
Bismillahirohmanirohim
"Makasih ya buat semua udah pada mau main kesini, om sama tante pamit duluan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan"
Setelah selesai makan bersama mereka Anton dan Fani menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan teman-teman Eza, sebelum mereka pergi untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas, padahal bisa saja pekerjaan tersebut digantikan oleh orang kepercayaan Anton dan Fani. Tapi tetap tidak bisa, keduanya harus memantaunya sendiri.
"Iya om, tante makasih banyak kita udah dikasih makan gratis mana enak pula" sahut Bagas sopan.
"Za, mama sama papa pamit dulu ya, kalau ada waktu kita bakal mampir lagi sebentar ke rumah" Fani memeluk putra tunggalnya dengan sayang.
Eza hanya membalas pelukan sang mama dengan hal biasa, tak lupa Eza juga menyalami kedua orang tuanya dengan takzim diikuti oleh Alvin dan yang lainnya.
Fani dan Anton berjalan beriringan untuk menuju mobil diantar Eza juga para cecunguk itu.
"Assalamualaikum ma, pa" ucap Eza, baru saja Anton akan melajukan mobilnya tapi mendengar salam yang Eza lontarkan membuat Anton sempat memegang sebentar sama begitu juga dengan Fani.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya secara bersama, sambil tersenyum pada Eza dan yang lainnya.
Hembusan angin yang menenangkan, terika matahari yang tidak terlalu panas juga sepanjang perjalanan yang berlalu lalang kendaraan membuat mobil kedua orang tua Eza sudah tidak terlihat, hilang di kerumunan kendaraan roda 4 ataupun roda dua.
"Markas yok lah" ajak Alvin pada mereka semua, tanpa banyak protes mereka menyetujui ajakan Alvin.
Menurut geng somplak rumah yang sekarang mereka jadikan markas, rumah paling nyaman untuk mereka pulang, buktinya saja Eza tidak terlalu betah di rumahnya yang bak istana itu, padahal banyak orang yang ingin memiliki rumah seperti rumah Eza atau hanya sekedar tinggal saja.
Bintang menepuk pundak Eza dengan pelan sambil merangkul Eza dari sampingnya. "Gue tau perasaan lo Za" penuturan Bintang membuat Eza menoleh padanya.
__ADS_1
Bintang tersenyum pada Eza seakan mengucapkan sesuatu dengan isyarat, sedangkan Eza hanya mengerutkan dahinya karena merasa sedikit bingung.
Sudah dikatakan jika belum ada yang tau tentang latar belakang keluarga Bintang, hal ini seperti menjadi misteri sendiri untuk geng somplak, karena Bintang setiap pulang ke rumahnya tidak akan bertemu dengan kedua orangtuanya, dia juga tidak hanya pulang di satu rumah saja. Tapi ada beberapa rumah yang Eza sering hampiri.
Tapi geng somplak tidak mempermasalahkan tentang latar belakang dari seorang Afka Bintang Saputra itu, karena menurut mereka semua orang memiliki privasi yang tidak boleh diketahui banyak orang begitu juga dengan Bintang.
"Mau langsung pulang ke markas atau mau kemana dulu nih?" tanya Alvin, sambil meminta pendapat dari teman-temannya.
"Ke panti asuhan aja yuk lah, kalau nggak ke gedung tunanetra gimana?" usul Fahmi.
"Boleh juga usulan lo Mi, tapi kita mau ke panti asuhan atau ke gedung tunanetra?" bingung Cecep, padahal belum juga mereka memutuskan.
Seperti sudah menjadi kebiasaan Alex yang sering menoyol pelan kepala Cecep. "Belum diputusin mau kemananya Cep, masih dipikirkan" sahut Alex cuek.
"Hehehe, iya bang Alex maaf" Cecep memang sedikit takut dengan Alex, melihat tingkah Cecep Alvin dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Gas lah" sahut Bintang cepat, jika boleh jujur Bintang lebih memilih pergi ke panti asuhan dari pada gedung tunanetra, jika berada di gedung tunanetra dengan Bintang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, saking banyaknya aura jahat yang dikeluarkan oleh makhluk halus di tempat itu.
Kini geng somplak sudah menyusuri jalan menuju panti asuhan Kencana Jaya, tapi saat dipertengahan jalan Fahmi memberhentikan motornya secara tiba-tiba, karena melihat Fami memberhentikan motornya secara mendadak, Alex dan Alvin yang sudah lebih dulu terpaksa putar balik untuk menunggu Fahmi dan menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa?" tanya Alvin saat sudah berada di sebelah Fami dan yang lain diikuti Alex yang baru saja turun dari motornya.
"Gue harus pulang dulu, nanti gue nyusul ke panti asuhan" ucap Fahmi.
Alvin tidak tahu jika rumah Fahmi berada di jalan pintas yang mereka lewati, maka dari itu agar lebih cepat sampai sebelum adzan ashar berkumandang Alvin memutuskan untuk melewati jalan pintas
__ADS_1
menuju panti asuhan. yang biasa dia lewati bersama Eza.
Mungkin ini juga petunjuk untuk Fahmi agar melihat keadaan orang tua angkatnya yang pernah mengurus dirinya, setidaknya dia tahu seperti apa kabar mereka sekarang.
"Ok, lo hati-hati Mi" ucap Alvin sambil menepuk pundak Fahmi sedikit kuat, Fahmi mengangguk pada Alvin dan teman-temannya.
"Gue duluan assalamualaikum" pamit Fahmi.
"Wa'alaikumsalam" mereka semua menjawab salam Fahmi dengan kompak.
Entah apa yang membuat Fahmi harus pulang ke rumahnya seperti neraka itu perasaan Fahmi mengatakan jika mungkinkan sudah ada sesuatu yang terjadi disana.
"Nunggu apalagi?" bingung Bagas, karena Alvin tak kunjung menyalakan motornya untuk meneruskan perjalanan mereka menuju panti asuhan.
"Nungguin hilal jodoh" Alvin berkata sambil kembali menyalakan mesin motornya, sedangkan Bagas, Cecep, Bintang juga Eza hanya saling tatap, untuk mencari tahu apa maksud dari kata-kata Alvin barusan.
Mereka semua beralih menatap Alex, Alex hanya mengangkat kedua bahunya acuh, tanda tak tahu apa-apa.
"Woi kalian ngapain sih?" teriak Alvin yang sudah sedikit jauh dari mereka, buru-buru mereka menyusul Alvin.
"Kayak apa aja si Alvin, udah disana aja tu orang"
"Kayak apa emang Cep?" tanya Eza menuntut jawaban dari Cecep.
"Kayak setan!"
__ADS_1
"Up, gue salah ngomong" buru-buru Bagas menutup mulutnya.
"Hehehe, keceplosan gue"