Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
35. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


"Pulang ya dek" pinta Fahmi sekali lagi. "Kamu nggak kasihan sama ibu" lagi-lagi Fahmi membujuk sang adik agar mau ikut pulang dengannya.


"Iya kak, Naya mau pulang" akhirnya gadis yang bernama Naya itu luluh juga oleh sang kakak.


"Kamu tinggal sama siapa selama ini dek?" Fahmi kembali membuka suara, keduanya berjalan ke tempat dimana Bian teman Naya duduk.


"Ngekos kak, Bian yang bayar semua" sahutnya.


"Bian kok baik banget sama kamu dek, bener kalian nggak ada hubungan apa-apa, bener kalian berdua nggak macem-macem" sekali lagi Fahmi hanya takut adiknya salah dalam bergaul.


"Iya kak, Naya sama Bian udah deket sejak kelas 10 lalu" sahutnya lagi.


Keduanya berhenti tepat di depan meja Bian yang sedang asik menyantap makanannya.


"Naya"


"Fahmi" ucap kedua orang secara bersama dari arah yang berbeda. 


"Mi, dicari juga dari tadi capek nih gue" dengus Cecep, dia sudah mencari Fahmi di seluruh penjuru cafe tapi hasilnya nihil yang dicari malah asik disini.


"Siapa suruh lo cari gue" seakan keduanya tidak peduli dengan keberadaan Bian dan Naya.


"Nay, siapa mereka" bisik Bian tepat di telinga Naya. 


"Kakak gue, kalau yang satu lagi gue kagak kenal" sahut Naya dengan suara kecil.


 "Udah beres kan kerjaan lo?" tanya Fahmi memincang.


"Tenang aja beres lah kalau sama gue" bangga Cecep.


"Ya udah kalau gitu duduk disini dulu, ada hal penting yang mau gue bicarain sama mereka berdua" ujar Fahmi sambil menatap Naya dan Bian secara bergantian.


Keheningan terjadi antara keempat orang yang tidak saling kenal itu, kecuali Naya dan Fahmi yang merupakan kakak beradik.


"Hmmm" dehem Fahmi. "Lo Bian?" tanyanya pada cowok yang duduk disamping sang adik.


"Iya kak" sahutnya sedikit gugup.


"Kagak usah takut gue nggak bakal makan orang" tegas Fahmi.


"Kalau muat orang di mulut lo, bakal lo emplok juga Mi" sela Cecep.

__ADS_1


"Diem!" tegas Fahmi.


"Wah, Kayaknya ada yang lagi serius banget nih" sungguh Cecep memang minta ditabok.


"CECEP!!" tegas Fahmi sekali lagi, akhirnya Cecep langsung mingkem tak bersuara.


"Bian gue mau tanya sama lo, lo bener yang biayai semua kebutuhan Naya selama dia kabur dari rumah?" 


"Iya kak"


"Apa lo juga yang ngajak Naya kabur?" tanya Fahmi dengan tajam.


"Nggak kak!" sanggahnya dengan cepat. "Naya kabur atas keinginannya sendiri kak, dia cerita semua apa sama gue apa yang dialami di rumahnya, tadinya saya sempat membujuknya untuk tidak kabur, tapi dia tetap maksa, gue sebagai sahabat yang bertanggung jawab ya gue jaga Naya selama gue bisa" papar Bian.


Tidak ada kebohongan yang terpancar dari bola mata Bian, yang Fahmi lihat hanya ketulusan laki-laki itu pada sang adik.


"Kamu kelas berapa Bian?" tanya Cecep, entah kenapa orang itu suka sekali nimbrung pembicaraan orang.


"Kakak kelas Naya kak, kelas 12 sekarang sebentar  lagi lulus" sahutnya bangga.


"Kok kalian berdua bisa saling kenal?"


"Nama nya juga satu sekolah kakak Fahmi!" sinis Naya.


"Nggak!" jawab keduanya kompak.


****


Setelah mengantar Naya pulang Cecep dan Fahmi akhirnya sudah kembali ke markas, tinggal satu masalah lagi yang belum terselesaikan, tentang bapak angkat Fahmi. Tadi Bian juga ikut mengantar Naya pulang, dia juga sudah meminta izin Fahmi dan ibu Minah agar tetap diperbolehkan main dengan Naya.


Fahmi dan sang ibu memperbolehkan tapi tetap saja Fahmi harus berhati-hati, walaupun Bian dan Naya bisa menjaga diri tapi tetap saja rasa takut ada pada Fahmi, sekarang sang ibu sudah ada yang mengurus, Fahmi mencari seorang yang bisa membantu ibu nya dirumah, Fahmi juga berniat memasukan sang adik ke pesantren setelah lulus nanti.  


"Capek" keluh Cecep.


"Kek abis bajak sawah aja lo Cep" sahut Eza, mereka tengah berkumpul di ruang tamu sambil menunggu waktu ashar datang.


"Habis nyangkul sawah malah gue" adu Cecep.


"Nggak usah sering ngeluh, makanya kalau apa-apa itu, niat lillahi ta'ala, kalau udah niat lillahi ta'ala kan, yang tadinya lelah menjadi lillah. Coba kalau nggak niat lillahi ta'ala nggak dapet apa-apa" timpal Alvin.


"Iya, kena lagi gue"


"Lo yang mulai sendiri Cep, jadi semua ada konsekuensinya, karena ulah dan perbuatan lo sendiri" terang Bagas.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong masih kumpul gini, gimana perkembangan berita tentang bapak angkat Fahmi sama adek bungsunya" tumben sekali Bintang mencari topik yang benar.


"Masalah adek gue udah ketemu, tapi kalau bapak gue, gue nggak tau yang tau pasti Alex" sahut Fahmi.


Mereka semua menoleh pada Fahmi, bagaimana bisa adik nya sudah ketemu, tanpa diminta Cecep menjelaskan semua kronologi bagaimana mereka bisa bertemu dengan adik bungsu Fahmi.


"Alhamdulillah" ucap mereka semua serempak.


"Kalau masalah bapaknya si Fahmi belum terlalu jelas tapi titik terangnya sudah ditemukan" timpal Alex.


"Alhamdulillah" lagi-lagi mereka mengucapkan hamdalah bersama, sampai akhirnya suara kumandang adzan terdengar, mereka bertujuh memang sudah rapi siap berangkat ke masjid, tadinya mereka hendak berangkat sebelum adzan tapi karena ada sedikit kendala mereka memutuskan berangkat setelah adzan ashar usai.


Tiba saat adzan memasuki kata hayya 'ala sholah, hayya 'ala sholah, Alvin dan Fahmi mencium kedua ibu jari mereka seraya meletakan di kedua mata mereka masing-masing.


Sontak mereka yang belum tahu manfaat dari hal yang dilakukan Alvin dan Fahmi menjadi penasaran. 


"Fahmi, Alvin lo berdua tadi ngapain cium ibu jari segala abis itu di taruh di alsi?" pertanyaan Eza mewakili semua rasa penasaran para teman-temannya.


"Rasulullah SAW bersabdah : Barang siapa yang mendengar adzan lalu mencium kedua ibu jarinya dan meletakkan pada kedua matanya seraya membaca : Marhaban Bidzikrillahi Ta'ala Qurrota A'yuna Bika ya Rasulullah"


"Ini terdapat di dalam sebuah kitab yang bernama Tanqihul qoul" jelas Alvin.


"Bagaimana asal usulnya itu terjadi?" Bagas masih bertanya pula.


"Apakah itu belum jelas Bagas? sudah dalam sabdah Rasulullah dan ada kitabnya?" cegah Fahmi sebelum Alvin kembali menjelaskan semuanya.


"Bener kalau kayak gitu kita bisa telat jamaah, kuy lah berangkat" ajak Bintang.


Tumben sekali si bontot itu tidak berulah hari ini, sedangkan Bagas hanya pasrah saja, toh yang dibilang Fahmi bener itu sabdah Rasulullah bahkan di dalam kitab apa juga disebutkan.


 


"Doa masuk masjid apa gue lupa?" tanya Cecep berharap ada yang mau membantunya.


"Doa masuk masjid : اَللّهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. “A‌llahummaf-tahlii abwaaba rahmatika”. Artinya : “Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu”. Dia keluar masjid اَللّهُمَّ اِنِّيْ أسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ “A‌llahumma inni as-aluka min fadhlika" 


"Udah tahu kan Cep, kan udah dikasih tau sama bang Eza?" ucap Fahmi sambil memainkan kedua alisnya.


"Iya kan Cep" sahut Bagas pula.


"Kalian kayaknya punya dendam tersendiri deh sama gue"


"Nggak usah suudzon bang Cecep, kita mau sholat loh" peringat Bintang.

__ADS_1


__ADS_2