Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 51 Awal yang Baru


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Lembaran lama tersingkap dan bertukar menjadi halaman baru. Seperti halnya kehidupan yang akan selalu berubah karena terkikis oleh waktu. Selesai sudah waktu yang ditunggu lama oleh Alisya. Satu bulan yang sulit telah terlewati dan hasilnya kini ia dapatkan.


Dulu rasa putus asa menikam semangatnya. Kesakitan juga kesedihan menjerat tubuhnya. Namun sekarang semua berganti dengan kebahagiaan. Dunia dimana tak sanggup bertumpu pada kedua kakinya telah ia lalui dengan banyak cara.


Awal baru hidup normalnya akan segera datang. Hari ini ia akan meninggalkan kehidupan yang dulunya sulit untuk dilaluinya. Sudah lama ia ingin kembali ke rumah aslinya. Dimana tidak ada gangguan dan tidak akan bertemu dengan tuan muda lagi.


"Back to home!" gumamnya dengan semangat yang besar. Senyumnya melebar karena ia akan bertemu dengan sahabatnya juga kembali bekerja di restoran. Tunggu! Apa ia masih dianggap karyawan? Satu bulan lebih menghilang tanpa kabar dan pastinya sudah ada karyawan yang menggantikannya kan?


Jika sudah dipecat pun ya sudah aku akan mencari pekerjaan yang lain.


Alisya memasak dengan gembira. Ini terakhir kalinya ia melihat apartemen yang selama ini ia tinggali. Banyak kilas kejadian yang teringat kembali namun saatnya ingatan tersebut dilupakan.


"Sudah selesai," ujarnya sembari merapikan piring diatas meja.


"Kau sepagi ini mempersiapkan semuanya sendiri?" Alisya menoleh ke asal suara yang baru saja datang.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu tuan." Tuan muda mengangkat sebelah alisya. Hal apa yang ingin dibicarakannya secara tiba-tiba? Lalu semua makanan ini apakah ada pesta?


"Sebaiknya katakan setelah selesai makan," Alisya mengangguk setuju.


Saat makan Alisya memikirkan bagaimana awal pembicaraan yang tepat. Otaknya berseliweran kata-kata yang akan ia ucapkan nanti.


Tuan aku ingin pulang!


Alisya menggeleng dengan cepat sepertinya itu tidak cocok.


Tuan kakiku sudah sembuh dan tidak sakit lagi jadi aku berpikir untuk pulang hari ini.


"Terlalu banyak kata-kata. Seharusnya yang simple dan langsung pada intinya!" Monolognya dalam hati. Bingung bagaimana ia akan bicara nantinya.


Klontang


Sendok Alisya jatuh ke piring. Tuan muda mengalihkan pandangannya pada Alisya. Sedari tadi ia melihatnya bersikap aneh. Menggeleng, memejamkan mata, mendongak tidak seperti biasanya. Apakah hal yang akan dikatakan begitu penting sampai-sampai ia tidak konsentrasi saat makan?


"M-maaf tuan aku tidak sengaja menjatuhkannya." Alisya menatap kedua mata berwarna coklat itu. Memohon maaf karena telah mengganggu tuan muda.


Apa yang sebenarnya kau pikirkan?


Setelah selesai makan, Alisya bangkit dari tempat duduknya untuk membereskan meja makan namun dihentikan oleh tuan muda.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya tuan muda seraya menatap lekat Alisya.


"Itu...janji dulu, tidak-tidak maksudku-" Alisya bingung tiba-tiba lidahnya tidak bisa diajak kompromi.


"Katakan dengan jelas aku tidak mengerti." Tuan muda memiringkan kepala menunggu Alisya menjelaskan keinginannya.


"Aku...Aku ingin tuan memenuhi janji itu." Alisya menunduk sembari memainkan jemari tangannya.


"Janji?" Tuan muda masih tidak mengerti janji apa yang dimaksud olehnya? Dia sendiri pun tidak ingat jika pernah berjanji dengan Alisya.


"Aku ingin pulang!" ujarnya dengan penuh penekanan.


Jadi hal itu yang terus mengganggumu saat makan?


"Aku ingin kembali ke rumahku. Jika tuan mengizinkan." Tambahnya dengan suara yang lirih.


Kau sebegitunya ingin segera pergi?


"Aku tidak mengingkari janji. Jika itu maumu maka aku tidak akan melarangnya. Kau ingin pergi kapan?" Tuan muda bangkit untuk membersihkan piring-piring dan dibantu oleh Alisya.

__ADS_1


"Sekarang," dalam hati kecilnya ia sangat bahagia namun kenapa perasaannya menjadi aneh? Seharusnya senang tapi ada apa dengan hatinya kenapa mendadak rasa tidak enak muncul?


"Hm, setelah ini aku akan mengantarmu." Tuan muda sedikit melirik ke arah Alisya.


Kenapa dia tiba-tiba bersikap dingin. Tatapannya juga berubah.


"Terimakasih selama ini tuan sudah merawatku dengan baik." Alisya melemparkan senyumnya. Walaupun tuan muda tidak bereaksi apa-apa tapi Alisya hanya ingin mengucapkan terimakasih dengan tulus.


Bagaimanapun masa kelam itu sudah terlewati. Alisya tidak akan melupakan usaha dari tuan muda saat menyelematkan nyawanya karena tertembak. Juga saat ia terkapar di kamar mandi waktu itu. Jika di ingat-ingat ia merasa malu telah melakukannya.


"Kau tidak akan beres-beres?" tanya tuan muda saat Alisya hanya diam saja ditempat.


"Aku tidak membawa apapun jadi untuk apa aku beres-beres jika itu bukan milikku?" Tuan muda menyibak rambutnya kebelakang. Menarik napas dalam-dalam dan melihat Alisya yang menurutnya sedikit bodoh. Lalu untuk apa ia membelikan semua itu jika bukan untuknya?


"Jika kau tidak membawanya apa fungsinya untukku?" Alisya merasa terpojok dengan tatapan itu. Ia merasa takut saat ditatap oleh kedua mata pria didepannya.


"Bereskan!" tambahnya. Alisya menatap ubin lantai untuk menghindari siluet tajam yang terlalu mengintimidasi itu.


Apakah ada masalah? Tadi sebelum makan dia baik-baik saja kan?


"B-baik," Alisya langsung melenggang pergi dan mengemas pakaiannya karena tidak mau mencari masalah dengan tuan muda. Saat di kamar Alisya langsung menuju ruangan khusus untuk menyimpan pakaian. Kemudian memasukkan baju kedalam tas.


"Sudah?" Alisya mengangguk dan mereka pergi bersama dengan menggunakan mobil.


Tuan tahu rumahku atau tidak? Kenapa tidak tanya sama sekali?


Alisya terkejut saat pria disampingnya itu tahu dimana rumahnya. Sejauh ini ia tidak pernah memberitahukan dimana rumahnya lalu bagaimana bisa?


Sebenarnya sudah sejak dulu tuan muda mengetahuinya. Dimana Alisya terikat dengan kematian ayahnya beberapa waktu yang lalu dan menyuruh Dave memberikan data tentang Alisya.


"Terimakasih tuan," Alisya menunduk sekilas dan tuan muda berlalu pergi dari halaman rumahnya.


"Akhirnya!" Alisya bersorak dengan senang. Tuan muda mengamatinya dari spion mobil. Lalu menggeleng melihat tingkah Alisya yang begitu bahagia saat lolos dari genggamannya.


Alisya merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Sungguh nyaman sekali! Sudah lama ia tidak merasakan kenyamanan ini. Alisya membuka handphonenya dan ingin menghubungi Mira.


"Tunggu! Jika aku menghubunginya sekarang apa yang harus ku jelaskan?" Alisya menggigit kuku jarinya.


"Aku sudah menghilang lama dan tidak ada kabar sama sekali lalu apa alasan yang cocok untuk itu? Entah apapun itu aku akan memikirkannya nanti yang terpenting mengabari Mira bahwa aku sudah kembali." Alisya mengirimkan pesan pada Mira. Sembari menunggu balasan, Alisya memasukkan bajunya dalam lemari.


Lembaran apa itu?


Alisya mengambilnya dan membelalakkan mata. Kenapa terulang lagi padahal ia sudah merobek dan membuang cek itu. Apa dia tahu aku membuangnya lalu memberikannya lagi padaku?


Alisya mengambil handphone yang tergeletak di tempat tidur. Mencari nomor tuan muda dan meneleponnya. Namun hasilnya tak seperti yang ia harapkan. Panggilannya ditolak olehnya. Alisya tak tinggal diam dan kembali mengirimkan pesan untuknya.


A : [Apa ini tuan 📷 ?]


Sudah beberapa menit pesan itu terkirim namun tidak ada tanda-tanda balasan dari tuan muda.


Drttt


Alisya langsung menyambar handphonenya dan membuka isi pesannya.


L : [Cek]


A : [Untuk apa?]


L : [JANGAN DIBUANG!]


A : [Aku sudah bilang tidak mau menerimanya]

__ADS_1


L : [Aku tidak peduli]


A : [Tuan ambil kembali cek ini]


A : [Aku tidak membutuhkannya]


A : [TUAN!]


Tuan muda tersenyum miring melihat layar handphonenya. Ia suka reaksi Alisya yang sepertinya kesal terhadapnya. Berbanding terbalik dengan Alisya yang tengah geram dengan tingkah tuan muda.


"Dia tidak menjawabnya?"


"Apa pedulinya? Dia adalah orang kaya yang bebas melakukan apapun sesuka hatinya."


"Sebaiknya aku simpan saja jika suatu saat dibutuhkan." Alisya mengangkat bahunya acuh tak acuh dengan hal itu.


Brakkk


Alisya terkesiap mendengar pintu yang dibuka paksa. Ia pun segera berlari keluar. Alisya mundur perlahan ketika yang datang adalah Mira tapi bukan dengan wajah khawatir ataupun senang melainkan tatapan nyalang dengan tangan yang mengepal erat.


Mira langsung berhamburan memeluk Alisya. Hampir saja hilang keseimbangan jika Alisya tidak bertumpu pada meja. Tangisan kecil mulai terdengar di kedua telinga Alisya.


"Darimana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali! Kamu sudah melupakanku ya? Kamu tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi? Apa sikapku ada yang menyakiti hatimu? Kamu baik-baik saja kan?" ujarnya sembari melihat tubuh Alisya dari atas hingga bawah.


"Stttt, seperti yang kamu lihat aku tidak apa-apa. Jangan khawatir aku hanya menghilang sebentar kan?" Alisya mengusap air mata Mira.


"Sebentar apanya! Kamu sudah hilang sejak lama lebih dari satu bulan. Kami mencarimu kemana-mana tapi tidak ada jejak sama sekali. Kamu juga tidak bisa dihubungi! Saat itu aku merasa aku adalah sahabat paling buruk yang bahkan tidak tahu alasanmu pergi secara tiba-tiba!" omelnya panjang sampai sedikit sesak.


"Nanti aku akan ceritakan. Tadi kamu bilang kami memangnya siapa yang ikut mencariku bersamamu?" Alisya mengerutkan keningnya.


"I-itu Pak Doni. Aku dulu bingung harus meminta tolong pada siapa jadi aku menghubunginya. Secara kan dia sedikit dekat denganmu jadi kupikir meminta tolong padanya bukanlah hal buruk." Mira menggenggam tangan Alisya.


"Dia adalah pemilik restoran bagaimana bisa kamu meminta tolong padanya?" Mira menunduk sekilas.


"Biarkan saja yang penting sekarang kamu kan sudah kembali. Jadi sekarang ceritakan apa yang terjadi selama kamu menghilang!" ujarnya dengan manja.


"Aku buatkan minuman dulu ya?" Alisya berbalik ingin menuju dapur namun tangannya ditarik oleh Mira dan dipaksa duduk di ruang tamu.


"Sekarang ceritakan dulu saja!" Mira memasang telinga untuk mendengarkan cerita Alisya.


"Jadi dulu aku tertembak ketika ingin menyelamatkan seseorang-"


"Apa? Kapan? Dimana?" Mira mencari-cari bekas luka tembak di tubuh Alisya.


"Mira dengarkan dulu-"


"Dimana lukanya coba ku lihat!" Alisya menghela napas dan menunjukkan bahunya.


"Pasti sakit kan? Maafkan aku tidak bisa menjagamu. Aku tidak pantas disebut temanmu hiks hiks," Alisya memeluk Mira. Menenangkannya dengan menepuk punggungnya.


"Ini bukan salah siapa-siapa. Tapi memang sudah menjadi garis takdir bukan? Siapa yang bisa mencegah suatu musibah?"


"Kenapa tidak menghubungiku?" tanya Mira sembari menangis tersedu-sedu.


"Handphone ku terjatuh dan rusak jadi tidak bisa menghubungimu. Tapi jangan khawatir ada seseorang yang menyelamatkanku hingga sembuh seperti sekarang." Alisya tersenyum seakan memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.


Maaf Mira aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir padaku.


"Kumohon jangan pergi lagi! Jika ada masalah katakan padaku dan ceritakan saja aku siap mendengarnya."


"Aku tidak akan pergi tanpa alasan lagi aku janji!" Mereka berdua berpelukan bersama. Melepas kerinduan satu sama lain. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Hari ini mereka akan melakukan banyak hal bersama-sama.

__ADS_1


...××××× TMYK ×××××...


__ADS_2