
Flash Back
...Satu tahun lalu......
Di ruang kerjanya tuan muda sedang fokus dengan layar laptopnya yang menampilkan huruf dan angka-angka yang rumit membuat siapapun akan pusing jika berlama-lama berkutat dengan deretan data-data yang sudah menjadi makanan keseharian dari tuan muda.
"Sayang," ujar Rara mengalungkan tangannya ke leher tuan muda.
"Hmm" dehem tuan muda tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Aku mau kamu," bisiknya menggoda di telinga tuan muda.
Tuan muda menghentikan sejenak pekerjaaannya dan tersenyum menatap mata Rara.
"Sebentar lagi aku akan menikahimu, jadi bersabarlah karena aku tidak mau mengambil hak ku sebelum aku menikahimu," ujar tuan muda tulus.
"Tapi kapan kamu akan menikahiku?" Rara sudah tidak sabar lagi, dia lelah terus menunggu dan menunggu.
"Tunggu restu dari ayah ya soalnya ayah belum ngijinin buat nikah," ucap tuan muda lembut dan mengacak-acak rambut Rara.
"Isss jangan gitu jadi berantakan rambut aku tau ah aku marah sama kamu!" Rara mengerucutkan bibirnya tak suka dengan kelakuan kekasihnya.
Tuan muda terkekeh kecil. "Mau apa biar nggak marah lagi?" tanya tuan muda membuat Rara berpikir sejenak apa keinginannya sekarang.
"Janji kan bakal nurutin apa mau aku?"
"Iya aku janji tetapi selain itu."
"Aku mau keluar negeri!" ujar Rara mengutarakan keinginannya.
"Kenapa?" tuan muda menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ada audisi idol dan aku harus ikut titik!" ujarnya memaksa.
"Dimana?" tuan muda bertanya dengan tatapan sulit diartikan.
"Chicago, Amerika Serikat!" jawab Rara tersenyum lebar.
"Berapa lama?"
"Sekitar tiga bulan dan jika aku terpilih menjadi idol maka mereka akan menjalin kontrak kerja sama denganku dan jika hanya masuk sepuluh besar aku akan menjadi siswa pelatihan disana." Rara terlihat begitu senang saat membayangkannya.
Tuan muda menghela nafas berat. Bingung apa yang harus ia putuskan, menyanyi adalah hobi Rara dan impiannya. Ia memang berbakat dalam hal menyanyi dan dirinya juga tak punya hak untuk melarangnya dalam meraih impiannya. Ia juga sudah berjanji untuk mengabulkan keinginannya.
"Aku mohon ijinkan aku ikut karena ini adalah impianku sedari dulu. Menyanyi sudah menjadi hobiku sejak aku masih kecil dan kamu tau kan kalau aku ingin menjadi wanita sukses dulu sebelum menjadi istri kamu. Ayah juga belum merestui untuk kita nikah kan? jadi biarkan aku mengejar impianku," pinta Rara dengan memelas.
"Baiklah, kapan kamu ingin berangkat?"
"Satu minggu lagi!"
"Aku akan mempersiapkan segala kebutuhanmu."
"Aaa terimakasih!" ujarnya senang dengan memeluk tuan muda.
"Aku yakin kamu pasti bisa menggapai keinginanmu disana," tuan muda membelai surai rambut Rara dengan lembut.
Satu minggu kemudian...
"Ini paspor dan visamu cepatlah kembali jika urusanmu sudah selesai. Jangan berlama-lama disana mengerti?" ujar tuan muda memeluk tubuh mungil Rara.
"Iya-iya sayangku," ujarnya memegang kedua pipi tuan muda.
__ADS_1
Your attention please,
Passengers of X on flight number XX to Chicago International airport O'Hare please boarding from door A13, Thank you.
"Selamat tinggal bye-bye!" Rara melambaikan tangannya dan berlari menarik kopernya.
"Jangan lupa menghubungiku!" teriak tuan muda ketika Rara mulai menjauh darinya. Rara mengangguk dan menghilang di tengah kerumunan orang di bandara.
"Kita pergi sekarang,"
"Baik tuan!"
Sehari setelah kepergian Rara, tuan muda tak lagi mendapatkan gangguan kecil darinya. Tak ada rayuan dan omelan yang setiap jam selalu ia dapatkan. Wajah cemberut dan kesal yang selalu ia lihat kini tak lagi di depan mata.
Tingkah kekanak-kanakan yang selalu diperlihatkan kini tak lagi bisa ia saksikan. Rasa rindu yang dipisahkan oleh jarak dan waktu membelenggu kedua hati yang saling mencintai. Namun apapun keputusan sang pemilik hati inilah yang terbaik untuknya dalam mewujudkan mimpi.
Hari demi hari, bulan demi bulan berjalan sebagaimana mestinya. Namun kini Rara mulai jarang berkomunikasi dengannya. Entah karena kesibukannya atau hal lainnya membuat tuan muda selalu memikirkannya.
Drtttt Drtttt
Sebuah panggilan membuatnya tersenyum senang kala seseorang yang sedang dirindukannya tengah menelepon dirinya.
"Halo"
"Hm bagaimana kabarmu? kapan kamu akan pulang?"
"Kabarku baik dan aku akan terus disini sekitar enam bulan lagi dan aku sibuk sekarang. Jadwalku padat, jadi aku akan jarang mengabarimu maafkan aku ya?"
"Hm baiklah aku..."
"Cleora cepat kemari!" suara seseorang di seberang telepon yang memanggil Rara.
"Tapi aku belum..."
Panggilan terputus padahal baru saja ia berbicara sebentar dengan kekasihnya namun sepertinya keadaan tak berpihak padanya membuat tuan muda menghela nafas kasar.
Apa aku salah telah mengijinkannya meraih impiannya? semakin lama dia semakin berubah tak seperti dulu. Kuharap dia tidak akan bertindak yang macam-macam dibelakangku.
"Luc!" panggil Dave namun tak kunjung mendapatkan respon dari orang yang dipanggilnya.
"Hey Luc!" ujar Dave melambaikan tangannya di depan mata tuan muda.
Apa yang sedang dia pikirkan?
"Hem apa?" ujar tuan muda mengalihkan pandangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan mengapa kau melamun seperti itu?"
"Kirim mata-mata untuk memantau aktivitas Rara!"
"Apa terjadi sesuatu padanya? mengapa kau ingin..."
"Jangan banyak bertanya lakukan saja apa perintahku!" tegas tuan muda tak ingin dibantah.
"Baiklah sesuai perintahmu," ujar Dave pasrah tak mau membuat singa di depannya marah.
Kemudian Dave menelepon salah satu orang kepercayaannya yang akan ia tugaskan untuk memata-matai Rara di luar negeri.
"Done apa lagi?"
"Hubungi aku jika ada sesuatu yang ganjal darinya."
__ADS_1
"Baiklah Luc pasti,"
Hari pertama, kedua hingga hari ketujuh setelah tangan kanan Dave memata-matai Rara sang belahan jiwa tuan mudanya di Chicago, ia pun menemukan fakta mencengangkan yang akan membuat dirinya mungkin dalam masalah besar jika salah bicara sedikit saja.
"Hallo tuan Dave,"
"Bagaimana? apa yang dilakukannya selama beberapa hari belakangan ini?"
"Tuan Dave nona Rara..."
"Katakanlah sejujurnya jangan takut,"
"......"
"Apa kau punya buktinya?"
"Saya punya tuan dan akan saya kirimkan setelah ini tuan."
"Baiklah,"
Kemudian terdapat foto-foto dan video yang dikirim oleh orang suruhannya membuat Dave ingin memaki dan membunuh Rara detik itu juga, namun ia masih sadar ada yang lebih berhak menghukumnya daripada dirinya. Ia pun menemui tuan muda di ruang kerjanya untuk membicarakan perihal kabar yang didapatkannya dari orang suruhannya.
"Luc aku ingin membicarakan sesuatu, ini tentang Rara." ujar Dave dengan tatapan seriusnya.
"Apa yang dilakukannya?" tanya tuan muda dengan menyeruput secangkir kopi.
"Dia berkencan dengan laki-laki lain yang merupakan teman duetnya saat bernyanyi disana. Hubungannya juga sudah berjalan lebih dari dua bulan yang lalu."
"Dan kau tau? dia bermain di belakangmu, bersenang-senang dengan menyerahkan tubuhnya ke laki-laki itu," ujar Dave menggebu-gebu tapi yang ia lihat hanya raut wajah datar tanpa ekspresi dari orang di depannya.
Tuan muda hanya tersenyum meremehkan dengan kekehan kecil menyertainya.
"Biarkan dia bersenang-senang dengan orang pilihannya, dia berhak memilih untuk kehidupannya," ujar tuan muda sebiasa mungkin.
Dave mengangguk setuju.
"Aku sudah mengirimkanmu bukti foto dan videonya."
"Hm sekarang pergilah aku ingin sendiri."
"Jangan lukai dirimu Luc!"
"Aku tidak sebodoh itu Dave."
Setelah itu Dave pergi meninggalkan tuan muda sendiri yang sedang merenungi nasibnya karena kehilangan cinta pertamanya sekaligus calon istrinya.
"Kau sangat puas dalam menikmati permainanmu dengan laki-laki itu Rara," ujar tuan muda setelah melihat beberapa foto dan video yang Dave kirimkan beberapa waktu yang lalu.
"Haha aku dipermainkan oleh takdir," ujar tuan muda mengacak-acak rambutnya frustasi dengan jalan hidupnya
Aku beruntung karena bertemu denganmu
Tapi dia jauh lebih beruntung karena berhasil mendapatkanmu
^^^Lucas Deilson^^^
...----------------...
...komen dibawah yups...
...👇( ꈍᴗꈍ)👇...
__ADS_1