Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 32 Bayaran


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan, apa sebaiknya aku memanggil tuan muda?" Bi Minah berfikir sebentar.


"Lebih baik aku memanggil tuan muda. Aku takut jika sesuatu terjadi dengan nona." Perasaan bi Minah tidak tenang sekarang. Khawatir terhadap Alisya di dalam sana.


Kemudian Bi Minah menemui tuan muda. Netranya menatap tuannya dari kejauhan. Terlihat sedang berbaring mengistirahatkan tubuhnya.


Aku tidak ingin mengganggu tuan muda tetapi aku butuh bantuannya. Jika tuan muda menolak maka aku akan meminta salah satu penjaga untuk membantuku.


Bi Minah memutuskan memberanikan diri untuk mengutarakan tujuannya. Berjalan pelan mendekati keberadaan tuan muda.


"Tuan!" panggilnya gugup karena takut membuat tuannya terusik. Tuan muda membuka matanya saat suara seseorang menggema ditelinganya.


Matanya yang tajam menatap Bi Minah yang menunduk takut. Tuan muda mengganti posisi berbaringnya dengan bersandar di sofa. Menyibak rambutnya kebelakang dan menyatukan kedua alisya saat Bi Minah masih diam tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Ada apa, Bi?" tanya tuan muda menatap wanita paruh baya di depannya.


"Maaf tuan muda, bibi ingin meminta bantuan," pinta Bi Minah tidak berani menatap langsung mata tuan muda di depannya.


Tuan muda menaikkan sebelah alisnya. "Bantuan apa Bi, katakan saja," ujarnya saat bi Minah terlihat ragu-ragu.


"Emmm, ini tentang nona Alisya tuan. Sedari tadi nona tidak keluar-keluar dari kamar mandi. Bibi takut nona Alisya akan..." terang bi Minah menggantung ucapannya. Bi Minah pasrah saat melihat tuan muda yang tak bergeming sedikitpun. Tak berkomentar apapun dan bersikap seolah itu tidak penting baginya.


Seharusnya aku tidak mengatakan ini, mengingat tuan muda yang sangat membenci nona


"Maaf tuan tidak seharusnya bibi mengatakan ini. Bibi akan meminta bantuan pada..."


"Aku akan lihat ulah apa lagi yang dilakukan oleh gadis bodoh itu!" Tuan muda berjalan terlebih dahulu dan diikuti bi Minah di belakangnya.


Sesampainya di depan pintu kamar mandi...


Tok tok tok


"Nona Alisya!" panggil Bi Minah dan tidak terdengar sahutan dari dalam.


"Aku akan mendobrak pintunya. Saat pintunya terbuka bibi lihat ulah apa yang dilakukan olehnya." Tuan muda bersiap mendobrak pintunya.


"Baik tuan," Bi Minah mundur kebelakang memberikan ruang kepada tuan muda.


Brakk


Sekali dobrakan pintu terbuka dan Bi Minah masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat apa yang dilakukan oleh nonanya. Betapa terkejutnya Bi Minah tatkala melihat Alisya yang tak sadarkan diri dibawah guyuran air dengan darah disekitarnya.


"Nona Alisya!" Bi Minah menutup mulutnya tak percaya. Hal yang ditakutinya kini ada didepan mata. Bi Minah mematikan shower dan memangku kepala Alisya.


"Nona Alisya bangun!" Air mata menggenang di pelupuk matanya. Tangannya tak berhenti menepuk pipi Alisya untuk menyadarkannya.


"Tuan!" teriak Bi Minah tak kuasa menahan tangisnya.


Tuan muda yang terpanggil melihat ke dalam. Terlihat Alisya yang tergeletak dengan muka pucatnya dan Bi Minah yang tak henti-hentinya menangis.


"Tuan, tolong nona Alisya hiks hiks..." Tuan muda bergegas menggendong Alisya dan membaringkannya di ranjang tempat tidur.


"Bibi, ambilkan kotak obat!" Tuan muda memegang tangan Alisya.


"Baik," Bi Minah menghapus sisa air matanya. Sedikit lebih lega karena ada tuan muda bersamanya.


"Ini tuan," ujarnya dengan menyodorkan kotak obat. Tuan muda menerimanya, kemudian membersihkan telapak tangan Alisya dan memerbannya.


Tuan muda begitu berhati-hati dalam mengobati tangan nona Alisya. Padahal dirinya begitu membenci nona Alisya. Tatapan matanya juga menyiratkan kekhawatiran walaupun sedikit. Setidaknya timbul rasa cinta dibalik kebenciannya meskipun masih seujung kuku.


"Bibi, ganti pakaiannya dan pastikan kondisi tubuhnya tetap hangat." Peringat tuan muda.


"Dan tidak usah khawatir padanya, dia akan baik-baik saja


" Ujarnya meyakinkan Bi Minah.


Tuan muda tersadar dengan tindakan yang dilakukannya beberapa saat lalu. Sebuah perlakuan yang memperlihatkan seakan-akan ia begitu peduli terhadap Alisya.


Apa-apaan ini? mengapa aku peduli terhadapnya! Menatap Alisya yang terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Bodoh!


Tuan muda melangkah pergi dengan merutuki kebodohannya sendiri. Bi Minah yang memperhatikan tingkah tuannya hanya tersenyum tipis.


Hati tuan muda memang keras tapi masih tersisa kelembutan didalamnya.


Bi Minah merawat Alisya. Mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Perlahan Alisya membuka matanya, nampak bi Minah yang duduk di sebelahnya.


"Bibi," panggil Alisya dan duduk bersandar.


"Apa ada yang sakit?" tanya Bi Minah khawatir. Alisya hanya menggeleng.


"Air," Bi Minah memberikan segelas air untuk Alisya.


"Bibi buatkan bubur ya?"


"Ti..." Belum selesai Alisya berbicara namun Bi Minah sudah menyelanya.


"Tunggu sebentar, bibi buatkan." Bi Minah berangsur pergi tanpa mendengarkan perkataan Alisya.


"Kini aku menyesal mengapa aku melakukan hal yang sebodoh itu?" Melihat tangannya yang diperban.


"Tapi kan tadi aku dalam kondisi yang kacau sehingga tidak bisa berpikir jernih." Menatap langit-langit kamarnya.


"Kamu tidak boleh melakukan hal bodoh itu lagi Alisya!" Mengetuk pelan kepalanya dengan tangannya.


"Kamu harus buktikan bahwa kamu itu bisa!" Menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Pasti ada jalan dari setiap permasalahan, tak peduli masalah kecil ataupun besar pasti ada jalan keluarnya." Alisya mengangguk menyetujui ucapannya sendiri. Bi Minah masuk membawa semangkuk bubur dan segelas air.


"Bibi, kenapa repot-repot. Pasti aku banyak merepotkan bibi kan?" Bi Minah menggeleng.


"Tidak sama sekali. Sudah, sekarang waktunya makan ya?" Bi Minah bersiap menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut Alisya.


"Tidak Bi, aku akan makan sendiri." Tolak Alisya dan mengambil mangkuk bubur dari tangan Bi Minah.


"Baiklah, bibi pergi dulu ya masih ada pekerjaan." Bi Minah tersenyum. Alisya mengangguk dan menatap punggung Bi Minah yang semakin menjauh.


Alisya kembali melanjutkan kegiatan memakan buburnya. Tanpa disadarinya, seorang laki-laki bertubuh tinggi tengah memperhatikannya.


"Cih, kau makan dengan lahap rupanya." Tuan muda menatap sinis ke arah Alisya.


Suara itu?


Alisya memejamkan matanya. Sudah bisa menebak bahkan tanpa melihatnya sekalipun.


Tenang dan tetap makan


Alisya tak menggubris perkataan dari sang pemilik mansion yang ditempatinya.


Berani-beraninya dia mengacuhkanku!


Tuan muda mengeraskan rahangnya. "Jangan coba-coba untuk bunuh diri di mansionku lagi!" Tegas tuan muda yang lagi-lagi tidak Alisya dengarkan.


Sial dia sudah berani kepadaku sekarang, aku akan lihat seberani apa dirimu


Tuan muda melangkah mendekati Alisya dengan senyum smirk yang membuat Alisya menelan ludahnya, mencoba untuk tetap tenang walaupun degup jantungnya yang kencang sudah tidak bisa membohonginya. Hatinya gelisah, takut jika tuan muda melakukan hal yang sama.


Cih begini saja kau sudah gemetar


Tuan muda tersenyum kecil. "Ck, jangan berharap lebih aku tidak bernafsu untuk menyentuhmu." Tuan muda terseyum meremehkan dan melempar sebuah kertas di hadapan Alisya.


Cek? seratus juta?


Alisya mengernyit, tidak mengerti untuk apa semua ini. "Apa ini tuan?" tanya Alisya bingung.


"Apa matamu buta hingga tidak bisa melihatnya?" ujar tuan muda dengan nada bicara yang menusuk.


Alisya menaruh mangkuk bubur yang sudah habis di atas nakas. "Tapi ini..." Belum selesai Alisya bicara namun sudah di sela oleh tuan muda.

__ADS_1


"Kau ingin keluar dari sini bukan, maka keluarlah!" ujar tuan muda tanpa ekspresi.


"Keluar? maksudnya apakah tuan membebaskanku?" Alisya masih bertanya-tanya takut jika ini hanya kebohongan belaka.


"Hm"


"Tapi cek ini? aku tidak membutuhkannya" Alisya menyodorkannya pada tuan muda.


"Anggap saja sebagai bayaran bahwa kau telah memuaskanku malam itu." Ucap tuan muda tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Deg


Hati Alisya terasa tersayat saat mendengar penuturan dari mulut tuan muda sendiri. Sekuat mungkin Alisya mencoba untuk tidak menangis dan tetap tersenyum untuk menguatkan dirinya. Namun bola matanya yang memerah tidak bisa membohongi rasa sakit hatinya.


"Aku akan segera pergi dari sini, tetapi aku tidak butuh bayaran ini." Alisya menarik tangan tuan muda dan meletakkan cek di tangannya.


"Ck jangan berlagak sombong dan terima saja karena aku tidak akan mengambil apa yang sudah kuberikan. Terserah kau mau apakan cek ini aku tidak peduli." Tuan muda meletakkan kembali cek di sebelah Alisya.


"Tuan!" Panggilnya namun tuan muda meneruskan langkahnya, sengaja tidak mengindahkan panggilan Alisya.


Kenapa orang kaya selalu saja bertindak semaunya. Selalu menindas orang dibawahnya. Alisya membuang nafas kasar. Kemudian merobek-robek cek tersebut dan membuangnya di tempat sampah.


Dengan begini akan menguntungkan kedua belah pihak. Tuan muda yang tidak ingin cek ini dikembalikan dan aku yang tidak mau menerimanya.


Alisya melangkahkan kakinya menuju arah jendela. Menikmati suasana mendung dari dalam kamarnya. Membuka jendelanya membiarkan udara dingin masuk. Kemudian duduk di lantai dengan menekuk kedua kakinya dengan tangan yang menyilang di kedua kakinya.


"Huh, akhirnya aku bisa bernapas dengan lega dan penantianku selama ini tidak sia-sia. Tuan mengizinkanku keluar dari sini, tetapi apa yang membuatnya berubah pikiran?" Alisya mengerutkan keningnya.


Apa dia sudah mengetahui bahwa aku bukan pembunuh ayahnya? Menggigit kuku tangannya sambil memikirkan alasan yang membuat tuan muda membebaskannya.


"Ah, kenapa aku memikirkannya? biarkan saja itu sudah menjadi keputusannya. Semoga saja dia tidak berubah pikiran lagi." Alisya tersenyum lebar.


Selama beberapa jam Alisya terdiam menatap pemandangan di luar. Melamun dengan sorot mata yang kosong. Ditemani oleh angin yang berhembus pelan mendamaikan perasaan di hatinya.


"Hm, berapa lama aku melamun disini?" beralih menatap jam di dinding.


"Apa! sudah sore! sebaiknya aku ke bawah membantu bibi." Alisya bergegas pergi ke bawah.


"Bibi, apa yang bisa aku bantu?" tanya Alisya.


"Tidak ada," Bi Minah tersenyum sembari mengaduk masakan yang dibuatnya.


"Maafkan aku karena terlambat membantu," ujarnya dengan menggenggam tangan Bi Minah.


"Ini sudah tugas bibi, jangan dipikirkan lagi." Bi Minah mematikan kompornya.


"Apa tidak ada pekerjaan yang lain?" ujar Alisya membuat bi Minah geleng-geleng kepala dan memikirkan pekerjaan apa yang belum ia selesaikan.


"Bibi belum mengganti bunga mawar yang baru di vas bunga," ujarnya.


"Biar aku yang mengerjakannya. Oh ya dimana tempat bunganya, Bi?" tanya Alisya antusias.


"Di belakang mansion ada taman, nona bisa memetiknya disana." Jawab Bi Minah.


"Baiklah bibi istirahat saja ya biar aku yang mengerjakannya," ujar Alisya dan beranjak dari tempatnya.


Nona begitu baik. Batin Bi Minah memuji kebaikan hati Alisya.


Setibanya di taman. "Wah indah sekali!" Alisya terpana melihat bunga-bunga yang indah bermekaran. Ia mulai memetik satu persatu tangkai bunga mawar dan meletakkannya di keranjang bunga yang diambilnya dari gazebo dekat taman.


"Sepertinya sudah banyak bunga yang kupetik." Alisya membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan taman. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah pintu di pojok taman.


Pintu?


...ΩΩΩΩΩΩ...


...Nanggung aja dah ꈍᴥꈍ...


...Like & komen...

__ADS_1


...Hadiah + vote juga boleh...


__ADS_2