Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 43 Satu Permintaan


__ADS_3

Seminggu kemudian,


Suasana pagi di meja makan hampa tanpa tutur kata. Kedua manusia itu saling berhadapan menikmati makanan di piring masing-masing. Makan dengan kondisi tenang dan menghabiskannya sampai tak ada yang tersisa.


"Hari ini kita ada janji dengan Louis." Mata Alisya tertuju kearah pemilik suara tersebut.


"Aku sudah berbicara dengan dokter Fely agar mengundur jadwal terapi pagi ini. Setelah ini kita akan ke rumah sakit untuk kontrol." Alisya manggut-manggut mendengarkan kata per kata yang keluar dari mulut laki-laki didepannya.


"Tuan, bolehkah jika dokter perempuan yang menanganiku?" pinta Alisya karena ia merasa kurang nyaman jika bersama dengan dokter laki-laki.


"Sesuai permintaanmu," lalu tuan muda menghubungi Kaylie agar datang kerumah sakit Louis.


Di Rumah Sakit,


Senyum lebar tercetak jelas di bibir dokter bedah itu. Menatap kehadiran seorang wanita cantik di kursi roda yang dulu pernah ia tangani.


"Hai nona!" sapanya dengan lembut. Alisya tersenyum sekilas menanggapi Louis.


"Bagaimana kabarnya nona? apa ada yang dikeluhkan atau dirasakan selama seminggu ini?" tanya Louis setelah mempersilahkan keduanya duduk.


"Sejauh ini tidak terjadi apa-apa, hanya saja terkadang muncul rasa nyeri." ujarnya sembari menyentuh bahunya.


"Baik, hari ini benang jahitan akan dilepas dan mungkin timbul rasa sakit ataupun nyeri." Alisya sedikit gugup saat mendengarnya.


"Dimana Kaylie?" tanya tuan muda tiba-tiba.


Louis mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya karena bingung saat nama Kaylie disebut.


"Aku sudah meneleponnya untuk mengurusi hal ini," jawabnya dengan santai.


"Untuk apa? Aku dokter bedah kan?" Louis masih saja tidak mengerti dengan sikap tuan muda.


Tok


Tok


Tok


Pintu yang semula tertutup kini terbuka dan muncul kehadiran seorang perempuan memakai jas putih bersih dengan name tag Kaylie.


"Maaf tuan saya terlambat," sesalnya merutuki kesalahannya karena datang terlambat.


"Gantikan tugas Louis, urus gadis ini!" Kaylie menganggukkan kepalanya dan membawa Alisya menuju ruangan yang tertutup dengan tirai.


"Apa kau sebegitunya cemburu jika aku menyentuhnya walaupun itu hanya sekedar menangani lukanya?" Louis mencibir tuan muda yang terlihat semakin posesif pada Alisya.


"Aku hanya menuruti permintaannya, bukan berarti aku berubah seperti yang kau pikirkan." Elak tuan muda karena memang begitulah yang terjadi.


Setelah sekian lama menunggu Alisya dan dokter Kaylie muncul dari balik tirai. "Terimakasih dokter," ucap Alisya dengan seutas senyum.


"Tidak masalah ini sudah kewajiban dalam menjalankan tugasku," balas dokter Kaylie.


Setelah itu tuan muda dan Alisya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggal Louis dan Kaylie yang masih disana.


"Hey" Panggil Louis saat melihat Kaylie akan pergi.


"Sebut namaku!"


"Ada apa ini, sebenarnya apa salahku?"


Padahal dengan Alisya dia terlihat lemah lembut kenapa denganku dia menjadi wanita pemarah.


"Aku punya nama dan kau seenaknya memanggilku dengan kata hey kau pikir aku ini apa?" Kaylie kesal setiap kali berbicara dengan Louis.

__ADS_1


"Kau adalah bidadari yang kucintai dengan sepenuh hati."


"Cih, kau mulai lagi." Kaylie geleng-geleng melihat tingkah Louis yang selalu menggodanya.


"Apa kau ingin mencoba kissing?" ujarnya dengan santai tanpa beban.


"Sepertinya kau sudah gila!" Kaylie mundur langkah demi langkah saat Louis semakin mendekat kearahnya.


Louis terus memojokkannya hingga hampir terjatuh, namun ia meraih pinggang Kaylie dan tengkuk lehernya.


"Kau tahu apa manfaat berciuman? Biarku beri tahu yang pertama manfaat ciuman dapat meredakan stress dan kecemasan, yang kedua melancarkan aliran darah, yang ketiga membuat awet muda, yang keempat meningkatkan gairah-"


"STOP!!!" Kaylie melepaskan diri dari Louis.


"Kau sepertinya sudah kehilangan akal!" Bentak Kaylie.


"Kehilangan akal karena memikirkan dirimu." Louis kembali meraih tubuh Kaylie agar mendekat kearahnya lagi.


Apa dia sungguh-sungguh berkata seperti itu? tapi aku tidak yakin karena dia selalu saja menggodaku.


"Kau yakin ingin berciuman denganku?" tanya Kaylie seraya mengalungkan tangannya di leher Louis.


Deg


Apa ini! Niatku hanya menggodanya tapi dia menggodaku balik?


"Kenapa kau terlihat cemas? bukankah kau menginginkannya?"


Kaylie tersenyum senang saat berhasil mengerjai Louis. "Jangan salahkan aku jika aku kelewat batas." Tatapan Louis menyiratkan keseriusan. Kecemasan berbalik kepada Kaylie. Dia tidak menyangka jika Louis akan menjadi pria mesum seperti itu.


Apa dia benar-benar akan melakukannya? Tidak Kaylie, dia tidak akan seberani itu!


Kaylie menutup matanya rapat-rapat saat Louis mulai mendekatkan wajahnya. Hembusan napas Kaylie terhenti saat wajah mereka berhadapan satu sama lain.


Cup


Sebenarnya aku ingin menciummu, menyayangimu tetapi aku menahannya karena belum saatnya.


"Kau! Dokter mesum!" panggil Kaylie seraya menuding Louis dengan jari telunjuknya. Louis menaikkan sebelah alisnya, menantikan lontaran ucapan dari bibir dokter wanita itu.


"Manusia yang paling menyebalkan didunia ini!" ucapnya dengan sedikit meninggi. Louis menahan tawa mendengarnya. Wajah menggerutu dan bibir mengatup rapat. Walau terkesan menjengkelkan namun membuat candu.


Kaylie pergi dengan raut wajah kesal. Sudah dipastikan ia akan mengomel di sepanjang perjalanannya.


"Wanita memang sulit untuk dimengerti," ucapnya seraya kembali ke kursi singgasananya sebagai dokter.


.


.


.


"Bagaimana dengan perkembangan kakimu apakah ada kemajuan?" tanya tuan muda tanpa mengalihkan tatapan mata dari jalanan yang ramai pengendara.


"Kurasa kakiku bisa bergerak walaupun sedikit." Alisya melihat jemari kakinya yang dulu tidak bisa bergerak sama sekali.


"Berjuanglah untuk sembuh. Jangan berpikir bahwa kau akan tetap berada di situasi yang sama, yakinlah bahwa usahamu akan menentukan hasil terbaikmu." Alisya seakan mendapat sedikit kepercayaan dalam hatinya. Perkataan yang simpel tapi mampu membuat hati kecil Alisya terketuk agar tidak menyerah begitu saja.


Sesampainya di apartemen...


Tuan muda mendorong kursi roda Alisya sampai ke ruang tengah apartemen. "Coba lihat apa yang kau katakan itu benar?" tuan muda berpindah posisi menjadi di depan Alisya.


"Apa tuan?" Alisya mendongak keatas karena melihat tuan muda yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Gerakkan kakimu," perintah tuan muda. Jari kaki Alisya bergerak pelan sesuai perintahnya.


"Shhh" lenguh Alisya karena tiba-tiba rasa nyeri menjalar dari jari sampai ke kakinya.


"Sakit?" Alisya mengangguk sembari menutup matanya menahan sakit di kakinya. Tuan muda yang melihat Alisya kesakitan kemudian duduk bersila didepannya. Menatap dalam kedua mata wanita itu. Rasa bersalah tertanam dalam benaknya.


"Maafkan aku, ini semua terjadi karenaku. Harusnya aku yang berada di posisimu. Perbuatanku waktu itu juga telah menghancurkan hidupmu-"


"Cukup tuan, jangan bicarakan itu lagi. Saat mendengarnya rasanya aku benci pada diriku sendiri. Aku hanya menolongmu sebagai sesama manusia. Aku melakukannya karena menuruti hati nuraniku sendiri. Jadi jangan salahkan dirimu atas kesalahanku."


Hati Alisya pedih mengingat kehormatannya yang telah ternoda karena pria didepannya. Mahkota yang seharusnya diberikan pada suaminya kelak sudah lenyap direnggut laki-laki lain.


Rasa benci memang ada bahkan sampai saat ini. Tapi apakah itu bisa memperbaiki semua? mungkin tidak. Walaupun Alisya membencinya tapi saat melihatnya dalam bahaya apakah dia hanya akan diam begitu saja? Sayangnya hati Alisya tidak sekeras batu. Meskipun sekuat-kuatnya rasa amarahnya tak akan bisa melihat orang lain kesakitan.


"Aku akan menuruti satu permintaanmu apapun itu sebagai ganti atas ini semua. Jika kau meminta separuh kekayaanku akan aku berikan. Selagi aku bisa memenuhinya aku akan memberikannya. Aku janji," ucapnya dengan serius. Alisya tahu perkataan itu murni keseriusan. Tercetak jelas mata itu melihatnya tanpa berkedip sekalipun.


"Aku-"


"Aku hanya meminta kau melepaskanku tuan. Aku ingin pergi dari sini dan jangan temui aku setelahnya. Jangan sekalipun. Lupakan apa yang sudah terjadi selama ini seolah-olah itu hanya utopia belaka. Itulah janji yang harus kau penuhi tuan. Aku tidak meminta sesuatu yang sudah kau punya. Harta atau apapun itu, aku ingin kau berjanji satu hal itu padaku. Berjanjilah tuan?"


Alisya memohon dengan sangat. Ia ingin kehidupannya kembali seperti dulu dan berkumpul dengan sahabat satu-satunya.


"Kau yakin itu permintaanmu?" tanya tuan muda untuk memastikan bahwa itu benar-benar keinginan Alisya.


"Aku yakin tuan, aku tidak meminta apa-apa. Jangan khawatir aku tidak berniat untuk mengambil kekayaan atau benda berharga satu pun milik tuan. Aku hanya ingin tuan melupakan kejadian yang telah berlalu saat itu. Cukup itu saja. Dengan begitu setidaknya aku bisa hidup tenang tanpa cemas akan hal ini."


Maaf, karena kesalahpahaman ini aku berulang kali menyiksamu tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Melukai hatimu dengan ucapanku dan menyakiti ragamu dengan kedua tanganku. Aku salah tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf padamu.


"Baik, aku berjanji akan melupakannya sesuai dengan kemauanmu." mengucapkan janjinya dengan sungguh-sungguh.


"Jika tuan sudah berjanji bisakah aku pulang ke rumahku sekarang?" Alisya sedikit memohon karena ingin segera kembali ke rumahnya yang tenang dan damai itu.


"Sekarang? Bahkan kakimu belum pulih seutuhnya. Setidaknya tunggu sampai kau benar-benar bisa berjalan seperti dulu."


Sudah beberapa hari tuan tidak kasar padaku. Apa dia sudah tahu kebenarannya?


"Apa tuan sudah mengetahui bahwa aku bukan pembunuh ayah tuan?" tanya Alisya membuktikan apakah pemikirannya benar atau salah.


"Aku tidak tahu," ujarnya membuat Alisya bingung tentang hal itu. Ia akan sangat bersyukur jika tuan muda sudah mengetahuinya. Tetapi jawabannya tidak seperti yang diinginkan oleh Alisya. Bahkan ekspresinya tidak menjawab pertanyaannya.


Bel apartemen berbunyi, tuan muda bangkit lalu membuka pintu apartemen. "Silahkan masuk dokter," ucapnya tanpa basa-basi. Wajahnya berubah datar dan sikap dinginnya kembali merasukinya.


Tuan muda menyentuh puncak kepala Alisya. "Berjuanglah sekuat tenaga, tunjukkan padaku bahwa kau bisa." Tuan muda pergi menuju ke kamar begitu saja. Alisya mengerutkan dahi sambil menatap tubuh belakang yang semakin jauh itu.


Aneh, tiba-tiba sikapnya jadi dingin seperti itu. Apa gara-gara aku menyebut tentang mendiang ayahnya?


"Baik nona kita lakukan peregangan kecil untuk melatih kekuatan kaki Anda. Bukankah nona harus membuktikan kepada suami Anda bahwa nona bisa?" Ujar dokter Fely dengan seutas senyum.


Suami?


"Ti-tidak seperti itu. Maksudku bukan-"


"Anda tidak perlu malu saya juga sudah berkeluarga. Pasti nona beruntung mendapatkan suami sepertinya. Walaupun sikapnya dingin namun didalamnya sangat peduli tentang kesembuhan Anda kan?"


Alisya hanya menunduk menatap lantai bingung harus menjelaskan apa kepada dokter Fely.


"Baik saya tidak akan membahasnya lagi." Dokter Fely mengira Alisya malu karena ia terus membicarakan soal pernikahan.


Selang beberapa menit, tuan muda kembali dengan setelan kemeja hitam dengan lengan yang dilipat keatas. Dipadupadankan dengan celana jeans dan topi yang melekat di kepalanya. Tak lupa jam rolex mahal terpasang di pergelangan tangannya.


"Aku tinggal dulu." Tuan muda mengacak-acak rambut Alisya sebelum pergi. Entah kenapa ia sekarang suka membuat rambut Alisya yang halus dan rapi menjadi berantakan.


Alisya yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menyisir rambutnya dengan tangannya. Ia hanya bisa menarik napas dalam-dalam tanpa bisa melawan.

__ADS_1


Pasangan yang romantis. Batin Dokter Fely seraya tersenyum setelah melihat romantisme pasiennya.


...××××× Batas Akhir ×××××...


__ADS_2