
"Ada apa dengan tuan muda? dan kenapa dengan nona Alisya? aku harus cepat-cepat pergi kesana" ujar bi Minah yang langsung menuju ke kamar yang ditempati oleh Alisya.
Saat sampai di kamar yang Alisya tempati, bi Minah langsung memeriksanya dan alangkah terkejutnya ia melihat Alisya yang tengah menggigil dengan wajah pucat pasi nya.
"Ya Tuhan...non kok pucat kayak gini" ujar bi Minah yang langsung menempelkan tangan pada kening, pipi dan leher Alisya untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Ini panas banget non, bajunya juga basah lagi" tambahnya.
Bi Minah langsung mengambil pakaian dan mengganti pakaian Alisya yang basah dengan yang baru. Kemudian bi Minah mematikan AC dan menyalakan penghangat ruangan pada kamar itu.
"Aduh, non kok masih menggigil kayak gini" ujar bi Minah yang langsung mengambil selimut yang tebal untuk Alisya dan menyelimutinya.
"Ini demamnya juga belum turun" ujar bi Minah yang keluar kamar untuk mengambil air dingin dan mengompres kening Alisya.
Setengah jam kemudian...
"Aduh ini gimana demamnya belum juga turun apa aku kasih tau sama tuan muda aja ya, takutnya nanti terjadi sesuatu pada nona Alisya" ujar bi Minah.
"Hmm, lebih baik aku kasih tau tuan muda aja" tambahnya. Kemudian bi Minah menuju ke kamar tuan muda dan akan mengetuk pintunya, tetapi ia ragu sebab tuan muda tak akan suka jika ada yang mengusik dirinya jika tak ada yang penting.
Bagaimana jika aku mengganggu waktu tuan muda? Ah tapi aku takut jika tuan muda marah, huhhh tetapi aku harus melakukannya demi nona Alisya (batin bi Minah).
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Permisi tuan" ujar bi Minah yang mencoba menahan rasa gugupnya.
Siapa yang menggangguku malam-malam begini (batin tuan muda).
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan seorang laki-laki yang berparas tampan sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. "Hm ada apa" tanya tuan muda seraya menaikkan satu alisnya.
"A...anu tuan no...nona Alisya demamnya belum juga turun, a...apa boleh saya memanggil dokter untuk memeriksa nona Alisya?" tanya bi Minah menunduk bersiap menerima segala ucapan yang akan dilontarkan oleh tuan mudanya.
"Telpon Louis saja" ujar tuan muda singkat dan langsung menutup pintunya. "Huhhh jantungku deg deg an untung saja tuan muda tidak marah" ujar bi Minah bernafas lega. Kemudian bi Minah menelepon dokter Louis.
"Hallo tuan" ujar bi Minah.
"Tolong cepat kesini tuan nanti anda bisa lihat sendiri, tolong cepat datang" ujar bi Minah kemudian mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Aneh, siapa yang sakit? apakah Lucas si tahan banting itu? haha kurasa tidak huhhh hari ini sungguh melelahkan baru saja ingin tidur eh udah ada yang nyariin. Harus cepat-cepat kesana nih sebelum harimau bangun mengeluarkan taringnya (batin dokter Louis).
Selang waktu beberapa menit dokter Louis pun datang dengan membawa peralatan kedokterannya. Semua penjaga mansion menunduk hormat padanya dikarenakan Louis adalah sahabat dari tuan mudanya.
Louis bergegas menuju ke lantai atas, pikirannya berkecamuk kemana-mana sebab ia sedikit penasaran siapa yang sakit hingga menyuruhnya untuk datang ke mansion.
__ADS_1
Saat tiba di lantai yang ia tuju, bi Minah sudah stand by di depan kamar yang ditempati oleh Alisya dan menghampirinya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Bi ada apa coba ceritakan" tanya Louis. "Maaf tuan, sebaiknya anda masuk dan segera memeriksa keadaan nona" balas bi Minah. "Nona?" gumam lirih Louis. Kemudian ia pun pergi kekamar Alisya dan memeriksa keadaan Alisya yang terbaring lemah bagaikan mayat hidup.
"Kita harus segera menginfusnya, tubuhnya lemah saat ini kita bawa ke ruang kesehatan saja" ucap Luois. Bi Minah hanya mengangguk patuh pada ucapan Louis. Dengan segera Louis membopong tubuh Alisya menuju ruang kesehatan.
"Biarkan dia istirahat besok kesehatannya akan pulih" kata Louis. "Sebenarnya siapa dia kenapa bisa ada disini?" tambahnya. "Mohon maaf tuan saya tidak berani mengatakannya, lebih baik tuan tanya saja kepada tuan muda permisi tuan" pamit bi Minah.
"Huhhh siapa lagi ini Luc" gumam Louis menghela nafas kasar melihat Alisya. "Dia adalah orang yang telah membunuh ayahku" ujar tuan muda yang tiba-tiba datang. "Gadis polos seperti ini? bagaimana bisa?" ujar Louis yang penasaran.
Pantas saja banyak memar-memar ditubuh gadis itu (batin Louis)
"Aku sudah memeriksa semuanya dan dari sidik jari pisau itu menunjukkan bahwa dirinya yang telah melenyapkan ayahku" ujar tuan muda. "Apa tidak ada CCTV yang mengarah ke tempat saat kejadian itu terjadi?" tanya Louis.
"CCTV sudah dirusak dan tempat kejadiannya juga di gang buntu jadi tidak ada bukti lagi selain dirinya" jawab tuan muda. "Bagaimana kejadian itu bisa terjadi?" tanya Louis.
"Kemungkinan saat itu ayah dihadang oleh sekelompok orang di tengah perjalanan setelah pulang dari acara bisnis temannya dan ia disekap kemudian dibunuh di gang buntu itu" jawab tuan muda.
"Jadi maksudmu gadis polos itu suruhan dari seseorang untuk membunuh ayahmu?" ujar Louis. "Hem dan dia adalah suruhan Mohan" balas tuan muda. "Si tua bangka itu?" tanya Louis. Tuan muda hanya mengangguk mengiyakan ucapan Louis.
"Kenapa kau tidak membunuhnya?" tanya Louis. "Dia kabur keluar negeri, jika aku mau aku bisa mencarinya dan membunuhnya saat itu juga tapi biarlah dia bersenang-senang sebelum mendapatkan kematian yang menyakitkan" ujar tuan muda tersenyum devil.
"Huh kau selalu saja seperti itu, aku dengar dari Dave kau besok akan melawan bos mafia Scorpion seorang diri?" tanya Louis. "Hem" balas tuan muda dengan dehemannya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh ikut?" tanya Louis. "Tidak, sudah ada Dave disana kau tunggulah di dermaga" jawab tuan muda. "Baiklah" balas Louis. "Kau istirahatlah ke kamarmu" ujar tuan muda sebelum pergi meninggalkan Louis. Kemudian Louis menuju kamarnya yang ada di mansion tuan muda.
...----------------...