Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
57. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Alvin masih belum sadarkan diri padahal sholat subuh sudah hampir tiba, sementara itu mereka yang berada di markas kaget saat mendapatkan kabar dari Alex, jika Alvin masuk rumah sakit internasional di pertengahan tengah malam tadi.


"Bang abis sholat subuh kita langsung ke rumah sakit internasional ya" pinta Bagas, rasa khawatir pada Alvin sangatlah dalam.


Dia tidak mau Alvin kenapa-napa, bukan hanya Bagas tapi mereka semua tidak ingin terjadi apa-apa pada Alvin, mereka semua mengkhawatirkan keadaan Alvin.


"Iya kita langsung kesana nanti" jawab Fahmi. 


"Lo gimana ikut kagak?" Cecep menoleh pada Dimas yang akan mengambil air wudhu di sebelahnya. 


"Ikut bang nggak mungkin nggak, gue juga khawatir sama keadaan bang Alvin" sahut Dimas, setelah itu giliran dirinya yang mengambil wudhu, karena Bintang sudah selesai mengambil wudhu.


"Kita tetap sholat di masjid" suruh Cecep kala melihat Bintang menggelar  sajadah di ruang tamu markas mereka.


Sepertinya Bintang masih mengantuk maka dari itu dia menuruti saja perkatakan Cecep tanpa adanya perlawanan, tau sendiri bagaimana sikap Bintang, selalu membantah walaupun akhirnya dia kalah juga.


"Jangan lupa doain buat kesembuhan Alvin dan mama nya" ujar Fahmi pada mereka semua. Alex memang bukan hanya memberi kabar tentang kondisi Alvin pada mereka, tapi dia juga memberi kabar tentang papa dan mama Alvin.


Setelah selesai sholat subuh mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit internasional.


"Bang ditengah jalan beli buah sama makan dulu ya" pinta Bagas.


"Napa lo ngab?" Bintang yang berada di sebelah Bagas memperhatikannya dengan saksama.


"Laper!" 


"Wkwkwk! gue harus tahan nggak boleh ketawa" batin Bintang. Begitu juga dengan Dimas yang duduk disebelah kanan Bagas dia juga sedang mati-matian menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Udah sono turun beli buah sama makan" instruksi Fahmi saat dia sudah menghentikan mobilnya di depan tukang  penjual buah-buahan.


"Kenapa lo kagak turun?" Cecep merasa bingung.


"Hehe, nggak bawa duit gue bang" cengir Bagas sambil menyodorkan tangannya untuk meminta uang pada Cecep.

__ADS_1


"Fix dia masih miskin" batin Dimas.


"Fix lo miskin bang! duit aja sampe lupa" kebetulan sekali Bintang dan Dimas bicara secara bersama namun bedanya Bintang blakblakan sedangkan Dimas hanya bicara didalam hati saja. 


"Baru juga kali ini dompet gue ketinggalan Tang, lah kalau lo tiap hari, yang bayarin makan lo setiap hari siapa coba" dengus Bagas.


"Yang bayarin gue makan tiap hari ya kalian, kalau gue makannya sama lo, ya lo yang bayar bang, tapi kalau gue makannya sama bang Fahmi ya bang Fahmi yang bayar, kal"


"Udah nggak usah diperjelas, sekarang sono lo beli buah sama makanan" Cecep memotong pembicaraan Bintang sambil menyodorkan uang 200 ribu pada Bagas.


"Bang nggak baik tau memotong pembicaraan orang" bela Bintang, sedangkan Bagas sudah turun bersama Fahmi untuk membeli buah-buahan dan makanan.


"Boleh kalau ngomongnya kayak lo, ngomong yang nggak berfaedah" 


"Ahiss!"


"Ngomong yang nggak berfaedah maksudnya gimana bang?" tanya Dimas yang sedari tadi hanya menyimak mereka semua. 


"Ya ngomong sesuatu yang nggak ada gunanya dan nggak ada artinya dan manfaatnya sama sekali, contohnya kayak dia barusan" menunjuk Bintang yang bodo amat. 


Setelah Bagas dan Fahmi selesai membeli buah-buahan dan makanan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit internasional. 


"Waalaikumsalam" mereka yang ada di dalam ruang rawat Alvin menjawab dengan kompak.


"Bang Alvin" ucap Bintang sedikit keras saat melihat Alvin sudah sadarkan diri.


Ya Alvin sudah sadar saat adzan subuh berkumandang.


Bintang memeluk Alvin dengan sangat erat, seperti Alvin baru saja pergi jauh dan sudah meninggalkannya sangat lama. "Tang lepas, gue kagak bisa nafas" pinta Alvin.


"Tau lo Tang, kalau bang Alvin sakit lagi lo mau tanggung jawab" kesel Bagas.


"Woi! lo pada disini mau berantem apa mau jenguk orang sakit" ujar Alex dingin.


Seketika mereka semua langsung kicep saat mendengar teguran dari Alex.

__ADS_1


"What! mereka semua nggak berani sama bang Alex, sama gue juga" batin Dimas dia juga ikut kicep.


"Lo sakit apa Vin?" Fahmi mendekat ketempatan Alvin yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.


"Biasa bang!"


"Bang nanti dulu ya tanya menanya sekarang makan dulu yuk, gue udah nahan laper dari tadi nih" ajak Bagas.


Sepertinya Bagas memang benar-benar sangat lapar.


Setelah mereka semua selesai makan mereka memutuskan untuk melaksanakan sholat dhuha, karena sudah masuk waktu dhuha. Mereka sampai di rumah sakit pukul 7 : 30 jadi sekarang sudah jam 8 :10


Kebetulan sekali saat mereka sedang melaksanakan sholat dhuha Diandra masuk ke dalam ruang rawat Alvin. Tapi hal pertama yang Diandra lihat Alvin dan yang lainnya sedang melaksanakan sholat dhuha. 


Melihat pemandangan yang sangat sejuk dipagi hari membuat hati Diandra terasa seperti ada yang mengetuk dengan sangat kuat.  


Diandra yang tersadar dari lamunannya segera kembali keluar sebelum mereka ada yang menyelesaikan sholat dia akan pura-pura masuk saat mereka sudah selesai sholat dhuha. Dindara tidak ingin mengganggu mereka yang sedang beribadah di pagi hari. 


Alvin dan yang lainnya sudah menyelesaikan sholat dhuha mereka masing-masing yang mereka lakukan 4 rakaat dua salam.


Mengerjakan shalat dhuha adalah salah satu sunnah yang dilakukan oleh kanjeng nabi Muhammad SAW. Melakukan sholat dhuha sangat banyak manfaatnya. Apalagi sholat dhuha adalah salah satu sunnah nabi Muhammad SAW.


Setelah memastikan Alvin dan yang lain sudah selesai sholat Diandra memutuskan untuk masuk dan menemui mereka semua, dia baru tahu jika Alvin sudah siuman.


"Assalamualaikum" Diandra masuk ke ruang rawat Alvin, mereka semua yang mendengar ada orang yang mengucapkan salam menoleh ke sumber suara sambil menjawab salam dari Diandra.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.


"Papa" ucap Alvin lirih, entah kenapa setiap dia ingin mengucapkan nama papa nya selalu saja seperti berhenti di tenggorokan.


Mereka semua hanya bisa menatap Alvin dan Diandra secara bergantian.


"Alvin kamu sudah siuman nak" ujar Diandra sambil memeriksa tubuh Alvin. Rasanya Alvin ingin sekali memeluk sang papa dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang papa, tapi semua itu tidak bisa Alvin lakukan, Alvin sendiri tidak tahu kenapa dia hanya menatap papa nya dalam diam. Padahal tadi waktu teman-temannya yang bicara dia dapat menanggapi dengan baik. Kenapa saat papa nya yang bicara dia terlihat sangat keluh.


"Mama gimana pa?" Alvin juga tidak tahu kenapa dia langsung menanyakan kabar sang mama.

__ADS_1


Diandra yang tadinya sedang memeriksa tubuh Alvin langsung terdiam saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Alvin. 


"Kita doakan saja nak" jawab Diandra seadanya. 


__ADS_2