Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 31 Kesadaran Tuan Muda


__ADS_3

Setelah beberapa jam tertidur dengan bantal beralaskan tangannya, mata Alisya yang terpejam kini terbuka dan memandang sebuah ruangan bernuansa hijau mint yang menyejukkan mata. Sebuah kamar dimana selama ini ia tempati saat menjadi tawanan seorang tuan muda yang begitu kejam padanya.


Alisya kembali memejamkan netranya dikala teringat sekilas bayang-bayang kejadian semalam antara dirinya dan tuan muda. Ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa bak seorang wanita ****** yang memberikan tubuhnya kepada seorang pria yang tidak ada hubungan dengannya.


Kenapa semua ini terjadi padaku. Dosa apa yang telah kuperbuat pada kehidupan sebelumnya hingga takdirku begitu menyakitkan untukku.


Dalam kondisi tangan yang masih terikat, Alisya mencoba duduk sesaat karena merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Kemudian ia pun melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangannya dengan menggunakan giginya. Saat terlepas nampak bekas kemerahan melingkar di pergelangan tangannya.


Alisya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan tak sengaja ia tertuju pada wajah sosok laki-laki rupawan yang tertidur lelap disampingnya. Namun siapa sangka dibalik wajah rupawan yang terlihat tenang saat menutup matanya itu menyembunyikan kekejaman yang tak terlihat di mata sembarang orang.


Aku membencimu tuan!


Alisya beranjak dari tempat tidur dan saat baru satu kali Alisya melangkah, ia justru malah jatuh tersungkur ke lantai. "Ahhh" keluh Alisya saat bagian intimnya terasa perih. Dengan berjalan tertatih-tatih, ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya.


Kemudian Alisya pergi ke kamar mandi dan berdiri di depan cermin sembari menatap pantulan wajahnya. Sekilas terlihat matanya yang sedikit membengkak akibat menangis semalaman serta bagian leher yang terlihat jejak kissmark yang tuan muda berikan kemarin malam.


Alisya membenci bekas kemerahan itu. Ia pun mengusap kasar kissmark yang melekat dilehernya berharap bisa sedikit memudar, namun hal itu tidak berdampak apapun.


.


.


.


.


.


.


Tuan muda terbangun dengan kepala yang masih pusing karena efek alkohol yang ia tenggak kemarin. Memijat pelan pangkal hidungnya demi mengurangi rasa pening di kepalanya. Tuan muda beranjak dari tempat tidurnya, namun ia bingung apa yang terjadi tadi malam hingga membuatnya telanjang seperti ini.


Tuan muda memakai pakaiannya dan memikirkan apa yang terjadi semalam. Seingatnya ia terlalu banyak minum dan tidak ingat apapun setelah itu. Tubuhnya terasa gerah seakan gairah seksualnya meningkat setelah meminum alkohol kemarin.


Siapa yang memberiku obat perangsang?


"Akhhh " kepala tuan muda seakan terasa pecah sekarang akibat dipaksa untuk berpikir. Tuan muda menggelengkan kepalanya saat rasa pusing yang melanda tak juga mereda. Sebentar, netranya menatap tajam seisi ruangan. Ini bukanlah kamarnya.


Kamar ini?


Tuan muda tersadar sesaat mengetahui bahwa ini adalah kamar yang ditempati oleh Alisya.


Apa aku berhubungan dengannya semalam?


Batin tuan muda ketika teringat kondisi saat dirinya bangun tanpa sehelai benangpun. Tuan muda tidak ingat kejadian tadi malam. Tatapannya menelisik ke arah ranjang tepat di sebelah tempatnya berdiri. Pikirannya berkelana.


Jika iya apakah dia masih virgin?


Tuan muda tersenyum meremehkan cenderung meragukan kesucian Alisya. Tangannya menyibak selimut untuk memeriksa sesuatu yang ingin dia pastikan.


Namun bercak noda darah merah di atas sprai putihnya sudah membuktikan bahwa ia dan Alisya 'melakukannya' dan kebenaran itu membuatnya mengeraskan rahangnya.


Jadi dia masih virgin?


Tuan muda mengacak-acak rambutnya. "Oh ****" sebuah umpatan kini keluar dari mulutnya. Tuan muda memegangi kepalanya yang terasa lebih pusing dari sebelumnya.


Mengapa dia tidak bisa membiarkanku hidup tenang?


Ahhh aku muak dengan gadis itu, selalu saja menambah masalah baru di kehidupanku.


Tangan tuan muda mengepal hingga terlihat otot-otot ditangannya.


"Ck, semua ini gara-gara obat sialan itu!"


Tuan muda menghela napas dan membuangnya secara perlahan. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


.


.


.


Di kamar mandi...


"Tuhan, apa yang akan aku terima setelah ini?" Alisya membenturkan kepalanya ke cermin.


"Apa hanya penyiksaan dan kekejaman yang selalu aku dapatkan?"


"Apakah aku tak pantas untuk bahagia dan tertawa?" Alisya tersenyum miris.


"Kenapa takdir begitu mempermainkanku seperti ini?"


"Aku lelah dengan semua ini, tak ada yang bisa aku pertahankan lagi." Alisya memukul dadanya saat rasa sesak membuatnya kesulitan bernapas.


Alisya tersenyum menatap cermin. "Aku...terlihat begitu menyedihkan." Air mata mengalir membasahi pipinya.


"Tuhan, aku harus apa? apa aku harus bersabar lagi? apa semua manusia punya batas kesabaran yang tinggi?" ujar Alisya pelan sembari menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Aku berharap setelah ini hidupku akan tenang." Alisya menengadahkan kepalanya seakan sedang berbicara dengan sang penciptanya.


Sekejap Alisya memejamkan netranya untuk menenangkan hati dan pikiran yang saling beradu satu sama lain. Ketika hatinya menyuruhnya untuk mengikhlaskan dan menerima segala cobaan yang ditimpanya sebaliknya pikirannya yang kalut sangat membenci takdir hidupannya dan ingin mengakhirinya sekarang juga.


Alisya menyalakan shower dan guyuran air membasahi tubuhnya. Menyapu tubuhnya dari bekas keringat yang menempel dikulitnya.


Tak kuat menyangga tubuhnya, Alisya terduduk bersandar di dinding dengan kedua kaki yang ditekuk dan tangan yang memeluk erat kedua kakinya. Tatapannya terlihat kosong seolah tak ada secercah semangat hidup dalam kedua manik matanya. Hanya ada kesedihan yang terasa ketika melihatnya.


Setelah beberapa saat, tatapan matanya beralih ke arah telapak tangan kirinya. Terdapat sebuah silet tajam yang Alisya temukan di dekat cermin. Alisya yang bimbang bingung saat pikirannya dan hatinya tidak berada di jalan yang sama.


Pikirannya mencoba memengaruhinya agar mengakhiri semuanya sekarang juga. Tetapi hatinya seakan berkata untuk tidak terpengaruh oleh jalan pikirannya. Tangan Alisya mulai gemetar saat pikirannya menguasai dirinya.


Tangan Alisya tanpa sengaja menggenggam silet tajam saat teringat kejadian yang ia lewati selama ini. Apalagi kejadian tadi malam yang semakin menambah rasa kebenciannya.


Tak disadari olehnya darah menetes dari telapak tangannya. Warna air yang semula bening sekarang berubah menjadi merah darah akibat bercampur dengan darah Alisya yang terus bercucuran.


Semakin lama genggaman tangan Alisya semakin merenggang. Pandangannya mulai kabur dan rasa sakit kian terasa di tangannya. Kepalanya seakan berputar dan terasa berat. Tubuhnya terkulai lemas karena darah yang terus bercucuran.


Tak berselang lama Alisya pingsan di atas lantai kamar mandi yang dingin dengan ditemani gemricik air yang mengguyur tubuh lemahnya.


.


.


.


Tuan muda yang sudah membersihkan tubuhnya menuju ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Dengan mengenakan pakaian santai, tuan muda seakan terlihat sederhana namun tak sedikitpun mengurangi ketampanannya.


Namun saat sampai di meja makan, ia justru malah bertemu dengan Dave yang sudah duduk tenang menatap satu persatu hidangan sarapan paginya.


Dave merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Tepat, perasaannya tak pernah salah. Lucas sahabatnya lah yang menatap dirinya. Kemudian senyum terbit di wajahnya tatkala sahabatnya menatapnya datar.


"Luc, apa kau tidak ingin sarapan?" tanya Dave ambisius karena sedari semalam perutnya kosong tak terisi makanan.


"Aku tak berselera makan ketika melihatmu." Tuan muda berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya.


"Ayolah sarapan bersama!" ajak Dave dengan senyuman yang tak luntur diwajahnya.


"Ck, kau makan sendiri saja." Tuan muda meletakkan sebelah tangannya di atas kepalanya seraya memejamkan netranya.


"Kau pasti laparkan?"


"Tidak," jawab tuan muda singkat.

__ADS_1


"Baiklah aku juga tidak akan makan." Dave pasrah ketika mendapat penolakan dari tuan muda.


Sudahlah percuma, tidak ya tidak. Walaupun sebenarnya aku lapar.


Dave mengambil satu buah apel. Menghampiri sahabatnya dan duduk di sofa sebelahnya. "Kemarin kata William kau mabuk sampai tepar" tanya Dave sambil memakan buah apel ditangannya.


"Hm"


"Apa kau mabuk gara-gara masalah kemarin?" tanya Dave dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Hm"


"Kau tidak ada perasaan lagi kepadanya kan?" tanya Dave menatap jeli pria di sebelahnya.


"Hm"


Apa tidak ada jawaban yang lain selain kata hm?


"Luc!" Panggil Dave sambil mengunyah buah apel.


"Diamlah!" Sarkas tuan muda membuat Dave menutup mulutnya rapat-rapat. Tak ingin bicara sepatah kata lagi dan memakan apel segar di tangannya hingga habis.


Dave membuka hp nya untuk melihat beberapa pesan masuk. Jarinya berhenti men-scroll saat melihat pesan dari anak buahnya kemarin.


Tuan, markas di kota x diserang.


Dave bergegas pergi tanpa memberitahu tuan muda untuk melihat seberapa kacau penyerangan tadi malam. Kemarin baterai ponselnya habis sehingga tidak tau jika terjadi penyerangan di markas.


Lain halnya dengan Bi Minah yang datang menemui Alisya untuk memberinya teh hangat setiap paginya.


"Nona Alisya, bibi bawakan teh hangat untukmu." Bi Minah menoleh ke kanan dan ke kiri. Hening, hanya terdengar alunan suara gemricik air di kamar mandi.


"Sepertinya nona Alisya sedang mandi," ujar Bi Minah setelah menatap pintu kamar mandi.


"Sebaiknya aku rapikan tempat tidurnya," kata Bi Minah saat melihat tempat tidur Alisya yang berantakan. Saat Bi Minah melipat selimut, tak sengaja melihat bercak darah di sprai tempat tidur Alisya.


Bi Minah kemudian tersenyum. "Mungkin nona Alisya sedang kedatangan tamu bulanannya." Lalu mengganti sprainya dengan yang baru.


"Aku akan mencucinya terlebih dahulu." Bi Minah keluar dari kamar Alisya.


15 menit kemudian, Bi Minah kembali lagi ke dalam kamar Alisya. Namun keadaan masih sama tak berubah sama sekali.


Kenapa nona belum keluar juga?


Bi Minah mengetuk pintu kamar mandi berulang kali tetap tidak ada respon dari dalam.


"Nona?"


Tok


Tok


Tok


Ada yang tidak beres, kenapa nona tidak keluar juga?


Apa aku harus memanggil tuan?


...----------------...


...Happy reading all...


...^^^😓^^^...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2