Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 36 Pembalasan Dendam


__ADS_3

Keesokan harinya, sang mentari menyambut kedua insan yang sedang terlelap tidur dengan damainya. Sinarnya memancarkan cahaya yang begitu terang sehingga membangunkan seorang gadis di atas tempat tidur rumah sakit ternama tersebut.


Secara perlahan Alisya mengerjapkan matanya akibat pancaran sang surya dan segera memalingkan wajahnya ke arah samping. Tatapan Alisya tak sengaja jatuh ke arah tuan muda yang tertidur pulas di kursi sofa. Satu tangannya ia letakkan diatas kepalanya membuat sebagian wajahnya tidak kelihatan begitu jelas.


Lehernya pasti sakit karena terlalu lama tidur dengan posisi yang kurang nyaman seperti itu.


Tanpa sadar Alisya memandangi tuan muda begitu lama. Entah apa yang membuatnya ingin terus melihatnya ia tidak tahu namun yang pasti ia ingin menatap lama padanya. "Kau sudah bangun?" tanya tuan muda dengan suara serak khas bangun tidur. Alisya gelagapan saat tertangkap basah memandanginya.


"I-iya," jawab Alisya gugup sembari memainkan tangannya di atas perutnya. Tuan muda mengacak-acak rambutnya dan menyibaknya kebelakang seperti menyisirnya. Memakai sepatunya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka.


Saat keluar, tuan muda memegangi lehernya yang kaku dan memberinya sedikit peregangan agar tidak terlalu sakit. Semua itu tak luput dari pandangan Alisya. "Bagaimana bahumu apa masih sakit?" tanya tuan muda.


"Jauh lebih baik daripada sebelumnya," balas Alisya sembari melirik sekilas tuan muda.


"Dave sebentar lagi akan datang. Jika ada keluhan atau sesuatu yang kau inginkan bilang saja padanya."


Tuan muda membalikkan tubuhnya hendak pergi namun satu pertanyaan dari Alisya menghentikan langkahnya. "Kau ingin kemana, tuan?" lirih Alisya. Sebenarnya ia takut bertanya seperti itu namun rasa ingin tahunya lebih besar dari rasa takutnya.


"Aku ada urusan, ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya tuan muda. Suaranya terdengar dingin berbeda dari sebelumnya.


"Ah itu tidak ada." Alisya tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Baiklah," ujar tuan muda dan berlalu pergi.


"Kapan kau kembali, tuan?" tanya Alisya sedikit berteriak saat tuan muda sudah berdiri di ambang pintu. Tuan muda sedikit menoleh ke arah Alisya.


"Aku tidak tau yang pasti aku akan kembali," jawab tuan muda lalu melanjutkan langkahnya.


Alisya membuang napas kasar karena tidak ada seorang pun yang sekedar menemaninya. Meskipun dengan tuan muda sendiri membuatnya sedikit takut tetapi tak jadi masalah ia bisa mengatasinya.


"Aku haus!" Alisya memandangi segelas air putih di atas nakas dan mencoba untuk mengambilnya.


"Ayo sedikit lagi-" Alisya tetap berusaha mengambilnya.


"Akhh" Alisya hampir terjatuh namun tangan seseorang mencekalnya.


"Hati-hati nona." Alisya langsung melihat siapa orang yang membantunya.


Pria tersebut tersenyum. "Aku Dave," ujarnya. Alisya melihat tangan Dave dan langsung melepaskannya.


"Terimakasih," ucapnya dengan tersenyum tipis. Dave mengambil segelas air dan memberikannya pada Alisya.


"Lain kali lebih hati-hati," peringat Dave dan Alisya menjawabnya dengan sekali anggukan.


"Aku membawa ini." Dave menunjukkan beberapa makanan yang ia bawa.


"Ada salad buah dan sayur juga. Makanlah supaya cepat pulih."


"Tidak perlu repot-repot tuan." Alisya merasa tidak enak saat Dave membawakan makanan yang lumayan banyak untuknya.


"Tidak, ini tidak merepotkan justru aku disuruh oleh Lucas agar membawakan semua ini," ujarnya menerangkan.


"Makanlah ini dulu, pagi-pagi harus diawali dengan makanan yang bernutrisi bukan?" ucap Dave seraya menyerahkan salad sayur itu pada Alisya.


"Kau suka sayur kan? Dilihat dari wajahmu sepertinya kau menyukainya," tambahnya.


Alisya tertawa kecil. "Ehm aku tidak terlalu menyukainya." Dave sedikit terkejut saat mengetahui tebakannya salah.


"Sepertinya aku salah menilai orang. Kupikir kau menyukainya tetapi ternyata tidak." Dave menghela napas berat.


"Tapi aku bisa memakannya walaupun tidak begitu suka." Alisya menerima salad sayur yang disodorkan Dave.


"Ya belajarlah memakan sayur-sayuran supaya tubuhmu sehat. Ingat itu!" perintah Dave.


"Ehm, Bolehkah aku memakannya sekarang?" tanya Alisya.


"Tidak boleh!"


"Huh, nona. Itu sudah menjadi milikmu kenapa mesti bertanya lagi?" Dave tak habis pikir gadis didepannya ini sangat absurd tetapi ia akui nyaman saat mengobrol dengannya.


"Baiklah aku minta maaf tuan." Alisya tersenyum saat melihat Dave kesal padanya. Kemudian Alisya menikmati salad sayur tersebut meskipun rasanya aneh karena ia memang tidak terlalu menyukainya.


Cantik dan lucu begini bagaimana bisa menjadi seorang pembunuh? kuharap ada titik terang setelah ini.

__ADS_1


"Tuan? Tuan?" Alisya melambaikan tangannya di depan Dave.


"Ada apa tuan apa ada yang salah denganku?" Alisya melihat dirinya sendiri, tetapi tidak ada yang aneh rasanya.


"Ehm? oh itu tidak aku hanya melamun saja," ujar Dave sedikit berbohong.


"Cepat habiskan makananmu kalau tidak maka kau wajib membayar ganti rugi makanan ini," ujar Dave mengancam. Alisya memandang Dave tak percaya.


"Aku serius," ujarnya seolah-olah terlihat garang di depan Alisya.


"Akan kubayar begitu aku keluar dari jeratan ini," ujar Alisya pelan namun Dave masih bisa mendengarnya. Sebenarnya Dave ingin membantu Alisya agar terbebas dari cengkeraman sahabatnya, namun Dave tidak punya kuasa akan hal itu. Juga tak sanggup bila harus melawan sahabatnya sendiri demi membebaskan Alisya yang baru dikenalnya.


"Ada sesuatu di pipimu." Alisya menyentuh pipinya.


"Hey bukan disitu tapi yang satunya." Tangan Alisya beralih menyentuh pipi yang lainnya.


"Haisss," Dave mengusap gemas pipi Alisya.


Menggemaskan sekali. Batin Dave seraya tersenyum senang. Kemudian ia pun menjulurkan tangannya. Alisya mengerutkan keningnya bertanya-tanya akan sikap Dave.


"Teman?" tanyanya dan Alisya semakin bingung saat Dave mengajaknya berteman, apakah dia tidak salah dengar saat Dave mengajaknya berteman.


"Ayolah kenapa diam saja?" Dave meraih tangan Alisya dan berjabat tangan dengannya.


"Mulai sekarang kita teman" Dave tersenyum lebar entah mengapa dia bahagia dengan hal sekecil itu.


"Apa kau tidak salah mengajakku berteman, tuan?" tanya Alisya.


"Kenapa salah? apa berteman denganmu itu sebuah kesalahan?" balas Dave sedikit membentak namun detik berikutnya ia merubah raut wajahnya.


"Aku adalah seorang pembunuh. Bukankah seorang pembunuh tidak mempunyai teman?" Alisya tetap bersikeras menolak pertemanan ini.


"Dengarkan aku-" Dave menghela napas berat dan melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak peduli entah kau pembunuh atau bukan tetapi aku tahu bahwa kau pasti punya alasan dibalik itu. Jangan pikirkan ini lagi aku tidak mau tahu. Aku tidak ingin kondisimu memburuk dan satu hal lagi jangan memyebutku TUAN panggil saja aku DAVE!"


"Sepertinya kurang sopan jika aku hanya memanggil namamu saja?"


"Memang berapa usiamu?" tanya Dave penasaran.


"19 tahun dan akan beranjak 20 tahun," jawaban Alisya membuat Dave menganga tak percaya. Semuda itukah gadis didepannya ini.


"Panggil saja aku kakak usia kita tarpantau lumayan jauh," kata Dave memberi saran.


"Baiklah kak Dave!" ujar Alisya seraya tersenyum tipis.


Tuan muda pergi menuju ke apartemennya dikarenakan jaraknya lebih dekat dibandingkan mansionnya. Tuan muda membersihkan tubuhnya dan beranjak menuju balkon apartemennya. Membuka handphone dan mengirim sebuah foto barang yang mungkin sangat berharga bagi Mohan. Selang beberapa detik sang target menelepon sesuai dugaannya.


"KEMBALIKAN KALUNG ITU!"


"Apakah kalung itu berharga bagimu?" tuan muda melihat kalung yang dimaksud Mohan di tangannya. Sebelumnya Dave menaruh kalung tersebut di kamarnya. Berpikir bahwa akan berguna sebagai alat untuk memancing Mohan.


"JIKA SAMPAI KALUNG ITU HILANG MAKA AKU PASTIKAN KAU TIDAK AKAN ADA DI DUNIA INI LAGI! AKU BERJANJI!"


"Menakutkan sekali ancamanmu. Sepertinya kalung ini lebih berharga daripada nyawamu," tuan muda tertawa kecil diakhir kalimatnya.


"BAJINGAN, KAU BOLEH AMBIL APA SAJA DARIKU TAPI TIDAK DENGAN KALUNG ITU!"


"Temui aku di belakang gedung tua dekat kota tengah malam nanti dan datanglah sendiri jika kau memang berani," tuan muda tersenyum bagaikan iblis yang memanfaatkan kelemahan musuhnya.


"CK, KAU-"


Tuan muda mematikan sambungan teleponnya dan menggenggam kalung tersebut.


"Aku tidak tahu cerita dibalik kalung berinisial ini tetapi kupastikan aku akan membunuhmu atas apa yang kau lakukan pada kedua orang tuaku," ujarnya seraya mengeraskan rahangnya tak lupa tangannya mengepal erat tak sabar untuk memukul Mohan dan juga menghabisinya.


Tuan muda tahu jika Mohan telah kembali untuk memeriksa pekerjaan ilegalnya yaitu menjual-belikan narkoba di pelabuhan kota. Ia memanfaatkan kondisi ini untuk memancingnya datang. Sebelumnya juga telah dipersiapkan sebuah rencana yaitu membakar gudang rahasia milik Mohan.


Namun ternyata sebuah barang penemuan Dave menjadi salah satu senjata yang lebih kuat dibandingkan membakar gudang Mohan yang berisi obat-obatan terlarang yang siap diedarkan.


Awalnya Dave hanya ingin mengecek gudang belakang rumah Mohan, tetapi takdir baik mendukungnya saat itu. Tanpa sengaja ia memasuki ruang kerja Mohan yang terhubung langsung dengan gudang dan menemukan brankas kecil dibalik bingkai lukisan yang hampir terjatuh karenanya.


Sungguh hari itu adalah hari keberuntungan baginya karena brankas tidak dikunci oleh Mohan. Dave mengambilnya karena kalungnya terlihat berbeda dan berinisial A. Pikirnya pasti ada sesuatu dibalik ini karena disimpan di tempat aman seperti brankas. Bahkan banyak gulungan kertas yang tersimpan di dalam kotak kecil tempat dimana Dave menemukan sebuah kalung.

__ADS_1


Maafkan aku Mohan


Sebuah kata yang paling diingat oleh Dave. Ia hanya bisa membaca tiga kata itu sebab tiba-tiba seseorang datang dan Dave langsung bergegas pergi menyelamatkan dirinya.


Sebelumnya Dave bercerita pada tuan muda mengenai kalung itu membuat tuan muda mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Tinggal menunggu saat malam nanti dan semua akan selesai dengan secepatnya.


Waktu berlalu begitu cepat. Malam seakan ingin menyaksikan pertikaian antar manusia yang saling berselisih paham. Mandi darah akan menjadi penentuan akhir dari hidup dan mati salah satu maupun keduanya.


Tuan muda sudah bersiap diri memakai pakaian serba hitam dengan jaket hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Sebaliknya Mohan menyiapkan pasukannya untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan sang musuh.


Tuan muda menyelipkan pisau lipatnya dan juga satu revolver sebagai pelindung. Tatapan matanya menajam. Luapan amarah yang terpendam bangkit menguasai akal pikiran. Dendam yang membara siap menghujam sang mangsa. Tuan muda menatap sekilas kalung milik Mohan dan memasukkannya kedalam saku.


"Malam ini akan menjadi malam yang indah!" Tuan muda tersenyum devil. Malam yang dinantikannya beberapa jam yang lalu telah datang. Semua kejelasan akan terungkap tanpa terlewat. Tuan muda beranjak pergi menuju gedung tua sendiri tanpa pengawal satu pun. Tidak seperti Mohan yang berlindung dibalik pengawal yang dibayarnya.


Sesampainya di gedung tua, tuan muda memindai sekitar. Tampak lenggang dan ranah baginya yang tak menyukai kawasan bising. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil melaju mendekat kearahnya. Siapa lagi jika bukan Mohan. Seorang pria tua yang dinanti oleh tuan muda.


Satu persatu orang turun dari mobil termasuk Mohan. Ia memandangi tuan muda dengan arogannya. Berpikir bahwa tuan muda tidak akan bisa melawannya.


"Cih, seorang pengecut tetaplah pengecut!" ujar tuan muda seraya tersenyum meremehkan.


Mohan tergelak saat mendengar penuturan tuan muda. "Pengecut ini akan membunuh ketua mafia terbesar di negeri ini." Mohan kembali tertawa untuk yang kedua kalinya seakan kemenangan sudah menjadi miliknya.


"Terlalu banyak tertawa tidak menyelesaikan perkara." Tuan muda langsung menyerang pengawal Mohan. Satu persatu dapat diatasi dengan baik. Mohan yang melihat itu semakin resah takut jika hidupnya dalam bahaya.


Bugh


Krak


Pukulan demi pukulan tuan muda layangkan pada pengawal bayaran Mohan. Sungguh amarahnya memberikan kekuatan untuk menghajar para bajingan itu.


"Sekarang tidak ada yang akan melindungimu." Tuan muda menyeringai jahat dan berjalan mendekati Mohan.


"Sialan kau!" Umpat Mohan disela-sela ketakutannya. Tuan muda tertawa kecil akibat mendengar perkataan Mohan yang terasa lucu baginya.


Mohan mengambil pistolnya dan menodongkan senjata. "Tamatlah riwayatmu!" Saat akan menembak, pistol tidak segera meluncurkan peluru panas sesuai keinginannya.


Sial aku mengambil senjata yang salah.


"Sepertinya takdir baik tidak berpihak padamu?" Tuan muda melempar pisau lipat dihadapan Mohan.


"Pakai itu dan lawanlah aku!" Suruh tuan muda dengan santainya.


Mohan berlari dan menggenggam pisau. Lalu mengarahkannya ke tubuh tuan muda dan menyerangnya tanpa henti. Tuan muda hanya diam mengelak dari segala serangan.


"Membosankan."


Bugh


Tendangan tuan muda mampu membuat Mohan tergeletak di tanah. Pisau yang semula di tangannya terlempar jauh dan tak bisa diambilnya. "Ini sudah berakhir menyerahlah!" Tuan muda menginjak dada Mohan.


"Tidak ini belum berakhir!" Mohan melihat pengawalnya akan menusuk tuan muda dari belakang.


Clap


Tangan tuan muda memegangi pisau tajam tersebut. Darah menetes dan bercucuran di tangannya. Tuan muda menendang perut pengawal itu hingga jatuh tersungkur.


Clap


Satu tusukan tepat mengenai jantungnya. Tuan muda mengambil revolvernya dan menembaki satu persatu pengawal tersebut.


Dor


Dor


Dor


Dor


Semua mati hanya tersisa Mohan seorang diri. "Tinggal dua peluru lagi." Tuan muda menatap tajam Mohan.


"Tunggu apa lagi bunuh aku." Mohan tersenyum sinis memancing amarah tuan muda.


"Pasti!" Tuan muda mengangkat tangannya dan memukul kepala Mohan hingga pingsan.

__ADS_1


__ADS_2