Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 52 Gejolak Aneh


__ADS_3

Di ruang kerja


"Luc, ini dokumen yang butuh persetujuanmu. Kuharap semua sudah benar dan tidak perlu revisi." William menaruh beberapa dokumen di meja tuan muda.


"Aku akan memeriksanya nanti." Tuan muda mengambil satu dokumen dan melihatnya lembar demi lembar. Sekilas tidak ada yang keliru namun entah dengan perhitungannya akan ia amati nanti.


"Luc, aku sudah mengakuisisi perusahaan ayahku." William membuka pembicaraan.


"Itu bagus seharusnya memang kau yang harus memilikinya." Tuan muda melirik William sebentar dan kembali fokus pada dokumennya.


"Tapi yang memegang kendali masih adik angkatku walaupun saham sudah menjadi milikku seutuhnya aku tetap tidak bisa membiarkannya kesusahan." William sebenarnya masih punya rasa empati karena tahu jika watak adik angkatnya tidak seperti istri baru dari ayahnya.


"Lagipula itu perusahaan biasa tidak sebanding dengan perusahaanmu. Jadi tidak masalah menyerahkan tanggungjawab direktur padanya," tambahnya dengan nada santai.


"Itu terserah padamu aku tidak akan ikut campur." Membolak-balik halaman dokumen dan melingkari bagian yang salah.


"Dimana dia?" William mengedarkan pandangan kepenjuru arah.


"Siapa?" Tuan muda balik bertanya.


"Wanita itu A-Alisya?" Jawabnya setengah ingat setengah lupa.


"Kenapa kau mencarinya?" Tuan muda menghentikan aktivitasnya dalam memeriksa dokumen.


"Aku tidak melihatnya disini bukankah kau yang mengurusnya?" William masih bertanya lebih banyak lagi karena ia agak tertarik dengannya. Bukan pasal mencintai namun hanya sekedar penasaran.


"Dia sudah pergi," jawab tuan muda singkat.


"APA? KENAPA?" William seakan tak terima. Padahal ia berniat untuk menjalin pertemanan dengan wanita yang selama ini sahabatnya rawat.


"Kau berharap apa?" Tuan muda menatap tajam William.


"Tidak aku hanya tanya. Apa dia sudah sembuh? Ku dengar dia lumpuh kan?" Tak habis-habisnya William bertanya.


"Hm, dia sudah membaik dan pulang ke rumahnya." Sangat disayangkan William tidak bisa bertemu dengan Alisya. Ia ingin sekali berbagi cerita namun sepertinya terlambat. Walaupun jika dipikir jadwal pekerjaannya memang terlalu padat.


"Ya sudah aku akan kembali ke perusahaan." William berlalu pergi meninggalkan ruang kerja tuan muda.


Padahal aku ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi disini. Aku terlambat menjadi temannya. Sepertinya dia asik jika diajak membicarakan Lucas.


William membuang napas berat. Dia juga ingin punya sahabat wanita. Apalagi Alisya dirawat lama oleh tuan muda siapa yang tahu apa yang terjadi selama itu. Ia hanya penasaran bagaimana sifat Alisya sampai-sampai sahabatnya sendiri yang merawatnya.


Tuan muda mengecek berkas-berkas. Beberapa ada yang harus mengulang kembali karena tidak sesuai. Namun ada juga yang sudah disetujui dan ditandatangani.


Di tengah-tengah fokusnya dalam menangani dokumen, tuan muda merasa haus dan menuju dapur untuk membuat kopi. Biasanya Alisya yang membuatkan untuknya. Tapi sekarang dia sudah kembali ke kehidupannya yang semula.


Di dapur, tuan muda melihat sisa makanan yang tadi pagi mereka makan. Tiba-tiba perutnya merasa lapar saat melihatnya. Tuan muda mengurungkan niatnya membuat kopi dan mengambil makanan itu. Kemudian menghangatkannya kembali.


Aroma masakan masih tetap sedap untuk dihirup. Makanannya memang bukan seenak restoran dengan rating tertinggi tapi itu membuatnya seakan ingin menikmatinya lagi dan lagi.


Makanan tersebut dituangkan kembali dalam piring dan menyantapnya di meja makan. Kali ini mungkin terakhir kalinya ia bisa menikmati makanan Alisya. Tapi tidak tahu kedepannya akan berakhir seperti apa.


.


.

__ADS_1


.


Malam ini Alisya dan Mira makan malam bersama. Tetapi Alisya tidak diperbolehkan untuk ikut memasak. Semua Mira yang mengurusnya karena malam ini adalah pesta untuk perayaan Alisya yang telah kembali.


"Mir, tidak butuh bantuanku?" Alisya bingung harus apa karena ia tidak melakukan apapun dan hanya duduk memantau Mira yang sibuk dengan peralatan masaknya.


"Jangan khawatir ini sudah hampir selesai. Kamu tenang saja disitu aku akan cepat menyelesaikannya." Mira mengerlingkan mata sebagai simbol bahwa ia tidak kesulitan sama sekali.


Alisya melihat kedua kakinya dan teringat dulu saat ia berjalan dengan tertatih-tatih. Dituntun dan diarahkan dengan baik. Seseorang yang begitu ia benci dulu memberikan dorongan positif untuknya. Mungkin tanpanya ia akan terus berada dalam lingkaran putus asa.


Mira membawa piring dan meletakkannya di meja. Tapi Mira fokus pada Alisya yang melamun. Akhirnya ia mendekatkan wajahnya di depan Alisya. Tapi sepertinya Alisya terlalu larut dalam dunianya sampai tidak sadar bahwa Mira melihatnya tepat dihadapannya.


Kenapa dengannya apa yang dia pikirkan?


"Sya!" Alisya terhenyak karena Mira memanggilnya dengan suara keras.


"Ada apa sih? Ngelamunin apa?" Alisya memegang tengkuknya dan tersenyum setelahnya.


Kenapa aku memikirkan sesuatu yang seharusnya tak kupikirkan?


"Tidak apa-apa. Sepertinya semua terlihat enak." Mata Alisya berbinar senang karena makanan di depannya terlihat menggugah selera.


"Ayo makan!" Mereka mengambil satu persatu lauk yang tersedia.


"Sebentar, ada yang kurang aku ambilkan dulu." Mira membawa makanan yang tertinggal.


"Taraaa makanan kesukaanmu UDANG!" Ketika makanan datang, Alisya langsung menutup hidung dan mulutnya. Perutnya terasa bergejolak saat mencium aromanya. Kepalanya juga tiba-tiba merasa pening.


"Mir, tolong jauhkan itu aku merasa mual." Mira bingung karena udang adalah kesukaan Alisya. Sejauh ini Alisya selalu antusias saat melihat udang lalu ini apa? Apakah dalam sebulan kesukaannya berubah?


"Sudah tidak apa-apa? Maaf ya aku tidak tahu jika seleramu berubah." Alisya sendiri tidak mengerti kenapa ia seperti ini. Kenapa kesukaannya sekarang menjadi sesuatu yang tidak disenanginya.


"Tidak mengapa, aku yang seharusnya minta maaf karena tidak menghargai usahamu memasak udang." Sahut Alisya dengan wajah lesu.


"Kalau tidak suka memangnya kenapa? Aku tidak mau kamu sakit sudahlah jangan pikirkan itu ini hari yang bahagia!" Mira tersenyum menampakkan giginya yang berjejer rapi.


"Hari ini kamu tidak masuk kerja?" Tanya Alisya disela-sela makan.


"Aku alasan lagipula hanya satu hari saja." Alisya menepuk keningnya sendiri karena jawaban Mira terlalu santai.


"Bagaimana dengan restoran?" Alisya menginterogasi Mira karena ingin tahu keadaan restoran selama ia tidak berada disana.


"Sedikit kurang baik sejak ada pegawai baru rasanya aku ingin resign." Wajah Mira berubah masam ketika membahas teman satu restoran.


"Memangnya kenapa dengannya?" Mengerutkan kening.


"Dia itu menyebalkan sok dekat dengan pak Doni dan sering membuat masalah." Mira menggenggam sendok dengan erat seakan mengekspresikan kekesalannya.


"Apa kau ingin kembali bekerja?" tanya Mira kembali.


"Tergantung apakah aku masih dianggap karyawan disana atau tidak. Tapi sepertinya tidak, jadi kemungkinan aku akan mencari pekerjaan yang lain," ujarnya sembari mengunyah makanan.


"Kamu bahkan selalu ditanyakan. Pak Doni itu setiap hari bertanya apakah kamu sudah pulang, bagaimana kabarmu dan lain-lain. Dia sepertinya khawatir denganmu. Apa jangan-jangan dia mencintaimu?" Alisya tercengang dengan penuturan Mira. Mencintai? Sepertinya kata itu terlalu jauh dari fakta.


"Jangan aneh-aneh. Itu tidak mungkin!" Alisya memutar bola mata malas menanggapi lelucon Mira.

__ADS_1


"Kamu tahu kan penglihatanku tidak mungkin salah." Mira tidak mau kalah karena baginya memang benar adanya.


"Cukup Mira kamu ini selalu saja seperti itu." Menggeleng karena sudah lelah dengan ulah Mira.


"Bagaimana kalau besok menemui pak Doni? Sekalian tanya apakah masih bisa memulai kerja. Tapi perasaanku sih pasti kamu masih dikontrak. Percaya padaku!" Menopang dagu dengan bangganya.


"Jangan terlalu percaya diri." Alisya menyilangkan tangannya.


"Iya-iya, Sya. Malam ini aku tidur disini ya!" Mira mengedipkan mata untuk membujuk Alisya.


"Rumahku masih kotor sudah lama tidak kubersihkan. Nanti aku bersihkan dulu." Sebenarnya Alisya bukan tidak ingin Mira tidur dirumahnya tapi kan rumahnya masih berantakan jadi tidak enak jika ingin bermalam bersama.


"Aku akan membantumu." Mira bersemangat sebab ia akan tidur bersama dengan Alisya.


"Aku pasti banyak merepotkanmu." Alisya mengerucutkan bibir.


"Apa sih tidak merepotkan, aku justru senang bisa bersama denganmu lagi!" Mira membantah spekulasi Alisya.


Setelah membersihkan rumah, mereka merebahkan tubuhnya di kasur yang sama. Menghela napas bersama-sama kemudian saling bertatap satu sama lain. Mereka tersenyum dan tertawa walaupun tidak ada hal yang lucu.


"Ayo kita tidur!" Alisya memejamkan mata lebih dulu. Lalu Mira menyusul menjelajahi mimpi.


Di tengah malam...


"TIDAK! JANGAN MEMUKULINYA! DIA KESAKITAN!" Alisya mengigau. Kepalanya bergerak kekanan dan kekiri seakan dalam kondisi tak tenang.


"JANGAN!" Alisya terbangun dari tidurnya. Keringat membasahi keningnya. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya memburu.


"Sya, kamu tidak apa-apa?" Alisya mengangguk mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Kamu mimpi buruk lagi?" Alisya meneteskan air matanya dan memeluk Mira. Tangisannya meluap kala mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Aku tetap tidak bisa melupakannya hiks hiks. Aku takut-" Tubuh Alisya bergetar hebat. Setiap kali mimpi itu datang ia akan bereaksi seperti ini.


"Sya, sudah jangan diceritakan. Tenangkan dirimu dulu." Mira memeluk erat Alisya. Ia tahu jika Alisya mempunyai mimpi buruk dan trauma dimasa lalunya.


"Aku ambilkan minum ya?" Tawar Mira agar Alisya bisa sedikit lebih tenang ketika minum air.


"Tidak, jangan pergi kemanapun." Alisya menolaknya karena hatinya masih belum tenang. Mira mengelus punggung Alisya memberinya kenyamanan agar rasa khawatirnya mereda.


"Aku merasa bersalah padanya. Aku tidak tahu dia masih hidup atau sudah tiada."


"Sya, jangan terlalu terjerumus dalam rasa bersalahmu. Kamu tidak bersalah. Doakan saja dia masih hidup agar bisa membalas budi baiknya. Jika pun sudah tiada dia pasti hidup bahagia disana ataupun reinkarnasi menjadi manusia yang lainnya." Mira menyentuh kedua pipi Alisya.


"Tapi gara-gara aku dia dalam masalah besar. Dia menyelamatkanku dan mengorbankan nyawanya bagaimana bisa aku-"


"Sya, kejadian itu sudah lama lebih baik pikirkan dirimu sendiri. Jika kamu hidup dengan baik dia tidak akan merasa sia-sia telah menolongmu. Jadi lebih baik tenangkan dirimu dan berpikir bahwa hidupmu berharga. Jika terus memikirkannya itu akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak memaksa dirimu untuk melupakan permasalahan itu tapi kuharap kamu bisa perlahan mengalihkannya. Pikirkan saja hal yang membuatmu bahagia atau lakukan kegiatan yang membuatmu senang sehingga tidak perlu memikirkan hal itu lagi."


"Terimakasih Mir, kamu sudah mengerti posisiku. Terimakasih juga kamu selalu ada disaat aku dalam masalah. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu." Alisya mengusap sisa air matanya.


"Kenapa juga berterimakasih lagian aku hanya memberikan saranku. Tunggu aku akan mengambilkan segelas air!" Mira pergi ke dapur dan membawakan satu gelas air.


"Minumlah agar kamu merasa rileks. Setelah itu tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan." Alisya meminumnya kemudian Mira mengambil gelasnya dari tangan Alisya.


"Okay lebih baik tidur sekarang karena sudah larut malam." Mengangguk karena memang mata mereka sudah memerah menahan kantuk.

__ADS_1


...××××× Batas Akhir ×××××...


__ADS_2