
...WARNING...
...☑️ Dimohon bijak dalam membaca ☑️...
...Chapter ini terdapat adegan kekerasan❗...
...______________________________________...
"Namun kau lebih bodoh," sarkas tuan muda dengan tatapan yang sulit diartikan. Seakan merencanakan sesuatu yang akan membuat hatinya senang. Dilihat dari senyum smirknya sudah jelas jika ada sesuatu yang akan terjadi.
"Arghhhh" raungan kesakitan yang memekak telinga menandakan awal dari penyiksaan pertama akibat puntung rokok yang dimatikan dimata pria itu. Billy di pojokan hanya berdiam diri sembari memakan snack. Menonton pertunjukan kebengisan dari tuan muda.
"Ini belum seberapa jadi jangan sia-siakan suaramu." Tuan muda mengambil katana yang terpajang di dinding. Mengkilap dan tajam. Sedikit kata yang mampu menggambarkan betapa berbahayanya senjata itu. Tak bisa dibayangkan jika sedikit menggores kulit bukankah mampu membuat darah bercucuran karenanya?
Apa lagi jika katana itu memotong ataupun memutilasi bagian tubuh seseorang? Akankah bisa terselamatkan selain hanya memasrahkan bagian penting tubuh yang hilang?
"Ucapkan selamat tinggal untuk kedua kakimu." Wajah pria itu terlihat bingung dan terkejut.
"Apa kau membutuhkan bantuanku, Luc?" Billy ingin ikut andil dalam permainan potong memotong ini.
"Hm, setidaknya agar dia tidak memberontak." Billy menarik kedua kaki pria itu dan meluruskannya. Billy memang sedikit sama dengan tuan muda yang menyukai penyiksaan. Tidak seperti Dave yang hanya kejam ketika ada yang mengancam nyawa sahabat-sahabatnya. Sebenarnya semua sama saja namun yang lebih menonjol adalah tuan muda dan Billy. Mereka berdua bengis dalam hal menghukum para musuh.
"Akhhh..."
"Itu hanya goresan kecil."
Apa dia seorang psikopat? Bagaimana bisa ada manusia semengerikan ini.
"Arghhh..." Raungan kesakitan menjadi bukti kekejaman dari tuan muda. Kedua kaki yang semula utuh kini terlepas dari tubuh. Cairan merah kental membasahi lantai yang sebelumnya kering tak bernoda.
Teriakan penuh lara bergema hingga keluar ruangan. Para anggota organisasi yang berjaga mencoba menutup telinga seolah tak mendengarnya. Tangisan dan teriakan pria tersebut menjadi satu saat melihat kakinya tergeletak dibawah.
"Itu balasan yang setimpal untuk wanita yang kau tembak beberapa hari yang lalu." Tuan muda menatapnya. Pria tersebut sudah setengah sadar. Entah karena akan mati ataupun sekedar cuma pingsan.
"Selamat tinggal," salam perpisahan dari tuan muda. Katana yang bersimbah darah di tangannya ia tusukkan ke jantung manusia didepannya hingga menembus kebelakang. Pria itu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Sungguh kematian yang tragis dan menyedihkan.
Tuan muda dan Billy meninggalkan pria itu dengan katana yang masih tertancap di jantungnya. Sebelum itu tuan muda menemui salah satu anggotanya untuk memberi perintah agar membersihkan kekacauan didalam.
"Bakar mayatnya dan bersihkan hingga tidak ada yang tersisa." Tuan muda dan Billy menuju tempat khusus mereka di markas. Terdapat meja billiard di tengah-tengah ruangan.
"Luc, kau ingin bermain denganku?" ajak Billy sambil memberikan stick billiard kepada tuan muda.
"Kau menantangku?" Tuan muda menaikkan sebelah alisnya.
Billy memiringkan kepalanya. "Tidak juga," tuan muda menerima stick billiard ditangan Billy dengan senyuman penuh makna.
"Aku akan mengambil vodka," sembari menunggu tuan muda menghubungi Alisya. Tadi sebelum menuju markas, tuan muda mencari handphone Alisya dan mencatat nomor teleponnya.
Panggilan terhubung namun tidak segera diangkat oleh Alisya. Berulang kali tuan muda menghubunginya namun tetap tidak direspon.
Kemana dia?
Sekali lagi tuan muda memanggil Alisya, dengan hasil yang sama lagi dan lagi tetap saja diabaikan.
Gadis ini kenapa tidak mengangkat panggilanku?
Akhirnya tuan muda mengirimkan pesan kepada Alisya.
[Tuan muda : ANGKAT BODOH!]
Di lain sisi, Alisya merasa bingung dengan nomor asing yang menghubunginya berkali-kali. Handphonenya juga tergolong baru dan tidak mungkin jika ada orang yang mengenalnya selain...
Ponselnya berbunyi menandakan pesan yang baru masuk. Alisya langsung membacanya dan seketika kedua mata itu membelalak dengan sempurna. Alisya tertegun sekejap, baru sadar bahwa yang menghubunginya adalah TUAN MUDA!
Tuan muda menelepon Alisya kembali namun dengan hasil yang berbeda. Kini Alisya menerima panggilan tersebut hingga terhubung satu sama lain.
__ADS_1
"KENAPA KAU TIDAK MENGANGKAT PANGGILANKU HUH!"
"Maaf tuan bukan seperti itu-"
"LALU APA?"
"Aku mengira seseorang salah menelepon jadi aku tidak mengangkatnya-"
"APA SESEORANG SALAH MENELEPON SAMPAI BERULANG KALI!"
Tak ada suara dari seberang telepon. Tuan muda menghela napas menghadapi gadis yang merumitkan itu. Emosinya seakan dipancing setiap kali ia berbicara dengan Alisya. Sepertinya ini adalah takdir buruknya hingga dipertemukan dengan gadis semacam Alisya. Tuan muda menghembuskan napas kasar sebelum memulai bicara kembali.
"Makanan sudah ada di dapur, jika lapar makanlah."
"B-baik tuan,"
"Tunggu! Kau bisa menuju ke dapur kan?"
"Aku...aku bisa tuan"
"Bukankah hari ini ada terapi?"
"Kebetulan hari ini dokter Fely tidak bisa datang karena berkepentingan."
"Baik, jaga dirimu"
Panggilan diakhiri secara sepihak.
"Oho...cinta baru mulai bersemi." Billy berdiri dibelakang tuan muda dengan botol dan gelas di kedua tangannya. Sedari tadi Billy menguping pembicaraan dua manusia yang saling bercengkrama itu.
"Kau membuka hatimu lagi? Kurasa itu ide yang bagus. Aku mendukungmu!" Billy berucap dengan penuh semangat. Senyuman lebar diwajahnya menyiratkan suatu kesenangan tersendiri jika memang itu benar terjadi.
"Hentikan bualanmu, itu semua omong kosong." Tuan muda mulai menata satu persatu bola dalam segitiga kayu.
Cinta datang tidak mengenal waktu, tempat, keadaan maupun perbedaan. Cinta datang untuk melengkapi kekurangan dan berbagi kelebihan Hadirnya mampu menorehkan luka namun bisa menjadi penyembuh lara. Cinta tidak bisa dipikirkan melainkan dirasakan. Walaupun sekarang kau belum menemukan cinta abadimu tetapi di lain waktu, pasti kau akan menemukan cahaya untuk mengisi kegelapan dalam hatimu. Percaya ataupun tidak, cinta itu nyata!
"Bagaimana jika kita mengajak yang lainnya?" saran Billy yang langsung disetujui oleh tuan muda.
Kebetulan saat ini merupakan jam makan siang. Semua teman-temannya pasti sedang istirahat. Billy mengirimkan sebuah pesan singkat namun akan membuat ketiga temannya itu datang dengan tergesa-gesa.
[Billy : Markas diserang! Cepat kemari!]
Dan benar saja tak lama pesan tersebut sudah dibaca oleh ketiga temannya. Tinggal menunggu mereka datang dengan wajah gusar.
Billy tertawa puas membayangkan mereka kalang kabut mempersiapkan persenjataan. Tuan muda hanya geleng-geleng melihat Billy bertingkah seperti orang gila.
"Sebentar lagi mereka akan datang dengan wajah yang pucat. Hahaha....." tawa Billy meledak-ledak tak bisa berhenti. Baginya ini cukup menyenangkan saat berhasil mengerjai ketiga temannya. Tuan muda tidak mengetahui kejahilan Billy. Maka dari itu ia masa bodoh dengannya dan melanjutkan bermain billiard.
Beberapa menit kemudian...
Dave, William dan Louis datang bersamaan. Wajah mereka merah padam menahan amarah. Bagi mereka bertiga ini bukanlah hal yang lucu. Kekonyolan yang dibuat Billy melebihi batas sewajarnya.
Mereka bahkan seperti orang yang tidak waras mengebut dijalanan sampai pengendara lainnya hampir terkena imbasnya. Sumpah serapah terdengar disepanjang jalan. Sungguh Billy ini tidak lucu!
Mereka juga sudah mempersiapkan segalanya sebelum berangkat sesuai perkiraan Billy. Tetapi sesaat setelah sampai mereka dikejutkan dengan kondisi markas yang masih lengkap dengan penjagaan ketat.
Mereka bertiga berdiri di ambang pintu. Tatapan tajam langsung menuju ke arah yang sama. BILLY!
"****! Sini loe Bil!" William berjalan menghampiri Billy. Satu pukulan mendarat di perutnya. Billy mengaduh kesakitan sembari memohon ampun pada William.
"AMPUN WIL!!" Teriaknya dengan sekuat tenaga. Tak lupa menaruh botol vodka dan gelas di meja sebelum berlari menghindari amukan para sahabatnya.
"BILLY ANJING LOE!" Louis juga tak mau kalah. Ia mengejar Billy bersama dengan William. Louis geram karena ditipu oleh Billy. Sedangkan tuan muda mengacuhkannya dan fokus memasukkan bola billiard.
Dave mengacak rambutnya, bingung apa yang harus dilakukan. "Ada apa hingga kalian begitu cemas?" tuan muda bertanya tanpa mengalihkan konsentrasinya pada meja kotak dihadapannya.
__ADS_1
"Kau ingin tahu? Lihatlah apa yang dilakukannya!" Dave menunjukkan isi pesan Billy yang dikirim di grup mereka. Tuan muda mengambil bola billiard dan melemparnya dikepala Billy.
Tuk
"Arghh" Billy merintih sembari menyentuh kepalanya yang terlempar bola keras namun kecil itu. William dan Louis membatu ditempat masing-masing.
"Luc, kau juga?" Billy seakan tak percaya semua ikut andil dalam menghajarnya. Lebih tepatnya ia tak juga sadar diri setelah berbuat salah. Bukannya itu konsekuensi atas leluconnya?
"Kenapa kalian berhenti? Lanjutkan saja!" Seutas senyum sumringah tercetak jelas di bibir Dave. Kode mata Dave menjadi petunjuk agar Louis dan William menangkap Billy. Sekarang tidak ada yang bisa menghentikan mereka menghajar Billy. Bahkan tuan muda sekalipun menyuruh mereka melanjutkan keinginan mereka.
"Kena kau!" William dan Louis mengunci pergerakan Billy. Mereka membawanya ke tengah-tengah dan mengerubunginya.
"Kalian tidak berniat membunuhku kan?" Nyali Billy menciut saat dikerubungi ke empat petarung yang tidak bisa dianggap remeh.
"Sebenarnya ada, tapi kami tidak sejahat itu." Louis tidak suka menghukum tetapi jika itu menyangkut Billy apa saja akan ia lakukan.
"Sebagai gantinya bagaimana jika masing-masing memberi satu pukulan?"
Sial, ide yang sangat buruk!
Keparat kau Wil!
"Tidak tidak tidak! Jangan rusak wajahku dengan bogem kalian, yang lain saja!" Billy tak terima jika wajahnya dijadikan samsak tinju mereka berempat.
"Baiklah bagaimana jika push up?" Billy mengangguk dengan cepat menyetujui saran Dave daripada wajahnya babak belur bukan?
"Oke, berapa?" tanya Billy dengan santai seolah bisa melakukannya dengan mudah.
"Seratus!" ujar Dave dengan lantang.
"Baik, bukan masalah besar." Billy bersiap melakukan gerakan push up namun lengannya ditarik oleh William.
"Eh, masih belum selesai itu hanya hukuman dari Dave belum dari kami bertiga." William tersenyum penuh kemenangan.
"Hukumanmu menjadi empat kali lipat dari sebelumnya jadi totalnya 400 push up-"
"APA! MANA BISA! Aku hanya menipu kalian bertiga jadi Lucas tidak terhitung." Billy berkilah agar hukumannya dikurangi. Lagi pula sebenarnya ia tidak berniat untuk membohongi mereka jadi untuk apa dihukum berat? Dia kan hanya ingin berkumpul lengkap satu sama lain sebab jika tidak pekerjaan akan memburu waktu mereka semua.
"Baiklah 300 ya? Lakukan sekarang kami akan melihatmu dari sini." Mereka sudah duduk di posisi masing-masing sedangkan Billy bersiap melakukan gerakan push up.
"Tuang minumannya," ujar William sembari menyodorkan gelas kecil ke hadapan Louis.
"Kuharap kau tidak mabuk." William menyipitkan matanya setelah mendengar perkataan tuan muda.
"Kerjakan sendiri tugas kantormu segunung itu!" William meminum vodka dalam sekali tegukan. "Rasanya sudah lama sekali tidak minum," tambahnya.
"Baru juga beberapa minggu yang lalu kan, saat Lucas mabuk berat?" sahut Louis menimpali ucapan William.
"Luc, maaf gara-gara aku nyawamu dalam bahaya," Dave terlihat menyesal karena lupa memberitahu tuan muda bahwa ada seseorang yang berniat menghabisinya.
"Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya." Tuan muda tak mempermasalahkan hal itu yang penting nyawa orang lain tidak menjadi sasarannya.
"Jangan khawatir dia kan kuat dan kemampuannya tak perlu diragukan lagi, bukan begitu Luc?" William menaik turunkan Alisnya menggoda tuan muda.
"Aku bukan apa-apa tanpa kalian." Tuan muda menatap satu persatu sahabatnya yang selalu ada ketika ia sedang kesusahan. Semua tersenyum sekilas mendengar kata-kata bermakna itu. Mereka memang saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain disaat senang maupun susah.
William melempar kulit kacang di kepala Billy. "Woi! Lanjut dong! Hahaha kalau mau ikut bicara selesaikan dulu hukumanmu!"
Beberapa menit setelahnya Billy selesai melaksanakan hukumannya dan merebut gelas yang dipegang Louis. "Gak usah minum, dokter harus mencontohkan gaya hidup yang sehat kan?" Lalu meminumnya hingga habis.
"Sialan loe!" umpat Louis sembari menendang kaki Billy.
"****, sakit bego!" Billy mengusap kakinya yang nyeri ditendang Louis.
"Luc, apakah tidak masalah jika dia mengetahui markas kita?" ujar Billy sembari sedikit meringis merasakan kakinya yang nyeri.
__ADS_1
"Masalah ataupun tidak kita lihat saja di akhir nanti."
...×××××× Batas Akhir ××××××...