
Setelah selesai memberikan sedikit pelajaran pada berandal tak bermartabat itu, tuan muda pergi meninggalkan ruang penyiksaan yang satu tempat dengan markas Devil Skull. Kemudian tuan muda pergi menuju garasi dimana kendaraan berjejer rapi disana. Kali ini ia pergi menggunakan motor sport yang terpampang digarasi.
"Selamat malam tuan!" Mafioso menunduk hormat padanya.
"Hm berikan kuncinya," singkat tuan muda.
"Ini tuan!" Mafioso itu pun menyodorkan kunci motor sport yang akan digunakan oleh tuan mudanya.
Mafioso menunduk hormat saat tuan muda tancap gas melajukan motor sportnya meninggalkan garasi markasnya.
Motor sportnya melaju dengan kecepatan pelan membelah jalanan keluar hutan yang begitu sepi dan gelap, seperti itulah kehidupannya sekarang yang terasa hampa dan kosong tak terisi. Udara malam yang dingin menyapu kulit luarnya yang hanya terbungkus kaos panjangnya, namun tak membuatnya merasa kedinginan sedikitpun.
Cahaya rembulan muncul sebagai pelita alami penerangannya dalam perjalanan menuju apartemennya. Bintang bertaburan di langit membuat nuansa yang estetik untuk melengkapi sang rembulan yang tampak membulat sempurna.
Suara bising dari klakson kendaraan terdengar semakin dekat, itu tandanya dirinya akan sampai pada jalanan kota yang ramai lalu lalang kendaraan. Namun apa yang dilakukannya? dirinya malah menambah laju motornya dengan melebihi batas kecepatan yang seharusnya.
Masa bodoh dengan apa yang dikatakan para pengguna jalan yang barusan ia lewati. Tak peduli sumpah serapah yang dilontarkan oleh mulut pengguna jalan karena dirinya mengemudi dengan ugal-ugalan.
Saat sampai di gedung apartemen, tuan muda langsung memarkirkan motornya dan menaiki lift menuju lantai atas dimana apartemennya berada. Kemudian memencet tombol kode apartemen miliknya, namun saat pintu terbuka tampaklah seorang perempuan yang tengah berdiri membelakanginya.
Seorang perempuan dengan memakai dress selutut berwarna peach yang nampak begitu serasi dengan kulit putih mulusnya. Rambut sebahu yang lurus berwarna kemerah-merahan, sepatu high heels dengan hak tinggi dan tas jinjingnya yang berwarna senada dengan dress yang dikenakannya membuat penampilannya seakan sempurna.
Perempuan itu berbalik badan saat mendengar pintu apartemen terbuka menampilkan tubuh seseorang yang telah dinanti-nantikannya sejak tadi.
Deg
Perempuan itu pun tersenyum manis sangat manis hingga siapapun yang melihatnya akan terpesona dengan senyuman khas lesung pipi yang terukir indah di wajahnya. Ia pun langsung berlari memeluk tubuh tegap seorang laki-laki yang sangat dirindukannya setelah sekian lama.
__ADS_1
Pelukan erat ia berikan untuk menyalurkan rasa rindu teramat dalam untuk sang laki-laki pujaannya. Namun apa yang didapatkannya? hanya pelukan sepihak tanpa ada balasan pelukan hangat yang tak sesuai ekspektasinya.
Tiba-tiba sebuah dorongan yang kuat membuat dirinya jatuh tersungkur ke lantai yang dingin hingga siku tangannya memerah akibat terbentur lantai ubin dengan keras. Kedua bola matanya membelalak kaget ketika mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari laki-laki yang sangat dicintainya.
Laki-laki itu hanya diam dan menatap tajam ke arah perempuan yang dengan seenaknya memeluk dirinya. Ya dia adalah tuan muda Lucas Deilson yang tidak akan mentolerir kesalahan ataupun penghianatan sedikitpun. Ia akan bertindak sesukanya dan tak ada yang berhak untuk melarang segala keinginannya.
"K-kenapa kamu lakukan ini padaku?"tanya Rara wanita masa lalu tuan muda.
Tuan muda tersenyum sinis. "Mengapa kau ada disini pergilah! apartemenku akan kotor dengan hadirnya wanita sampah sepertimu disini!" Sarkas tuan muda yang membuat hati Rara terasa tercabik-cabik.
Rara pun berdiri dengan memegangi siku tangannya yang memerah. "M-mengapa kamu kasar padaku sayang? a-apa salahku padamu?" tanya Rara dengan menatap mata tuan muda.
"Jangan berpura-pura lugu! kau tidak akan bisa membodohi diriku, aku bukan seseorang yang mudah kau bohongi dengan tipu muslihatmu ataupun hasutan mulut manismu itu!"
"Lebih baik sekarang pergi keluar dari apartemenku sebelum aku bertindak lebih jauh lagi!" Ancam tuan muda dengan menunjuk pintu apartemen.
"Ck pergilah! wanita murahan sepertimu tak pantas bersanding denganku!"
"Kenapa? bukankah kamu juga masih menyayangiku? bahkan kode apartemenmu masih tanggal pertemuan kita dulu apa itu tidak cukup bukti bahwa kamu masih menungguku?"
"Apa aku peduli dengan hal remeh seperti itu? waktuku sangat berharga hingga tak ada waktu lagi hanya untuk sekedar mengganti kode apartemenku!"
"Kau hanyalah seorang wanita ****** dan murahan! aku menyesal dulu pernah mencintaimu dan menjagamu sepenuh hatiku tapi dengan mudahnya kau berbohong keluar negeri untuk bermain dengan laki-laki lain!"
Rara menunduk menggigit bibir bawahnya agar tak menangis tersedu-sedu. Semua yang dikatakan memang benar adanya, ini salahnya karena terjebak nafsu sesaat dan terbuai rayuan kepalsuan dari pria yang telah mengambil kehormatannya.
Ia sungguh sangat menyesal, jika waktu bisa ia putar kembali maka ia akan memilih untuk tetap disamping kekasihnya yang saat ini berdiri di depannya dengan menatap penuh kebencian padanya.
__ADS_1
"Pergilah dari hadapanku sekarang juga sebelum aku menyeretmu keluar dari sini!" ujar tuan muda dingin.
Rara menatap tuan muda dengan mata sembab dan lelehan air mata yang mengalir deras di pipinya berharap semua ini hanya angan-angannya saja.
"PERGI!" bentak tuan muda yang membuat Rara terhenyak dari lamunannya.
Ini benar-benar nyata hiks hiks tidak aku tidak mau kehilangan dirinya aku sangat mencintainya dan aku menyayanginya.
Rara menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengelak dari fakta yang ada, mencoba meyakinkan pada dirinya sendiri ini hanyalah sebuah pikiran negatif belaka.
Namun di tengah keterdiamannya sebuah tangan besar mencengkeram kuat pergelangan tangannya dan menyeret paksa dirinya agar keluar dari apartemen mewah milik mantan kekasihnya.
Tubuhnya terjatuh ke lantai saat tangan mungil nan mulusnya dihempaskan secara kasar oleh sang pemilik apartemen.
"Jangan pernah temui aku lagi camkan itu!" tuan muda menatap tajam Rara dan melenggang masuk ke apartemennya tanpa menghiraukan wanita yang kini tengah menangis akibat sikap kasar yang dilakukannya.
Rara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya merutuki kebodohan yang telah ia perbuat saat itu. Menangis itulah yang saat ini ia lakukan untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya.
Air mata tak bisa lagi ia bendung di pelupuk matanya, karena seakan mendorongnya untuk keluar agar bisa ikut merasakan duka dari wanita yang tengah dilanda kesedihan. Menyesal? Ya Rara sangat menyesal namun terlambat nasi telah menjadi bubur penyesalan selalu datang di akhir cerita tanpa kita duga.
Dengan langkah gontai Rara mencoba berdiri untuk bangkit meninggalkan lantai gedung apartemen yang menjadi saksi perlakuan tak mengenakkan yang ia dapat atas kesalahan fatal yang telah ia lakukan. Ia pasrah karena ini murni kesalahannya dan tak ada yang bisa mengubahnya.
...----------------...
...Happy reading all 😅...
...Mohon maaf bila ada salah kata sekian dari author dan terimakasih💃...
__ADS_1
...Bye-Bye...