Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 37 Kebenaran Masa Lalu


__ADS_3

Mohan terkesiap saat melihat dirinya sendiri sudah terikat di sebuah kursi di ruangan gedung tua. Ia tersenyum sekilas menyadari kematiannya kian mendekat. "Kau membuatku menunggu lama." Tuan muda menghisap rokoknya dan menghembuskannya pelan-pelan.


"Dendam membuat seseorang menjadi lebih ganas," kata Mohan seraya melihat anak laki-laki di depannya itu.


"Pohon tidak bisa tumbuh tanpa akar begitu juga dendam tidak akan ada tanpa suatu alasan." Mohan tertawa kecil dan mengangguk setuju akan ucapan itu.


Tuan muda mengambil satu batang rokok dan menyelipkannya pada mulut Mohan. Kemudian membakarnya dengan korek api ditangannya. "Nikmatilah rokok terakhirmu." Tuan muda membuang bekas abu rokoknya ke wajah Mohan.


"Apa yang ingin kau tau," ujar Mohan.


"Kenapa kau membunuh kedua orang tuaku, apa kesalahan yang mereka perbuat kepadamu?" Kini keadaan semakin serius.


"Kedua orang tuamu?" Mohan membuang rokoknya.


"Aku hanya membunuh ayahmu!" Tuan muda mengernyit menunggu penjelasan selanjutnya.


"Bagaimana bisa aku membunuh wanita yang sangat kucintai?"


"Hahaha, itu terlihat konyol." Mohan terus berbicara.


"Kau tahu kalung yang kau ambil dariku? itu adalah kalung yang kuberikan pada Audrey, Inisial A adalah Audrey!" Mohan memejamkan matanya sejenak.


"Ck, kenangan lama yang menyakitkan. Dulu aku dan ibumu adalah teman yang baik. Kami saling bercerita satu sama lain karena kami memang berteman sedari sekolah. Sampai suatu saat kami dijodohkan oleh orang tua kami. Aku sangat bahagia mendengar hal itu. Tetapi Audrey berkehendak sebaliknya, dia tidak menyukai adanya perjodohan ini. Saat pertunangan, Audrey terlihat murung begitu juga tatapan matanya tampak kosong. Aku melihat keterpaksaan di sorot matanya. Selang beberapa hari setelah pertunangan, Audrey menghilang tanpa kabar dan mengirimkan sebuah surat kepadaku." mata Mohan berkaca-kaca saat menceritakannya.


"Isi suratnya adalah permintaan maaf Audrey kepadaku karena telah meninggalkanku setelah pertunangan terjadi. Dia menyesal karena tidak bisa menghentikan pertunangan kami. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berbicara dengan ayahnya namun ayahnya juga bersikeras tetap menjodohkannya denganku. Kemudian Audrey menghilang agar kami tidak terluka lebih dalam lagi. Dia meminta maaf berulang kali dan mengembalikan kalung yang kuberikan kepadanya. Saat itu aku menyadari bahwa aku hanya teman baiknya bukan orang yang dicintainya." Mohan tersenyum getir.


"Setelah itu aku mencoba mencari keberadaan Audrey. Menyelidiki kemana Audrey pergi. Saat aku tahu dimana Audrey bersembunyi kenyataan pahit bahwa Audrey bersama laki-laki lain menyakiti perasaanku. Aku mencoba untuk bertemu dengan pria yang bersamanya. Dan dia adalah Hars, ayahmu!" Mata Mohan memerah karena teringat akan masa lalunya.


"Aku hanya ingin tahu kenapa kau membunuh ayahku tetapi kau malah bercerita tentang kisah pilumu," ujar tuan muda seraya menikmati rokoknya.


"Setidaknya kau harus tahu kisah ini sebelum aku mati."


"Untunglah ibuku memilih pilihan yang tepat untuk tidak menikah denganmu," ujar tuan muda dengan seringai liciknya.


"Terserah kau mau bicara apa tapi intinya adalah aku membunuh ayahmu karena dia sudah melanggar janjinya!" tegas Mohan dengan berapi-api.


"Hars berjanji akan melindungi Audrey, menjaga Audrey, membahagiakan Audrey-" Mohan menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku merelakan Audrey untuk bersamanya, tapi Hars dia bahkan tidak bisa menjaga Audrey. GARA-GARA HARS AUDREY MENINGGAL!"


"Jadi kesimpulannya kau tidak membunuh ibuku?" Tuan muda menginjak puntung rokok yang telah habis dihisapnya.


"Huh, orang bodoh mana yang akan membunuh orang yang dicintainya?"


"Jika bukan kau yang membunuh lalu?" Tuan muda menyatukan kedua alisnya menunggu penjelasan dari Mohan.


"Keluargamu sendiri, KAKEKMU!" ujar Mohan menggebu-gebu.


Tuan muda merasa tak percaya akan kebenaran ini. Ia mencoba untuk tidak termakan bujukan Mohan.


"Kau tidak mempercayai kebenaran yang sebenarnya?" Mohan tertawa kecil.


"Kau tahu kakekmu tidak begitu menyukai ayahmu?" tambahnya.


Tuan muda tahu apa yang dikatakan Mohan itu benar. Bahkan saat ia masih kecil, ayahnya tidak pernah ikut mengunjungi sang kakek diluar negeri. Ia hanya pergi bersama dengan ibunya saat berlibur ke rumah kakeknya.


"Kakekmu tidak menyukai ayahmu karena dia membenci pekerjaan yang dilakukannya karena terlalu berbahaya jika Audrey putrinya hidup bersama Hars. Maka dari itu kakekmu memilih untuk menghabisinya agar kehidupannya kembali tenang tidak mengancam nyawa putri dan cucunya."


"Bagaimana kau tahu semua itu?" Tuan muda tetap berusaha sesantai mungkin karena belum saatnya dia menghukum pria didepannya itu.


"Saat itu aku pergi ke apartemen kakekmu. Saat sudah masuk apartemennya, aku mendengar kakekmu membentak seseorang. Perlahan aku mendekat ke asal suara. Aku mendengar kakekmu marah karena orang suruhannya menembak orang yang salah. Semula aku tidak mengerti tetapi semakin lama aku paham bahwa yang dimaksud adalah Hars. Kakekmu berencana ingin membunuh Hars tetapi orang-orangnya salah sasaran sehingga Audreylah yang tertembak. Seharusnya yang mati itu Hars bukan Audrey!" Mohan menangis sekaligus marah saat menceritakannya. Terlihat sangat terpukul namun tak menghilangkan kejahatan yang telah dilakukannya.

__ADS_1


"Jadi aku membunuh Hars karena hal itu." Suara Mohan terdengar pelan setelah sebelumnya membentak dengan keras.


"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu?" Tanya tuan muda karena tidak begitu percaya sepenuhnya tentang kejujuran Mohan.


"Apa seseorang akan berbohong disaat seperti ini? jika kau tidak percaya tanyakan saja pada kakekmu!"


"Hm, sekarang sudah jelas kau membunuh ayahku dan mengalihkan semuanya kepada gadis itu bukan?" Tuan muda memainkan pisau lipatnya.


"Kenapa kau begitu peduli dengannya. Jatuh cinta?" Mohan tertawa mengejek.


Clap


"Akhh..." Mohan langsung terdiam saat tuan muda menusuk perutnya. Tuan muda menusuknya lebih dalam lagi dan memutar pisaunya. Lalu menusuknya lagi. Kejam? baginya kata itu hanya untuk seseorang yang bermasalah dengannya.


"Hadiah pertama untuk pembalasan kematian ayahku!" Tuan muda tersenyum senang melihat musuhnya sekarat saat mendapat hukumannya.


"Kau memang ketua mafia yang kejam dan tanpa ampun. Tapi apa kau memikirkan perasaan ibumu? pasti dia sangat membencimu saat tahu yang dilakukan putranya adalah membunuh manusia." Mohan terengah-engah menahan sakit saat berbicara.


"Setidaknya pikirkan dirimu sendiri apakah ibuku kecewa padamu atau tidak karena telah membunuh suaminya," ujar tuan muda menimpali ucapan Mohan.


"Sepertinya kata-kataku berhasil membuatmu berpikir." Tuan muda menarik kembali pisau lipatnya alhasil Mohan merintih kesakitan. Kemudian tuan muda mengarahkan revolvernya ke arah Mohan.


Dor


"Akhhh" Satu peluru menembus dada kanan Mohan. Tangan Mohan terikat kebelakang dan hanya bisa memandangi luka di bagian tubuhnya.


"Hadiah kedua untuk gadis yang telah kau jebak!" Tatapan tuan muda menajam tak kenal ampun. Wajahnya datar tanpa ekspresi saat memberikan hukuman pada musuhnya.


"Uhuk-uhuk..." Mohan memuntahkan darah segar sehingga pakaiannya basah oleh darahnya sendiri.


"Orang jahat se-sepertimu tidak akan bahagia dan akan hi-hidup menderita..." Kesadaran Mohan tinggal beberapa detik lagi dan bersiap menemui ajalnya.


"Hadiah ketiga khusus untukmu!"


Dor


"Berikan aku air," sang pengawal langsung berlari menuju mobil untuk mengambil botol air.


"Ini tuan,"


Tuan muda membersihkan pisau lipatnya yang tajam dari darah kotor Mohan. "Kalian membawa apa yang kuperintahkan?" tuan muda bertanya kepada dua pengawal didepannya.


"Kami membawanya tuan," kedua pengawal saling memperlihatkan jirigen yang mereka bawa. Didalamnya berisi minyak tanah yang siap menjadi bahan untuk pembakaran.


"Siram mayat itu!" Perintah tuan muda sembari mencuci tangannya yang berdarah akibat sayatan pisau saat ia diserang.


"Kami sudah melaksanakannya tuan!" Lapor pengawal tersebut.


Tuan muda mengangguk dan memantik korek apinya. "Selamat tinggal." Korek tersebut dilemparkan ketubuh Mohan dan membakar seluruh tubuhnya. Api mulai membesar dan merambat disekitarnya. Tuan muda menikmati acara pembakaran jasad Mohan tersebut bersama kedua pengawalnya.


"Pertunjukan selesai kalian boleh pergi!" Sebelum beranjak pergi kedua pengawalnya menunduk hormat kepada tuan muda.


"Tunggu!" tuan muda melepas jaketnya dan melemparkannya kepada pengawal.


"Buang jaket itu!" kedua pengawal tersebut saling pandang satu sama lain seakan tidak rela jika jaket tersebut dibuang begitu saja.


"Tuan, bolehkah kami mengambilnya? ini terlalu bagus jika dibuang?" tanya salah satu pengawal meminta izin untuk memilikinya.


"Jika kau mau ambillah!"


"Terimakasih tuan terimakasih banyak, kami permisi dulu." Kedua pengawal menunduk sebentar dan melangkah pergi meninggalkan tuan muda.

__ADS_1


Mereka tersenyum senang karena jaket tersebut berharga hampir mendekati seratus juta. Jaket dengan tampilan Givenchy yang mewah dan menampakkan lusinan kancing perak. Sangat disayangkan jika jaket tersebut dibuang. Walaupun terdapat noda darah setidaknya masih bisa dibersihkan.


Tuan muda menatap kobaran api yang melahap bangunan di depan matanya. Baru saja ia membakarnya beberapa menit yang lalu tetapi api sudah menjalar hampir memenuhi satu ruangan.


Tuan muda berjalan menjauhi kobaran api dan memasuki mobilnya. Ia tidak bertujuan untuk pulang ke mansionnya tetapi rasanya ia hanya berkeinginan menuju rumah sakit untuk menemui Alisya.


Saat sampai dirumah sakit, terlihat kawasan sudah sepi. Hanya ada beberapa dokter dan petugas keamanan yang masih berjaga saat itu.


Tuan muda melihat jam yang menempel didinding. Jam menunjukkan pukul satu lebih artinya waktu hampir menjelang pagi. Tuan muda bergegas menuju ruangan Alisya. Gadis yang ingin ia temui sudah tertidur dan mungkin bermimpi indah saat ini.


Tuan muda menatap kedua mata yang mengatup rapat tersebut sembari mengusap pelan rambutnya. "Maafkan aku," ujar tuan muda menyesal atas segala perbuatan yang telah dilakukan kepada Alisya. Cukup lama tuan muda memandangi Alisya yang tertidur pulas, sehingga semakin lama membuatnya merasa mengantuk juga.


Tuan muda tidur dengan posisi duduk di atas kursi dan kepalanya diletakkan disamping tangan Alisya. Berharap bermimpi indah setelah menghadapi kenyataan pahit yang tidak terduga.


Keesokan paginya Alisya terbangun lebih dahulu dan terkejut melihat tuan muda tertidur disamping tangannya. Tanpa sengaja luka ditangan tuan muda mengalihkannya. Alisya mendekat untuk melihatnya lebih jelas lagi.


"Sepertinya terkena sayatan."


Tiba-tiba suster datang membawa catatan serta memeriksa selang infus Alisya.


"Suster!" panggil Alisya pelan.


"Iya nona,"


"Bisa tolong ambilkan kotak P3K?" pinta Alisya.


"Ini nona," sang suster memberikan kotak P3K yang diminta oleh Alisya.


Alisya mengambilnya dan berterimakasih kepada suster itu. "Baik nona saya permisi dulu." Alisya tersenyum mengiyakan.


Setelah itu Alisya melambaikan tangannya untuk memeriksa apakah tuan muda masih tertidur atau tidak. Setelah dirasa tidak ada pergerakan, Alisya langsung mengobati tangan tuan muda. Dengan pelan dan hati-hati Alisya memberikan obat agar tidak infeksi serta membalutnya dengan perban.


Tuan muda merasakan ada yang menyentuh tangannya. Saat bangun tuan muda langsung menarik tangannya dari genggaman Alisya. "Itu hampir selesai tuan," ujar Alisya dan menarik kembali tangan tuan muda.


"Sudah," tuan muda masih tetap diam mengamati setiap pergerakan Alisya. Kemudian beranjak pergi untuk membasuh muka. Setelah selesai tuan muda kembali dan Alisya memanggilnya.


"Tuan!" Tuan muda menoleh menghadap Alisya.


Alisya meremas jari-jari tangannya. "Aku ingin kekamar mandi. Jadi bisakah tuan menolongku?" Alisya menelan saliva dengan susah payah sedikit takut untuk meminta tolong kepada tuan muda.


Tanpa banyak bicara tuan muda menghampiri Alisya dan menggendongnya kekamar mandi. Alisya kebingungan karena bukan ini yang ia maksudkan. Kenapa malah masuk kamar mandi bersama segala.


"Tuan, aku akan kekamar mandi sendiri dengan kursi roda!"


"Kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Aku mengira tuan sudah mengerti."


Tuan muda menghela napas kasar. "Hm" Tuan muda berbalik arah menuju kursi roda dan mendudukkan Alisya.


"Terimakasih," ujar Alisya dan menjalankan kursi rodanya sendiri. Tuan muda yang melihat Alisya kesusahan langsung membantu mendorong kursi rodanya.


"Tuan aku bisa sendiri," ucap Alisya sembari menengok kebelakang.


"Diamlah!" sahut tuan muda. Tanpa sadar Alisya mencebikkan bibirnya.


"Aku akan menunggumu diluar," tuan muda menutup pintu kamar mandi dan berdiri disamping pintu.


Alisya meniup rambut bagian atasnya. "Menyebalkan. Andai saja aku bisa berjalan sendiri aku tidak akan meminta bantuannya," gerutu Alisya seraya mengeluarkan segala unek-uneknya.


...----------------...

__ADS_1


...Like, komen dan beri dukungan author...


...( ꈍᴗꈍ )...


__ADS_2