
Bismillahirohmanirohim.
Setelah Alvin berbicara secara baik-baik dengan kakek Hasan, akhirnya kakek Hasan setuju jika dia akan periksa di rumah sakit, mereka semua mengucapkan syukur kala kakek Hasan mau menerima tawaran Alvin.
Kakek Hasan juga mau menolak tidak enak pada mereka, dia juga masih ingin memperbaiki diri, rasanya ibadah yang telah beliau lakukan saat ini belum juga cukup untuk bekalnya di akhirat kelak, kakek Hasan belum siap jika nyawanya diambil sekarang, tapi dicabutnya nyawa seseorang tidak ada namanya kenal siap atau tidak siap.
Kita tidak tahu kapan ajal itu tiba, dia bisa datang secara tiba-tiba tanpa bisa kita percaya, namun apalah daya semua sudah menjadi takdir sang kuasa.
"Kakek akan berkemas terlebih dahulu" ujar kakek Hasan, sambil memasukan bajunya ke dalam tas yang dia punya.
"Iya kek, biar Alvin bantu" Alvin membantu kakek Hasan membereskan baju-baju milik kakek Hasan.
Bagas dan Alex sedang pulang ke markas untuk mengambil mobil, Eza atau tidak mobil Alvin, karena tidak mungkin mereka membawa kakek Hasan menggunakan motor.
Fahmi, Cecep, Bintang dan Eza sedang beberes di rumah kakek Hasan. Melihat hal itu kakek Hasan sangat terharu, mereka benar-benar orang yang baik, para pemuda yang patut dicontoh.
"Kakek nanti kalau misalnya harus rawat jalan dulu, kakek tinggal di markas kita dulu ya, tenang aja kek markasnya rumah kok" jelas Alvin, padahal kakek Hasan tidak meminta penjelasan apa-apa, kakek Hasan hanya bisa menuruti apa yang diucapkan Alvin.
Sementara itu tiga orang sedang geleng-geleng kepala melihat tingkah Bintang yang ada-ada saja.
Bintang menyiramkan air yang berisikan sabun pada badannya sendiri, entah apa yang anak itu lakukan.
"Tang kerja yang bener jangan mainan aja" tegur Fahmi.
"Tau lo Tang, kayak anak kecil tau nggak" Eza ikut menimpali Fahmi.
"Kayak gini aja gue dibilang kayak anak kecil, biasanya juga gue dikatain bocil" protes Bintang tidak terima.
"Karena gue sering dibilang kayak bocil, mending jadi kayak bocil sekalian, nanggung amat udah dibilang kayak bocil tapi bertingkah tak seperti bocil"
"Nggak…..!"
"Ets, ets, Bintang belum selesai ngomong bang" sela Bintang saat Cecep hendak angkat bicara.
"Jadi karena Bintang bocil, si bocil ini minta perwakilan sama abang-abang ganteng buat bersihin ini semua, karena Bintang mau mandi. By!" tanpa menunggu jawaban dari ketiga abangnya Bintang segera pergi untuk membersihkan diri.
Mereka bertiga hanya melotot tak percaya dengan apa yang Bintang lakukan. "Si bontot bahaya juga ya kalau ngamok!" ujar Fahmi segera melanjutkan kegiatannya yang tertunda akibat menonton drama secara live yang dilakukan oleh Bintang.
__ADS_1
"Kek istirahat dulu ya, besok pagi-pagi sekali paling Bagas sama Alex baru dateng" ujar Alvin.
"Iya nak Alvin, yang lain juga suruh istirahat ini udah malem, beres-beres rumah bisa besok lagi" suruh kakek Hasan.
"Iya kek, biar Alvin suruh mereka istirahat, tapi kakek istirahat dulu" ujar Alvin lagi.
Alvin yang melihat kakek Hasan sudah mapan di tempat tidurnya sambil terus memutar tasbihnya yang tak pernah berhenti, segera menysul teman-temannya yang berada di depan gubuk kakek Hasan.
"Woi ngapin sih lo pada?" bingung Alvin, bagaimana tidak air dimana-mana bukanya tambah bersih malah tambah kotor.
"Lo pada niat bersih-bersih, atau malah niat tambah ngotorin?" Alvin kembali bersuara.
"Kerjaan si Bintang itu Vin, liat aja noh orang nya udah seger buger lagi aja" ucap Eza sambil menunjuk Bintang yang berjalan mendekati mereka.
"Sekali-kali kek kalian hargain yang tua" entah ada apa dengan Cecep.
"Mau di hargain berapan bang?" tanya mereka bertiga secara bersama.
"Nggak gitu juga konsebnya ui, lagian coba sekali-kali waras gitu, jangan kurang mulu" ujar Fahmi tegas.
"Sekarang bersin semua abis itu istirahat" titah Fahmi. Memang lah hanya Fahmi yang masih sedikit waras.
Yang lainnya kurang semua berarti? mana gue tau, temep aja kagak, kata si Cecep, wkwkw!
***
Pagi harinya Bagas dan Alex sudah sampai di depan gubuk sederhana milik kakek Hasan, mereka membawa makaan juga beberapa cemilan untuk teman-teman mereka yang mungkin sudah kelaparan, khusus untuk kakek Hasan, Alex membelikan bubur ayam.
"Et dah, yang habis tidur di markas seger banget kayaknya tu muka" sindir Eza.
"Syirik aja lo pada, udah diem makan jangan banyak ngomong, jalan lupa baca doa sebelum makan, jangan asal emplok aja"
"Bang kita mau makan bukan mau dengerin abang ceramah panjang kali lebar" huh mulut si Bintang sepertinya harus ditambal biar diem dulu.
"Iya!" jika dengan Bintang lebih baik Bagas mengalah saja, kalau tidak urusannya semakin runyam. Namanya juga Bintang.
"Makan jangan banyak ngomong" sontak Bintang langsung diam seribu bahasa kalau ditegur oleh Alvin.
__ADS_1
"Sama Alvin aja menciut dia, coba sama gue yang lebih tau bar-bar banget dah tu anak" batin Fahmi dan Cecep kebetulan sekali apa yang mereka pikirkan sama.
Yang tau memang harus ekstra sabar, sabar dah banyak-banyak biar dapat pahala.
Selesai makan mereka semua siap-siap untuk pulang, tapi mereka akan mengantar kakek Hasan terlebih dahulu, mungkin dua orang yang akan tinggal untuk menemani kakek Hasan yang lain akan pulang terlebih dahulu, untung saja mereka memiliki jadwal libur kuliah selama satu minggu.
"Kek kita pulang dulu ya, maaf nggak bisa nemenin kakek disini, semoga kakek sehat-sehat aja" ujar Cecep.
Yang menemani kakek Hasan di rumah sakit Eza dan Bintang, sepertinya mereka lupa jika Eza dan Bintang disatukan hanya ada kekacauan, beruntungnya di tengah-tengah mereka ada kakek Hasan, jadi mereka berdua harus saling jaga imeg.
"Ayo kek" ujar keduanya bersama.
Walaupun tidak lagi muda, tapi pancaran apik dari muka kakek Hasan terlihat sangat jelas, apalagi saat beliau menyunging senyumnya yang sederhana.
"Itu Bintang sama Eza disatui nggak papa?" tanya Fahmi khawatir.
"Nggak papa bang tenang aja, kalau ribut tinggal yang satu kasih kucing yang satu lagi bawa ke kolam buaya" beh enak bener si Alvin ngomong.
Dikira digigit buaya nggak sakit apa, malah taruhannya nyawa. Kayak udah pernah ketemu sama buaya aja si Alvin.
"Nggak gitu juga konsepnya Vin!" ujar Bagas.
"Iya bang, kalau gitu gue pergi duluan ya bang masih ada urusan"
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" mereka terus Melajukan motor masing-masing menuju markas sedangkan mobil dibawa oleh Bintang dan Eza.
Untuk Alvin ternyata urusan yang dia maksud berkunjung ke makam sang adik yang telah lama tiada.
"Assalamualaikum ya ahli kubur, Assalamualaikum dek" ucap Alvin dengan sendu.
"Maaf abang baru bisa kesini sekarang, Ayra baik-baik disana ya dek" ucap Alvin lagi. Tak lupa Alvin membaca yasin dimakam adiknya.
Selesai membaca yasin Alvin menaburkan bunga diatas kuburan sang adik yang dia beli sebelum menuju makam.
"Siapa yang abis dari sini? bunganya baru" ucap Alvin setelah mencium wangi bunga yang ada diatas makam adiknya, tak berpikir banyak mungkin kah itu ayah atau tidak ibu Alvin yang baru saja berkunjung kesana.
__ADS_1