntungan casino ini?" Tanya salah satu pemimpin distrik.
"Casino ini dibuat untuk menyatukan bisnis dari berbagai distrik. Tidak hanya sebagai permainan namun sebagai pasar untuk bisnis kita agar lebih berkembang kedepannya. Distrik tengah mempunyai peluang besar dalam mengembangkan bisnis karena wilayahnya yang strategis. Distrik tengah lebih luas dibandingkan dengan distrik lainnya. Jadi keberhasilan dalam pembangunan casino ini akan menambah keuntungan bagi distrik tengah begitu pun sebaliknya. Jika kita sampai diposisi atas maka yang ada dibawah akan kita akuisisi!"
"Maaf, saya terlambat karena ada urusan penting." Semua menengok kearah suara tersebut lalu mengangguk dan Billy menuju ke kursi kosong disebelah Louis.
"Bagaimana? Apakah ada yang keberatan dengan rencana pembangunan casino ini?"
"Tidak tuan," ujar mereka serempak.
"Izin menambahkan." Billy terlihat serius sekarang. Tidak seperti biasanya yang tegas namun santai tapi sekarang seakan terbalik, wajahnya terlihat kaku dan dingin.
"Jika ada salah satu distrik yang berhianat maka kami tak akan segan untuk menghancurkan distrik yang telah kalian bangun dengan susah payah. Bagi kami menghancurkan distrik kalian tidak membutuhkan waktu yang lama." Beberapa pemimpin distrik terdiam setelah mendengar ancaman dari Billy. Tuan muda tersenyum miring. Billy kembali seperti dulu dengan kebrutalannya yang membabi buta.
"Rapat kita akhiri sampai disini. Camkan setiap kata yang ku ucapkan. Jangan pernah berpikir kalian bisa seenaknya mengatur distrik tanpa persetujuan kami." Tatapan menusuk ia layangkan pada satu persatu pemimpin distrik. Membuat mereka bergidik ngeri membayangkan jika distrik mereka hancur tanpa sisa.
Tuan muda berdiri diikuti semua anggota rapat yang lain. Lalu beranjak keluar dari ruangan.
"Urusan sepenting apa hingga kau lebih memilih terlambat." Sindir Louis tanpa menatap Billy.
"Sepertinya masalah ini tidak akan selesai begitu saja." Dave dan William saling pandang melihat pertikaian sahabat mereka.
"Lebih baik kita selesaikan diluar." Tambahnya dan berlalu pergi. Louis mengikuti Billy kemanapun dia pergi. William dan Dave juga mengikuti mereka dari belakang. Hal serius seperti apa hingga mereka saling ingin mengalahkan satu sama lain.
Billy menuju lapangan kosong disana. "Apa yang kau inginkan?" Billy membuka jasnya dan membuangnya ke sembarang arah.
Melihat hal itu Dave bergegas menelepon tuan muda dan menyuruhnya untuk segera datang ditempat mereka sekarang.
"Kenapa kau mencampuri urusanku. Kenapa kau seakan tidak suka aku bersamanya?" sorot matanya menunjukkan kebencian.
"Lucas yang menyuruhku pergi. Apa aku akan membantahnya? Kau tahu Lucas itu keras kepala!" Suara Billy menggema.
Louis tersenyum kecut. "Bagaimana jika Lucas tidak kembali akibat keputusanmu itu?"
"Kau meragukan Lucas?" Dave melirik William disampingnya. Mengedikkan bahu sebagai jawaban bahwa William tidak mengerti permasalahannya.
"Semua bisa saja terjadi. Kau bisa melawan egonya tapi kau malah menyelamatkan wanita yang tidak dikenal! Jika kau tidak membawanya masalah ini tidak akan terjadi!"
"Kenapa kau mempermasalahkan Michele. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Lagipula sekarang Lucas baik-baik saja. Lalu kenapa masih mempermasalahkan hal yang sudah terjadi!"
"Cih, Kau terus membelanya? Sepertinya dia sudah mengubahmu menjadi seperti dulu lagi."
"DIAM BANGSAT!"
Bugh
Hidung Louis berdarah akibat pukulan Billy. "KAU YANG SEHARUSNYA DIAM!"
Bugh
"Apa yang terjadi?" Tuan muda bertanya pada William dan Dave yang menyaksikan kedua temannya bertengkar.
"Sepertinya ada hubungannya denganmu." Tuan muda menghela napas saat Dave menyebut dirinya.
Billy tergelak dan mengusap sudut bibirnya. "Aku muak denganmu. Kau tidak mempermasalahkan Lucas. Dia juga membawa wanita bersamanya. Kau menyalahkan aku dan Michele yang baru bertemu. Padahal niatku hanya untuk menyelamatkannya!"
Bugh
"Itu dua hal yang berbeda!"
Bugh
__ADS_1
"Mari kita selesaikan ini. Jika salah satu dari kita yang menang maka yang kalah harus mengaku salah." Billy tersenyum miring saat mengajak duel Louis. Sedangkan Louis bersiap menerima tantangan yang diajukan oleh Billy.
Bugh
Bugh
Krak
Mereka bertarung dengan hebat. Masing-masing memiliki kemampuan berkelahi yang memadai. Kebrutalan Billy dan kegesitan Louis. Mereka saling memukul dengan keras dan menghindari serangan. Jika diteruskan bisa-bisa mereka akan mati bersama.
"Pisahkan mereka." William menghentikan Louis dan Dave menghentikan Billy. Namun Dave malah dipukul oleh Billy saat mencoba melerainya.
"What the hell, dude?" William yang semula tak terbawa emosi sekarang lepas kendali saat melihat Dave dipukul.
Bugh
Akhirnya mereka saling menyerang satu sama lain. Tuan muda hanya melihat pertarungannya. Namun jiwanya memberontak untuk ikut dalam perkelahian itu. Rasanya tidak puas jika hanya sebagai penonton. Lebih nikmat jika ia ikut merasakan pertengkaran yang sudah lama tak terlihat. Tuan muda membuang jas yang dipakainya agar lebih leluasa dalam bergerak.
"Kau bilang jika salah satu dari kita yang menang maka yang kalah harus mengaku salah kan?" Tanya tuan muda disela-sela saling pukul.
"****, KAU IKUT JUGA?" Billy kewalahan menghadapi sekaligus keempat temannya yang tak biasa itu.
Bugh
Krak
Bugh
Di bawah rintihan hujan mereka beradu melampiaskan kemarahan mereka. Walaupun terkesan tidak manusiawi tetapi itulah nilai persahabatan mereka. Tidak seperti orang lain, persahabatan mereka justru lebih kuat dan mempunyai solidaritas tinggi. Walaupun dengan cara kekerasan tapi dengan itulah mereka dapat menyelesaikan permasalahan tanpa beban.
Bugh
Krak
Bugh
Kejadian itu berlangsung lama hingga energi mereka terkuras habis. Bahkan berdiri dengan kedua kaki mereka saja sudah susah. Napas mereka ngos-ngosan juga tubuh sudah babak belur.
Semua terkulai lemah di tanah. Dibawah guyuran air hujan mereka merenung setelah habis-habisan melayangkan tinju. Namun mereka terkekeh setelahnya. Senyum kebahagiaan mereka tercetak jelas. Bahkan tuan muda tersenyum sekilas melihat teman-temannya saling melemparkan senyum.
"Hidungku sepertinya patah." Louis menyentuh hidungnya yang terasa sakit.
"Tulang rusukku hampir patah." Dave memegangi perutnya. Ia merasa lukanya pasti membiru.
"Pergelangan tanganku terkilir," gerutu William dengan muka masamnya.
"Aku susah bernapas karena dia memukul dadaku," Billy menunjuk Louis.
"Kau yang memulainya terlebih dahulu. Bahkan hidungku patah karenamu." Louis menjawab dengan ketus.
"Lucas pemenangnya, wajahnya masih bersih mungkin satu atau dua kali terkena pukulan." William memuji sekaligus menyindir karena pukulannya selalu meleset dan tidak meninggalkan bekas diwajah tuan muda.
"Ck, apa matamu buta? Kemejaku berubah warna karena kalian!"
"Hahaha..." Semua tertawa senang karena berhasil melukai sahabatnya. Walaupun wajahnya tidak babak belur tetapi luka yang belum sembuh itu kembali meradang.
Akhirnya mereka bisa menyelesaikan permasalahan yang rumit itu. Satu persatu penjelasan mengubah persepsi mereka. Louis dan Billy tidak lagi berselisih paham. Justru yang ada mereka merasa kasihan pada nasib Michele dan mendukung apapun yang akan dilakukan Billy.
"Masalah ini sudah selesai bagaimana jika kita mengabadikan momen ini?" William mengeluarkan handphone miliknya.
Mereka berkumpul dan merangkul satu sama lain. Keseruan mereka tercetak dalam sebuah foto yang akan memberi kenangan untuk mereka nanti.
Hujan dan malam menjadi saksi mereka. Dari jauh pak John juga melihat semuanya. Dari awal hingga akhir semua ia saksikan. Ia teringat keseruannya bersama mendiang tuan besar yang dulu mereka rasakan.
Pak John menggeleng. "Anak muda jaman sekarang tidak beda jauh dengan kami tetua masa dulu."
...----------------...
__ADS_1
...Beri dukungan pada author😉...