
Seorang laki-laki yang tengah mencari Alisya kebingungan setengah mati seharian mencari namun tak ada hasil sama sekali. Laki-laki itu ialah Doni, seorang pemilik restoran yang mencari keberadaan karyawan nya, tetapi tak menemukan nya dimana pun bahkan jejak nya tak terlihat sedikit pun. Seakan-akan hilang bak ditelan bumi.
Ia memang ingin meminta bantuan polisi tetapi ia urungkan sebab ia takut jika itu akan memperburuk keadaan, bahkan bisa saja membuat nyawa Alisya dalam bahaya. Ia menyemangati dirinya sendiri bahwa Ia akan bisa menemukan Alisya. Doni berdoa supaya Alisya bisa cepat kembali dan bekerja di restorannya lagi.
Kau dimana Alisya apa ada masalah dengan dirimu? apakah kau baik-baik saja? dimana kau sekarang Alisya (batin Doni).
.
.
.
.
.
Di lain sisi.....
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" kata Bi Minah.
"Apakah dia sudah makan?" tanya tuan muda. "Nona belum makan dari kemarin malam tuan, nona tidak mau makan sesuap pun" kata bi Minah.
__ADS_1
"Berikan dia makanan jika tidak mau paksakan" perintah tuan muda seraya pergi meninggalkan bi Minah. "Baik tuan muda" ucap bi Minah. Jangan harap tuan muda perduli pada Alisya, ia hanya tidak ingin Alisya mati dengan begitu mudahnya.
Bi minah kemudian pergi ke dapur dan membawa beberapa makanan untuk Alisya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Pintu terbuka karena tidak dikunci oleh sang penghuni kamar. Bi minah melihat seorang perempuan yang tengah menangis sesenggukan. Kemudian bi Minah menghampiri nya dan berbicara padanya.
"Sini nona biar bibi obatin" kata bi Minah dengan nada yang lembut dan senyum yang terlukis di wajahnya.
"Pergilah bi aku ingin sendirian, jangan dekati aku, aku adalah seorang pembunuh hiks hiks...." kata Alisya berbohong.
"Bibi percaya bahwa nona tidak akan melakukan hal dosa seperti itu, pasti semua ini terjadi karena adanya kesalahpahaman. Nona harus bisa kuat dan buktikan bahwa nona bukan seorang pembunuh tetapi hanya korban yang disalahkan atas musibah yang menimpa tuan besar kami" ujar bi Minah menasehati Alisya.
"Terimakasih bi telah percaya padaku dan memberiku kekuatan supaya tetap tegar menjalani hidup yang penuh dengan siksaan hidup" kata Alisya dengan menghapus bekas air mata di wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang biarkan bibi yang obatin luka non yah kalau ga di obatin nanti bisa infeksi" kata bi Minah perhatian. Alisya hanya mengangguk patuh pada bi Minah yang sudah baik kepadanya, walaupun baru kenal tetapi ia sudah nyaman dengan bi Minah.
"Panggil saja Alisya ya bi" pinta Alisya. "Baik nona....eh maksud bibi Alisya" kata bi Minah.
"Apa tidak sakit Alisya?" tanya bi Minah.
"Sakit fisik tak sebanding dengan sakit batin bi" ucapnya dengan senyum getirnya.
"Pasti semua ada hikmahnya Alisya, bibi mau bilang supaya Alisya harus kuat menjalani semua cobaan, karena Tuhan yakin bahwa Alisya pasti bisa melewati semua rintangan, karena setiap awal kesedihan akan berakhir dengan sebuah kebahagiaan" tutur bi Minah dengan senyum khas wanita paruh baya itu.
"Terimakasih bi, sudah mengajarkan ku nilai kehidupan" ucap Alisya seraya tersenyum hangat pada bi Minah. "Sama sama Alisya bibi hanya tidak mau jika nona putus asa karena bibi sudah menganggap Alisya sebagai anak bibi sendiri" kata bi Minah.
"Sekarang bibi jadi teringat dengan mendiang putri bibi saat melihat Alisya disini, jika dia masih hidup maka akan seumuran dengan Alisya. Bibi sangat merindukan putri bibi namun Tuhan lebih sayang kepadanya dan ingin ia segera berjumpa dengan ayahnya di surga" ucap bi Minah dan sedetik kemudian bi Minah meneteskan air mata kesedihannya karena teringat oleh mendiang sang putri tercinta yang meninggal karena penyakit jantung lemahnya.
"Maafkan aku bi gara-gara diriku bibi menjadi sedih seperti ini" kata Alisya dengan memegang erat tangan bi Minah.
"Sudah-sudah sekarang non makan yah biar ga sakit" kata bi Minah.
"Siap laksanakan! hahaha..." ujar Alisya dengan kekehan nya.
"Haha.... sekarang bibi tinggal yah nak Sya makan sampai habis jangan sampai tersisa" titah bi Minah. "Iya bi" balas Alisya. Kemudian bi Minah pergi keluar kamar dan Alisya memakan makanan yang dibawa bi Minah lagian dia juga lapar belum makan dari kemarin.
__ADS_1
...----------------...