
Pagi ini adalah hari dimana Alisya akan pulang dari rumah sakit. Ada perasaan senang dan sedih secara bersamaan. Juga takut akan ada siksaan seperti dulu lagi. Sejujurnya ia tak mau kembali ke rumah penuh derita itu. Walaupun pada akhirnya kenyataannya akan tetap sama dan tidak berubah, pikirnya.
Tuan muda dan Louis sibuk berbincang-bincang. Alisya hanya mengamati kedua pria tersebut dari atas tempat tidur. Ia tampak lesu bersiap menerima apapun perlakuan tuan muda.
"Urus motorku!" perintah tuan muda.
"Kau punya banyak pengawal kenapa harus aku?" Louis tidak terima saat dia disuruh mengembalikan motor sport milik tuan muda.
"Aku tidak mau tahu." Louis hanya bisa mengelus dada. Bersabar atas kesewenang-wenangan dari sahabatnya yang menjunjung tinggi sikap keras kepalanya itu. Walaupun ia tahu sedang dipermainkan olehnya.
Tuan muda menggendong Alisya untuk mendudukkannya di kursi roda. "Semoga cepat sembuh nona dan jangan lupa obatnya diminum setiap hari." Louis memperingatkan Alisya dan dibalas anggukan olehnya.
Kemudian tuan muda mendorong kursi roda tersebut keluar dari rumah sakit. Sesampainya didepan lobby rumah sakit, tuan muda menggendong Alisya lagi. Petugas keamanan rumah sakit membantu membukakan pintu mobil dan memasukkan kursi roda kedalam bagasi mobil.
Di dalam mobil, tuan muda melirik Alisya yang sibuk memasang seat belt. Ia tampak kesulitan karena tuan muda terus memperhatikannya.
"Lepaskan tanganmu!" Suruh tuan muda. Kemudian mencondongkan tubuhnya mendekati Alisya dan mengambil seat belt tersebut.
Klik
Setelah memastikan seat belt tersebut terpasang dengan benar, tuan muda melajukan mobilnya membelah jalanan yang tampak ramai kendaraan. Alisya menikmati pemandangan kota dari dalam mobil.
Bangunan-bangunan toko yang berjejer rapi mengingatkannya akan pekerjaannya sebagai karyawan restoran. Berangkat kerja bersama dengan temannya Mira dan kenangan yang mereka lalui bersama terlintas begitu saja.
Senyum tipis Alisya menyiratkan semua kejadian yang telah menjadi kenangan manis antara Mira dan dirinya. Perlahan senyuman itu memudar. Sekarang keadaan tidak seperti dulu lagi. Kebahagiaan seakan dihempaskan dan diganti dengan penderitaan.
Lampu merah menghentikan laju mobilnya. Menunggu sejenak kendaraan lain melintas secara bergantian.
"Kenapa kau tidak melaporkanku ke polisi dan juga memberitahu kepada temanmu bahwa kau disandera oleh orang jahat sepertiku?" Sebuah pertanyaan yang membuat Alisya mematung seketika.
Alisya menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh tuan muda. "Apa aku akan terbebas jika aku melaporkanmu ke polisi, tuan?" Alisya menatap pemilik mata coklat terang tersebut.
"Kau adalah orang yang berada dan pastinya dengan mudah bisa menyelesaikan permasalahanmu dengan uang dan kekuasaan. Tetapi itu tidak berlaku untuk kalangan bawah sepertiku yang hanya bisa mengandalkan kekuatan hukum." Alisya tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya karena begitu berani berkata demikian.
"Tetapi disisi lain kau telah menyelamatkan nyawaku, tuan. Lalu kenapa aku harus menghukum seseorang yang sudah menyelamatkan hidupku?" tukas Alisya dengan sejujurnya.
"Walaupun kau menyiksaku tapi kau juga yang menyelamatkanku," ujar Alisya lirih.
Mulai sekarang aku tidak akan menyakitimu lagi.
Lampu berubah menjadi hijau dan tuan muda kembali melajukan mobilnya. Tuan muda tidak mengatakan sepatah kata ataupun menanggapi jawaban Alisya karena ia fokus pada mobil hitam dibelakangnya. Tuan muda curiga dengan mobil tersebut yang terus mengikutinya kemanapun ia pergi.
Untuk memastikan kecurigaannya, tuan muda membanting setir ke kiri menuju jalan yang berbeda. "Aku akan menyetir dengan kecepatan tinggi. Jika kau takut tutuplah matamu!" Tuan muda bersiap-siap. Menatap lurus jalanan di depannya.
3
2
1
Tuan muda menginjak pedal gas dan mobil pun melaju dengan cepat. Alisya menutup kedua matanya begitu erat, takut jika sesuatu akan terjadi nantinya. Di tengah perjalanan, Alisya mencoba memicingkan matanya melihat kedepan apakah ia masih aman atau tidak.
"Jangan buka matamu sebelum sampai ke tujuan!" Tegur tuan muda. Alisya kembali memejamkan matanya dan memegang seat belt dengan kuat.
Setelah beberapa saat, mobil memasuki kawasan apartemen elit yang hanya dihuni oleh orang kaya saja. Tuan muda mematikan mesin mobil dan melepas seat beltnya. Membuka pintu mobil untuk keluar dari sana. Selepas itu mengambil kursi roda di bagasi belakang dan diletakkan di samping mobil.
Klik
Tuan muda melepaskan seat belt Alisya. "Tuan-" Alisya bingung saat tuan muda tergesa-gesa sembari menengok kebelakang.
"Jangan banyak bicara!" Tegas tuan muda sambil membopong tubuh Alisya dan meletakkannya di kursi roda. Saat sudah di lobby apartemen tuan muda memberikan access card atau kunci elektronik berbentuk kartu.
"Dengarkan aku, jangan membuka pintu sebelum aku datang. Camkan itu!" Tutur tuan muda. Kemudian, menuju resepsionis agar salah satu dari mereka membantu Alisya untuk mencari apartemen pribadinya.
"Lantai paling atas dengan logo pintu LD," tuan muda berjalan menjauh tanpa berterimakasih terlebih dahulu. Bahkan ia tidak menatap Alisya sekalipun.
Saat tuan muda keluar dari kawasan apartemen mewah tersebut, mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya sudah menunggu di persimpangan jalan. "Kenapa hidupku tidak bisa tenang sehari saja?" Tuan muda memukul setir kemudi untuk meluapkan emosinya.
Tuan muda melanjutkan perjalanannya lagi, masa bodoh jika masih diikuti kemanapun tujuannya. Tuan muda menghubungi Dave untuk menanyakan perihal ini.
__ADS_1
"Dave, apa ada masalah di markas?"
"Apa? aku tidak bisa mendengarmu, Luc. Katakan lebih jelas lagi!"
Panggilan berakhir. Dave disana bergumam tidak jelas sambil menepuk-nepuk handphonenya dikarenakan sinyal yang naik turun tidak normal.
"Sepertinya sinyal buruk disini."
Dave berada di kampung halaman bi Minah wajar saja jika agak sulit untuk menemukan jaringan disana. Karena wilayahnya di pelosok dan juga jauh dari kota.
Lain halnya dengan tuan muda yang mencoba untuk menghubungi Billy.
"Hallo Luc, ada apa?"
"Bagaimana markas? Aman?"
"Apa Dave belum memberitahumu? Markas ditembaki dan diincar oleh musuh. Sekarang kami masih menyelidiki siapa pelakunya."
Tuan muda berpikir sejenak ada kemungkinan jika orang yang mengejarnya satu anggota dengan musuh yang menyerang markasnya.
"Kau baik-baik saja kan?"
"Hmm, mungkin."
Tuan muda menghentikan pembicaraannya dengan Billy. Tidak berpikir bahwa disana Billy khawatir akan keselamatannya. Dia berpikir tidak mungkin tuan muda menghubunginya dan tiba-tiba bertanya tentang markas. Pasti ada hal yang disembunyikannya.
"Ck, dia selalu saja membuat nyawanya dalam bahaya."
Billy menahan kekesalannya. Dia tidak bisa pergi membantu tuan muda karena markas juga butuh dirinya. Dave sedang keluar untuk mengantar bibi jadi hanya dialah yang bisa melindungi markas.
Tuan muda mengarahkan mobilnya menuju desa yang sudah tidak dihuni. Mobilnya ia parkirkan di sembarang jalan dan bersembunyi disalah satu rumah. Mereka yang mengejarnya berpencar. Satu orang menuju ke arahnya. Tuan muda maju perlahan membawa balok kayu, mengambil ancang-ancang dan bersiap menyerang.
Bug
Satu pukulan mengenai kepala tikus kecil yang berusaha mengganggunya. Teman-temannya yang mendengar kebisingan langsung bergerak mencari asal suara.
"Aku akan mati jika terus begini."
Tuan muda memutar otak mencari cara agar bisa menang. Sedangkan musuhnya akan terus berusaha untuk membunuhnya. Tiga orang menuju belakang dinding namun tidak ada target yang diincar mereka.
"AWASI SEKITAR!"
Inilah kenapa senjata penting bagiku. Nyawaku bisa saja terancam kapanpun. Dan sialnya pisau lipatku terjatuh dimobil. Juga tidak menyiapkan cadangan pistol lain.
"Dia mungkin disana!"
Dua orang meninggalkan tempat itu dan berjalan ke rumah kecil di sebelah lahan kosong. Tinggal satu dari mereka yang masih standby disana, yakin bahwa target masih berada di sekitarnya.
Jika dia melihat keatas maka tamatlah hidupku.
Tuan muda bersembunyi di atas pohon karena ia tahu mereka akan menyelidiki ruangan terlebih dahulu, sehingga ia memilih memanjat pohon walaupun juga beresiko besar.
****
Orang tersebut melihatnya. Waktu 3 detik untuknya menyelamatkan diri sebab senjata yang dibawa oleh tikus kecil itu mempunyai selang waktu 3 detik sebelum peluru menghunus target.
Bug
Tuan muda menendangnya dari atas dan senjatanya terlepas. Tanpa membuang waktu, senjata tersebut diambil digunakan untuk menembak musuhnya.
Dor
Kedua temannya mendengar suara tembakan langsung menghampirinya. Bersiap menembaki target yang diinginkan bosnya. Tuan muda bersembunyi dibalik pohon. Sesekali menembaki kedua tikus kecil yang belum segera mati.
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
Suara tembakan sahut menyahut diantara mereka. Satu tembakan dari tuan muda mengenai salah satu dari mereka.
Dor
Tuan muda terkena lesatan tembakan. Walaupun peluru tidak mengenainya tetapi berhasil melukai lengan kirinya.
"****, matilah kalian!"
Tuan muda tak lagi bersembunyi. Rasa marahnya menggebu ingin mengakhiri kontak senjata ini dengan segera.
Dor
Dor
Dor
Tuan muda menembak sembari menghindari serbuan peluru yang mengarah padanya.
Dor
Dor
Dua tembakan tuan muda sukses memberikan rasa sakit untuk tikus kecil yang sebelumnya masih bernyawa itu. Satu lagi masih ada satu orang yang kemungkinan masih pingsan. Tuan muda segera menuju tempat awal ia memukulnya. Ternyata dia sudah siuman saat tuan muda sudah kembali ketempat tersebut.
"Letakkan senjatamu dan angkat tanganmu!"
Tuan muda menodongkan senjata dikepalanya sebelum ia membalik badannya. Mau tak mau orang tersebut mematuhi perintah tuan muda.
"Jalan!"
Tuan muda mengikuti langkahnya dari belakang namun senjata tetap berada di kepala orang itu sebagai ancaman agar tidak membantah. Sesampainya di mobil miliknya, tuan muda mengambil ponsel pribadinya dan menghubungi Pak John.
"Selamat pagi tuan muda!"
"Urus kekacauan disini!"
"Baik,"
Setelah itu tuan muda mengirimkan lokasi tempatnya berada.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku sungguh tidak mengetahuinya tuan. Kami hanya dibayar untuk melakukan ini. Aku tidak tahu siapa yang menyuruh kami!"
Tuan muda menggerakkan senjatanya kebawah mengisyaratkan agar orang tersebut berlutut di hadapannya. Sedangkan tuan muda bersandar dibagian depan mobil sembari menunggu Pak John datang. Tak berselang lama, Pak John beserta pengawal yang lain datang. Mereka menundukkan kepala untuk menghormati orang yang berpengaruh di keluarga Deilson itu.
"Kami akan mengurus sisanya tuan," ujar Pak John
Raut wajah Pak John berubah cemas kala melihat lengan tuan muda yang berdarah. "Tuan lengan Anda-" tuan muda menyela perkataan Pak John.
"Tidak masalah, aku akan mengobatinya nanti setelah sampai di apartemen. Jangan lupa bawa dia ke tempat seperti biasa," ujar tuan muda sebelum melangkah pergi memasuki mobil.
"Baik tuan!"
Mobil tuan muda meninggalkan desa yang menjadi saksi penyerangan empat orang suruhan musuh yang belum diketahuinya.
Sesudah sampai di depan apartemen pribadinya, tuan muda menekan sandi untuk membuka pintunya. Alisya yang mendengar pintu akan dibuka, segera mengambil sapu untuk berjaga-jaga jika yang datang bukan tuan muda. Saat sandi sudah terkonfirmasi, tuan muda mendorong pintu tersebut.
Bug
Alisya tanpa sengaja memukul luka tuan muda. Darah menetes dari lengan sampai ke lantai. Alisya terperanjat dan tertegun melihat tindakannya yang sampai membuat orang terluka.
"Arghhh 5h1t, APA KAU GILA!"
..._______________End_______________...
...Terimakasih sudah mampir (ꈍᴗꈍ)...
__ADS_1