
"Luc, sudah berapa botol minuman yang kau habiskan hingga bisa sampai semabuk ini?" Billy kesulitan memapah tuan muda yang mabuk berat.
"Dua botol vodka hahaha" racau tuan muda dengan tubuh berjalan tak tentu arah.
"Huh pantas saja kau sudah tepar seperti ini" ujar Billy menghela nafas berat.
"Ck, jauh sekali tempat parkirnya dan William juga kenapa lama sekali berbicara dengan wanita itu!" Billy mulai kelelahan saat William tak kunjung datang untuk membantunya.
"Bil" William menepuk pundak Billy dari belakang.
"Damn, bantu gue!" Bentak Billy kesal.
"Hahaha" William tertawa puas saat melihat raut wajah Billy yang sudah geram padanya. Kemudian keduanya membawa tuan muda masuk ke dalam mobil.
"Dia kemari menggunakan motor atau mobil?" tanya Billy menatap William.
"Entahlah tidak usah dipikirkan, kehilangan satu mobil ataupun motor sport tidak akan membuatnya jatuh miskin" William tancap gas melajukan mobilnya.
"Hm loe benar, harta kekayaannya melimpah ruah namun hatinya kosong tak terisi terasa hampa dan sepi" Billy menatap sendu tuan muda yang memijat pangkal hidungnya.
"Suatu saat nanti pasti akan ada seseorang yang bisa membuatnya tersenyum bahagia, gue yakin itu" terang William menatap lurus ke depan.
"Dan akan ada perempuan berhati tulus yang mampu menjinakkan kepribadiannya yang kejam dan dingin" tambah Billy.
Setelah sampai di mansion,
"Selamat malam tuan" ujar penjaga menundukkan kepalanya dan membukakan pintunya.
"Malam" ujar William dan Billy serempak. Kemudian Billy dan William memapah tuan muda menuju lantai atas.
"Lepas!" tuan muda menghentakkan tangannya agar bisa berjalan sendiri tanpa bantuan mereka.
"Pergi!" tuan muda mengibaskan tangannya menyuruh Billy dan William meninggalkannya sendiri.
"Lebih baik kita pergi sekarang, biarkan dia istirahat" ujar Billy melangkah pergi dari hadapan William.
"Hey, bagaimana jika kita kembali ke club dan bersenang-senang disana?" tanya William menyusul Billy.
"Baiklah, tapi loe yang harus bayar" ujar Billy menaik-turunkan kedua alisnya.
"Shit, okey gue yang bayar" ujar William tersenyum masam saat melihat Billy tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tuan muda yang mabuk berat berjalan sempoyongan hingga membuatnya hampir terjatuh beberapa kali. Penampilannya yang acak-acakan seakan menambah aura ketampanannya yang semakin menawan.
Brakk
Alisya terbangun dari tidurnya. "Tu-tuan" Alisya kaget saat pintu terbuka dengan keras dan melihat tuan muda yang berdiri dengan kondisi mabuk.
Ceklek
Tuan muda menutup pintunya dan menguncinya. Kemudian menatap Alisya dengan tatapan yang sulit diartikan. "A-apa yang kau lakukan disini tuan, ini sudah malam" Alisya bangkit dan ingin mengantarkan tuan muda kembali ke kamarnya.
"Katamu kau ingin memuaskanku bukan? maka lakukanlah" Alisya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh tuan muda.
Bau alkohol, sepertinya tuan sedang mabuk.
"A-aku tidak mengerti apa maksudmu tuan, sebaiknya kau kembali kekamarmu dan aku akan mengantarkanmu tuan" Alisya bertindak setenang mungkin untuk menghadapi tuan muda yang sedang mabuk.
"Kau tidak mau memuaskanku? maka biarkan aku yang akan menguasaimu" tuan muda tersenyum licik dan melangkah maju mendekati Alisya hingga terpaksa membuatnya melangkah mundur menghindari lelaki didepannya.
"Tu-tuan kau sedang mabuk sebaiknya kau istirahat" Alisya mulai waspada dan terus menghindari tuan muda yang sedang dalam kondisi mabuk.
Alisya sudah tidak bisa lagi melangkah mundur kini terdiam karena terhalang ranjang tempat tidur dibelakangnya. Tuan muda terus melangkah maju hingga membuat dirinya semakin dekat dengan posisi Alisya sekarang.
Tuan muda mencengkeram kedua lengan Alisya dan mendorongnya hingga terjatuh ke ranjang tempat tidurnya. Alisya dilanda kepanikan takut terjadi sesuatu yang tak terkendali kedepannya.
Tuan muda terus mendekati Alisya hingga Alisya terpojok dan tak bisa bergerak lagi. "Kau mau pergi kemana, hm?" Alisya kini harus membatalkan niatnya untuk pergi menghindari tuan muda karena dirinya sudah dibawah kungkungan tangan tuan muda.
"Aku akan membayarmu berapapun yang kau mau jika mampu memuaskan diriku" tuan muda mengusap lembut bibir Alisya.
"Tuan sadarlah aku bukan wanita seperti yang kau pikirkan itu" Alisya mencoba menyadarkan tuan muda namun sepertinya itu tidak akan membuahkan hasil mengingat tuan muda sudah dikuasai oleh minuman beralkohol yang memabukkannya.
Tuan muda yang sudah 'ingin' tak mau menunda lagi dengan segera mencium bibir Alisya dengan rakus. Namun Alisya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Shhh" Alisya meringis sakit saat tuan muda menggigit kecil bibir bawahnya dan tuan muda mulai menjelajahi lebih dalam isi mulut Alisya. Mencecap rasa manis di bibirnya hingga seakan membuatnya candu berciuman dengannya.
Tangan Alisya tak tinggal diam. Ia terus memukul dada bidang tuan muda agar melepaskan ciumannya. Hal itupun berhasil membuat tuan muda melepaskan pagutannya, tetapi kedua tangan Alisya malah digenggam kuat oleh tuan muda dan kemudian menariknya tepat di atas kepala Alisya.
"Tuan, kumohon sadarlah" pinta Alisya. Tuan muda tak menghiraukan perkataan Alisya dan langsung membungkamnya dengan mulutnya karena tak ingin Alisya banyak bicara.
"Emhhh" Alisya meronta-ronta di bawah kungkungan tuan muda dengan menggerakkan tubuhnya sekuat mungkin untuk mengusik tuan muda agar tidak bertindak lebih jauh lagi. Namun itu hanya sia-sia saja mengingat tenaganya kalah jauh dengan tuan muda yang cukup kuat.
Tuan muda lalu menindih tubuh Alisya hingga membuatnya tak bisa melakukan apapun dan tuan muda semakin bersemangat memperdalam ciumannya untuk merasakan sensasi manis yang membuatnya ingin lagi dan lagi.
"Bibirmu membuatku candu" bisik tuan muda di telinga Alisya membuat bulu kuduk Alisya meremang karenanya.
Tak lama tuan muda kembali melakukan aksinya dengan mengecup leher jenjang milik Alisya. Menghisap dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Alisya menggigit kuat bibirnya sebisa mungkin agar suara desahan tidak keluar dari mulutnya. Tuan muda tersenyum tipis saat melihat leher Alisya terdapat tanda kepemilikan yang dibuat olehnya.
"Aku akan memulainya" Alisya menggelengkan kepalanya menolak apa yang akan dilakukan oleh tuan muda.
__ADS_1
"Ehm tunggu dulu, bagaimana jika aku mengikat tanganmu" tuan muda mengambil sapu tangannya untuk mengikat tangan Alisya dengan kuat.
"Lepaskan aku tuan" mata Alisya berkaca-kaca.
"Aku akan menikmati tubuhmu maka bersiaplah" tuan muda membuka satu persatu kancing baju tidur Alisya dengan satu tangannya tetap berada di tangan Alisya.
"Bibi tolong aku" teriak Alisya serak karena tak bisa menahan tangisannya lagi.
"Suttt, jangan teriak" tuan muda meletakkan jari telunjuknya di bibir Alisya menyuruhnya untuk diam.
Kini baju tidur Alisya sudah terbuka, menampakkan bra hitamnya yang masih menutup anggota tubuhnya yang berharga. Di bawah punggung Alisya tangan tuan muda mulai bergerilya melepaskan kaitan bra hitam milik Alisya dan membuangnya ke sembarang arah.
"Tuan, hentikan hiks...hiks..." Alisya menangis tidak tau harus bagaimana lagi. Kemudian tangan tuan muda mulai meremas gundukan kenyal milik Alisya dan memainkannya.
"Shhh" Alisya melenguh sakit di sela-sela tangisannya. Kemudian tuan muda memiringkan kepalanya dan kembali mencium bibir Alisya dengan lembut. Tanpa Alisya sadari, tangan tuan muda diam-diam menyingkap rok yang dikenakan olehnya hingga membuat Alisya terkejut dan membulatkan matanya tak percaya.
"Emhhh...emhhh" Alisya mencoba memberontak dari perlakuan tuan muda yang sudah sangat melewati batasannya. Alisya menggelengkan kepalanya agar tuan muda menghentikan ciumannya.
"Emm, kau sudah tidak sabar rupanya" tuan muda tersenyum miring. "Tuan, kumohon jangan lakukan itu!" tuan muda tak mendengarkan permintaan Alisya dan terus melakukan apa yang diinginkannya.
"Hiks...hiks" tubuh Alisya kini sudah terekspos di hadapan tuan muda.
"Cukup tuan" ujar Alisya seraya memperhatikan gerak gerik tuan muda yang mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
Alisya memalingkan wajahnya saat melihat tuan muda bertelanjang dada hingga menampakkan tubuhnya yang gagah dan kekar.
Tuan muda yang sudah tak memakai sehelai benang pun segera menyatukan tubuhnya dengan Alisya. "Arghh sakittt!" Alisya meringis kesakitan saat tuan muda menyetubuhinya untuk yang pertama kalinya.
Keluarnya darah keperawanan Alisya menandakan bahwa kehormatan yang selama ini sudah ia jaga direnggut paksa oleh seseorang yang bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengan dirinya.
Tuan muda lagi-lagi membuat tanda kepemilikan di leher Alisya dan menikmati kenikmatan yang pertama kali ia rasakan. Hawa panas menyelimuti tubuhnya karena gairah yang membuatnya tertekan kini dapat ia lampiaskan sekarang.
"Ahhh" keduanya mengerang saat mengalami pelepasan bersama. Napas mereka memburu sesaat setelah melakukan penyatuan tubuh keduanya. Bulir keringat menetes membasahi tubuh masing-masing karena lelah menghabiskan tenaga akibat kegiatan panas mereka.
Tuan muda yang kelelahan ambruk disamping tubuh Alisya dan tertidur setelah mengeluarkan cairan ****** di dalam rahim milik Alisya. Lain halnya dengan Alisya yang merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
"Kau sudah membuatku tidak suci lagi tuan...hiks hiks...lebih baik kau bunuh saja aku dulu daripada aku harus menderita seperti ini, sungguh kau sangat kejam tuan!" Alisya tak bisa berbuat apapun lagi selain menangisi kehidupannya yang begitu kacau hingga dirinya terlelap akibat terlalu lama menangis.
...----------------...
...Heh tobat kalian semua😂...
...Tinggalkan jejak : Like & komen jika berkenan😊...
...Happy reading all ( ꈍᴗꈍ)...
__ADS_1