Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 24 Penyiksaan Berandal


__ADS_3

"Ketua Mafia DS!" ujar tuan muda dengan tersenyum menyeringai.


"A-apa ke-ketua mafia DS?"


"Hem kau tau bukan siapa aku sekarang??"


"Apa maksudmu dia Ketua Mafia Devil Skull yang terkenal kejam itu?" tanya salah seorang berandal kepada temannya.


"Ya dia orangnya," ujarnya dengan keringat yang mulai mengucur deras.


"Haha itu tidak mungkin kau pasti bukan ketua mafia DS jadi jangan mengada-ngada lebih baik serang kami jika kau mampu!"


Tuan muda hanya tersenyum meremehkan.


"Cih,"


Kelima berandal itu langsung menyerang tuan muda dan mengepungnya.


"Kami sudah mengepungmu bagaimana kau bisa selamat hah!"


"Itu sangat mudah,"


Pukulan, tendangan, terjangan, elakan, tangkisan dapat tuan muda kuasai dengan sangat baik hingga mampu membuat kelima berandal itu bertekuk lutut dan meringis kesakitan. Patah tulang, memar, lebam adalah luka yang dihadiahkan kepada kelima berandal sok berani yang telah menganggap remeh siapa dirinya.


Hingga satu suara rintihan tangisan anak kecil yang kesakitan mengalihkan perhatian dari sang tuan muda. Asal suara yang tak jauh dari tempatnya berpijak kala itu yang tak lain berasal dari sebuah kamar namun pintunya terkunci dari dalam.


"Sakit paman hiks hiks tolong...tolong!"


"Lepaskan aku paman hiks hiks..."


"Diam atau kubunuh kau anak kecil yang manis,"


Bruk


Tuan muda mendobrak pintu kamarnya dan alangkah terkejutnya ia melihat seorang anak kecil perempuan yang diperlakukan tak senonoh di depannya. Kabut amarah langsung membuncah membangkitkan sisi iblis dari sang tuan muda.


Membangkitkan gairah membunuh yang kental untuk sosok di depannya yang dengan bejatnya melakukan hubungan terlarang dengan seorang anak kecil yang tak berdosa demi memuaskan hasrat sementaranya.


Tanpa aba-aba tuan muda langsung menendang tubuh sang pedofil gila itu hingga tersungkur jatuh dari ranjang dan menutupi tubuh setengah telanjang anak perempuan itu dengan selimut.


"Siapa kau berani-beraninya menganggu kesenanganku!" ujarnya setelah merapikan celananya.


"Malaikat mautmu!" tuan muda menatapnya dengan mata elangnya yang siap menerkam mangsanya.


Di sisi lain....


Dave mencoba membuka pintu belakang namun nihil pintu terkunci dari dalam. Namun ia melihat sebuah jendela yang hanya berjarak satu meter dari pintu yang merupakan jalan terakhir untuknya.


"Gini kan enak," monolog pada dirinya sendiri saat berhasil masuk lewat jendela. Namun saat Dave memijakkan kakinya ada seorang anak kecil yang melihat kedatangannya. Namun sebelum anak kecil itu teriak Dave dengan sigap menutup mulutnya.


"Jangan teriak aku akan membebaskanmu ajak teman-temanmu juga tapi ingat jangan berisik," ujar Dave lirih memberi pengertian.


"Nanti jika sudah berkumpul bawa mereka kesini!"


"Tapi paman janji akan membebaskan kami kan?"


"Paman janji disana juga sudah ada Lina yang menunggu."


"Apaaa? ka...!"

__ADS_1


"Suttt jangan teriak, cepat sebelum ada yang lihat."


Anak kecil itu langsung berlari memanggil teman-temannya, betapa bahagianya mereka saat tau bahwa ada seseorang yang mau menyelamatkannya.


"Sekarang kita akan lewat jendela, kau yang menuntun mereka semua yah baiklah sekarang kau duluan." Dave membungkuk agar bisa menjadi pijakan salah seorang remaja putri yang ditunjuknya dan mengeluarkan tujuh anak yang masih kecil.


"Pergilah menuju ke bawah pohon beringin disana sudah ada Lina dan pengawalku yang menunggu kalian cepat!"


"Baik paman!"


Mereka pergi dengan wajah berseri-seri dengan senyum yang mengembang sempurna.


Bugh


Bugh


"Pasti itu si Lucas!" Dave pergi melihat kekacauan yang terjadi.


"Luc hentikan masih ada anak kecil!" Tuan muda tersadar saat suara Dave menghentikannya.


"Bawa anak kecil itu keluar dari sini dan bawa pengawal kemari." Dave menggendongnya dan pergi meninggalkan tuan muda bersama pedofil itu.


"A-ampun tuan maafkan saya," ujarnya bersujud di kaki tuan muda.


"Tidak akan semudah itu!" tuan muda menendangnya saat para pengawal sudah siap untuk membawanya pergi menuju tempat dimana dirinya akan melewati detik-detik kematiannya.


"Bawa dia!"


"Baik tuan!"


Tuan muda pergi meninggalkan rumah tua itu yang juga tengah berpapasan dengan Dave.


"Yah kurasa butuh waktu untuk melepas rasa traumanya."


"Dimana dia sekarang?"


"Satu mobil bersama teman yang lainnya."


"Kita pergi ke tempat penyiksaan dan bawa para anak kecil itu juga!"


"HAH! APA KAU GILA!" Dave sedikit membentak tuan muda karena tak setuju dengan sarannya yang anti mainstream.


"Ck lakukan saja apa perintahku dan jangan membantahku!"


Apa dia mau menunjukkan aksi potong-potongnya di depan mata anak kecil? Sungguh GILA!


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan mulai melaju menuju ke tempat penyiksaan. Dave memberikan sebuah pesan kepada para pengawal yang membawa rombongan anak kecil itu untuk membawa mereka ke satu tempat tujuan yang sama dengannya.


Setelah sampai, para berandal sudah diikat dan tentunya dengan mulut tertutup lakban hingga yang terdengar hanya gumaman tak jelas bak seorang tuna wicara.


"Bawa semua anak kecil kemari!" perintah tuan muda.


Tak lama datanglah gerombolan anak kecil dengan membawa sebuah balok kayu di tangan masing-masing.


Apa rencananya sebenarnya? mengapa aku tak bisa membaca pikirannya? Hah mungkin anak kecil itu yang akan membunuhnya? Hemmm kurasa tidak ah lebih baik lihat dan simak saja atau mungkin mereka hanya memberi sedikit pelajaran pada berandal itu? yayaya kita lihat apakah aku benar atau salah.


"Sekarang kalian boleh memukulnya sesuka hati kalian, jangan takut lakukan saja mereka tak akan berani menyakiti kalian lagi."


Bugh

__ADS_1


Bugh


"Emmmmm"


"KALIAN JAHAT!"


Bugh


"Ehmmmm hemmm"


"JAHAT!"


Bugh


Para berandal tak bermoral itu hanya bisa menggumam tak jelas saat sebuah balok kayu bergantian menerpa tubuhnya.


Tuh bener kan mereka cuman ambil bagian sedikit untuk menyiksanya.


"Huh huh sudah paman," ucap salah satu dari mereka dengan nafas terengah-engah karena memukul dengan sekuat tenaga menyalurkan rasa kesal, marah, semua campur aduk dibuatnya.


"Dave antarkan mereka ke tempat yang seharusnya!"


"Baiklah, Let's go anak-anak!"


Dave pergi membawa anak-anak itu pergi ke kota, tempat dimana mereka seharusnya menuntut ilmu dan bermain layaknya seorang anak kecil biasa.


"Wah Lina apakah dia adikmu?"


"Iya paman," ucap Lina dengan tersenyum ke arah adiknya.


"Cute, kau tadi bocah yang hampir berteriak bukan?"


"Hehe..."


"Nanti kalian semua akan pindah di rumah baru kalian dan disana juga ada seorang bibi yang akan mengurus segala keperluan kalian!"


"Terimakasih paman sudah berbaik hati menolong kami, kami tak tau apa yang bisa kami perbuat untuk membalas budi anda."


"Sudahlah intinya kalian belajar yang rajin dan gapailah impian kalian mengerti?"


"Mengerti paman!" ucap mereka serempak


.


.


.


.


.


.


...Penyiksaan akan segera dimulai jreng jreng jreng........


..."Happy reading all"...


...Terimakasih sudah baca novel ini๐Ÿ˜‚...

__ADS_1


__ADS_2