Tuan Muda Yang Kejam

Tuan Muda Yang Kejam
Eps 25 Penyiksaan Berandal 2


__ADS_3

Adegan Kekerasan Jangan Ditiru!


Banyak Kata-Kata Kasar!


LEWATI AJA YANG PHOBIA PENYIKSAAN!


Thanks yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini see you next eps bye-bye


.


.


.


.


.


.


Tak Tak Tak


Derap langkah kaki tuan muda perlahan-lahan mendekati ketujuh berandal yang tengah dilanda ketakutan. Mata yang menyorot tajam dan senyum smirk yang tergaris diwajahnya terlihat begitu menyeramkan bak seorang iblis yang siap mencabut nyawa dari raga sang mangsa.


Membawa satu buah belati kecil yang dimainkan di jari-jari tangannya, terlihat begitu tajam nan runcing di sisi ujungnya yang kapanpun akan siap memporak-porandakan setiap inci bagian tubuh targetnya.


Kelihaiannya dalam bermain pisau dan membunuh musuh tak perlu diragukan lagi. Baginya sebagai ketua mafia itu darah, senjata, membunuh adalah suatu hal yang sudah menjadi mainannya hingga saat ini.


Begitu banyak nyawa yang sudah ia renggut dengan paksa. Tak terhitung begitu banyaknya manusia yang terbunuh dengan tak manusiawinya. Namun siapapun yang berhianat padanya tidak akan selamat darinya dan begitupun yang setia pasti tidak akan dibunuhnya.


Langkah kaki tuan muda yang semakin mendekat membuat raga ketujuh berandal itu bergetar ketakutan dan berusaha menyeret tubuhnya menjauh dari iblis di depannya namun itu hanya sia-sia saja. Bagaimana tidak kaki dan tangannya sudah diikat di kursi bagaimana bisa lari?


"Mau kemana hm?" ujar tuan muda dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.


"Ehmmm hmmm," hanya suara gumaman yang dapat mewakili perasaan ketujuh berandal yang akan segera menemui ajalnya.


"Cepat! lepaskan lakban dimulutnya!"


"Baik tuan!"


Krak


"Arghhh!"


"Bagaimana? apakah sakit? kurasa tidak benarkan?" tuan muda tersenyum sinis meremehkan mereka.


"BAJINGAN LEPASKAN KAMI!"


"Shhhh kurasa itu cukup mustahil."


Plok plok


Para mafioso disana paham akan kode dari tuan muda dan langsung memberikan apa keinginannya. Sebatang rokok yang menjadi teman dikala ia akan mengeksekusi tawanannya. Merokok sudah menjadi bagian kecil dari hidupnya.


Tuan muda mengepulkan asap rokoknya ke arah salah seorang dari mereka.


"Uhuk-uhuk"


"Ck, lemah"


"LEPASKAN KAMI BRENGSEK! APA MAUMU SEBENARNYA!"


"Aku ingin membunuh kalian satu demi satu rasanya menyenangkan bukan melihat kalian menderita," tuan muda duduk di kursi yang telah disiapkan mafiosonya dan tetap fokus menikmati batang rokoknya tanpa melihat kearah lawan bicaranya.


"CUIH BANGSAT KAU!"


Tuan muda menjatuhkan rokoknya dan berdiri dengan tangan mengepal saat sepatunya diludahi oleh orang di depannya. Tanpa aba-aba sebuah pisau belati kesayangannya langsung mengoyak mulut tawanannya yang sudah berani meludahinya.


Krak


"Akhhhh,"

__ADS_1


Warna merah darah mulai menghiasi belati mengkilat miliknya. Tak terbayang sudah betapa sakitnya mulut yang terobek hingga hampir mengenai telinganya. Rasa nyeri, perih, ngilu menjadi satu.


"Shhhh....lihatlah teman kalian sangat menderita bukan? baiklah akanku akhiri penderitaannya sekarang!"


Clap


"Argghhh"


Suara rintihan pun terdengar menggema di ruang penyiksaan itu dikala sebuah belati menusuk tepat di jantungnya hingga membuat jiwanya tak lagi membersamai raganya. Kejam? yah tak ada yang namanya murah hati di dalam dunia pembunuhan.


"Satu tawanan sudah menuju alam baka."


"Ja-jangan bunuh kami!"


"Aku tidak akan membunuh kalian tapi hanya akan mempermudah jalan kalian menuju kematian!"


Clap


"ARGHHH MATAKUUU!"


Para mafioso disana merinding melihat tuannya yang dengan beringasnya membantai satu per satu tawanannya. Disatu sisi bangga akan kebaikannya dalam menyelamatkan anak yang ditelantarkan namun disatu sisi takut akan kekejaman yang diperlihatkan.


"Pegang kepalanya!"


"Baik tuan!"


"Arghhhh SAKIT!"


Satu bola mata berhasil menggelinding di lantai ruangan penyiksaan itu membuat keenam nyawa yang masih dalam tahap selamat bergidik ngeri membayangkan bagaimana kematian mereka nanti.


"CUKUP BUNUH AKU SEKARANG! JANGAN SIKSA AKU LAGI!" teriaknya yang sudah frustasi ingin segera mati.


Belati kecil milik tuan muda sudah memerah karena berlumuran oleh darah. Tawanan yang kehilangan satu bola matanya juga sudah pasrah dan meminta untuk segera dibunuhnya, dengan senang hati tuan muda akan melakukannya.


Diambilnya senjata katana dan diarahkannya ke leher sang tawanan, dengan sekali tebasan mampu membuat kepala dan raganya terpisah karena tajamnya senjata ditangannya.


"Two people are dead now (dua orang sudah mati sekarang)"


"PSIKOPAT BRENGSEK PECUNDANG KAU!" sumpah serapah dari mulut salah satu berandal itu pun dilontarkannya.


Hening. Semua yang dikatakan tuan muda memang benar adanya. Tak layak dirinya mendapatkan julukan pecundang dari mulut orang sekelas rendahan seperti mereka. Namun merekalah yang sepatutnya mendapatkan julukan pecundang bukan?


Tuan muda mengambil bola mata yang terkapar dilantai dengan tangannya dan memulai aksinya untuk menyiksa lagi.


"Buka mulutmu!"


"Ti-tidak jangan!" ujarnya dengan menggeleng tak mau.


"Ck patuhi saja apa perkataanku! apa kau mau aku memberimu kematian yang tak terbayangkan?"


Dengan perlahan berandal itu membuka mulutnya dan tuan muda menyuapkan bola mata di tangannya ke dalam mulut berandal itu.


"Kenapa? apa kau ingin aku memaksamu untuk mengunyahnya?"


Berandal itu pun menggeleng cepat dan terpaksa mulai mengunyah bola mata milik temannya yang sudah menemui ajalnya.


Kres


Kres


"Jika kau muntahkan itu maka belati ini akan siap membunuhmu!" ancam tuan muda saat tau berandal itu akan memuntahkan isi dalam mulutnya.


Semua temannya hanya bisa memandang kasihan padanya tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.


"Anjing yang pintar," tuan muda terkekeh kecil di akhir kalimatnya.


"KAU BAJINGAN!"


"Lantas jika aku bajingan siapa kau? seorang pedofil gila yang memuaskan nafsu kepada anak kecil yang tak tau apa-apa? ck ck ck apa kau tak punya uang untuk menyewa seorang ****** di club malam hm?"


Perkataan tuan muda begitu menohok hati berandal pedofil itu hingga membuatnya bungkam seketika, ia tak tau harus berkata apa lagi untuk membela dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kau!" tunjuknya pada mafiosonya.


"Saya tuan!"


"Hmm, kau potong benda berharganya." Jari telunjuk tuan muda mengarah pada berandal pedofil itu.


Glek


Berandal pedofil itu melotot dan menelan saliva dengan susah payah saat mendengar benda berharga untuk masa depannya akan dipotong secara paksa.


"Dengan ini tuan," menunjukkan gunting dahan tanaman.


Makin panas saja berandal pedofil itu saat tau gunting besar yang akan menjadi alat untuk memotong masa depannya.


Tuan muda mengangguk dan mengibaskan tangannya sebagai kode agar mafiosonya segera melakukan tugasnya.


Ctak


"Arghhhh"


Semua mafioso yang melihat pertunjukan itu pun spontan memegangi masa depannya masing-masing dan ngilu membayangkan jika punya dirinyalah yang akan di amputasi. Sungguh memilukan.


"LENYAPKAN SAJA KAMI! KUMOHON JANGAN SIKSA KAMI LAGI!"


"Sesuai permintaan kalian,"


Tuan muda mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan langsung menembak kelima berandal yang masih bernyawa itu dalam hitungan detik.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Kelima berandal itu pun merenggang nyawa akibat tembakan timah panas yang melesat mengenai kepala mereka. Isi dari kepala yang sudah berceceran kemana-mana membuat bau anyir darah pun mulai menyeruak mendominasi ruangan penyiksaan itu.


"Bersihkan kekacauan disini! Jangan sampai setetes darah pun mengotori ruangan ini! apa kalian mengerti?"


"Mengerti tuan!" jawab mafioso serempak.


Tuan muda membersihkan belati kecil kesayangannya saat selesai menghabisi semua tawanannya dan disimpan dalam saku celananya. Saat tak ada lagi yang harus diurusnya tuan muda keluar dari ruang penyiksaan saat itu juga dan kebetulan Dave juga berpapasan dengannya.


"Bagaimana?"


"Sudah ku bereskan semua."


Tuan muda mengangguk paham. "Aku akan pergi ke apartemen, kau pergilah ke mansion dan beri makan hewan peliharaanku."


"Baiklah sesuai perintahmu,"


Tuan muda melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat pembantaian para tawanannya. Sedangkan Dave hanya menghela nafas pasrah saat melihat ketujuh orang yang disekap sudah mati tak berbentuk manusia lagi.


Lihatlah apa yang dilakukannya, sebuah kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya, mulut yang sobek, mata yang hilang satu dan isi kepala yang sudah berceceran kemana-mana. Sungguh jiwa psikopat telah merajai dirinya.


Jika Dave mengetahui salah satu dari mayat itu telah di amputasi benda berharga masa depannya entahlah akan seperti apa ekspresi wajahnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Sekian dari saya terimakasih 💃...


...Like & komen jika berkenan;)...


__ADS_2