
Bismillahirohmanirohim.
Hari demi hari terus Alvin lewati, Alvin selalu mengecek kondisi sang mama. Alvin dan Diandra merasa sangat bersyukur karena keadaan Dina setiap harinya semakin membaik.
Alvin dan Daindra juga tak pernah membiarkan Dina sendirian, keduanya selalu bergantian untuk menjaga Dina.
Begitu juga dengan geng somplak selalu ada bersama Alvin, mereka selalu menemani Alvin untuk menjaga sang mama.
Mereka melewati hari-hari seperti biasa, ada lika liku yang harus dihadapi, karena hidup tak selalu mulus, ada sedih, ada senang ada pula rasa hambar, seperti tak terasa apa-apa pahit tidak manis pun tidak. Ada juga rasa pahit dan ada juga rasa manis.
"Mama" Alvin tertegun di depan pintu kamar rawat sang mama. Suara lirih yang Alvin keluarkan masih bisa didengar oleh Dina. Rasa bersalah dan penyesalan terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu, yang parasnya masih terlihat cantik, seperti mukanya tak dimakan usia.
"Alvin" balas Dina lirih, malu, kecewa itulah yang Dina rasakan. Dia malu pada sang putra dan kecewa pada diri sendiri.
Tanpa permisi Alvin langsung memeluk tubuh sang mama yang sangat dia rindukan selama 3 tahun lebih ini.
"Hikss… maafin mama Vin, mama udah jahat sama kamu nak" ujar Dina lirih.
"Alvin udah maafin mama, udah ya ma"
"Mama baru aja siumankan? mama harus istirahat dulu" ujar Alvin perhatian.
Dina kembali memeluk erat sang putra. "Mama jahat Vin, mama nggak pantes disebut mama" Dina terisak, Alvin segera menghapus air mata sang mama yang terjatuh.
"Jangan menangis ma, Alvin nggak mau liat air mata mama, cukup hari itu aja ma, dan seterusnya nggak akan terjadi lagi"
Sebuah ingatan kelam di masa lalu kembali muncul di kepala Alvin. Dia tidak ingin kejadian 3 tahun silam kembali lagi.
"Mama kapan siuman?" tanya Alvin penasaran. "Papa mana ma?" Alvin celingukan mencari keberadaan sang papa, pasalnya sekarang waktunya Diandra yang menjaga sang istri.
Ceklek
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Alvin dan Dina menoleh ke pintu kamar mandi tersebut yang berada di dalam kamar rawat Dina.
Diandra diam mematung saat melihat istrinya dan sang putra sedang melihat kerahanya. Bagaimana tidak pasalnya tadi saat Diandra mau ke toilet Dina sang istri masih belum siuman.
Diandra berjalan ke arah keduanya tanpa berkata sepatah katapun, dirinya langsung memeluk sang istri dengan sayang, sungguh Diandra tidak berpikir sampai sejauh ini jika sang istri akan cepat siuman dari perkiraan para dokter. Rasa syukur hadir dalam diri Diandra.
Dia tak menyangka keluarganya akan kembali seperti dulu lagi. "Maafin papa ma" ucap Diandra lirih.
Dina menggeleng pelan. "Ini bukan salah papa, semua ini salah mama" jawab Dina, dengan rasa penyesalan. "Maaf pa, maafin mama, mama udah jahat sama kalian"
Diandra dan Dina menarik Alvin masuk kedalam pelukan mereka, ketiganya menangis bahagia disana. "Maafkan kami nak" ujar kedunya kompak, Alvin mengangguk untuk merespon kedua orang tuanya, tak bisa dipungkiri Alvin memang sangat merindukan mereka.
Sementara itu Fahmi dan yang lainnya sedang menunggu diluar kamar rawat Dina. "Alhamdulillah mama nya Alvin udah siuman" Bagas dan yang lainnya mengucap syukur.
Tapi baru saja mereka yang berada diluar merasa terharu, sayangnya semua itu tak berselang lama karena Eza dan Cecep datang dengan sangat heboh. Terlihat Cecep terus mendesak Eza sambil memukul kepala dan lengan Eza.
"Ampon bang! bukan gue yang rusakin buku kesayangan lo" ujar Eza memohon.
"Mati gue kalau ketahuan" batin Bintang, ternyata dia pelakunya si biang kerok.
"Inget rumah sakit!" tegur Fahmi.
"Habisnya bang Cecep nuduh orang sembarangan tanpa bukti" sahut Eza cepet.
"Siapa bilang tanpa bukti, ini buktinya" sambil menunjukan sebuah tulisan yang mengatakan jika yang merusak buku Cecep adalah Eza.
'Maaf ya bang Cecep, gue nggak sengaja jatuhin buku abang, terus robek….. Ezaaa!' begitulah sepertinya tulisan yang ada di buku Cecep.
"Beneran lo Za yang nulis?" tanya Fahmi memincang. Sedangkan si pelaku pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Bukan bang, kalau gue yang jatuhin gue langsung ngomong sama yang bersangkutan" ujar Eza membela diri. Sementara itu Alex menatap curiga pada Bintang.
__ADS_1
"Emang itu buku apaan sih bang?" tanya Bagas yang ternyata memancing kecurigaan orang-orang pada dirinya.
"Lah napa pada liatin gue sih, kan gue cuman nanya doang" bingung Bagas.
"Jangan bilang lo yang jatohin buku kesayangan bang Cecep" tuduh Eza pada Bagas.
"Kalau bener lo, abis lo Gas sama gue sekarang, gue kagak tau apa-apa malah dituduh yang rusakin"
"Woi mahmud! jangan asal nuduh gue juga baru liat buku itu" sahut Bagas tak terima.
"Bisakan nanti aja bahas bukunya, inget ini rumah sakit bukan taman bermain" ucap Alex datar.
Mereka semua langsung terdiam, bertepatan dengan Alvin yang keluar dari ruang rawat sang mama. "Kenapa?" Alvin bertanya pada mereka semua tapi tidak ada yang berniat untuk menjawab sama sekali, pandangan Alvin tertuju pada buku yang Cecep pegang.
Alvin tau jika buku itu buku kesayangan Cecep, dia sering kali melihat Cecep tak pernah lepas dari buku yang berwarna biru tua itu. "Gara-gara buku bukan?" tanya Alvin memastikan sambil melihat Cecep.
"Iya Vin" bukan Cecep yang menjawab melainkan Alex.
"Huh!" Alvin menghela nafas sebentar lalu menatap Bintang. "Mau jujur apa nggak Tang?" sontak mereka semua terheran dengan perkatan Alvin, kecuali Alex sedari tadi dia sudah curiga pada Bintang.
"Apa sih bang Alvin kok tiba-tiba Bintang aja yang kena" masih berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Mau jujur atau mau hukum lo ditambah" ancam Alvin. "Kalau nggak mau jujur juga nggak papa, semua fasilitas lo gue tarik, dan gue bakal ngomong sama papa Afka" ancam Alvin.
"Bang Fahmi tolongin Bintang dong" mencari pembelaan. Tapi Fahmi tidak peduli, karena Bintang yang berulah dia juga yang harus bertanggung jawab.
"Sejak kapan lo belajar jadi tukang bohong?" Bagas bertanya dengan muka datarnya dia sedang mode serius.
"Maaf bang, emang Bintang yang rusakin buku bang Cecep, karena Bintang takut dimarahin sama bang Cecep jadi Bintang tulis aja nama bang Eza disitu, tadinya Bintang kira nggak ada yang lihat, tapi ternyata bang Alvin lihat semuanya" Bintang menggunakan jurus wajah melasnya agar tidak kena semprot oleh para abang-abangnya.
"Bintang!" ucap Eza dan Bagas bersama.
__ADS_1
"Kalau mau ribut nanti aja, sekarang kita ketemu mama nya Alvin dulu dan lo Cep simpen dulu unek-unek buat ceramahin si Bintang nanti aja, lo berdua juga dan lo Tang harus bertanggung jawab atas apa yang lo buat" lerai Fahmi, sambil menunjuk Eza dan Bagas