
"Tunggu disini ya paman akan keparkiran dulu." Dave mencubit pipi Lina gemas. Lina hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dave pergi ke parkiran menghampiri kedua sahabatnya yang masih setia menunggu di mobil.
Dave membuka pintu mobil. "Louis obati Lina," suruh Dave pada Louis.
"Luc bagaimana kalau..."
"Kita akan menyelesaikannya nanti malam," ujar tuan muda yang tak ingin berbicara banyak.
"Aku ingin ke apartemen, kau dan Louis jaga anak itu," titah tuan muda dan beralih menuju kursi kemudi saat Louis keluar dari mobil.
Mobil tuan muda melaju dengan cepat meninggalkan gedung rumah sakit. Membelah jalanan kota padat yang penuh lalu lalang kendaraan.
Setelah beberapa saat tibalah dirinya di apartemen mewah miliknya. Menekan tombol kode apartemen dan masuk dalam ruangan nuansa hitam abu-abu dengan desain yang simple namun memiliki kesan mewah.
Menidurkan tubuhnya yang lelah di sofa panjang empuknya, memikirkan kehidupan tanpa adanya arah tujuan. Berdiri sendiri tanpa hadirnya serpihan cinta yang mampu mengisi kekosongan dalam hatinya. Pusing. Itulah yang ia rasakan saat ini, lebih baik tak memikirkan sesuatu yang hanya menjadi ekspetasi belaka.
Namun tak ada yang tau apakah akan ada panah cinta yang datang dan mampu membolak-balikkan rasa cinta yang tersimpan di lubuk hatinya? Apakah ada seseorang yang bisa membuatnya hidup bahagia dalam lautan asmara? Akankah seseorang itu mampu membuat hidup tuan muda yang semula gelap menjadi bercahaya?Semua tergantung takdirnya masing-masing.
Tuan muda mengistirahatkan tubuhnya hingga siang menjelang petang. Tak terasa begitu lamanya ia terhanyut dalam ketidaksadaran diri. Melihat jendela kaca apartemen yang nampak pemandangan kota yang begitu memanjakan mata.
Pelan-pelan sinar kemerah-merahan mulai hanyut dibawa gelapnya malam. Saat di tengah keterdiamannya suara dering telepon pun menggema menyadarkannya dalam lamunan kosongnya. Terpampang nama Dave di layar handphonenya.
"Luc, bolehkah aku ke apartemenmu nanti?"
"Terserah!"
Belum ada satu menit tuan muda sudah mengakhiri panggilan yang diterimanya, membuat orang yang meneleponnya hanya bisa menggeleng pasrah.
Malam tiba...
Dave membawa Lina ke apartemen milik tuan muda karena memiliki misi akan membantu membebaskan adik dan teman-temannya. Saat memasuki apartemen hanya terdengar kesunyian dalam ruangan mewah itu.
Dave menyuruh Lina untuk menunggu di sofa ruang tamu yang ada disana dan dirinya mencari keberadaan tuan muda. Pintu balkon yang terbuka dan asap rokok yang mengepul menjadi penanda bahwa tuan muda sedang menikmati kesendiriannya.
Tuan muda duduk bersandar di kursi dan menyilangkan kakinya di atas meja kecil seraya menghisap batang rokoknya. Terdengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekatinya.
"Luc," panggil Dave.
__ADS_1
"Apa informasi yang kau dapat?" tanya tuan muda to the point.
"Berandal itu sering menyiksa anak kecil pengemis itu jika tidak mendapatkan uang dari hasil mengemisnya dan lebih parahnya mereka bahkan tanpa dosanya menjadikan anak kecil itu cacat dan menjadikannya seorang pengemis."
"Terkadang demi uang mereka juga menjual anak kecil itu di pasar gelap untuk diambil organ dalamnya," ujar Dave geram saat menceritakannya pada tuan muda.
"Luc kapan kita menjalankan aksinya?" tanya Dave menatap tuan muda masih duduk membelakanginya.
"Setelah ini, apa kau sudah memberinya makan dan mempersiapkan rumah baru untuk mereka?" tanya balik tuan muda tanpa menatap lawan bicaranya. Tuan muda menghisap rokoknya lagi dan mengepulkan asap rokoknya ke udara.
"Aku sudah memberinya makan, mengobatinya dan sudah mempersiapkan segalanya tadi."
"Nanti akan ada beberapa pengawal yang akan membantu kita, saat ini mereka sedang menunggu di parkiran apartemen," ujar Dave menjelaskan.
"Kita berangkat sekarang! lebih cepat lebih baik!" tegas tuan muda yang sudah mengeluarkan hawa membunuhnya dan beranjak dari tempatnya setelah mematikan puntung rokok yang sudah habis dihisapnya.
Dave yang mengerti bahwa sahabatnya sudah dalam mode iblis pun hanya bisa diam dan mengikuti segala perintahnya. Saat di ruang tamu Dave meminta Lina untuk ikut bersamanya agar bisa mencari adiknya.
Saat di parkiran semua pengawal langsung menunduk hormat pada tuan muda dan seperti biasa tuan muda hanya melewatinya tanpa menjawabnya. Kali ini dirinyalah yang mengambil alih kemudi dan mengendarainya menuju tempat dimana para pengemis kecil itu tinggal dengan diikuti para pengawal di belakangnya.
Mereka menganggap jalanan tersebut angker sebab mengarah pada bangunan rumah tua yang luas dan sudah usang. Namun siapa sangka tempat yang nampak sepi tak berpenghuni malah dijadikan tempat untuk menyimpan anak-anak yang terlantar tanpa diketahui oleh banyak orang.
Mereka berhenti di bawah pohon beringin yang besar dan gelap agar berandal itu tidak bisa mendeteksi kedatangan mereka.
"Lina tetap disini! Jangan pernah keluar sebelum kami datang mengerti?" perintah Dave.
"Baik paman,"
Keduanya keluar dengan membawa pistol satu sama lain yang di sembunyikan dalam balik bajunya.
"Kalian jaga anak kecil itu!"
"Baik tuan muda!"
Mereka berdua kemudian menuju ke rumah tua itu.
"Aku akan masuk lewat pintu depan dan kau Dave masuklah lewat pintu belakang."
__ADS_1
"Oke,"
Dave langsung berlari menuju pintu belakang rumah tua itu yang malah memancing para berandal akibat suara berisik dari hentakan kakinya saat berlari.
"Bodoh!" umpat tuan muda.
"SIAPA DISANA!" teriak salah satu berandal yang mendengar seseorang berlari yang tak lain ialah Dave. Berandal itu melihat tuan muda yang tengah berdiri dengan senyum devilnya.
"SIAPA KAU SEBENARNYA DAN APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!"
"Menghajarmu," tanpa menunggu lama lagi tuan muda langsung menghajarnya dengan menendang bawah rahang berandal itu dengan keras hingga terhuyung ke belakang dan tak sadarkan diri.
Kemudian tuan muda masuk lebih dalam dan melihat lima orang berandal yang sedang duduk bersantai memakan cemilan dengan ditemani sebuah amer di atas meja. Tuan muda menendang meja yang menjadi penghalangnya untuk menghajar mereka.
Brak
Berandal yang ada disana pun kaget melihat meja di depan mereka ambruk membuat makanan dan minuman mereka terhenyak dari tempatnya.
"Brengsek!"
"Siapa kau berani-beraninya merusak acara kami!" Bentak seorang berandal yang terusik akan tindakan tuan muda.
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri.
"Ketua Mafia DS!" ujar tuan muda dengan tersenyum menyeringai.
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1