Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
29. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Cecep sudah sampai di depan rumah kedua orang tuanya setelah dia melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang terletak dipinggir jalan menuju rumah orang tuanya, karena mendengar adzan dzuhur sudah berkumandang memasuki gendang telinga, suara adzan yang merdu mampu membuat penduduk bumi terpaku sejenak untuk mendengarkan adzan tersebut.


"Assalamualaikum" sapa Cecep sambil mengetuk pintu rumahnya, walaupun Cecep selalu berada di markas dia tetap akan menyempatkan dirinya pulang ke rumah sebentar.


"Waalaikumsalam" seorang wanita yang tidak lagi muda membuka pintu rumahnya dengan balutan hijab yang menutupi seluruh auratnya.


Keluarga Cecep merupakan keluarga yang taat pada aturan agama mereka, walaupun belum terlalu memahami semua tentang agama islam, tapi ayah Cecep melarang ibu nya tidak mengenakan hijab saat keluar rumah, dan ayahnya juga melarang anak laki-lakinya memakai celana diatas lutut jika hendak keluar rumah.


Cecep sangat bersyukur walaupun terlahir dari keluarga sederhana dan apa adanya, tapi dia masih bisa merasakan kasih sayang keluarga, ayah Cecep yang merupakan alumni dari salah satu pesantren terpencil di daerahnya tentu saja tahu tentang peraturan agama mereka.


"Can, gimana kabarnya?" tanya sang ibu lembut, Cecep segera mencium punggung tangan ibu nya dengan takzim.


"Alhamdulillah bu, seperti yang ibu lihat, ibu sama ayah gimana kabarnya" tanya nya, sambil membuntuti sang ibu masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulillah baik juga nak"


"Assalamualaikum ayah, apa kabar" sapa Cecep kala melihat sang ayah baru saja selesai menunaikan sholat dzuhur. Dengan cepat Cecep mencium punggung tangan sang ayah dengan takzim.


"Baik nak, gimana kabar kamu sama kuliah kamu? udah ada satu minggu kayaknya kamu nggak pulang, kamu nggak buat hal yang aneh-anehkan diluar sana?" melihat suaminya menghujani sang anak dengan pertanyaan bertubi-tubi, Nira hanya menggulung senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Resek banget yah, kalau nanya satu-satu, sampai sekarang Candra masih menjadi anak yang lurus, tak mencari musuh" sahutnya.


"Abang nggak pernah kesini emang yah?"


"Kata siapa Can, orang kemaren aja baru pulang sama mbak mu, sama Nana juga mereka minep 4 hari disini, kamu itu yang nggak pernah pulang" sela Nira yang baru saja kembali dari dapur, membawa dua gelas kopi dan satu cemilan di nampan.


"Heheh"


***


"Jadi ada masalah apa Mi? kalau lo udah siap cerita, ceritalah Mi, jangan dipendam sendiri" Alvin mulai membuka suara. 


Keduanya langsung menuju Cafe depan kampus saat telah usai melaksanakan sholat jamaah dzuhur di masjid kampus.


Tanpa menunggu lama Fahmi langsung menceritakan semuanya pada Alvin apa yang sudah terjadi di rumahnya, bukan untuk membuka aib keluarganya, tapi untuk mencari solusi, Fahmi yakin Alvin adalah orang yang tepat jika diajak bercerita dan Fahmi yakin Alvin akan selalu menasehati dirinya untuk selalu melibatkan Allah di dalam segala urusannya.

__ADS_1


"Minum dulu Mi" Alvin menyodorkan segelas minuman pada Fahmi yang baru saja diantar oleh pegawai Cafe.


Fahmi menerima minuman itu dengan senang hati toh dia juga sedari tadi merasa sangat haus.


"Ingat satu hal Mi, di setiap ujian dan cobaan ada hikmahnya"


Alvin yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya seakan mati rasa dengan keadaan keluarga, hadirnya geng somplak  di dekatnya mampu membuat Alvin kembali merasakan bahagianya kebersamaan dalam keluarga begitu juga dengan Fahmi.


"Gue tau Vin, tapi sekarang gue harus gimana?" Fahmi masih bingung sendiri.


"Gini aja Mi, untuk sekarang lo rawat dulu ibu lo sampai sembuh, setelah ibu lo pulih baru kita cari informasi tentang ayah dan kedua adik lo"


"Is oke, gue tau lo masih belum bisa ninggalin ibu lo walaupun nanti sudah sembuh, kita bisa cari orang untuk jaga ibu lo dan nanti lo juga akan sering pulang kerumah, sekarang yang harus lebih diutamakan terlebih dahulu kesembuhan ibu lo" ucap Alvin.


"Makasih banyak Vin"


Sering dengar kata-kata seperti inikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihat apa yang disampaikan, itu juga yang dilakukan Fahmi dan Alvin, walaupun Alvin lebih muda dari dirinya tapi Fahmi tidak merasa malu untuk bertanya pada Alvin, begitu juga sebaliknya walaupun Alvin lebih muda dari Fahmi tapi dia tidak sombong dan dia juga berlaku selayaknya.


"Wiih, bang Fahmi sama bang Alvin kok disini, gak ngajak kita lagi" selor Bintang.


Bintang, Eza dan Bagas baru saja dari taman, setelah merasa perut sudah lapar mereka memutuskan untuk makan di cafe depan tempat biasa mereka bertujuh nongkrong.


"Waalaikumsalam" jawab mereka sambil nyengir tidak jelas.


"Sorry lupa, maklum manusiawi" 


"Bisae lo kalau ngeles Tang!" 


"Heheh, gue nggak peduli" tanpa permisi Bintang menyomot makanan yang ada diatas meja Alvin dan Fahmi.


"Kasian amat makanan dianggurin gini" ucapnya sambil memasukan satu suap makanan ke dalam mulutnya.


"Baca bismilah Tang" 


"Ukhuk….ukukuk!!" Entah datang dari mana Alex, tiba-tiba saja dia sudah ada di antara keenam orang itu.


"Bener kata Alex, Tang baca bismilah" sahut Alvin.

__ADS_1


Bintang hanya bisa pasrah saja sungguh sial nasibnya datang ke cafe malah jadi bullyan teman-temannya padahal ulah dirinya sendiri.


"Kee apa aja lo Lex tiba-tiba aja udah disini" sungut Bintang.


"Biasanya si Eza yang asal nyerobot kalau ada makanan, tapi kenapa sekarang jadi Bintang" suara Fahim membuat mereka semua tersadar.


Tidak tahu saja mereka jika Eza sudah hampir menghabiskan satu mangkok seblak. 


"Baru juga dibilang!" ucap mereka kompak kala melihat Eza tengah asik menikmati makanannya sendiri.


"Asik banget lo Za, liat tu pada diliatin yang lain, mana tatapan mereka horor banget lagi ke lo" bisik Cecep tepat ditelinga Eza.


Saat itu juga Eza menoleh ke sumber suara mendapati Cecep sedang nyengir padanya lalu menatap kedepan, benar saja Alvin dan yang lainnya sedang menatap dirinya dengan horor, Eza sampai tersedak ludahnya sendiri.


"Set dah, serem juga mereka kalau pada melotot gitu" gumun Eza..


"Makan woi! jangan liatin gue aja" ucap Eza membuyarkan semua tatapan teman-temannya.


"Gue padahal udah masak banyak di markas lo pada malah makan disini" ucap Cecep penuh drama, kini mereka semua beralih menatap Cecep.


"Yang di markas buat nanti pulang, nanggung amat gue laparnya sekarang masa harus pulang ke markas dulu buat bisa makan disini aja ada" Fahmi langsung menyantap makanan yang sudah dia pesan setelah membaca bismillah.


"Masuk Cep, bentar lagi kelas lo dimulai" instruksi Alex.


"Iya awas aja lo pada kalau masakan gue nggak dimakan, Assalamualaikum" ucap Cecep kemudian berlaku pergi, mau makan juga toh dia sudah makan masakan ibunda tercinta.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Urusan kita belum beres Za!" ucap Bintang.


"Urusan apa lagi sih AFKA BINTANG SAPUTRA!!" sungut Eza dia menekankan katanya dinama Bintang yang dia sebut secara detail, sayang sungguh sayang tapi Bintang mengacuhkannya. 


"Ayo Gas pesan makanan" 


"Telat!" Bagas ternyata sudah akan menyantap makanan nya.


Orang-orang itu seakan tidak memiliki masalah sedikitpun, padahal tawa bahagia mereka untuk menutupi semua masalah yang mereka punya.

__ADS_1


"Lex" panggil Bagas dan Eza secara bersama, entah kenapa kedua orang itu mengganggu suasana yang sedang hening.


"Hmmm" Alex bahkan tak bergeming sama sekali hanya deheman yang keluar dari suaranya. 


__ADS_2