Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 35 Racun dilawan Racun


__ADS_3

"Ha-halo Louis ma-maafkan aku hiks hiks..."


"Ada apa Kaylie? katakan!" Perasaan Louis tak tenang sekarang.


"Obat penawarnya terjatuh hiks hiks..."


"Bagaimana bisa?" Mata Louis membelalak kaget.


"A-aku terserempet mobil dan obat penawarnya terlempar ke tengah jalan. Saat akan mengambilnya, ada kendaraan roda empat yang melintas lalu obat penawarnya pecah, bagaimana ini Louis!"


"Tapi kau baik-baik saja kan?" Tanya Louis memastikan keadaan Kaylie.


"Aku baik-baik saja hiks hiks..."


"Sudahlah jangan menangis lagi. Datanglah ke ruang perawatan VIP nomor 3," Perintah Louis dan mematikan sambungan teleponnya.


"Luc, ada kabar buruk." ujar Louis.


"Ada apa?" Tuan muda menaikkan sebelah alisnya.


"Obat penawarnya jatuh dan pecah," terang Louis sambil melihat ekspresi sahabatnya yang tampak menutup matanya.


"Bagaimana bisa itu terjadi?" Tuan muda membalikkan tubuhnya memunggungi Louis.


"Ada kejadian yang tidak terduga." Louis melihat ke lain arah. Memandang Kaylie yang baru saja datang dengan wajah yang terlihat gelisah. Tuan muda menoleh melihat Kaylie yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa yang harus dilakukan sekarang." Tuan muda menatap tajam kedua dokter didepannya.


"A-aku akan pergi untuk mendapatkan obat penawar itu lagi tuan," jawab Kaylie dengan terus menunduk.


"Itu butuh waktu yang lama sedangkan kita harus segera mengeluarkan racun itu dari dalam tubuhnya. Jika racun tidak segera ditangani maka racunnya akan menyebar keseluruh tubuhnya dan pastinya membahayakan nyawanya," balas Louis menatap tuan muda dan Kaylie bergantian.


"Aku tidak bisa terus-terusan memberinya antibiotik karena berisiko meningkatkan kekebalan racun caeruleus dalam tubuhnya, sehingga dapat memperburuk keadaannya," ujar Louis menjelaskan dengan rinci.


"Jika racun sudah menyebar keseluruh tubuhnya maka bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong," tambahnya. Tuan muda mengeluarkan korek apinya yang berlogo tengkorak dan memainkannya. Kemudian berjalan pelan menjauh dari Louis dan Kaylie.


"Racun dilawan racun," ujar tuan muda secara tiba-tiba. Louis dan Kaylie terkejut serta saling pandang satu sama lain.


"Tetapi kemungkinannya hanya lima persen untuk selamat," kata Louis dan dibalas anggukan oleh Kaylie.


"Tidak menutup kemungkinan jika dia masih bisa selamat." Tuan muda sedikit menoleh dan menatap Louis melalui ekor matanya.


"Jika ini keputusanmu maka baiklah, akan aku buatkan surat persetujuan atas tindakan ini." Louis melenggang pergi untuk mengurus surat persetujuannya sedangkan Kaylie tetap berdiam diri ditempat dan menundukkan kepalanya.


"Kau!"


"Iya tuan," jawab Kaylie lalu melihat tuannya yang juga sedang melihat dirinya.


"Dapatkan kembali obat penawarnya!" Perintah tuan muda pada Kaylie.


"Baik tuan," balas Kaylie lalu menunduk hormat pada tuan muda sebelum pergi. Saat ini ruangan kembali sepi seperti semula. Tuan muda mendekati Alisya yang terbaring menutup matanya. Lalu mengusap pelan puncak kepala Alisya.


Ceklek


Suara pintu terdengar, tuan muda menyembunyikan tangannya di samping tubuhnya. "Luc, tanda tangani surat persetujuan ini." Tuan muda menerima surat tersebut dan menandatanganinya.


"Aku sudah memberinya racun dengan dosis sedang. Jika terjadi sesuatu dengannya panggil aku." Louis mengambil surat persetujuannya dan keluar ruangan untuk mengobati pasien lainnya.


Tuan muda memandang Alisya dari kejauhan. Mengamatinya jika ada sesuatu yang aneh akibat racun yang diberikan oleh Louis beberapa menit yang lalu. Tetapi sebuah notifikasi pesan membuat tuan muda mengalihkan pandangannya.


[Aku sudah menemukan apa yang berharga bagi Mohan]


Tuan muda tersenyum miring saat membaca pesan dari Dave. Satu pesan lagi masuk berupa foto. "Aku tidak mengira kau begitu kaya tapi semua akan berubah mulai dari sekarang!" Tuan muda mematikan handphonenya setelah membalas pesan Dave.


Kemudian netranya menatap fokus pada Alisya. Tuan muda segera menghampiri Alisya saat tahu dia memuntahkan racun dalam tubuhnya. Tatapannya memindai seisi ruangan mencari keberadaan tisu namun tidak tersedia saat itu.


Tanpa berpikir lebih lama lagi tuan muda menanggalkan pakaiannya dan menggunakannya untuk membersihkan mulut Alisya seraya menekan bell darurat yang telah disediakan. Tak berselang lama, Louis datang bersama para suster yang lainnya.


"Hey STOP!" Louis membalik badan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ada apa dokter?" Tanya suster yang tidak tahu kenapa tiba-tiba langkahnya diberhentikan.

__ADS_1


"Biar aku dan dia yang mengurusnya." Tunjuknya pada salah satu perawat laki-laki didepannya.


Salah satu suster mencoba mengintip hal apa yang disembunyikan sang dokter. Suster tersebut menutup mulutnya syok melihat seorang laki-laki dengan bahu yang nampak kekar. "Pergilah!" Louis mendorong kedua suster agar segera pergi dari ruangan tersebut dan menutup pintunya rapat-rapat.


Louis langsung menangani Alisya dan memeriksanya. "Racunnya sudah berhasil dikeluarkan walaupun tidak sepenuhnya tetapi kondisinya mulai stabil," ujar Louis.


"Aku menyuntikkan penawar racun yang beberapa saat lalu kuberikan. Dia akan segera sadar nanti," tambahnya.


"Sebentar, aku akan kembali." ucap Louis dan kemudian pergi bersama perawat di belakangnya.


Saat sudah dibalik pintu, Louis melihat kedua perawat yang masih berdiri disana. "Kalian? kenapa masih disini?" Tanya Louis sembari melihat kedua suster yang nampak tersenyum canggung.


"Kami-"


"Jadwal kami kosong dokter," jawab suster yang lainnya dengan yakin.


"Bantu suster atau perawat yang lainnya, bukan malah bergosip ria seperti ini." Tegas Louis lalu berjalan meninggalkan mereka.


"Hais, bagaimana jika kalian dipecat?" ujar perawat tersebut.


"Ini semua karena dia." Tunjuknya pada temannya.


"Aku bahkan tidak tahu apa yang terus dibicarakannya," ujarnya.


"Dia terus berkata bahwa pria itu terlihat tampan dari belakang sehingga dia ingin melihatnya lebih jelas," ujar suster itu kesal karena ikut dimarahi akibat ulah temannya itu.


"Maafkan aku."


"Sudahlah, ayo kembali bekerja." ujar sang perawat menengahi pertengkaran kecil kedua suster didepannya.


.


.


.


"Luc, kenapa kau melepas bajumu. Ini rumah sakit bukan kamarmu," ujar Louis setelah memberikan satu bajunya pada tuan muda.


"Disini tidak ada tisu jadi ku gunakan bajuku," ujar tuan muda tanpa ada rasa bersalah sedangkan Louis hanya mendengus pasrah.


"Ck, aku bukan kepala sub bagian perlengkapan rumah sakit!" Louis menghela napas kasar saat tahu tuan muda menyindirnya.


"Kau direktur disini seharusnya kau lebih memperhatikan hal-hal kecil seperti ini!"


"Alright" jawab Louis dengan senyum dipaksakan.


"Luc, bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Louis yang penasaran tentang kejadian yang menimpa pasiennya tersebut.


"Suruhan Mohan ingin membunuhku tetapi dia menyelamatkanku."


"APA! wah dia cukup berani aku kagum padanya." Louis tersenyum bangga, karena selain cantik Alisya begitu berani menyelamatkan nyawa sahabatnya itu.


"Dia seperti wanita impianku, cantik dan berani." Louis menatap Alisya begitu lama membuat tuan muda merasa terganggu akan hal itu.


"Ck, pergilah urus pekerjaanmu!"


"Kenapa? aku ingin melihatnya lagi pula masih banyak dokter disini mereka yang akan mengurusnya." Louis tak melepaskan tatapannya pada Alisya.


Brakkk


"Kenapa kau marah?" Louis tertegun karena tuan muda tiba-tiba menggebrak meja. Tuan muda memilih untuk diam tidak menjawab karena ia sendiri tidak mengerti kenapa bersikap demikian.


"Aku akan melanjutkan kembali tugasku," tambahnya dan beranjak meninggalkan ruangan.


Aneh, kenapa dia sampai menggebrak meja segala dan apa salah gue coba. Batin Louis bertanya-tanya.


"Sudah cukup kegilaan ini, Luc!" Tuan muda memukul pelan kepalanya. Tak jauh dari itu, Alisya terbangun karena mendengar suara bising di sekitarnya. Kedua matanya perlahan terbuka dengan sempurna.


Badannya terasa berat dan bahunya begitu nyeri. Tangan kirinya bergerak untuk menyentuhnya. Sakit. Itulah yang ia rasakan sekarang. "Apa kau ingin minum?" Tanya tuan muda yang tiba-tiba berdiri disamping ranjangnya.


Alisya menatap sekilas tuan muda dan mengangguk sebagai jawaban. Kemudian tuan muda memberinya minum sesuai yang diinginkannya. Lalu tuan muda menaikkan ranjang elektrik yang ditempati Alisya dengan menekan tombol pada remote control agar memberikan rasa nyaman padanya.

__ADS_1


Alisya memalingkan muka ke arah kaca di sebelah kirinya menikmati pemandangan luar yang terlihat oleh mata. Bukan hanya ingin menikmati saja namun juga karena alasan lain. Ia merasa canggung bila bertatap mata dengan laki-laki disebelahnya.


Saat ingin mengubah posisi tubuhnya, Alisya merasa bahwa kakinya mati rasa dan tidak bisa digerakkan sesuai kemauannya. Berulang kali Alisya mencoba namun sepertinya itu tidak membuahkan hasil.


Tuan muda memperhatikan raut wajah Alisya yang kebingungan pun mencoba bertanya padanya. "Ada apa?" tanyanya pada Alisya.


"Ka-kakiku mati rasa dan tidak bisa digerakkan." Alisya menepuk-nepuk kakinya berharap bisa memberikan sedikit reaksi.


Tuan muda mengambil handphonenya di atas meja dan segera menelepon Louis. "Cepat kemarilah sekarang juga!" Perintah tuan muda dan menunggu kedatangan Louis.


"Ada apa?" ujar Louis dengan napas yang tidak stabil akibat berlari dengan segenap jiwa dan raga.


"Tanyakan padanya."


"Ada apa nona?" tanya Louis setelah menstabilkan pernapasannya.


"Kaki saya seakan mati rasa dokter," ujar Alisya dengan mata berkaca-kaca.


"Permisi nona saya akan memeriksanya," ujar Louis meminta izin sebelum menyentuh kaki Alisya.


"Bagaimana apakah sudah ada perubahan?" tanya Louis sesudah memberikan terapi kecil. Alisya menggeleng pelan.


"Masih belum?" tanya Louis kembali. Alisya tetap menggeleng dengan yakin.


"Sepertinya nona mengalami kelumpuhan," ucap Louis sesudah memeriksa keadaan Alisya.


"Jika dalam waktu seminggu ataupun dua minggu kaki bisa digerakkan maka nona hanya mengalami kelumpuhan sementara dan bisa disembuhkan."


"Tetapi jika dalam waktu tersebut kaki belum bisa digerakkan maka nona mengalami kelumpuhan yang bersifat permanen dan sulit untuk menyembuhkannya."


"Kelumpuhan ini terjadi karena efek dari racun yang ada di tubuh nona. Kami memiliki beberapa ahli fisioterapi yang akan membantu nona dalam proses penyembuhan."


"Apakah ada yang perlu ditanyakan?" Louis melihat tuan muda dan Alisya bergantian.


"Tidak,"


"Baik saya permisi dulu." Louis beranjak keluar ruangan.


"Aku akan panggilkan fisioterapi terbaik untuk kesembuhanmu jadi jangan terlalu dipikirkan."


Tok tok tok


"Permisi,"


"Ini makanan dan minuman untuk pasien." Ahli gizi memberikannya kepada tuan muda.


"Tolong dihabiskan nona supaya cepat pulih. Baiklah saya permisi dulu."


Tuan muda menggeser kursi kecil di samping ranjang rumah sakit dan kemudian mendudukinya. "Buka mulutmu!" Tuan muda menyendok sesuap bubur dan menyuapkannya di depan bibir Alisya.


"Aku bisa makan sendiri tuan," ujar Alisya. Kemudian tuan muda meletakkan mangkuk bubur tersebut di pangkuan Alisya dan melipat tangannya di depan dada mengamati gadis di depannya tersebut.


Saat Alisya akan mengangkat tangannya menyuapkan satu sendok bubur, rasa nyeri dan kaku menerjang sebagian lengannya. Tuan muda yang mengamati gerak-gerik Alisya menghembuskan napas kasar lalu mengambil mangkuk bubur tersebut dan kembali menyuapi Alisya.


"Jangan dipaksakan, buka mulutmu!" ujarnya yang kedua kalinya dan Alisya pun menurutinya hingga suapan terakhir. Alisya melirik tuan muda yang sibuk membereskan bekas makannya.


"Tuan!" panggil Alisya.


"Hm"


"Bagaimana bisa tuan tahu aku tersesat di hutan kemarin?" ujar Alisya lirih memberanikan diri untuk bertanya.


"Apakah itu penting?" tanya tuan muda tanpa melihat lawan bicaranya.


"A-aku hanya sekedar ingin tahu uhuk-uhuk..."


"Ck, kau terlalu banyak bicara." Tuan muda memberikan minum kepada Alisya.


"Kau salah Alisya, seharusnya kau tidak bertanya kepada manusia berhati dingin sepertinya," gumam Alisya pelan.


"Aku mendengarmu," tuan muda memperlihatkan tatapan tajamnya membuat nyali Alisya menciut karenanya.

__ADS_1


...****************...


...Tunggu kelanjutannya ya 😤...


__ADS_2