Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 45 Terjebak


__ADS_3

Hari demi hari Alisya belajar tanpa lelah. Tidak seperti sebelumnya rasa putus asa menaklukkan semangatnya. Kini Alisya bangkit dengan semangat yang menggelora. Hatinya yakin sepenuhnya bahwa ini bukan akhir dari segalanya.


"Pelan-pelan saja!" bentak tuan muda karena Alisya terlalu bersemangat untuk segera sembuh. Ia takut jika Alisya gegabah dan malah membuatnya menjadi semakin parah.


Padahal aku sudah berhati-hati. Batin Alisya dengan muka masam.


Saat Alisya mengangkat kakinya tuan muda kembali membentaknya. "Diam saja itu untuk melatih keseimbanganmu!" Alisya mengurungkan niat untuk melangkah maju.


Sebenarnya Alisya kesal karena selalu dimarahi tidak seperti dokter Fely yang menuntunnya dengan lembut. Tapi apa boleh buat dokter Fely ada rapat mendadak yang mengharuskannya pergi. Mau tak mau ia harus berlatih bersama tuan pemarah itu.


Tuan kejam!


"Aku tahu kau merutukiku," sembari mendorong kening Alisya dengan jari telunjuknya.


"Aaaa!" Alisya kehilangan keseimbangan akibat perbuatan tuan muda. Namun sebelum itu terjadi sebuah tangan dengan sigap menangkapnya.


Tak


"Auuu" Tangan Alisya mengusap-usap pelan dahinya karena tuan muda yang dengan santainya menyentilnya dengan keras.


"Begitu saja sudah tumbang." Tak usah bertanya tentang perasaan Alisya. Sudah pasti sebal dengan perkataan lelaki didepannya itu. Terkesan meremehkan dan membuatnya tidak berselera untuk melanjutkannya lagi.


Ingin sekali Alisya memukulnya namun nyalinya tidak sebesar itu. Ia masih takut dengan kejadian sebelumnya. Lebih baik ia menahan rasa jengkelnya dan tidak membuatnya marah.


Drttt


Tuan muda mengangkat telponnya tanpa melepas tangan Alisya untuk melindunginya jika sewaktu-waktu ia terjatuh.


"Luc, nanti ada pertemuan dengan tuan Dario. Aku tidak bisa datang karena masih di luar kota mengurusi akses senjata kita yang bermasalah. Bisakah kau datang menggantikanku? Dia ingin berbicara tentang senjata yang ingin dia koleksi."


"HATI-HATI!" ucapnya dengan lantang karena Alisya hampir terjatuh untuk kedua kalinya.


"Luc, kau mendengarkanku kan?"


"Hm, dimana dan kapan pertemuannya?"


"Di casino sebelah bar yang biasa kita kunjungi. Untuk waktunya sekitar hampir tengah malam nanti."


"Baiklah."


"Sebaiknya kau mengajak Billy atau Louis untuk berjaga-jaga. Kita tidak tahu apakah musuh memasang perangkap disana ataupun tidak. Kau berhati-hatilah, ini kesempatan musuh karena kau yang datang kesana. Aku tahu kau bisa mengatasinya tapi kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku akan mengirimkan nomor tuan Dario kau bisa menghubunginya lebih lanjut."


Dave mematikan sambungan teleponnya dan setelah itu ada pesan masuk berisi nomor tuan Dario. Tuan muda hanya membacanya dan kembali menaruh ponselnya.


"Perhatikan langkahmu jangan mengambil jarak yang terlalu lebar!"


"Bagus, jangan terburu-buru!"


"Putar balik!"


"Jangan terlalu cepat!"


"Belajarlah menyeimbangkan kakimu!"


"Kau mendengarkanku atau tidak!"


"Jangan ragu melangkah!"


"Pelan-pelan saja!"


Itulah sederet kata perintah yang Alisya dengarkan. Walau lelah tapi ini demi dirinya sendiri. Lagi pula itu baik untuknya karena ada yang mengarahkannya. Tak lupa ia juga berdoa agar segera sembuh dari sakitnya.


.


.


.


"Selamat malam,"


"Malam, dengan siapa ini?"

__ADS_1


"Saya Lucas Deilson yang akan menggantikan Dave menemui Anda nanti."


"Suatu kehormatan bagi saya karena diperkenankan untuk bertemu dengan Anda, apakah tidak masalah jika kita bertemu di casino? itu adalah tempat umum. Saya khawatir jika itu akan mengundang masalah untuk Anda,"


"Tidak perlu dipermasalahkan jika itu sudah diputuskan untuk menjadi tempat pertemuan kali ini."


"Baik, saya akan segera menuju ke tempat itu."


Telepon diakhiri.


Tuan muda menikmati pemandangan kota dari balkon kamarnya. Ditemani rokok yang menjadi penghangat disela-sela angin malam yang dingin.


Setelah habis satu puntung rokok, tuan muda menuju kamarnya dan berganti pakaian. Style yang dipilihnya adalah celana dan kaos berwarna hitam dengan jaket jeans sebagai luarannya.



Tuan muda meninggalkan kamarnya tetapi sebelum itu ia melihat Alisya memastikannya tidur ataukah tidak.


Jangan mengira bahwa tuan muda hanya pergi dengan tangan kosong. Pisau lipatnya selalu ia bawa kemanapun sebagai pelindungnya. Walaupun tidak seganas pistol tapi juga mampu menghabisi nyawa musuhnya.


Tengah malam mengantarkannya menuju casino terbesar di kota. Motornya ia parkirkan di basement casino tersebut. Saat melangkah masuk, disambut gelak tawa dan erangan dari seseorang yang menang ataupun kalah dalam pertandingan. Banyak orang datang, kaya maupun tidak hanya sekedar bersenang-senang dengan kebahagiaan sesaat itu.



Tuan muda mengawasi sekitar untuk melihat apakah ada yang mencurigakan di dalam casino terbesar itu. Dengan berjalan penuh kemantapan tuan muda sampai pada tempat yang sudah tuan Dario pilihkan. Tempat VIP untuk mereka dalam hal membicarakan penjualan senjata.


"Selamat malam, tuan Dario." Tuan muda mengulurkan tangan untuk berjabat dengan tuan Dario.


"Malam tuan Lucas, silahkan duduk." sembari membalas uluran tangan tuan muda.


"Permisi," ujar pelayan yang membawakan dua gelas dan satu botol wine mahal. Juga dengan makanan berkelas yang disediakan di Casino tersebut. Setelah itu Tuan Dario menuangkan wine tersebut ke dalam gelas mereka.


"Baik, langsung ke intinya saja."


"Sepertinya Anda sangat sibuk, baik saya ingin senjata Beretta Imperiale Montecarlo Anda."


"Saya tidak menjualnya, itu koleksi pribadi saya."


"Tidak, saya tidak bisa."


"Bagaimana jika sepuluh kali lipatnya?"


"Saya tetap tidak bisa memberikannya pada Anda. Ada banyak senjata lain kenapa Anda memilihnya?" Tuan muda tidak ingin senjata koleksinya menjadi milik orang lain. Lagi pula itu berasal dari peninggalan musuh-musuhnya. Jadi filosofi senjata itu lebih unik dari yang lainnya. Walaupun harganya tidak seberapa tapi tidak sebanding dengan cerita dibaliknya.


"Itu karena keistimewaan senjata itu. Bahkan Anda memilihnya untuk dijadikan koleksi pribadi bukankah berarti itu ekslusif?"


Tuan muda tersenyum. "Ada banyak senjata yang lebih baik daripada itu kenapa Anda tidak memilih yang lain? Saya mengoleksinya karena saya membutuhkannya."


"Baiklah, saya mengalah karena tidak ingin merusak suasana yang tenang ini. Bagaimana dengan Rigby Chapuis Savana Double kaliber?"


"Berapa yang Anda inginkan?"


"Paling tidak tiga."


"Baik total uangnya 1,23 milyar. Kami akan mengirimkannya jika uangnya sudah diberikan nanti. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi saya akan pergi." Tuan muda bersiap untuk meninggalkan meja pertemuan mereka.


"Setidaknya kita harus merayakan hubungan pertama yang terjalin ini, bukankah begitu tuan Lucas?" Tuan Dario mengangkat gelasnya.


"Bersulang untuk kelancaran bisnis ini," mereka bersulang dan meminum wine itu. Tuan muda merasa ada yang aneh dengan rasa wine nya tetapi tuan Dario juga meminumnya di dalam satu botol yang sama. Ini artinya ada seseorang yang berusaha menjebak mereka.


"Ada apa tuan Lucas?" Tuan muda berdiri dan mengamati segala sisi casino tersebut dari lantai atas.


"Tidak apa-apa, saya hanya ingin menikmati permainan mereka." Tuan Dario menghampiri tuan muda yang berdiri disamping railing ruang VIP itu.


"Apakah Anda ingin bermain?" tawarnya.


"Tidak perlu, saya tidak bermain seperti itu." Tuan muda menolaknya dengan halus.


"Sepertinya Anda lebih suka bermain senjata." Tuan Dario meminum wine dari gelas yang dipegangnya.


"Anda kenal siapa saya bahkan kesenangan saya pun Anda mengetahuinya. Apakah saya begitu mencolok?" ujarnya memfokuskan diri pada apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Siapa yang tidak kenal Anda dalam dunia bawah? Hanya orang bodoh yang tidak mengenali Anda. Apalagi dari cerita yang saya dengar Anda begitu kejam dan tanpa ampun dalam hal menghabisi."


"Pujian yang menarik." Tuan muda menangkap pergerakan seseorang dan ingin segera pergi dari casino itu sebelum terjadi sesuatu.


"Tuan Dario!" sang asisten berteriak kala melihat tuannya tergeletak secara tiba-tiba.


Perangkap yang sudah direncanakan. Tanpa sadar tuan muda tersenyum smirk mengetahui bahwa rasa aneh wine itu berasal dari obat tidur. Rasa pusing sedikit demi sedikit menyeruak.


"Bawa tuan Dario pergi, keadaan mulai tidak kondusif." Tuan muda menahan agar obat tidur tersebut tidak langsung bereaksi.


"Sebaiknya tuan ikut bersama kami agar keamanan Anda terjamin. Jangan khawatir kami membawa banyak pengawal." Saran asisten tuan Dario karena keselamatan dua orang penting ini menjadi tanggung jawabnya.


"Tidak, cepat bawa tuan kalian pergi saya akan mengatasinya sendiri." Tuan muda tidak percaya dengan siapapun. Walaupun mereka rekan kerja tetapi tidak menutup kemungkinan akan menghancurkan dirinya.


Tuan Lucas begitu kuat, bahkan tuan Dario sudah tak sadarkan diri tapi dia masih berusaha berdiri sendiri.


"Hati-hati, tuan. Saya permisi." Pamitnya dan membawa atasannya pergi dari casino itu.


"Argh" Tuan muda terkena tembakan di bahunya. Ia pun langsung berlindung di balik kursi sofa. Jarinya bergerak menyentuh luka tersebut dan terlihat darah berlumuran di tangannya.


"Bangsat! Tanpa suara rupanya haha..."


Siapa lagi kali ini.


Obat tidur mulai menunjukkan reaksinya. Tuan muda mulai tidak sanggup menahannya karena efek obat tidur dan luka tembakan yang menyatu. Tuan muda kehilangan arah dan segera masuk kedalam penginapan casino itu.


Tangannya dengan sigap langsung menutupnya agar musuhnya tidak melihatnya. Ia tidak tahu siapa yang ada dalam penginapan itu karena melihat pintu terbuka ia pun langsung masuk tanpa tahu siapa orang yang menyewanya.


Aku tidak tahu kamar siapa ini. Jika pun itu musuhku mereka tidak akan langsung membunuhku. Sial, dosis obat tidurnya terlalu tinggi.


Pandangannya mulai kabur. Tuan muda bersandar pada dinding dan menekuk salah satu kakinya. Saat matanya akan terpejam ia melihat sedikit bayangan seorang wanita. Namun detik selanjutnya yang tersisa hanyalah kegelapan.


.


.


.


"Halo Louis, Kau bersama dengan Lucas?"


"Tidak, aku di rumah sakit sekarang, kenapa ada apa?"


"Aku akan meneleponmu lagi nanti."


"Semoga Lucas mengajak Billy," gumamnya gusar jika temannya itu datang sendiri tanpa membawa perlindungan.


"Halo, Dave. Kenapa meneleponku?"


"Apa Lucas mengajakmu ke casino?"


"Tidak, aku di markas. Lucas tidak bilang apapun."


"Bil, cepat cari Lucas di casino! Aku tidak bisa menghubunginya. Aku takut jika terjadi sesuatu dengannya! Aku tidak bisa membantumu karena aku sedang diluar kota. Ajaklah Louis atau William bersamamu."


"Aku akan kesana dengan Louis."


Setelah itu Billy dan Louis menuju casino tersebut. Terlihat keadaan casino seperti biasanya. Tak ada keanehan dan nampak baik-baik saja.


"Bagaimana?" melirik Louis disampingnya.


"Kita harus cek cctv-nya."


"Kita tidak boleh sembarangan disini. Ini bukan wilayah kita. Ruang cctv tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang."


"Lalu?"


"Kita harus melawan dan sebisa mungkin membuat penjaganya pingsan."


"Baiklah," Louis melemaskan otot-otot ditubuhnya bersiap melawan satu persatu penghambat tujuannya.


...__________Batas Akhir__________...

__ADS_1


__ADS_2