Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 40 Gadis Gila!


__ADS_3

"Arghhh 5h1t, APA KAU GILA!"


Tuan muda menyentuh lengannya yang terus mengeluarkan darah. "Ma-maaf tuan aku kira seseorang berusaha masuk tadi-"


"CUKUP! HENTIKAN OCEANMU!"


Tuan muda meninggalkan Alisya begitu saja dan memasuki kamar. Alisya pun membuntuti tuan muda. "Sungguh tuan aku tidak sengaja. Tadi aku takut jika orang jahat yang masuk. Sungguh tuan aku benar-benar tidak sengaja." Alisya berusaha meyakinkan tuan muda bahwa ia memang tidak sengaja memukulnya.


Tuan muda tidak mendengarkan segala perkataan yang keluar dari mulut Alisya dan mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya sendiri. "Tuan percayalah aku tidak sedang berbohong. Sungguh aku tidak berniat menyakitimu tuan. Aku minta maaf atas kesalahanku tuan."


Alisya menarik belakang baju tuan muda agar ia tidak mendiamkannya seperti ini. Ia berulangkali melakukannya supaya tuan muda menatapnya. Tuan muda yang kesal memutar balik tubuhnya.


"LEPASKAN TANGANMU!"


Tuan muda menyingkirkan tangan Alisya dengan kasar dan duduk di pinggir kasur seraya melipat lengan bajunya ke atas. "Tuan, aku mohon maafkan aku. Biarkan aku yang mengobati lukamu sebagai permintaan maafku," pinta Alisya.


"Tuan kumohon, aku benar-benar tidak sengaja. Aku berani bersumpah. Aku minta maaf tuan. Tolong maafkan aku." Alisya terus-menerus mengucapkan permintaan maafnya sambil tertunduk menyesali perbuatannya.


Tuan muda melihat rasa bersalah di mata Alisya. Sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Alisya tetapi juga perintahnya agar tetap waspada. Ia hanya sedikit marah pada gadis didepannya itu sebab memukulnya sembarangan sampai menyentuh lukanya.


Tuan muda memberikan kotak obat P3K sesuai yang Alisya inginkan. Kedua mata yang sebelumnya merasa bersalah itu sedikit berbinar senang.


"TUNGGU APA LAGI!"


Alisya mengambil kapas untuk membersihkan bekas darah di lengan tuan muda. Kemudian mengoleskan obat merah secara pelan-pelan sembari meniup luka tersebut. Tuan muda mengamati Alisya yang telaten mengobati lengannya.


"Apakah ini tidak terasa sakit tuan?" tanya Alisya saat mencuri pandang tetapi tidak menemukan letak kesakitan di wajah tuan muda.


"Kata siapa tidak sakit, aku sedang menahan rasa sakitnya. Bahkan lebih sakit gara-gara kau tidak bersungguh-sungguh mengobatinya."


Bohong. Ini bahkan tidak terlalu sakit saat Alisya mengobatinya. Namun sikap keras kepalanya tidak mau mengakuinya. Alisya mendengar celaan itu dengan spontan menekan luka tuan muda.


"KAU! Apa kau berniat memancing amarahku HAH!" Alisya seakan menutup telinganya dengan melanjutkan memerban lengan tuan muda sampai selesai.


Gadis gila! ingin sekali aku memukulnya!


Tuan muda mengambil gunting dari kotak P3K dan memainkannya di jemari tangannya. Namun tiba-tiba saja tuan muda mengarahkannya tepat di depan wajah Alisya. Jika saja sampai terkena entah apa yang akan terjadi kedepannya. Alisya menutup rapat kedua matanya sambil menahan napas.


Tuan muda tersenyum sekilas melihat Alisya ketakutan seperti itu. Bagaimana bisa tidak takut jika di posisi Alisya? Yang benar saja!


Tuan muda mendorong kening alisya menggunakan jari telunjuknya. "Buka matamu, apa yang kau takutkan hm?" tuan muda berdiri dari tempatnya sambil tertawa meledek Alisya.


"Dasar gadis bodoh!" Tuan muda tergelak tak bisa menahan tawanya. Ia merasa Alisya menjadi mood boosternya kali ini.


Salah siapa semakin berani kepadaku.


Alisya menutup kotak P3K dengan keras seakan memberitahu tuan muda bahwa ia kesal padanya. Baginya gunting bukanlah sembarang mainan.


Bagaimana jika gunting itu terlepas dari genggamannya? Apa yang akan terjadi dengannya jika gunting itu sampai menghantam wajahnya? Alisya bergidik ngeri walau sekedar membayangkannya.


.


.


.


Saat ini mereka berdua sedang berada di meja makan. Menikmati makanan yang tersaji untuk mengisi perut yang kosong. Setelah selesai makan, tuan muda melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sebentar lagi dokter fisioterapi akan kemari."


Kemarin Louis sudah mengadakan janji dengan dokter fisioterapi kenalannya agar bisa menyembuhkan Alisya dari kelumpuhannya. Alisya hanya mengangguk sebagai balasan dari ucapan tuan muda.


"Bersiap-siaplah!" Tuan muda membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka.


Alisya bungkam. Sebenarnya ia sedikit cemas dalam hatinya. Takut jika kelumpuhannya bukanlah kelumpuhan sementara melainkan bersifat permanen atau seumur hidup. Alisya berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatif itu tetapi tetap saja muncul walaupun tidak diinginkan.

__ADS_1


Bel apartemen berbunyi. Tuan muda membuka pintu dan mempersilakan dokter tersebut duduk di ruang tamu. Alisya menghampiri tuan muda.


"Selamat siang, apakah benar ini dengan tuan Lucas dan Nona Alisya?" tanya dokter fisioterapi tersebut.


"Ya, benar."


"Baik, perkenalkan saya Fely dokter fisioterapi yang akan bertanggungjawab untuk pengobatan nona Alisya."


"Hm, lakukan yang terbaik agar dia sembuh secepatnya."


"Akan saya usahakan, tuan."


Tuan muda menatap Alisya disebelahnya. "Jangan memikirkan apapun dan fokus saja dengan pengobatanmu. Aku akan pergi dan kembali saat makan malam nanti."


.


.


.


Kini tuan muda sudah berada di depan markasnya. Terlihat banyak anggotanya yang berjaga di masing-masing sudut markas. Semua orang menunduk menghormati tuan muda yang melangkah memasuki markas.


Tuan muda melihat setiap titik markas. Ada beberapa orang yang terluka atas insiden penembakan itu.


"Seperti yang kau lihat tidak sedikit dari anggota kita yang mengalami luka-luka. Aku belum sepenuhnya tahu siapa yang melakukan ini. Tetapi saat aku menulusurinya mereka hanya dari organisasi kecil yang bahkan tidak ada apa-apanya," terang Billy.


Tuan muda dan Billy duduk di sofa tempat khusus dalam markas tersebut. "Mereka hanya memancing kita." Tuan muda mengambil rokok di meja depannya. Ia menjepit rokok tersebut di bibirnya. Lantas memantik korek hingga membakar ujung batang rokok yang diambilnya.


"Ya pasti ada organisasi besar yang mendukungnya. Tidak mungkin mereka bergerak sendiri serta mendapatkan persenjataan ilegal seperti itu selain dari kelompok mafia."


Tuan muda meniupkan asap rokok keatas. "Kita akan menyerang jika waktunya sudah tepat dan mereka akan keluar dengan sendirinya saat kita tetap diam tanpa perlawanan."


Tuan muda menaikkan kedua kakinya ke atas meja sambil menyandarkan tubuhnya. Matanya ikut terpejam saat menyesap dalam-dalam rokoknya secara perlahan.


"Luc, apa tadi kau diserang?"


"Luka?"


"Jangan bertanya lagi. Aku kemari untuk melakukan pekerjaan penting!" Tuan muda beranjak pergi menuju komputer di ujung ruangan. Billy mengikutinya dan menontonnya saja.


"Kumpulkan anggota kita satu jam lagi." Tuan muda melihat layar komputer sembari menikmati rokoknya.


Tak


Tak


Tak


Suara keyboard yang nyaring merupakan usahanya untuk meretas data pasien rumah sakit di masing-masing daerah untuk mencari seseorang yang masih berurusan dengannya.


"Siapa yang kau cari?"


"Seseorang yang ingin kubunuh!"


Satu jam berlalu begitu cepat. Semua anggota Devil Skull sudah berkumpul dalam satu ruangan yang sama. Billy sudah berdiri paling depan dan menghadap anggotanya. Tuan muda datang dengan membawa beberapa kertas ditangannya. Saat itu semua serentak menunduk takzim kepada ketua organisasi mereka tersebut.


"Kalian berkumpul disini untuk mencari keberadaan seseorang!" Tuan muda menunjukkan kertas yang dibawanya. Ada beberapa gambar wajah seseorang di kertas tersebut.


"Setengah dari kalian akan bertugas menjaga markas dan setengahnya lagi mencari sepuluh orang ini. Aku memberi kalian waktu sampai malam nanti. Waktu tersedia cukup banyak dan pastinya kalian bisa mendapatkan orang-orang ini lebih cepat dari tenggat waktunya. Jangan sampai terlambat satu detik pun jika sampai itu terjadi kalian tahu sendiri apa hukuman yang akan aku berikan nanti. MENGERTI SEMUA!"


"MENGERTI TUAN!"


Salah satu perwakilan dari mereka maju untuk mengambil gambaran wajah yang akan mereka cari.


"Sekarang kalian boleh membubarkan diri masing-masing!"

__ADS_1


Sebelum bubar, mereka menunduk untuk undur diri dari hadapan kedua orang penting dalam organisasi mereka.


"Malam kemungkinan sekitar jam 6"


"Habislah aku jika terlambat satu detik saja"


"Semoga orang-orang ini mudah ditemukan"


Dan masih banyak lagi ungkapan perasaan mereka yang tidak bisa diutarakan secara langsung. Mereka siap menerima konsekuensi apapun yang akan terjadi pada hidupnya. Inilah pekerjaan mereka, gagal berarti menemui ajal.


.


.


.


Beberapa jam berlalu, sinar senja telah berganti menjadi pekatnya malam. Semua sudah berkumpul di ruangan terfavorit bagi tuan muda. Dave juga sudah kembali dari halaman sang bibi. Kini ketiganya sudah berkumpul di depan sembilan orang yang dicari tuan muda.


"Bukannya yang kau cari ada 10 orang?"


Tuan muda tersenyum smirk saat anak buahnya baru berhasil membawa 9 dari 10 orang. "Kita tunggu saja," balas tuan muda lalu membelakangi mereka. Billy melihat jam ditangannya memperkirakan waktu mereka terlambat. Lalu muncullah anggotanya dengan tergesa-gesa.


"Maaf tuan, maafkan saya. Saya terlambat membawanya kemari," sesalnya. Mereka yang baru datang langsung berkeringat dingin memikirkan bagaimana malangnya nasib mereka nanti. Hukuman mati maupun hidup dengan luka berat akan mereka terima sebentar lagi.


Tuan muda membalik tubuhnya. Tak ada guratan wajah seperti biasanya. Mata menajam seakan mengintimidasi semua orang. Tatapan mata itu yang ditakuti para bawahan maupun musuhnya.


Mata dan mulut kesepuluh tawanan tersebut ditutup agar tidak bisa melihat maupun berbicara. Mereka disuruh duduk di kursi yang telah disiapkan. Tuan muda mengamati bekas luka di bagian kaki mereka mulai dari paling ujung.


"Bawa semua keluar kecuali 2 orang ini!" suruh tuan muda. Billy dan Dave mengamati sahabatnya dari jauh. Mereka tidak ingin ikut campur terhadap masalah sahabatnya. Namun jika mereka disuruh untuk 'membantunya' mereka akan siap dengan segera.


"Buka mulut mereka!" perintahnya.


"Apa kalian tidak ingin menjelaskan tentang luka sayat dibagian kaki kalian?" tanya tuan muda kepada kedua orang didepannya. Tuan muda menanti penjelasan mereka.


"Siapa kalian dan apa mau kalian?" ujar salah satu dari mereka yang lebih muda.


"Aku hanya ingin mencari seseorang yang salah diantara kalian. Maka jawablah pertanyaanku agar aku melepaskan salah satu dari kalian yang tidak bersalah"


"Tidak mungkin aku, pasti dia orang yang Anda cari."


"Apa yang kau bicarakan!"


"Tuan, luka ini aku dapatkan saat tawuran antargeng motor. Anda tahu tawuran seperti itu pasti membawa senjata tajam dan kebetulan melukai kakiku. Anda bisa mencari informasi tawuran itu beberapa hari yang lalu di internet," tambahnya.


Tuan muda menatap pria di sebelah anak muda yang barusan menjelaskan kronologi tentang luka sayat dikakinya. Ia nampak kebingungan sendiri. Walaupun matanya tertutup tetapi tercetak jelas kerutan wajahnya yang nampak gelisah.


"Apa kau bisa menjamin perkataanmu?"


"Jika aku berbohong Anda bisa memukuliku sepuas Anda!"


"Luc, dia berkata jujur." Billy menunjukkan layar handphonenya. Berisi berita tentang tawuran beberapa hari yang lalu.


"Bawa dia pergi juga berikan kontribusi untuknya karena memiliki keberanian dan ketegasan dalam berbicara!"


"Oke aku akan mengurusnya," ujar Billy.


Tuan muda menuju pintu keluar ruangan yang bagaikan neraka bagi musuhnya.


"Luc, kemana?" tanya Dave saat sahabatnya pergi tiba-tiba.


"Apartemen, aku akan kemari lagi setelah makan malam." Dave menghela napas kasar.


Metode apa lagi yang akan kau gunakan kali ini Luc. Batin Dave sembari melihat orang yang hendak dieksekusi nanti.


..._____Batas Akhir_____...

__ADS_1


...☠️☠️☠️...


__ADS_2