
Saat ini entah mengapa Michele menjadi berani dari sebelumnya. Biasanya ia hanya tertunduk dan diam saat wanita itu berbicara. Tapi kini ia terlihat arogan dengan mengangkat dagunya seolah muncul tekad yang kuat untuk melawan wanita itu.
Sudah sejak lama ia hanya menjadi budak suruhannya. Menjadi samsak ketika ada pertikaian dengan ayahnya. Ketidakberdayaannya membuat wanita itu semakin sewenang-wenang dan kurang ajar terhadapnya.
Tapi sekarang itu sudah ia kubur dalam-dalam. Tidak ada lagi penyiksaan maupun perbudakan. Sekarang waktunya pembalasan atas semuanya.
"Oh, gadis lemah sekarang kau semakin berani kepadaku ya?"
"Apa yang harus kutakutkan? Kau hanyalah wanita penggoda ayahku dan posisiku lebih tinggi daripada dirimu." Michele menjawab dengan lantang.
Wanita itu tersenyum. "Apa ayahmu peduli denganmu?"
Michele tertawa kecil. "Apa kau bisa menggantikan posisi ibuku?"
"Kau hanyalah simpanan ayahku dan selamanya akan menjadi simpanan. Jangan berharap lebih. Jika ayahku membelamu itu karena dia tidak tahu apa yang telah kau lakukan padaku. Aku tahu kau hanya ingin mengambil hartanya. Tapi tidak akan kubiarkan hal itu terjadi," tambahnya.
"Ayo kita pergi." Ajaknya pada Billy disampingnya agar tidak lagi mendengar ocehan dari mulut wanita yang dibencinya.
Sringgg
"Arghh," lengan Michele tersayat.
"Kau tidak apa-apa?" Billy khawatir karena wanita gila itu dengan sengaja mengarahkan pisaunya dilengan Michele.
"Tidak masalah ayo pergi," ajaknya pada Billy.
"PENJAGA TANGKAP MEREKA!" Suruh wanita itu namun semua penjaga diam seribu bahasa ketika Michele menatap mereka dengan tegas. Baru kali ini mereka melihat nonanya menatap tajam. Karena yang mereka tahu selama ini Michele hanyalah gadis lugu yang penurut.
"Apa kalian berani padaku?" Semua penjaga menunduk dan memberi jalan kepada Michele serta Billy. Mereka akhirnya keluar bersama tanpa ada yang menghalanginya.
"Kenapa kalian diam saja! Bodoh!" Wanita itu mengambil senapan dari salah satu penjaga dan mengejar Michele.
Dor
Dor
Billy dan Michele menengok kebelakang akibat suara tembakan. "Pergilah!" Michele mendorong Billy agar segera menjauh dari tempatnya. Takut jika Billy ikut terkena imbasnya.
"Kau ikutlah denganku!" Menarik tangan Michele kemudian membawanya pergi bersama. Billy mengambil motor yang ia sembunyikan dan menyalakan mesinnya.
"Tidak perlu-"
"Naik!" Michele menuruti ucapan Billy seakan sudah percaya kepadanya. Billy membawanya menjauh dari rumah penuh ancaman itu. Tujuannya sekarang adalah apartemen miliknya agar Michele aman dari bahaya.
Saat sampai, Billy mengirimkan pesan pada Louis agar datang ke apartemen miliknya. Memberitahu apa yang terjadi barusan.
"Masuklah, ini apartemenku." Billy mengambil kotak obat di atas nakasnya.
"Duduklah aku akan mengobati lenganmu."
"Tidak perlu saya bisa sendiri." Michele mengambil alih kotak obat tersebut dan mengobatinya sendiri.
"Sepertinya lukanya tidak terlalu dalam itu akan sembuh dengan cepat." Billy membantu memasukkan barang yang sudah digunakan untuk mengobati luka Michele.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Silakan,"
"Siapa kau sebenarnya?" Billy menatap lekat mata Michele.
"Saya putri dari pak pengacara."
"Lalu siapa wanita itu?"
"Dia adalah simpanan ayah saya. Dia bukan sekedar wanita biasa. Dia adalah psikopat gila. Berulangkali saya disiksa olehnya-"
"Apa ayahmu tidak tahu?" Billy mengernyit keheranan.
Michele tersenyum sekilas. "Sebenarnya beliau mengetahuinya tapi seakan menutup sebelah mata. Ayah hanya percaya pada wanita simpanannya. Walaupun saya berkata jujur sekalipun tapi pembelaannya tetap pada wanita itu. Ayah gelap mata. Kami diadu domba. Tapi sekarang sudah cukup bagi saya untuk menelan pahitnya hidup selama ini. Penyiksaan, hinaan dan kesombongannya akan saya balas nanti. Saya pastikan cepat atau lambat saya akan menyingkirkannya."
__ADS_1
Entah aku hidup ataupun mati akan kusingkirkan dia. Aku bersumpah! Dendam Michele seakan sudah tak bisa dibendung. Rasa benci sudah menggerogoti hatinya.
"Kau pasti bisa." Sebenarnya hidupnya tidak jauh dari Michele. Tapi ia bangga padanya karena bisa melalui semuanya dengan tegar.
"Billy, sebelumnya aku belum memberitahu namaku kan?" mengulurkan tangan bermaksud untuk memperkenalkan namanya.
"Semoga kita bisa menjadi rekan yang baik," jawab Michele dengan seutas senyum cantiknya yang dibalas anggukan oleh Billy.
Suara bel mengalihkan pandangan mereka. Billy menarik pintu apartemen dan Louis langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan.
"Bagaimana keadaan Lu-" Louis tidak melanjutkan ucapannya saat matanya bersitatap dengan Michele. Louis mencengkeram baju Billy agar mengikutinya.
"Siapa dia?" ujarnya saat sudah di depan apartemen.
"Putri pengacara." Louis mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia ada disini?" tanyanya bingung.
"Nyawanya dalam bahaya, jadi aku menyelamatkannya."
"Lalu Lucas? Kau meninggalkannya sendiri? Apa kau gila!" Billy sedikit menaikkan intonasi perkataannya.
"Lucas yang memintanya-" Belum selesai bicara Louis sudah menyela ucapannya.
"Dan kau menurutinya?"
"Apa yang harus kulakukan, kau tahu Lucas tidak suka dibantah!" Sentak Billy karena tidak mau disalahkan.
"Dia teman kita dan kau memilih membawa wanita itu! Apa yang ada dipikiranmu Bil!" Louis tak mau kalah berdebat.
Di dalam, Michele diam-diam mendengarkan dua pria yang saling adu mulut tersebut. Semua ini terjadi karenanya. Jika ia tetap disana kemungkinan masalah ini tidak akan menjadi serumit ini. Michele beranjak keluar untuk menuntaskannya sendiri.
"Permisi," ujarnya pada Billy dan Louis. Mereka memberi jalan pada Michele yang ingin pergi.
"Hey, kau mau kemana?" Michele berhenti melangkah dan menoleh kebelakang.
"Kau akan semakin memperburuk keadaan!"
"LOUIS!" Billy membentak dan menatap tajam Louis saat ia mengatakan hal yang kurang mengenakkan kepada Michele.
"Michele, sebaiknya kita diskusikan dulu agar mendapat titik temu masalah ini." Billy membujuk Michele agar tidak nekat kembali kerumahnya.
"Saya permisi," pamitnya pada kedua pria dibelakangnya tanpa memedulikan nasihat Billy.
"Sial, semua ini gara-gara kau Louis!" ucapnya lalu pergi mengejar Michele. Sebenarnya mereka tidak salah. Hanya saja salah paham antara keadaan masing-masing. Billy dengan pendirian penuh pada keputusannya sedangkan Louis teguh pada rasa persaudaraannya tanpa melihat kondisi yang sebenarnya.
"MICHELE!" Panggilnya dan berhenti disamping Michele.
"Dengarkan aku, itu berbahaya dan bisa saja wanita itu menjadi semakin gila."
Michele menatap Billy. "Ini salahku, dia menyandera temanmu dirumahku dan aku hanya disini menunggu? Diam tanpa berusaha apapun!" Billy melihat keputusasaan di mata Michele.
"Aku akan memikirkan caranya ini sudah hampir gelap ayo kembali ke apartemenku," ujarnya dengan lembut dan berhasil membuat Michele luluh. Kemudian mereka kembali ke apartemen untuk mencari cara menghadapi permasalahan ini.
.
.
.
Malam indah bertabur bintang bercahayakan bulan. Malam dengan langit pekat bernuansa sepi dirasakan kedua insan yang saling bertentangan pola pikir itu. Entah bagaimana caranya nanti agar keadaan tersebut bisa segera berakhir.
Lilin satu persatu ditata dengan indah ditempat yang diinginkannya. Tak lupa menaruh aroma terapi di atas nakasnya agar menyeruak ke seluruh kamar itu.
Lampu kamar ia matikan supaya kegelapan menemaninya dalam menjalin kasih bersama pria yang ia belenggu tadi pagi. Wanita itu tersenyum sumringah setelah selesai menghiasi kamarnya.
Ia mengambil keranjang bunga mawar dan menaburkannya keselilingnya. Menari dan berputar kesana kemari terkesan seperti orang gila. Tuan muda yang melihatnya berasa muak dan segera ingin membunuhnya.
Wanita itu mendekat. Melempar bunga mawar yang tergenggam tepat mengenai wajah tuan muda. Tuan muda memejamkan mata sejenak kemudian melontarkan tatapan menusuk pada wanita itu.
__ADS_1
"Jangan menatapku begitu," wanita itu hendak menyentuh wajah tuan muda tetapi tuan muda berpaling seolah tidak mau disentuh oleh tangannya. Kemudian wanita tersebut pergi mengambil pisau yang ia sembunyikan di lemari kecil.
"Arghh," tuan muda mengerang karena wanita itu kembali menyayat luka yang pagi lalu ia berikan. Tangan tuan muda mengepal erat ditengah lingkaran besi yang menguncinya.
"Charlotte tidak akan menyakiti jika kau patuh padanya." Tuan muda tersenyum smirk menatap luka di dadanya. Darah kembali mengucur deras karena luka yang lebih dalam.
"Jadi siapa yang salah? Aku atau pisaumu?" ujarnya sembari memainkan pisau berdarah tersebut.
"Benda mati tidak pernah salah. Semua tergantung pemilik yang memainkannya." Tuan muda menahan letupan amarahnya. Menurunkan ego demi keberhasilan rencana kedepannya.
"Baik, mulai sekarang kau adalah benda mati. Akulah pemilik yang berhak memainkanmu." Charlotte membuang pisaunya dan menjalankan aksinya. Ia duduk diatas tubuh tuan muda.
"Kau tidak ingin merasakan permainanku?" usapan lembut tangan Charlotte terhenti. Keduanya saling bertatapan sejenak.
"Aku tidak mau, kau mencoba mengelabuiku." Charlotte bersikeras menolak tawaran tuan muda.
"Lepaskan salah satu borgol dari kedua tanganku, akan kutunjukkan bagaimana permainan yang sebenarnya." Tuan muda berusaha membujuk Charlotte.
"Apa kau berusaha menjebakku?" Usapan tangan itu berpindah di rambut tuan muda.
"Apa yang bisa ku lakukan dengan satu tangan?" Charlotte terdiam memikirkannya.
"Baiklah," tuan muda tersenyum tipis satu per satu langkahnya berjalan dengan lancar. Charlotte melepas borgolan tangan kirinya dan kembali duduk diatas tuan muda.
"Tunjukkan jika kau memang bisa membangkitkan gairahku." Charlotte menantang tuan muda. Tangan yang terlepas mulai bergerilya mengusap leher Charlotte. Usapan penuh kelembutan itu semakin turun ke punggungnya.
Semakin turun dan turun mengelus paha Charlotte yang terbuka karena pakaiannya yang terlalu pendek. Charlotte menikmati sentuhan-sentuhan itu.
Tubuhnya meremang seakan mulai terpancing gerakan tangan tuan muda. Charlotte menggigit bibir merasakan darahnya berdesir hebat. Kabut nafsu mulai menguasai tubuhnya.
"Engghh" Charlotte terlihat tak bisa mengontrol tubuhnya yang sudah diambang batas.
"Ini belum apa-apa. Jika kau melepas tanganku akan kutunjukkan lebih jauh lagi." Charlotte tanpa sadar langsung menyetujui permintaan tuan muda. Tidak berpikir jika itu hanyalah jebakan semata.
"Kau yakin tidak ingin dibawah?"
Charlotte mengangguk dan langsung bertukar posisi dengan tuan muda. Jangan tanya bagaimana perasaan tuan muda. Yang pasti amarahnya akan segera tersalurkan begitu ini berakhir.
"Cepat lakukan aku sudah tidak tahan lagi, enghhh." Charlotte kesetanan akibat permainan tuan muda.
Tangan tuan muda tak tinggal diam. Ia tetap melanjutkan sentuhan manis di tubuh Charlotte. Kedua tangan Charlotte meremas erat sprei tempat tidurnya.
Tuan muda menggenggam pelan pergelangan tangan Charlotte dan memborgolnya. Charlotte tidak sadar jika kedua tangannya sudah diborgol dengan mudah. Ia terlalu dalam terperangkap tipu daya yang diciptakan tuan muda.
"Ck, sandiwara yang rumit." Tuan muda bangkit dan menjauh darinya.
Charlotte yang telah dibohongi tak terima. Napasnya memburu karena gemuruh jeratan dusta yang menipunya. Ia terlalu larut dalam keadaan dan menyesal terlalu mempercayai tuan muda.
"KAU!"
"Berisik!" Tuan muda mencari kain yang bisa ia gunakan untuk menyumpal mulut Charlotte. Ia mengambil salah satu dasi yang ada di lemari. Kemudian mengikatkannya ke mulut Charlotte.
"Aku tidak membunuhmu karena kau telah menyelamatkanku waktu itu," ujarnya lalu mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan membersihkannya di kamar mandi.
"Jangan berteriak itu hanya sia-sia saja. Tidak ada yang bisa mendengarmu." Tuan muda menyambar bajunya di ranjang tempat tidur tersebut dan berlalu pergi.
Saat di depan, tuan muda dihadang oleh penjaga. "Aku sudah mendapatkan izin. Jadi beri aku jalan." Penjaga saling pandang dan menyingkir menjauhi tuan muda.
"Buka gerbangnya," suruh tuan muda kemudian pintu gerbang terbuka dengan lebar.
"Kau punya rokok?" Penjaga tersebut mengambil rokok dibalik sakunya. Tuan muda menerimanya dan mengambil satu batang rokok.
Ctik
Tuan muda mengembalikan sisa rokok beserta korek pada penjaga. Kemudian meninggalkan tempat itu dengan santai. Menghisap rokok dalam-dalam seakan bisa melepas rasa lelah yang melekat ditubuhnya.
...☠️...
..._____Batas Akhir_____...
__ADS_1