
Bismillahirohmanirohim.
Sesampainya di kantin ketujuh orang yang berbeda latar belakang itu, segera memesan makanan untuk mereka santap.
Bukan hanya berbeda akan latar belakang keluarga saja, tapi juga mereka memiliki masalah hidup yang berbeda-beda, akan tetapi disatukan dengan cara yang berbeda-beda pula.
Tidak ada yang tahu rencana Allah yang akan dia berikan pada setiap makhluk-Nya, karena hanya Allah lah yang maha mengetahui.
Seperti sekarang walaupun ketujuh orang yang berada di dalam geng somplak itu, memiliki berbagai macam masalah, tapi mereka akan tetap tersenyum dan bersyukur akan hidup yang diberikan oleh Allah. Sang maha Kuasa.
"Selamat makan semua, udah laper nih gue" Eza meletakkan beberapa pesanan yang dia ambil dibantu oleh Fahmi dan Cecep.
"Baca doa dulu sebelum makan" sindir Bintang, kala dia melihat Eza baru saja akan memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Eza berdecak sebal pada Bintang, tapi dia juga harus berterima kasih pada Bintang, karena telah mengingatkannya.
"Iya abang Bintang yang selalu benar, terima kasih sudah mengingatkan adik Eza yang pelupa ini" sahut Eza, seakan dia menjadi korban bullying para orang-orang.
"Duk"
"Astagfirullah" reflek Eza memegang kepalanya yang dipukul begitu saja oleh Alvin.
"Makan jangan banyak ngomong, makan dulu baru ngomong" tegur Alvin.
Sedangkan kelima temannya sudah fokus makan tidak memperdulikan Eza lagi, dan untuk seorang Bintang terus berusaha mati-matian untuk pura-pura tidak melihat makhluk tak kasat mata yang berada di dalam kelasnya tadi, kini ikut menyusul dirinya sampai ke kantin.
__ADS_1
Entah apa yang makhluk itu inginkan pada Bintang, sampai susah payah harus menyusul Bintang sampai ke kantin kampus yang ramai mahasiswa-mahasiswi, karena mereka belum ada kelas.
"Buset, ini setan kenapa sih dari tadi ngikutin gue aja"
"Sabar Bintang, sabar" batin Bintang dalam hatinya, dia hanya memfokuskan penglihatan nya di makanan saja.
Sedangkan setan yang sedari tadi terus mengikuti Bintang, duduk disebelah Bagas, Bintang tidak tahu apa yang terjadi jika Bagas mengetahui hal ini, mungkin Bagas tidak akan bisa tidur dalam waktu lama, karena ketakutan. Tapi biarlah dirinya saja yang tahu.
"Alhamdulillah" ucap Alex, saat sudah selesai menghabiskan makanan yang dia pesan, diikuti Fahmi dan Alvin.
"Hari ini tugas siapa yang ke cafe untuk memeriksa perkembangan disana?" Alvin sudah mulai membuka obrolan saat melihat semua teman-temannya sudah menghabiskan semua makanan mereka, sampai tandas tak tersisa.
"Gue sama si Bintang" sahut Alex. Alvin mengangguk saat mendengar jawaban dari Alex.
"Memangnya kenapa?"
"Kemaren gue hampir di kroyok sama geng atlas, beruntungnya gue bisa mengecoh mereka, kayaknya mereka cuman mau mengalahkan kita satu persatu"
Fahim mengingat bagaimana kemarin saat pulang dari kuliah dia hampir dihajar oleh geng atlas, karena dia ada kelas sore jadi Fahmi pulang paling terakhir.
"Ya, apa yang dibilang Fahmi bener, apalagi kita tahu seganas apa geng atlas, jadia hati-hati kalau lagi keluar sendiri, bukan apa hanya saja mereka gang atlas bermain licik dengan cara keroyokan, walaupun lawannya hanya satu orang saja"
Alvin membenarkan ucapan Fahmi barusan. "Di kampus juga sepertinya kita harus hati-hati, karena gue curiga anak geng atlas ada di kampus kita juga" Eza yang sudah menyelesaikan makannya ikut bergabung dalam obrolan.
"Lo denger kita diskusi rupanya, siapa tau lo hanya fokus sama makan aja" sahut Bagas, sambil menatap Bintang dengan menaikan satu alisnya.
__ADS_1
"Kayak kagak tahu gue aja lo" sahut Eza dengan santainya.
Entahlah terbuat dari apa sebenarnya Eza Azka Argintara itu, bisa-bisanya yang dia pikirkan hanya makan-makan dan makan. Padahal dia anak orang kaya.
Tidak tahu saja makan adalah salah satu pelampiasan Eza saat sedang stres, tapi beruntung Eza jika makan sebanyak apapun tidak membuat dirinya gemuk, karena Eza termasuk rajin melakukan olahraga.
"Gue denger dari beberapa mahasiswa di kampus kita, kalau geng atlas akan melakukan aksi lusa, untuk menyerang geng tapi gue nggak tahu geng siapa yang akan mereka serang" Cecep yang sedari tadi hanya menyimak obrolan para temanya akhirnya berusara juga.
sekarang keenam orang itu sudah beralih menatap Cecep dengan tanda tanya.
"Kenapa lo pada?"
"Benar apa yang lu bilang barusan?" pertanyaan yang dilontarkan Bagas pada Cecep mewakili para teman-temannya.
Cecep mengangguk. "Tapi gue denger-dengar doang dari mahasiswa lainnya"
"Sekarang lebih baik kita berhati-hati saja" Alvin berusaha memberikan solusi, dan para teman-temannya mengangguk untuk mengiakan ucapan Alvin.
Alvin memutuskan untuk tidak menyerang orang lain jika mereka tidak bersalah, sudah dikatakan tempo hari jika geng somplak ada itu bukan untuk membuat kericuhan ataupun kegaduhan.
Seperti penjelasan yang diberikan Fahmi jika geng somplak itu berakhlak dan seperti julukan yang diberikan kakek Hasan untuk mereka tujuh berandal beriman.
Alvin akan selalu menaati amanah yang diberikan kakek Hasan pada dirinya dan kawan-kawan, tujuan mereka sekarang untuk menyatukan mereka dengan keluarga masing-masing.
Ya hal yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa berdamai dengan masa lalu dan memaafkan dimasa yang akan datang, itulah yang harus mereka lakukan. Memang berdamai dengan masa lalu itu tidaklah mudah tapi jika terus berusaha In Sya Allah. Allah memberi jalan keluarnya.
__ADS_1